Rabu, 24 Februari 2010

PINTU EDEN

PINTU EDEN
Oleh Rini Giri


Hujan turun dalam rintik. Pohon raksasa di tengah taman itu menjadi naungan banyak makhluk. Induk rusa menggiring anaknya untuk berteduh, burung-burung kembali ke sarang di pangkal dahan, dan monyet-monyet bersembunyi di rerimbunan daun. Dua manusia, lelaki datang dari utara dan perempuan dari arah berlawanan, juga mencari perlindungan di situ. Mall-mall yang mengepung taman itu menjanjikan surga baru bagi sebagian orang.
“Sebenarnya Eden tidak pernah rusak ataupun sirna. Secara fisik dia masih utuh seperti sedia kala. Hanya saja kita tidak tahu ada di mana. Kesalahan besar masa lalu sudah membuat pintu taman itu tertutup rapat dan kita tidak bisa memasukinya lagi. Satu-satunya kerusakan Eden adalah noda dosa yang turut terbawa ke bumi dan merusak pula di sini. Beberapa penjaga dengan pedang terhunus ditempatkan di sebelah timur untuk menghalangi kita. Seharusnya kini taman itu menjadi tempat tinggal kita andaikan bapakku tidak terbujuk rayuan ibumu untuk mencicipi buah pohon yang baik dan yang jahat. Lihatlah! Sekarang kita harus mati-matian banting-tulang untuk mendapatkan makanan dari bumi.” Ujar lelaki itu sambil memandangi langit yang kelam oleh awan-awan yang menggelantung.
“Itu bukan kesalahan ibuku. Ular yang telah menyebabkan semuanya terjadi!” Jawab perempuan itu sengit.
“Tapi ibumu termakan rayuannya! Perempuan selalu cari kambing hitam!”
“Salah bapakmu juga! Kenapa dia mau mendengarkan rajukan ibuku! Lelaki sering lupa pada kesalahannya sendiri dan menuduh orang lain sebagai penyebab!” Lalu keduanya terdiam dengan amarah di ubun masing-masing. Air terus menetes dari langit, tapi tanah di bawah bayang-bayang pohon itu tetap kering. Perempuan itu merapatkan tangannya di dada bertahan dari rasa dingin.
“Apakah taman itu akan dikembalikan kepada kita suatu saat nanti?” Tanya perempuan lirih. Ah, seandainya dia punya kesempatan untuk melihat Eden barang sejenak. Segala satwa dan manusia hidup rukun tanpa menakuti ataupun ditakuti, tanpa memburu ataupun diburu, tanpa memangsa ataupun dimangsa. Sebab semua makhluk hanya makan tumbuhan dan buah-buahan. Bahkan mulut harimau, cakar srigala, ataupun moncong buaya tidak akan membahayakan seorang bayi merangkak yang sedang bermain di hamparan rumput. Di sana tidak ada permusuhan, tidak ada iri dengki, tidak ada persaingan dan sengketa, tidak ada penindasan dan pelecehan, tidak ada peperangan. Dirinya, dan pastilah semua orang, teramat merindukan tempat itu. Warga kota dengan sengaja membangun taman ini agar bisa bernostalgia pada ketentraman taman masa lalu itu. Alangkah damainya. Apalagi kedamaian sudah menjadi barang langka di zaman ini. Kedamaian sulit diwujudkan untuk hal-hal yang baik, tapi begitu mudah dibeli untuk hal-hal yang curang. Damai hanya dipakai manusia untuk melarikan diri saat menghadapi masalah.
“Taman itu diciptakan untuk kita. Tentunya akan dikembalikan pada kita. Mungkin butuh usaha untuk mendapatkannya kembali.” Jawab lelaki kurang yakin.
“Usaha apa?” Tanya perempuan itu penasaran. “Tidak dengan membuat imitasinya kan?” Nyatanya taman kota ini tidak mengobati kerinduan. Hanya menjadi penanda kota, tempat kencan muda-mudi dan menambah jumlah sampah yang dibuang sembarangan.
“Mungkin kita bisa menanam pohon-pohonnya kembali. Dalam hidup setiap hari. Bukankah esensi taman itu adalah kedamaian? Kita tinggal menyemai bibit-bibitnya agar tumbuh di segala lorong dan sudut bumi.” Lelaki berusaha menduga.
“Ingatlah, yang terbawa ke bumi ini hanyalah akibat dosa. Tak ada sebiji kedamaianpun yang turut terbawa ketika bapak dan ibu kita diusir dari taman itu. Lantas kemana kita harus mencari bibitnya?” Perempuan tampak ragu.
“Bukankah esensi dari setiap ciptaan di taman itu kedamaian? Pastilah leluhur kita juga punya esensi itu dan kita menuruni bakatnya. Hanya saja masih tersembunyi. Kita harus menemukannya. Mulai dari kita.”
