Selasa, 28 April 2009

Moto hidupku

Kata-kata yang menyentuh bagiku adalah :

Dengan memberi, maka kelimpahan akan diberikan padamu. Mungkin yang diberikan pada kita bukan kelimpahan materi tapi kelimpahan akan rasa bahagia. Sebab tak ada satupun wajah seorang pemberi yang muram durja. Pasti ada senyum di sana.

Dengan menyapa, maka kesegaran jiwa akan kaudapatkan. Mendahului tersenyum pada orang lain tentu membawa sensasi yang luar biasa. Kalau orang ingin tersenyum pada kita, maka kita yag harus tersenyum lebih dahulu pada orang lain.

Dengan rendah hati, maka rasa hormat akan datang menghampiri dengan sendirinya. Jika kita ingin menjadi yang terdepan maka kita harus berani untuk mendorong di barisan paling belakang. Jika kita ingin menjadi pemimpin maka kitapun harus mau mendengar bawahan. Sebab yan terkecil akan menjadi yang terbesar. Layanilah, dan bukannya malah minta dilayani.

Dengan mengampuni, maka luka dalam batin akan tersembuhkan. Kadang kita tertekan justru oleh dendam dan amarah yang tak berkesudahan. Semua itu bisa menggerogoti tubuh dan mental kita menjadi penyakit dan gangguan jiwa. Namun bila kita mau mengampuni dan memaafkan, rasa lega yang kita dapat akan menyembuhkan luka-luka kita dan kitapun terbebas dari penyakit-penyakit itu.

Maka :

Aku ingin memberi bukan karena ingin dipuji. Tapi hanya karena belaskasihan.

Aku ingin menyapa bukan karena ingin dianggap terpandang, tapi karena sapaan mengekalkan pertemanan.

Aku ingin rendah hati supaya dikagumi, tapi karena rendah hati itu ringan tanpa beban.

Aku ingin mengampuni bukan karena ingin dianggap suci dan gemar cari pahala, tapi karena ingin mempertahankan sedikit cinta yang masih tersisa di hatiku. Bagaimana jadinya aku jika sudah tak punya lagi perasaan yang namanya cinta?

Ditulis Rini Giri di Bekasi Utara, 29 April 2009 pukul 11.00 WIB

Minggu, 19 April 2009

Nyekar

NYEKAR
Oleh Rini Giri


Setiap kali pulang ke Boyolali, di jantung Jawa Tengah, ibuku selalu mengingatkan untuk nyekar ke makam kakek dan nenek. Bukan hanya makam orang tua ibuku di lereng Merbabu saja yang harus kukunjungi, tapi juga makam orangtua ayahku di dekat waduk Kedung Ombo.
Nyekar, menurut ibu, adalah kebiasaan saleh yang harus terus dilakukan, agar rantai keturunan tidak terlupa begitu saja. Sebab melalui silsilah para leluhur itu akhirnya diriku terlahir ke dunia ini. Nyekar adalah cara untuk menunjukkan rasa hormat dan sayang pada orang yang telah mendahului kita. Menaburkan bunga di atas pusara sambil mendoakan semoga mereka beroleh istirahat yang kekal dalam kerahiman-Nya. Seperti Maria Magdalena yang mengunjungi makam Yesus untuk mengurapkan rempah-rempah dan minyak.
“Anak-anakmu juga harus kamu ajak. Supaya mereka tahu siapa buyut-buyut mereka.” Ujar ibuku. Di antara para kerabat, sepertinya hanya ibu yang peduli pada leluhur. Bahkan, dulu waktu para nenek masih hidup, aku dan kakak-kakakku yang sudah bekerja diminta kerelaannya menyisihkan uang saku untuk mereka. “Kedua eyang putrimu kan sudah tua, sudah janda, dan tidak punya penghasilan sendiri. Tak usahlah ibu kaukirimi uang. Ibu masih punya uang pensiun. Lebih baik kirimkan saja pada eyang putrimu di Kopeng dan Kemusu. Seorang nenek akan merasa bahagia jika diperhatikan para cucunya.”
Dulu, waktu Eyang Putri Kemusu sakit, ibu dengan penuh kasih merawat ibu mertuanya itu sampai tutup usia di pelukannya. Eyang Kakung dan Eyang Putri Kopeng pun menghadap Tuhan dengan iringan doa Bapa Kami dan Salam Maria yang dibisikkan ibu ke telinga mereka. Ya, hanya pada ibu aku melihat sosok yang penuh cinta dan hormat pada orang tua. Tak peduli di masa tua mereka menjadi cerewet, banyak maunya, dan kembali menjadi seperti anak kecil. Bahkan kakak perempuanku yang mengeluhkan kebawelan mertuanya, ditegur oleh ibu.
“Orang kalau sudah tua itu merasa kesepian. Segalanya telah berlalu dari mereka. Karir, ketenaran, kemudaan, kesehatan, dan anak-anak yang mereka kasihi sudah meninggalkan mereka. Mereka hanya butuh didengarkan dan merasa masih dibutuhkan. Jadi kalian cukup mendengarkan dan mengerti mereka. Bukan sebaliknya. Supaya mereka tidak terlalu merasa banyak kehilangan.” Nasihat ibu tentu bukan hanya untuk Mbak Wiwik, tapi juga ditujukan padaku.
“Bagaimanapun juga orang tua itu yang melahirkan, membesarkan, dan mengantarkan kalian menjadi mandiri. Juga mertuamu, Wik. Dia yang sudah susah payah menyekolahkan suamimu sampai jadi sarjana. Sekarang, setelah berhasil, justru kamu yang menikmati hasilnya. Jadi kamu harus berterimakasih pada mertuamu, bukannya malah memusuhi.” Ujar ibuku lagi.
Ibukupun melarang aku terlalu lama tinggal di Boyolali saat liburan. Aku juga harus mengunjungi mertuaku di Wonogiri meskipun suamiku tidak turut serta dalam acara liburan itu. Anak-anakku juga cucu dari nenek mereka di Wonogiri, sehingga aku harus membagi waktu. Tidak ada kebahagiaan lain bagi seorang nenek selain kedatangan cucu-cucunya. Walau tidak membawa oleh-oleh, tapi senyum cerah dan rasa hormat mereka adalah buah tangan yang paling berharga. Akupun akan nyekar ke makam ayah mertua.
“Win, bagaimana pendapatmu jika rumah peninggalan bapakmu ini kujual dan aku ikut kalian ke Jakarta?” Pertanyaan ibu mertuaku itu sangat mengagetkanku. Kenapa harus aku yang ditanya dan ditunjuk? Kenapa bukan iparku yang lain? Aduh, tak bisa kubayangkan bagimana jadinya jika aku serumah dengannya. Jangan-jangan petaka yang menimpa Mbak Wiwik akhirnya menimpaku juga. Kalau hanya sekedar mengunjungi, mengirim uang bulanan, memenuhi segala kebutuhan sih selama ini sudah kulakukan dengan mudah. Tapi kalau hidup dengan diatur-atur mertua padahal di rumah sendiri, aku harus pikir-pikir dulu.
“Bu, kalau rumah ini dijual apa tidak sayang?” Tanyaku mengulur jawaban.
“Semua anakku sudah pergi dari rumah. Mereka sudah punya rumah sendiri-sendiri di tempat mereka bekerja. Tak ada satupun yang mau tinggal dan merawat rumah ini. Untuk apa lagi? Aku sudah tua, Win. Tak sanggup lagi mengurus rumah sebesar ini. Aku hanya butuh teman untuk melewati masa tuaku.”
“Sebaiknya dibicarakan dulu dengan yang lain, Bu.” Ibu mertuaku kutinggal sendirian di teras rumah tanpa mendapat jawaban pasti dariku. Tinggal serumah dengan mertua? Mendengarkan dan melayaninya setiap saat? Merawatnya saat sakit? Mendampinginya saat maut menjemput? Mengurus pemakamannya? Itukah sederet tugas yang dibebankan padaku jika aku menyetujui keinginan mertuaku? Oh, My God.
Siang itu aku jadi kehilangan selera makan. Padahal ikan bakar gurih-legit yang langsung ditangkap dari waduk Gajah Mungkur, sudah tersedia di hadapanku. Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan mertuaku. Seandainya yang ditanya itu suamiku, pastilah di belakang aku bisa langsung protes dan mengajukan keberatan padanya. Tapi kali ini hidungku sendiri yang dicucuk.
Sore itu, aku dan anak-anak nyekar ke makam bapak mertua. Ibu mertuaku turut serta. Setelah rumput-rumput liar dibersihkan dan harum kelopak mawar ditaburkan, kamipun berdoa untuk arwah bapak mertua. Semoga kelak dibangkitkan dan hidup mulia bersama Kristus.
“Eyang, kenapa kuburan di sebelah sana itu rusak?” Tanya Adit, anak tertuaku sambil menunjuk ke sudut makam. Di bawah rindang pohon semboja itu, sebuah makam tertutup belukar dan batu nisannya telah rapuh. Tak sekuntum bungapun tertabur di atasnya. Sangat tidak terawat.
“Oh, anak-anak dari orang yang dimakamkan di situ merantau jauh dan tidak pernah pulang, sehingga tidak ada yang merawat makamnya.” Jawab ibu mertuaku.
“Untung kita sering pulang kampung ya, Ma. Jadi makam Eyang Kakung tetap bersih terawat.” Ujar Adit lagi. Aku hanya mengangguk. Sekali lagi kutoleh makam terlantar itu. Betapa tersia-sia. Kasihan, pikirku. Bagaimana seandainya itu makammu, Winda? Saat tua sendirian dan setelah dikuburpun tak ada yang datang untuk mendoakan. Aku jadi ngeri.
“Bu, kapan ibu akan ikut kami ke Jakarta?” Segera kusentuh bahu mertuaku. Secercah senyum mengembang dari bibir keriputnya. Untuk apa aku takut hidup serumah denganya? Perempuan itu sudah melahirkan seorang putra yang menjadi suami yang baik dan mapan untukku.
Ibuku yang sayang dan hormat pada orang tuanya sudah membuatku jadi sayang dan hormat pada dirinya. Tanpa dia meminta. Jadi jika aku sayang pada ibu mertuaku, bukankah itu pelajaran berharga juga bagi anak-anakku? Aku segera beranjak untuk membersihkan kuburan yang terlupakan itu dan berdoa untuk arwah yang dulu pasti pernah sangat berjasa terhadap anak-anaknya. (Bekasi Utara, 9 Juli 2008)

