BOCAH DI BAWAH POHON
Oleh Rini Giri
Bocah laki-laki itu duduk di bawah pohon mangga depan rumah. Persis di sebelah bak sampah yang baru saja dikorek-koreknya dengan tongkatnya. Dia sedang memandang ke atas, ke arah mangga-mangga muda yang bergelantungan. Seonggok karung bekas berisikan sampah-sampah pagi menemaninya. Cuaca cerah dan menjanjikan banyak sinar matahari di siang nanti, sehingga aku buru-buru menjemur cucianku. Bocah itu sesekali menoleh ke arahku. Entah takut, entah malu. Aroma telur dadar yang baru saja aku bikin menyeruak keluar lewat celah teralis jendela. Anak-anakku ribut dengan persiapan mereka menuju sekolah.
“Bu, boleh minta mangganya?” Aku menoleh. Anak itu sudah berdiri di pintu garasi dengan sikap salah tingkah. Mataku melongok ke dahan-dahan yang baru membuahkan mangga kecil-kecil. Jangankan dimakan begitu saja, dirujakpun pasti belum enak.
“Buahnya masih kecil-kecil. Mana enak dimakan.” Sahutku sambil mengibaskan baju basah. Anak itu semakin salah tingkah karena mendengar pertanda bahwa permintaannya akan ditolak. Aroma telur dadar kembali tercium menyengat dan membuat lapar. Anak-anakku mulai berebut tempat duduk untuk sarapan. Pastilah bocah dekil itu juga lapar. Sepagi ini sudah harus memulung sampah, pastilah belum makan. Bahkan mungkin tidak punya apa-apa untuk dimakan, sampai-sampai nekat meminta mangga kruntil untuk mengganjal perut. “Kamu lapar? Kuberi nasi saja ya? Pagi-pagi jangan makan kruntil, nanti sakit perut. Tunggu dulu di situ.” Ujarku sambil mengangkat ember yang sudah kosong dan bergegas masuk rumah.
“Buat siapa, Ma?” tanya anakku ketika aku mencendok nasi, telur dadar, dan oseng-oseng buncis lantas membungkusnya dengan kertas makan.
“Di depan ada pemulung. Kasihan dia belum makan.”
“Kenapa Mama yang ngasih makan? Kenapa bukan mamanya sendiri saja?” “Mungkin mamanya tidak punya makanan. Tuhan kan sudah begitu baik pada kita. Pagi-pagi kita sudah bisa sarapan enak. Pergi ke sekolah bisa bawa bekal. Pulang sekolah kalian juga sudah bisa makan lagi. Jadi kita juga harus baik sama orang lain. Apalagi kalau dia tidak seberuntung kita. Kalian lihat kan, seharusnya pagi begini dia bersiap ke sekolah seperti kalian, tapi terpaksa cari uang dengan memulung barang bekas. Kasihan kan?” Jawabku. Kedua jagoan kecilku itu hanya manggut-manggut sembari melahap sarapan mereka.
“Ini ada nasi. Makanlah. Juga koran bekas sedikit siapa tahu bisa dijual.” Bocah itu malu-malu menerima pemberianku. Dia mengucapkan terimakasih lantas buru-buru kembali ke bawah pohon. Dia duduk dan makan dengan lahapnya.
Keesokan harinya anak itu kembali duduk di bawah pohon mangga. Dia menunggu aku keluar. Sesekali dia menoleh ke arah rumah. Melihat anak-anakku makan dengan lahap di meja makan, aku jadi merasa tidak tega pada bocah dekil itu. Kubungkuskan lagi seporsi sarapan dan kuberikan padanya. Akhirnya menjadi kebiasaan, setiap pagi pemulung kecil itu makan di bawah pohon mangga. Namanya Joni. Umurnya duabelas tahun. Ayah dan ibunya entah dimana dan dia tinggal di bedeng pinggir kota dengan bibinya yang hanya menyuruhnya bekerja, bekerja, dan terus bekerja tanpa diurus kebutuhannya. Ya sudah, sebungkus nasi setiap pagi mungkin bisa membantunya. Aku juga tidak akan bangkrut. Seorang anak kecil saja rela memberikan dua ikan dan lima rotinya pada Yesus dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sengaja kutambah takaran beras yang kutanak dan beberapa kali kubekali dia sebungkus lagi untuk dimakan di siang hari.