“Ya, mungkin harus dimulai dari diri kita. Kita berdua harus berdamai. Jangan saling menyalahkan lagi. Bukankah di taman itu bapak dan ibu kita tidak pernah bertengkar, tidak saling tuding, tidak saling mengungguli, tidak saling menindas, tidak saling merendahkan, dan tidak saling memeras? Mereka rukun, saling menolong, saling mengisi, dan melengkapi. Sebab mereka memang diciptakan untuk begitu.” Kenang sang perempuan.
“Mereka mulai saling tuding ketika ketahuan melanggar perintah untuk tidak memakan buah dari pohon kebajikan itu. Bapak kita menyalahkan ibu kita, dan ibu kita menuduh si ular licik sebagai biang kerok. Siapa sebenarnya yang telah bersalah? Bukankah ketiganya salah? Bukan cuma si ular, atau si perempuan, atau si lelaki. Tapi ketiganya.”
“Ya. Sejak saat itu mereka diusir ke tempat ini dan keturunannya menjadi sengsara. Berjuang untuk makan, menderita sakit bersalin, sengsara karena sakit, mengalami ketuaan, lantas menghadapi kematian. Seandainya kesalahan besar itu tidak terjadi, atau seandainya taman itu bisa kembali kita miliki, tentulah segala kengerian itu akan sirna. Tidak ada derita lagi. Alangkah indahnya. Alangkah damainya. Alangkah nikmatnya.” Mata perempuan menerawang jauh ke gugusan awan-awan yang masih menggelantung dan tak tertahankan ingin melahirkan gerimis. Senyumnya merekah mengikuti pengembaraan pikiranya yang jauh. Tangannyapun melambai-lambai menari dan meliuk di angkasa oleh imajinasi.
“Kau terlalu tinggi berkhayal!” Hardik si lelaki kurang suka. Perempuan cemberut. Sepasang rusa dewasa sedang berkasih-kasihan di dekat onggokan batu.
“Bukankah seharusnya kita saling tertarik dan mencinta? Meninggalkan keluarga kita masing-masing dan menjadi satu daging dan tujuan untuk menguasai bumi dan seisinya? Tapi kenapa kita justru saling menjadi duri dalam daging? Tercipta kelas dan kasta. Terjadi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi di antara kita. Tugas dan peran kita jelas beda, tapi masih saja ada ambisi untuk saling menguasai. Sejak kapan itu terjadi?” Si lelaki tertawa geli. Si perempuan jadi kesal.
“Bukankah sejak dilahirkan kitapun sudah dibekali senjata untuk bermusuhan? Aku memiliki alat tajam untuk menusuk dan melukai, sedangkan kau punya jebakan licik untuk menerkam. Dan waktu kau tumbuh menjadi gadis kecil, aku sudah tertarik untuk menggoda dan menakut-nakutimu sampai menjerit. Ada kesenangan setiap kali membuat dirimu menangis.”
“Dasar! Akupun benci melihatmu yang hanya memakai cawat berlarian di jalanan mengejar layang-layang putus, sementara aku harus belajar mengerjakan banyak hal di rumah. Aku menjadi dua tahun lebih tua padahal usia kita sama.”
“Sudahlah, itu sudah masa lalu. Tahukah ketika mulai ada kuntum-kuntum di dadamu dan tubuhmu meliuk-liuk membentuk barisan perbukitan, adalah masa paling menyiksa bagiku? Ada perasaan ingin menyayangi dan melindungimu, tapi juga perasaan gengsi untuk mengutarakannya. Aku takut mendapat penolakan. Kau lebih suka dikejar-kejar daripada dimiliki.”
“Kau harus maklum. Bukankah setangkai bunga justru indah ketika mekar liar di rumpun-rumpun perdu? Dia akan segera layu jika dipetik. Oya, tahukah kau pendapatku tentang dirimu saat itu? Kau tak ubahnya seperti adik laki-lakiku yang belum bisa mengambil nasi sendiri ketika perutnya lapar. Huh! Makhluk manja!”
“Bukankah sudah seharusnya insan yang terlahir sebagai raja mendapatkan pelayanan kelas satu? Apa gunanya dilahirkan pelayan-pelayan setia?” “Aku bukan pelayan! Enak saja!” Si perempuan tidak terima.
“Dulu memang pernah ada rasa suka dan cinta padamu. Kubilang, kaulah darahku, kaulah jantungku, kaulah nadiku, kaulah pelengkap diriku. Tapi lama-kelamaan ada keinginan kuatku untuk menguasaimu. Kaulah pembantuku yang setia. Dan bukankah kau sendiri yang inginkan itu? Sebenarnya aku bisa mengambil baju dan sarapanku sendiri, tapi kau yang memaksakan diri untuk melayani agar dianggap baik dan setia. Bih!”
“Kaupikir akupun tidak memanfaatkanmu? Dulu kukatakan, kaulah pahlawanku, kaulah ksatriaku, kaulah dambaan hati. Tapi kini dengan jujur kuakui, kaulah sumber penghasilanku. Tidak lebih.”