Back Street Love

BACK STREET LOVE
Oleh Rini Giri


Rengekan serangga senja mengantar langkah Lastri ke bawah pohon kamboja itu. Diapun duduk terpuruk di sana. Satu persatu bunga putih jatuh ke pusara ayahnya. Perempuan itu menengadah, melihat langit yang semburat merah. Pekuburan mulai sepi.
Dirabanya gundukan tanah bertabur mawar itu. Ayahnya tenang dalam alam penantian dan akan dibangkitkan untuk bersatu dengan Kristus dalam kerajaan kekal-Nya. Lelaki itu mengikuti Yesus dengan setia sepanjang hidup. Dia yang selalu membimbing Lastri membaca kitab suci, berdevosi, dan aktif dalam kegiatan gereja. Pastilah ayahnya akan marah besar jika tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Mungkinkah dia juga akan menikmati hidup kekal kelak jika telah mengingkari Yesus?
Oh, seandainya saja ayahnya tidak mengalami kecelakaan itu, pastilah hidupnya tidak akan sesulit ini. Ayahnya pergi hanya meninggalkan nama baik dan kehormatan di tengah masyarakat, tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Apalagi keempat adiknya masih sekolah semua. Ijasah SMK hanya bisa mengantar Lastri bekerja di toko kue dengan penghasilan rendah. Ibunya pun banting tulang menjual baju-baju batik dari rumah ke rumah. Sampai akhirnya seorang kawan baik ayahnya datang melamar.
“Maksud Pak Darno itu baik, Las. Dia ingin balas budi pada bapakmu. Ranto itu sudah bekerja mapan di kota. Dia juga pemuda yang baik.” Ibunya terus membujuk Lastri agar menerima pinangan itu. Apalagi, Pak Darno juga berjanji akan membantu membiayai Lilis, Lardi, Lasmi, dan Lesmana sampai lulus kuliah.
“Tapi kami tidak seiman, Bu. Lastri tidak mau meninggalkan Yesus.” Lastri mendengar sendiri bagaimana Pak Darno menggarisbawahi persyaratan utama dari perjodohan itu. Calon mempelai wanita harus mengikuti adat kebiasaan dan tradisi keluarga mempelai pria.
“Las, semua agama dan aliran kepercayaan di dunia ini baik adanya. Semua mengajarkan kebaikan, Las.” Ibunya berdalih.
“Tapi tidak ada yang menimbulkan cinta mendalam seperti aku mencintai Yesus, Bu.” Jawab Lastri mempertahankan diri.
“Apa kamu tega melihat adik-adikmu putus sekolah? Sebesar apapun usaha kita mencari nafkah, tidak akan sanggup membiayai mereka kuliah, Las.” Lastri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis. Teriris-iris dan perih. Haruskah dia meninggalkan imannya demi menyelamatkan kehidupan keluarganya? Siang malam Lastri berdoa memohon petunjuk. Tapi sampai tenggang waktu yang diberikan Pak Darno, petunjuk itu tidak tampak. Hanya wajah-wajah lugu adiknya yang terus mengusik pikirannya. Keempat remaja itu harus memiliki kehidupan yang lebih baik, sehingga tidak perlu menggadaikan iman untuk melanjutkan hidup seperti dirinya. Hanya melalui tangan Lastri lah kehidupan yang lebih baik itu bisa terwujud.
“Maafkan saya, Pak. Saya terpaksa melakukan ini.” Dipeluknya pusara itu. Ayahnya pasti sangat kecewa. Dulu ayahnya selalu berpesan, jika memilih pasangan hidup harus yang seiman. Seiman saja belum cukup. Harus yang punya kualitas diri, punya perhatian pada kehidupan rohani, mencintai apa adanya, dan mau bekerja. Suaminya punya segala kualitas itu, hanya saja tidak mengenal Yesus.
“Pak, adik-adik sekarang bisa tenang dalam belajar. Bahkan Lilis sebentar lagi akan wisuda. Beban Ibu juga tidak seberat dulu lagi. Mas Ranto juga baik dan sayang pada saya dan keluarga kita. Semoga Bunda Maria dan Yesus tidak marah pada saya. Saya tahu, teladan dan guru saya itu pasti sangat kecewa karena sudah saya khianati. Tapi sungguh, Pak, semua itu bukan kehendak saya. Saya tidak kuasa, Pak. Saya terlalu lemah. Tapi di dalam lubuk hati saya yang terdalam, Maria tetap menjadi Bunda panutan. Teladan Yesus selalu hidup dalam jiwa saya.” Serangga pohon semakin merengek-rengek di dahan-dahan kemuning. Batang-batang kemboja dan pusara-pusara di sekitar tampak menghitam karena cahaya matahari kian tipis.
“Pak, di dekat rumah kami di kota, terdapat sebuah kapel kecil. Betapa pilu hati saya setiap kali ada misa dan mendengar lantunan lagu-lagu dari Puji Syukur. Saya meratap ketika sayup-sayup terdengar untaian doa rosario didaraskan. Saya sangat tersiksa, Pak. Saya merindukan semua itu. Ingin rasanya saya berlari ke sana dan rebah di depan Bunda Kudus untuk mencurahkan segala penat ini. Ingin sekali saya bersimpuh di depan Sakramen Maha Kudus supaya beban dosa saya ini diringankan. Tapi apa daya saya, Pak. Hidup keluarga kita sekarang ada di genggaman tangan saya. Jika genggaman ini saya lepas, mereka yang akan menanggung penderitaan. Sungguh, saya tidak ingin Lilis dan Lardi gagal kuliah. Saya juga tidak mau Lasmi dan Lesmana putus sekolah. Apalagi melihat Ibu sengsara seperti dulu, sungguh tidak saya harapkan.” Lastri meraba salib yang terukir di relung batu nisan itu. Matanya kian deras melelehkan kepedihan.
“Pernah saya tidak bisa menahan diri, Pak. Saat Mas Ranto sudah pergi kerja, saya datang ke kapel itu diam-diam. Saya harus menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Mas Ranto cukup dikenal dan disegani warga kota karena kiprah politiknya. Jadi apapun yang saya lakukan, pastilah mengundang perhatian masyarakat dan cepat menjadi gosip. Saya hanya sampai di pintu kapel itu. Meskipun seorang koster sudah membukakan pintu lebar-lebar, saya tidak sanggup untuk masuk. Lega rasanya bisa melihat altar, salib, dan tabernakel dari kejauhan. Sejenak saya memandangi Yesus. Dia tetap tersenyum, matanya tetap memandang saya penuh cinta, dan tangan kanannya yang sedikit terangkat memberi salam kedamaian. Dia tidak marah. Bahkan tampak semakin merindukan kedatangan saya. Bunda Mariapun masih tetap ramah seperti dulu. Kedua tangannya yang terbuka seolah mengundang saya untuk dipeluknya. Sungguh mati, Pak, saya tidak tahan dengan semua itu. Sayapun berlari sekencang-kencangnya dan meraung-raung dalam tangis karena tersiksa. Sebenarnya ingin saya mengaku dosa, tapi kaki ini tersendat karena saya tidak mungkin untuk kembali. Saya tidak sanggup melihat kebahagiaan keluarga kita terenggut. Biarlah saya datang ke pintu kapel itu setiap kali rindu. Oh, mungkinkah Yesus menerima cinta ini? Hanya back street love yang bisa saya berikan pada-Nya. Entah sampai kapan. Saya sudah menyangkal-Nya di dunia ini, apakah Diapun akan menyangkal saya kelak?” Sebuah tangan menyentuh bahu Lastri dan perempuan itu terhenyak. Buru-buru air mata dihapusnya.
“Bu, sudah malam.” Lastri berdiri, lantas mengambil beberapa lembar uang dari dalam tas dan memberikan kepada penjaga makam itu. Diapun melangkah pergi. (Bekasi Utara 2008)

Hadiah Untuk Bapak

Sudah lima tahun aku tidak bertemu Yohanes. Dia adikku dan biasa dipanggil John. Sore itu sebuah taksi berhenti di depan rumah mengantar seorang perempuan. Buru-buru aku menyambutnya, memeluknya, dan kami bertangis-tangisan.
“Bagaimana kabar John?” Tanyaku penuh kerinduan.
“Mas John baik, Mbak. Dia segera menyusul sepulang kerja nanti.” Jawab adik iparku sambil mengusap matanya. Segera kubantu dia membawa barang bawaan ke dalam rumah. “Mana Bapak?” Tanyanya.
“Ada di kamar. Ayo aku antar!” Kamipun menuju ruangan dimana ayah kami terbaring tak berdaya oleh stroke. Nila tampak ragu-ragu untuk masuk, tapi aku memberinya dorongan. Adik iparku itupun segera menghambur menciumi tangan kanan bapak yang hanya diam membatu. Masih ada kecongkakan yang terpancar dari mata tua lelaki itu.
“Pak, maafkan saya ya. Saya yang menelpon John dan memberitahu kalau bapak sedang sakit. Saya bingung, Pak. Seminggu lagi saya harus ikut suami ke tempat kerjanya yang baru. Kalau saya pergi, siapa yang akan merawat bapak? Saya tidak tega jika bapak hanya ditemani perawat. Saya tidak mungkin mengajak bapak, karena tempat baru itu sangat jauh. Sangat beresiko, Pak. John dan Nila yang akan merawat bapak.” Jika bapak masih sehat, pastilah aku sudah dimaki-makinya. Seperti dulu saat ibu meninggal, aku memberitahu John. Dia datang bersama istrinya dan hanya berdiri di halaman rumah. Dalam suasana duka itu, bapak marah besar padaku. Ketika peti jenazah akan ditutup, aku mencegah dan memohon agar John diperbolehkan melihat ibu untuk terakhir kali. Tapi bapak memarahiku. Katanya John yang murtad tidak layak memberi penghormatan pada ibu yang telah meninggal dalam Kristus. Kakak iparku segera mendekati adikku itu dan dengan wajah tak bersahabat menyuruhnya pergi. Aku berlari ke halaman sambil memanggil-manggil nama John, tapi tangan suami dan kakak tertuaku dengan kuat mencegah. Bapak menampar wajahku. Sejak itu aku tak berani lagi menghubungi John. Diapun lenyap tak berbekas dari hadapanku. Kadang jika aku kangen padanya, kupandangi foto-foto masa kecil kami dan aku bicara padanya. Mungkin karena umur kami tak beda jauh dan dia anak bungsu, maka hati kami begitu dekat. Hanya aku yang bisa memahami dirinya. Ketiga kakak kami selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sehingga kurang peduli.
Ketika adikku itu mengutarakan niatnya untuk menikahi seorang gadis yang berbeda suku dan agamanya dengan kami, hanya aku yang memeluknya ketika maksudnya itu mendapat jalan buntu dalam rapat keluarga. Seperti biasa bapak hanya marah-marah, memaki, lantas menampar. Ibu hanya diam, menunduk, dan menangis karena takut pada bapak. Kakakku yang tertua dengan segala retorikanya menasihati John agar meninggalkan gadis itu. Kakakku yang kedua menuduh John telah mempermalukan keluarga kami dan akan memecah keutuhan keluarga yang telah turun-temurun mengikuti Yesus. Sedangkan kakakku yang ketiga menuding John tidak setia pada Kristus dan dikutuk berdosa besar yang tak terampuni. Hanya aku yang berani berdiri dan mengatakan bahwa John sudah dewasa, dia punya hak untuk menentukan pilihan, dia juga sudah bisa menanggung segala konsekwensi dari sikapnya itu. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan John? Apa tega keluarga ini melihat John menderita dan frustasi? Apakah seperti ini sikap keluarga kristiani yang mengaku mengenal kasih Yesus? Kasih Yesus mengatasi segala aturan dan agama manapun. Yesus juga tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti-Nya. Dia selalu menggunakan istilah ‘barang siapa’ yang merujuk pada siapa saja yang dengan rela dan tulus mau mengikuti-Nya. Lagi-lagi aku mendapat gertakan dari bapak disertai tamparan keras. Tapi sebelum tangan kasar itu menyentuh wajahku, buru-buru John memelukku sehingga kepalanyalah yang jadi sasaran. Malam itu John diusir dan tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga kami.
Pernah aku tanyakan padanya kenapa tidak menikah saja di gereja. Bukankah dia laki-laki dan bisa mempengaruhi, atau meminta, atau memaksa gadisnya untuk mengikuti keyakinannya? Tapi dia bilang, cara itu bukan cara lelaki sejati. Dia lebih memilih keluar dari lingkaran keluarga besar kami ketimbang kehilangan gadis yang teramat dicintainya. Dia mengaku tidak bisa hidup tanpa Nila. Dia juga tidak tega jika Nila mendapat pertentangan dari keluarganya dan harus menderita karena dijauhi sanak familinya.
“Biarlah aku saja yang menderita, Mbak.” Katanya waktu itu.
“Tapi John, kamu sudah dibabtis. Kita selalu pergi ke sekolah minggu bersama. Belajar menjadi putra-putri altar bersama. Sama-sama aktif di Mudika. Apa semua itu benar-benar akan kamu tinggalkan?” Tanyaku. John hanya diam. Aku tahu dalam lubuk hatinya terjadi pergumulan batin hebat.
“Aku sudah pernah mengenal Dia, Mbak. Selamanya aku akan mengenal Dia.” Aku sebagai kakaknya sebenarnya juga sedih dan merasa sangat kehilangan jika adikku tersayang itu betul-betul meninggalkan gereja. Tapi manakah yang harus dimenangkan? Kemanusiaan atau institusi agama? Bukankah kemanusiaan itu esensi kasih yang diajarkan Yesus? Yesus lebih mengutamakan kasih daripada aturan dan tradisi orang Yahudi. Oh, seandainya saja bapak mau lebih teliti membaca kitab suci, pastilah dia malu pada Yesus. Mesias menawarkan dua jalan untuk ditempuh tanpa pernah memaksa seseorang untuk memilih salah satu. Yang Dia tunjukkan hanyalah konsekuensi dari pilihan itu. Kenapa keluargaku yang mengaku meneladan Kristus lebih memilih mengusir anak kandungnya daripada merangkul dia dan memberikan kebebasan menentukan jalan hidup. Kemana kasih keluargaku?
“Pak, Mas Frans terlalu sibuk dengan kariernya. Jangankan merawat bapak, menjengukpun tidak pernah. Mas Danil terlalu takut pada istrinya yang keberatan jika harus merawat bapak di rumahnya. Mbak Magda anaknya banyak dan masih kecil-kecil, jadi dia kerepotan jika harus mengurus bapak. Hanya John dan Nila yang bisa diharapkan, Pak. Kalau tugas suami saya di tempat baru sudah selesai, saya berjanji akan segera pulang dan merawat bapak lagi. Sudah saatnya bapak menerima John dan Nila, Pak. Anak-anak bapak yang penurut dan setia, nyatanya sekarang tidak bisa diandalkan. John sudah lama hilang dan kini sudah kembali. Bukankah kita harus merayakannya, Pak?”
“Mbak!” Aku menoleh. Adikku berdiri di ambang pintu. Segera kusongsong dan kupeluk dia. John mendekati bapak dan mencium keningnya. “Pak, kami punya rencana untuk memperbaharui perkawinan kami. Nila sendiri yang minta.” Kulihat ada lelehan air di sudut mata bapak. (Bekasi Utara, April 2008)