Suamiku senewen ketika belum akhir bulan aku sudah minta uang lagi. Kubilang padanya, harga-harga kebutuhan pokok naik semua. Sudah saatnya dia menambah uang belanjaku.
“Dihemat dong, Ma!” keluhnya.
“Sudah, Pa. Tapi semua meroket harganya. Dulu belanja lima ribu perak udah bisa nyayur asem dan goreng tempe. Sekarang uang segitu cuma buat goreng tempenya aja. Tempe dulu seribu sekarang dua ribu selonjor. Minyak goreng dulu seperempat kilo hanya seribu limaratus, sekarang tigaribu.” Aku meyakinkannya. Suamiku mengalah.
Pada suatu pagi, suamiku melihat apa yang kulakukan di bawah pohon mangga itu. Dia marah besar padaku. Menurutnya, dirinya sudah bekerja banting tulang dari pagi hingga petang, namun tidak kuimbangi dengan sifat hemat.
“Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Sok kaya! Bergaya sok dermawan! Hidup kita udah pas-pasan! Ngapain ngasih santunan pada orang lain segala?” “Aku cuma kasihan sama anak itu, Pa.”
“Kamu tidak kasihan sama suamimu yang pontang-panting cari duit? Lagipula, anak itu nanti berkebiasaan buruk. Maunya minta-minta terus pada orang.”
“Pa, aku cuma…”
“Sudah! Aku nggak peduli! Pokoknya aku nggak suka dengan caramu itu!” Suamiku menghardik dan buru-buru memacu sepeda motornya. Aku hanya diam. Sebenarnya pengeluaran yang meningkat di keluarga ini bukan karena anak yang numpang makan setiap pagi itu. Toh porsinya tak seberapa. Tapi harga-harga memang sedang membubung dengan congkaknya. Suamiku tidak mau mengerti.
Pagi itu ketika bocah itu kembali ke bawah pohon mangga, aku tidak keluar. Dia menunggu begitu lama. Beberapa kali menoleh ke arah pintu dengan gelisah. Aku tahu dia lapar dan tergoda dengan aroma nasi goreng yang baru kuangkat dari wajan. Tapi aku tidak membungkuskannya lagi. Sebenarnya aku merasa bersalah padanya karena lebih memilih untuk tidak cekcok dengan suami ketimbang membelanya. Aku seakan mendengar suara perut kosongnya tapi hanya diam. Meskipun aku tahu, siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban kalau dirinya sendiri berseru-seru. Tiga hari berturut-turut anak itu menunggu, tapi aku tidak membuka pintu. Akhirnya dia tidak pernah duduk lagi di bawah pohon itu. Mungkin bosan menunggu. Di satu sisi aku merasa bebas karena tidak harus melihat dia menunggu dengan gelisah lagi. Tapi di sisi lain, aku merasa menyesal karena menutup hatiku padanya.
Siang itu anak bungsuku pulang sekolah sambil menangis. Siku dan lututnya berdarah karena jatuh dari sepeda. Di belakangnya kulihat Joni menuntun sepeda itu dan menyandarkannya di pintu garasi.
“Dia nolongin Andre, Ma.” Ujar anakku terbata-bata. Aku segera mengambil uang ke dalam dan memberikan pada Joni.
“Makasih ya Jon. Terimalah ini sebagai ucapan terimakasih.” Tapi dia menggeleng.
“Nggak usah, Bu. Ibu sudah banyak menolong saya.” Joni segera berpaling hendak pergi.
“Besok pagi datanglah lagi ke sini.” Pintaku.
“Nggak usah, Bu. Sekarang saya bisa sarapan di rumah singgah.” Jonipun berlalu. Dia anak yang tahu balas budi. Aku terpaku dan malu. Makasih, Jon. Maafkan aku. (Bekasi Utara, Mei 2008)
Selasa, 30 Maret 2010
Jumat, 26 Maret 2010
AYAH DANIA
AYAH DANIA
Oleh Rini Giri
Senja terasa penat dalam kemacetan lalu-lintas kota. Ruas jalan tak bergerak hampir satu jam. Tak ada satupun pengemudi yang mau sabar. Semua ingin saling mendahului. Berhasrat lekas sampai di rumah, mencium istri, memeluk anak-anak, mandi air hangat, makan hidangan malam istimewa, lantas bercinta semalaman.
Kerja seharian cukup meremukkan otak dan tulang. Hanya rumah yang bisa memulihkan kerusakan-kerusakan batin dan raga yang telah tersedot sekian jam di meja-meja komputer dan ruangan meeting ber-AC gedung-gedung pencakar langit. Ya, hanya rumah mereka, bukan rumahku. Mungkin hanya aku yang suka dengan kemacetan ini. Aku sangat menikmati. Pulang terlambat telah banyak menyelamatkan harga diriku. Aku terhindar dari suatu kewajiban.
Ponselku berbunyi, melantunkan lagu. Di layar terbaca sederet nomor yang tidak aku kenal, mungkin calon klien. Jantungku tersentak saat mengenali suara, yang duapuluh tahun silam pernah menjadi parau karena kucekik dan kuhajar.
“Danto, aku hanya ingin melihat dia. Sekali ini saja. Tolonglah aku, Danto. Aku tahu kau begitu benci dan muak padaku. Mungkin kau masih dendam padaku. Kau pasti masih ingin menonjok dan menendangku. Atau kau masih punya ambisi untuk membunuhku. Aku tidak peduli. Aku rela jadi sasaran kemarahanmu. Asalkan, ijinkan aku melihatnya, Danto. Sekali saja.” Suara itu merendah memohon. Seperti yang sudah-sudah. Keinginan, permintaan, dan nada putus asanyapun masih sama.
“Tidak!” jawabku datar dengan nada pongah. Biarlah dia kelabakan menanggung dosa dan penyesalan. Aku tidak peduli. Itu hukuman yang pantas dia terima. Semua sudah menjadi milikku. Hanya aku yang boleh menguasai. Dia hanya sedikit bagian di masa lalu, jadi tidak punya hak secuilpun.
“Dan, tolonglah aku. Apa kau tega membiarkan aku mati tanpa jawaban? Aku sedang sekarat. Tubuhku sedang digerogoti penyakit maut. Umurku tidak lama lagi. Apa kau tega, Danto?” Suara itu semakin memelas, sama persis duapuluh tahun lalu ketika dia minta ampun dan meronta-ronta agar aku melepaskan cengkeraman tangan kalapku di lehernya. Minta hidup. Memohon untuk bernafas.
“Alasan!” Jawabku, lantas kumatikan ponsel. Di depan sana deretan mobil belum juga bergerak dan di belakangku bunyi klakson ketidaksabaran silih berganti menusuk gendang telinga. Aku jadi geram. Baru kali ini aku memaki-maki dalam kemacetan lalu-lintas. Darimana keparat itu tahu nomor ponselku!
Di luar sana, penjaja asongan semakin agresif menawarkan barang dagangan, pengamen-pengamen kecil dengan alat musik dari tutup botol soft drink mengetuk-ngetuk kaca mobil, dan para gelandangan terus saja mengulurkan gelas bekas air mineral untuk meminta derma. Siapa yang sudi buka kaca jendela di kemacetan kota seperti ini? Setiap warga kota sudah menjadi paranoid dan curiga pada setiap orang.
Waktuku habis di jalan. Sudut-sudut segala penjuru jalanan kota aku kenal dengan baik. Jauh lebih baik dibanding aku mengenali lekuk-lekuk tubuh istriku sendiri. Aku nyaris tak pernah menyentuhnya. Aku jadi impoten sejak menikahinya. Seringai wajah yang kucekik itu terus menghantuiku.
Anak perempuan kami sudah berumur sembilan belas tahun. Kadang aku keliru menyimpan dokumen-dokumen kantor di laci miliknya, karena sudut-sudut kota lebih kukenal dibanding ruangan rumahku sendiri. Saat aku kelabakan mencari, dengan enteng gadis itu nyeletuk, “Papa tuh masih seumuran pacar Dania, tapi udah pikun.” Map-map yang aku butuhkan itu sudah terulur di tangannya. Eh, apa? Pacarnya seumuran denganku? Gila! Sungguh gila dan tidak boleh dibiarkan! Jangan-jangan pacarnya itu om-om senang, hidung belang, yang suka memanfaatkan kepolosan para gadis muda! Atau jangan-jangan anak gadisku sedang mengganggu keutuhan rumah tangga orang! Tidak boleh! Tapi dia hanya menyeringai sambil berlari menuju tangga untuk bersembunyi di kamarnya.
“Kau tahu kalau Dania sudah punya pacar?” Kutanya istriku. Perempuan itu hanya menggeleng tanpa mencoba memandangku. “Dia tidak pernah cerita sama kamu?” Dia menggeleng lagi. “Jadi kamu tidak tahu kalau dia itu pacaran sama om-om?” Kali ini dia baru mau menoleh. Senyumnya dingin.
“Dia hanya bercanda,” jawabnya ringan sambil terus sibuk melipat-lipat baju dari almari yang sebenarnya sudah rapi tersimpan di situ. Istriku selalu sibuk. Pekerjaannya seolah tak pernah selesai. Bahkan kadang setelah semua beres, dia sengaja menciptakan pekerjaan baru. Mungkin dia ingin menyalurkan energinya yang berlebih, atau mungkin memang ingin kelihatan sibuk sehingga tidak perlu kudekati. Aku tidak peduli. Satu-satunya rasa peduliku sudah kuberikan padanya duapuluh tahun silam dan kutanggung konsekuensinya hingga kini. Menjadi lelaki yang tidak utuh. Selama ini dia memang memasak dan berdandan untukku, tapi aku tidak pernah yakin apakah cintanya hanya untukku atau terbagi pada orang lain di masa lalu.
Niarti, dara paling memukau di kampus. Mungkin karena senyumnya merekah sexy oleh lip gloss bening dan tubuhnya padat dengan lekuk-liku yang mempesona. Aku jatuh hati pada keramahannya. Temannya banyak. Bahkan teman-teman kostkupun langsung akrab dengannya. Cowok sekaku batu sepertiku, sangat beruntung bisa menggaet cewek sesupel Niarti.
Hanya satu yang membuatku ketakutan. Dia terlalu bersemangat dan bergairah. Dada busungnya menempel erat di punggungku ketika kami melintasi malam-malam biru di atas sepeda motor sepanjang jalan raya. Suaranya berbisik manja penuh desahan di telingaku dan bibir basahnya sengaja mengenai belakang telinga. Udara malam yang dingin semakin membuatku bergidik. Tapi aku selalu bisa menyelamatkan diri. Jangankan menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang paling inti, mengecup bibirnyapun aku tidak berani, meskipun dia dengan suka rela menawarkan. Aku bukannya munafik, tapi hanya tidak ingin merusak anak orang. Aku mencintainya, maka akan kujaga dia agar tetap utuh dan tidak membuat keluarganya kecewa. Empat adikku perempuan, sehingga akupun tidak ingin ada lelaki yang kurang ajar memperlakukan mereka.
Aku selalu bisa menyelamatkan diriku. Tapi tidak bisa menyelamatkan dirinya. Suatu malam, sepulang dari rapat senat di kampus, lampu sepeda motorku menangkap sepasang muda-mudi yang berboncengan di depanku. Mereka begitu mesra dan membuatku hampir terjungkal ke selokan. Itu Niarti dan Asman, teman satu kostku. Keesokan harinya, kutanya gadisku, pergi kemana dia semalam. Bibir penuh lip gloss-nya hanya bungkam. Kutanya Asman. Kawanku itu menyeringai, persis raut muka Dania ketika menyerahkan map-map yang kucari.
“Kau jadi lelaki terlalu kaku, Danto. Gadismu punya gelora seperti ombak lautan selatan, sedangkan dirimu tidak bisa mengatasinya karena bersikap seperti karang-karang keras kepala. Aku hanya mencoba membantu mengatasinya saja. Dan nyatanya, ombak-ombak ganas itu bisa aku jinakkan agar mengalir ke teluk-teluk yang tenang,” jawab Asman sambil menyunggingkan senyum sinis yang membuatku menggigil.
“Kauapakan dia, Asman?” Tanyaku geram. Tanganku terkepal keras oleh amarah.
“Tanyakan sendiri pada gadismu itu, dia minta apa dariku? Aku hanya menurutinya saja. Aku hanya melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan padanya.” Darahku mendidih mendengar ucapannya. Sebuah bogem mentah mendarat dimukanya dan membuat hidungnya berdarah. Keributan itu membuat seluruh penghuni kost keluar dan melerai kami. Itu adalah hari terakhir Niarti menjadi pacarku. Aku sudah berusaha menjaga dirinya, namun ternyata dia sendiri tidak mau kujaga. Aku kalah.
Setengah tahun belum bisa membuatku sembuh dari luka batin itu. Sakit hati memang serupa dengan goresan luka di tubuh. Meskipun perihnya telah hilang, namun bopeng bekas luka tetap saja menempel dan tidak mau pergi. Seorang kawan dekat Niarti datang ke kost baruku. Sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai karena sayatan luka yang mulai mengering itu sudah pasti akan berdarah kembali.
“Dan, datanglah ke rumah sakit barang sebentar. Semalam Niarti mencoba bunuh diri dengan memutus nadinya. Dia sedang depresi. Kandungannya sudah hampir empat bulan dan Asman menghilang begitu saja,” ujar gadis itu memohon. Sebenarnya aku sudah tidak ada sangkut-pautnya dengan kekotoran itu meskipun masih terus mengingat dia. Waktu enam bulan tak mampu melenyapkan Niarti dari hidupku. Gadis itu bak bayang-bayang yang menempel pada tubuhku dan mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia hanya lenyap kala aku sembunyi dalam kegelapan, tapi langsung muncul lagi ketika aku menginjak tanah yang diterpa cahaya. Aku bukan hanya kasihan mendengar kabar buruknya. Aku terpukul. Aku seperti dihantam benda keras untuk kedua kalinya. Aku tidak rela dia diperlakukan secara tidak bertanggungjawab seperti itu. Sama seperti aku tidak akan rela jika kewanitaan adik-adikku dilecehkan serendah itu.
“Apa maumu?”
“Tolong, cari dimana Asman. Suruh dia kembali dan mempertanggungjawabkan semua ini. Tentunya kamu tidak ingin melihat Niarti mati dengan cara hina seperti itu kan?” Aku hanya diam, tapi rupanya kawan baik Niarti itu sudah cukup puas dan mendapatkan jawaban yang dia cari. Dia pun pergi.
Aku hanya melihat Niarti dari kaca jendela kamar kelas tiga itu. Dia tidur nyenyak dalam kekuasaan obat penenang. Wajahnya pucat. Bibir basahnya mengering dan membiru. Rambut ikal wanginya kini kusut masai. Tubuhnya yang padat tampak rapuh dan sengsara. Tidak ada lagi gairah yang kutakuti dulu. Aku harus mencari Asman, dimanapun dia. Akhirnya kutemukan dia di rumah salah satu kerabat dan dia mencoba berkelit. Saat itulah aku hilang kendali dan hampir saja membunuhnya. Dia baru kulepas ketika suaranya yang parau tercekik berjanji mau menikahi Niarti. Segera kuberitahu kawan dekat Niarti, bahwa Asman akan datang menjemput akhir minggu nanti.
“Sudah tiga minggu aku menunggu Asman. Dia tidak datang juga,” keluh Niarti kala datang ke tempat kostku.
“Maafkan aku. Aku sudah berusaha.”
“Tak apa. Terimakasih kamu sudah mau membantu aku.”
“Lantas apa rencanamu?”
“Aku akan menggugurkan kandungan ini. Aku terlalu muda untuk menjadi ibu tanpa suami.” Aku terhenyak dengan keputusanya itu. Tidak. Dia tidak boleh menjadi pembunuh. Dan bukankah seseorang yang mengetahui rencana pembunuhan dan hanya diam saja, itu jauh lebih kejam dan berbahaya?
“Aku akan menikahimu, Niar. Jangan pernah menjadi pembunuh. Kau bisa terhukum seumur hidupmu dan hukuman dunia tidak bisa menghilangkan hukuman akhirat.”