“Dasar licik!” Gerutu lelaki sambil mengeratkan kepalan tangannya.
“Dasar bodoh!” Ejek si perempuan.
Rintik hujan mulai berhenti. Secercah sinar kuning menyapu angkasa dan menerangi taman itu. Binatang-binatang segera bangkit dan berjalan menjauh ke rerumputan untuk menikmati cahaya hangat yang baru saja sampai. Kedua insan terdiam. Kenapa mereka kembali saling menyalahkan? Bukankah seharusnya mereka mulai mengumpulkan kembali biji-biji kedamaian untuk ditanam agar menjadi Eden bisa kembali?
“Sudah reda. Ayo kita pulang!” Ajak si lelaki sambil meraih tangan perempuan.
“Kita belum selesai bicara.” Sang perempuan mengelak, menepis tangan kekar itu agar tidak menyentuh dirinya.
“Tak perlu kita bicara lagi. Semakin banyak bicara, semakin suramlah keadaannya. Jauh dari kedamaian. Yang kita cari jawaban atas pertanyaan, bukan pernyataan-pernyataan.” Perempuan menghela nafas panjang, menghirup udara kesabaran dan kekuatan. Diapun beranjak dari bayangan pohon itu. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang masih basah menuju sebuah pemukiman di sebelah barat taman.
“Yang mana rumah kita?” Tanya si lelaki.
“Ketuk saja pintunya satu persatu. Maka kita akan tahu mana rumah yang ingin kita tinggali.” Jawab perempuan.
Merekapun mulai mengetuk pintu rumah pertama. Seorang wanita seksi dengan baju transparan membukakan pintu. Mulutnya berbau alkohol. Dari dalam terdengar orang-orang berteriak-teriak girang sambil berjingkrak dalam pesta-pora. Lelaki menelan ludah, tapi perempuan segera menarik tangannya sambil menggelengkan kepala kepada penerima tamu itu.
“Bukan. Bukan ini rumah kita.” Merekapun pergi dan bergegas menuju rumah kedua. Rumah itu tampak kotor karena kurang terawat. Seorang anak kecil duduk tertunduk di beranda. Wajahnya pucat, bibirnya menggigil, dan lengannya memar-memar. Tiba-tiba terdengar barang pecah di dalam rumah. Seseorang sedang memaki-maki, mengumpat, dan melempar segala sesuatu yang terpegang oleh tangannya. Tak lama terdengar lolongan tangis yang meratap seperti menahan sakit hati. Si anak kecil semakin menggigil dan ketakutan.
“Bukan. Ini juga bukan rumah kita. Ayo lekas pergi dari sini!” Si perempuan tidak tahan melihat pemandangan memilukan itu. Si lelakipun segera menutupi matanya dengan tangan agar terhindar dari adegan-adegan kekerasan yang sangat tidak manusiawi itu.
Merekapun segera sampai di depan pintu rumah ketiga. Rumah tertutup rapat, bahkan tirai-tiraipun diturunkan. Dari balik jendela terdengar dua raga sedang memadu kasih. “Kau harus menceraikan istrimu sekarang juga. Aku tidak mau terus-menerus kauduakan. Apa sih yang membuatmu bertahan pada istrimu itu? Bukankah dia gendut dan tidak punya otak?” Suara wanita itu begitu menuntut. “Sabarlah, sayang. Aku tidak mungkin menceraikan dia. Limapuluh persen saham di perusahaanku itu milik dia. Sudahlah. Yang penting kita bisa menikmati keindahan hidup kita berdua. Tidak usah pedulikan dia. Sudahlah…” Suara pria merayu. Lelaki dan perempuan saling berpandangan, memicingkan mata, lantas menggelengkan kepala. Bukan rumah itu yang mereka inginkan.
Akhirnya mereka berjalan lunglai ke arah rumah terakhir. Seolah kehilangan pengharapan. Rumah itu sangat sederhana. Bercat hijau apel yang memantulkan kesejukan. Jendelanya terbuka lebar sehingga udara segar dan cahaya matahari masuk leluasa. Di beranda terdapat sepasang kursi dengan meja kecil berhias rangkaian bunga dalam vas. Tanaman bunga tampak segar dan menebarkan wewangian. Kupu-kupu bercengkerama di atas mahkota warna-warni. Di depan pintu terdapat sebuah keset berwarna dasar biru muda dengan tulisan “WELCOME” berwarna biru tua. Dan di pintu terdapat sebuah stiker bertuliskan “Akulah Pintu Itu.” Seorang pelayan membukanya dan dengan hormat memberikan petunjuk.
“Silakan anda berdua mengebaskan debu kedengkian di keset biru itu. Tinggalkan segala pertikaian di rak sepatu itu. Gantungkan segala dendam di hanger itu. Silakan masuk. Ini rumah damai. Hanya yang benar-benar manusiawi saja yang bisa menjadi kedamaian.” (Bekasi Utara, April 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar