NYEKAR
Oleh Rini Giri
Setiap kali pulang ke Boyolali, di jantung Jawa Tengah, ibuku selalu mengingatkan untuk nyekar ke makam kakek dan nenek. Bukan hanya makam orang tua ibuku di lereng Merbabu saja yang harus kukunjungi, tapi juga makam orangtua ayahku di dekat waduk Kedung Ombo.
Nyekar, menurut ibu, adalah kebiasaan saleh yang harus terus dilakukan, agar rantai keturunan tidak terlupa begitu saja. Sebab melalui silsilah para leluhur itu akhirnya diriku terlahir ke dunia ini. Nyekar adalah cara untuk menunjukkan rasa hormat dan sayang pada orang yang telah mendahului kita. Menaburkan bunga di atas pusara sambil mendoakan semoga mereka beroleh istirahat yang kekal dalam kerahiman-Nya. Seperti Maria Magdalena yang mengunjungi makam Yesus untuk mengurapkan rempah-rempah dan minyak.
“Anak-anakmu juga harus kamu ajak. Supaya mereka tahu siapa buyut-buyut mereka.” Ujar ibuku. Di antara para kerabat, sepertinya hanya ibu yang peduli pada leluhur. Bahkan, dulu waktu para nenek masih hidup, aku dan kakak-kakakku yang sudah bekerja diminta kerelaannya menyisihkan uang saku untuk mereka. “Kedua eyang putrimu kan sudah tua, sudah janda, dan tidak punya penghasilan sendiri. Tak usahlah ibu kaukirimi uang. Ibu masih punya uang pensiun. Lebih baik kirimkan saja pada eyang putrimu di Kopeng dan Kemusu. Seorang nenek akan merasa bahagia jika diperhatikan para cucunya.”
Dulu, waktu Eyang Putri Kemusu sakit, ibu dengan penuh kasih merawat ibu mertuanya itu sampai tutup usia di pelukannya. Eyang Kakung dan Eyang Putri Kopeng pun menghadap Tuhan dengan iringan doa Bapa Kami dan Salam Maria yang dibisikkan ibu ke telinga mereka. Ya, hanya pada ibu aku melihat sosok yang penuh cinta dan hormat pada orang tua. Tak peduli di masa tua mereka menjadi cerewet, banyak maunya, dan kembali menjadi seperti anak kecil. Bahkan kakak perempuanku yang mengeluhkan kebawelan mertuanya, ditegur oleh ibu.
“Orang kalau sudah tua itu merasa kesepian. Segalanya telah berlalu dari mereka. Karir, ketenaran, kemudaan, kesehatan, dan anak-anak yang mereka kasihi sudah meninggalkan mereka. Mereka hanya butuh didengarkan dan merasa masih dibutuhkan. Jadi kalian cukup mendengarkan dan mengerti mereka. Bukan sebaliknya. Supaya mereka tidak terlalu merasa banyak kehilangan.” Nasihat ibu tentu bukan hanya untuk Mbak Wiwik, tapi juga ditujukan padaku.
“Bagaimanapun juga orang tua itu yang melahirkan, membesarkan, dan mengantarkan kalian menjadi mandiri. Juga mertuamu, Wik. Dia yang sudah susah payah menyekolahkan suamimu sampai jadi sarjana. Sekarang, setelah berhasil, justru kamu yang menikmati hasilnya. Jadi kamu harus berterimakasih pada mertuamu, bukannya malah memusuhi.” Ujar ibuku lagi.
Ibukupun melarang aku terlalu lama tinggal di Boyolali saat liburan. Aku juga harus mengunjungi mertuaku di Wonogiri meskipun suamiku tidak turut serta dalam acara liburan itu. Anak-anakku juga cucu dari nenek mereka di Wonogiri, sehingga aku harus membagi waktu. Tidak ada kebahagiaan lain bagi seorang nenek selain kedatangan cucu-cucunya. Walau tidak membawa oleh-oleh, tapi senyum cerah dan rasa hormat mereka adalah buah tangan yang paling berharga. Akupun akan nyekar ke makam ayah mertua.