Dania sudah jadi perawan dan mengaku punya pacar seumur diriku. Minggu pagi dia pamit untuk belajar melukis dan pulang cepat dengan muka muram. Guru melukisnya masuk rumah sakit karena kanker prostat ganas.
“Pa, aku sangat mengidolakannya. Dia itu seumur Papa dan entah kenapa aku sangat menyayangi dan menghormatinya. Bahkan kadang aku ingin jadi pacarnya. Mungkin aku juga sudah jatuh cinta padanya. Tapi itu ide gila kan, Pa? Pasti Papa akan menentangku habis-habisan. Nah, biar Papa tidak khawatir dan tidak menuduhku pacaran sama om-om, antar aku pergi menjenguknya ya, Pa.” Dania tidak pernah meminta apa-apa dariku, maka kuturuti saja permintaannya itu. Aku mengasihinya seperti milikku sendiri, karena dia lahir dan tumbuh di pangkuanku. Di rumah sakit, lelaki itu terbaring tak berdaya dan hampir mati.
“Terimakasih, Danto. Kaubawa dia kemari untukku,” bisik lelaki itu terbata-bata. Dania tidak mendengarnya. “Maafkan aku, Danto. Sampaikan juga maafku pada istrimu.” Aku hanya diam. “Aku tahu nomor teleponmu dari daftar riwayat hidup Dania.” Jadi sebenarnya selama ini dia sudah tahu bahwa Dania itu anaknya dan menelponku hanya untuk meneror dan menguak luka lama. Andai dia masih sehat, mungkin aku masih bernafsu untuk meninjunya. Tapi sekarang dia sudah tak berdaya dan hanya ingin aku melihat bagaimana anaknya begitu sayang padanya. Ya sudah, kebetulan. Lihatlah anakmu ini, mirip sekali denganmu bukan? Kasihan Dania, murid kesayangannya itu tidak tahu siapa sebenarnya guru idolanya itu. Asman mengatupkan mata dengan senyum getir di pelukan anak gadisnya.
“Asman meninggal dunia, Niar.” Kusampaikan kabar duka itu pada istriku.
“Bukankah dia sudah mati duapuluh tahun silam? Kuburannyapun sudah hancur. Kenapa kau masih saja ketakutan ?” (Bekasi Utara, Februari 2008)
Oleh Rini Giri
Senja terasa penat dalam kemacetan lalu-lintas kota. Ruas jalan tak bergerak hampir satu jam. Tak ada satupun pengemudi yang mau sabar. Semua ingin saling mendahului. Berhasrat lekas sampai di rumah, mencium istri, memeluk anak-anak, mandi air hangat, makan hidangan malam istimewa, lantas bercinta semalaman.
Kerja seharian cukup meremukkan otak dan tulang. Hanya rumah yang bisa memulihkan kerusakan-kerusakan batin dan raga yang telah tersedot sekian jam di meja-meja komputer dan ruangan meeting ber-AC gedung-gedung pencakar langit. Ya, hanya rumah mereka, bukan rumahku. Mungkin hanya aku yang suka dengan kemacetan ini. Aku sangat menikmati. Pulang terlambat telah banyak menyelamatkan harga diriku. Aku terhindar dari suatu kewajiban.
Ponselku berbunyi, melantunkan lagu. Di layar terbaca sederet nomor yang tidak aku kenal, mungkin calon klien. Jantungku tersentak saat mengenali suara, yang duapuluh tahun silam pernah menjadi parau karena kucekik dan kuhajar.
“Danto, aku hanya ingin melihat dia. Sekali ini saja. Tolonglah aku, Danto. Aku tahu kau begitu benci dan muak padaku. Mungkin kau masih dendam padaku. Kau pasti masih ingin menonjok dan menendangku. Atau kau masih punya ambisi untuk membunuhku. Aku tidak peduli. Aku rela jadi sasaran kemarahanmu. Asalkan, ijinkan aku melihatnya, Danto. Sekali saja.” Suara itu merendah memohon. Seperti yang sudah-sudah. Keinginan, permintaan, dan nada putus asanyapun masih sama.