“Win, bagaimana pendapatmu jika rumah peninggalan bapakmu ini kujual dan aku ikut kalian ke Jakarta?” Pertanyaan ibu mertuaku itu sangat mengagetkanku. Kenapa harus aku yang ditanya dan ditunjuk? Kenapa bukan iparku yang lain? Aduh, tak bisa kubayangkan bagimana jadinya jika aku serumah dengannya. Jangan-jangan petaka yang menimpa Mbak Wiwik akhirnya menimpaku juga. Kalau hanya sekedar mengunjungi, mengirim uang bulanan, memenuhi segala kebutuhan sih selama ini sudah kulakukan dengan mudah. Tapi kalau hidup dengan diatur-atur mertua padahal di rumah sendiri, aku harus pikir-pikir dulu.
“Bu, kalau rumah ini dijual apa tidak sayang?” Tanyaku mengulur jawaban.
“Semua anakku sudah pergi dari rumah. Mereka sudah punya rumah sendiri-sendiri di tempat mereka bekerja. Tak ada satupun yang mau tinggal dan merawat rumah ini. Untuk apa lagi? Aku sudah tua, Win. Tak sanggup lagi mengurus rumah sebesar ini. Aku hanya butuh teman untuk melewati masa tuaku.”
“Sebaiknya dibicarakan dulu dengan yang lain, Bu.” Ibu mertuaku kutinggal sendirian di teras rumah tanpa mendapat jawaban pasti dariku. Tinggal serumah dengan mertua? Mendengarkan dan melayaninya setiap saat? Merawatnya saat sakit? Mendampinginya saat maut menjemput? Mengurus pemakamannya? Itukah sederet tugas yang dibebankan padaku jika aku menyetujui keinginan mertuaku? Oh, My God.
Siang itu aku jadi kehilangan selera makan. Padahal ikan bakar gurih-legit yang langsung ditangkap dari waduk Gajah Mungkur, sudah tersedia di hadapanku. Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan mertuaku. Seandainya yang ditanya itu suamiku, pastilah di belakang aku bisa langsung protes dan mengajukan keberatan padanya. Tapi kali ini hidungku sendiri yang dicucuk.
Sore itu, aku dan anak-anak nyekar ke makam bapak mertua. Ibu mertuaku turut serta. Setelah rumput-rumput liar dibersihkan dan harum kelopak mawar ditaburkan, kamipun berdoa untuk arwah bapak mertua. Semoga kelak dibangkitkan dan hidup mulia bersama Kristus.
“Eyang, kenapa kuburan di sebelah sana itu rusak?” Tanya Adit, anak tertuaku sambil menunjuk ke sudut makam. Di bawah rindang pohon semboja itu, sebuah makam tertutup belukar dan batu nisannya telah rapuh. Tak sekuntum bungapun tertabur di atasnya. Sangat tidak terawat.
“Oh, anak-anak dari orang yang dimakamkan di situ merantau jauh dan tidak pernah pulang, sehingga tidak ada yang merawat makamnya.” Jawab ibu mertuaku.
“Untung kita sering pulang kampung ya, Ma. Jadi makam Eyang Kakung tetap bersih terawat.” Ujar Adit lagi. Aku hanya mengangguk. Sekali lagi kutoleh makam terlantar itu. Betapa tersia-sia. Kasihan, pikirku. Bagaimana seandainya itu makammu, Winda? Saat tua sendirian dan setelah dikuburpun tak ada yang datang untuk mendoakan. Aku jadi ngeri.
“Bu, kapan ibu akan ikut kami ke Jakarta?” Segera kusentuh bahu mertuaku. Secercah senyum mengembang dari bibir keriputnya. Untuk apa aku takut hidup serumah denganya? Perempuan itu sudah melahirkan seorang putra yang menjadi suami yang baik dan mapan untukku.
Ibuku yang sayang dan hormat pada orang tuanya sudah membuatku jadi sayang dan hormat pada dirinya. Tanpa dia meminta. Jadi jika aku sayang pada ibu mertuaku, bukankah itu pelajaran berharga juga bagi anak-anakku? Aku segera beranjak untuk membersihkan kuburan yang terlupakan itu dan berdoa untuk arwah yang dulu pasti pernah sangat berjasa terhadap anak-anaknya. (Bekasi Utara, 9 Juli 2008)