“Tidak!” jawabku datar dengan nada pongah. Biarlah dia kelabakan menanggung dosa dan penyesalan. Aku tidak peduli. Itu hukuman yang pantas dia terima. Semua sudah menjadi milikku. Hanya aku yang boleh menguasai. Dia hanya sedikit bagian di masa lalu, jadi tidak punya hak secuilpun.
“Dan, tolonglah aku. Apa kau tega membiarkan aku mati tanpa jawaban? Aku sedang sekarat. Tubuhku sedang digerogoti penyakit maut. Umurku tidak lama lagi. Apa kau tega, Danto?” Suara itu semakin memelas, sama persis duapuluh tahun lalu ketika dia minta ampun dan meronta-ronta agar aku melepaskan cengkeraman tangan kalapku di lehernya. Minta hidup. Memohon untuk bernafas.
“Alasan!” Jawabku, lantas kumatikan ponsel. Di depan sana deretan mobil belum juga bergerak dan di belakangku bunyi klakson ketidaksabaran silih berganti menusuk gendang telinga. Aku jadi geram. Baru kali ini aku memaki-maki dalam kemacetan lalu-lintas. Darimana keparat itu tahu nomor ponselku!
Di luar sana, penjaja asongan semakin agresif menawarkan barang dagangan, pengamen-pengamen kecil dengan alat musik dari tutup botol soft drink mengetuk-ngetuk kaca mobil, dan para gelandangan terus saja mengulurkan gelas bekas air mineral untuk meminta derma. Siapa yang sudi buka kaca jendela di kemacetan kota seperti ini? Setiap warga kota sudah menjadi paranoid dan curiga pada setiap orang.
Waktuku habis di jalan. Sudut-sudut segala penjuru jalanan kota aku kenal dengan baik. Jauh lebih baik dibanding aku mengenali lekuk-lekuk tubuh istriku sendiri. Aku nyaris tak pernah menyentuhnya. Aku jadi impoten sejak menikahinya. Seringai wajah yang kucekik itu terus menghantuiku.
Anak perempuan kami sudah berumur sembilan belas tahun. Kadang aku keliru menyimpan dokumen-dokumen kantor di laci miliknya, karena sudut-sudut kota lebih kukenal dibanding ruangan rumahku sendiri. Saat aku kelabakan mencari, dengan enteng gadis itu nyeletuk, “Papa tuh masih seumuran pacar Dania, tapi udah pikun.” Map-map yang aku butuhkan itu sudah terulur di tangannya. Eh, apa? Pacarnya seumuran denganku? Gila! Sungguh gila dan tidak boleh dibiarkan! Jangan-jangan pacarnya itu om-om senang, hidung belang, yang suka memanfaatkan kepolosan para gadis muda! Atau jangan-jangan anak gadisku sedang mengganggu keutuhan rumah tangga orang! Tidak boleh! Tapi dia hanya menyeringai sambil berlari menuju tangga untuk bersembunyi di kamarnya.
“Kau tahu kalau Dania sudah punya pacar?” Kutanya istriku. Perempuan itu hanya menggeleng tanpa mencoba memandangku. “Dia tidak pernah cerita sama kamu?” Dia menggeleng lagi. “Jadi kamu tidak tahu kalau dia itu pacaran sama om-om?” Kali ini dia baru mau menoleh. Senyumnya dingin.
“Dia hanya bercanda,” jawabnya ringan sambil terus sibuk melipat-lipat baju dari almari yang sebenarnya sudah rapi tersimpan di situ. Istriku selalu sibuk. Pekerjaannya seolah tak pernah selesai. Bahkan kadang setelah semua beres, dia sengaja menciptakan pekerjaan baru. Mungkin dia ingin menyalurkan energinya yang berlebih, atau mungkin memang ingin kelihatan sibuk sehingga tidak perlu kudekati. Aku tidak peduli. Satu-satunya rasa peduliku sudah kuberikan padanya duapuluh tahun silam dan kutanggung konsekuensinya hingga kini. Menjadi lelaki yang tidak utuh. Selama ini dia memang memasak dan berdandan untukku, tapi aku tidak pernah yakin apakah cintanya hanya untukku atau terbagi pada orang lain di masa lalu.
Niarti, dara paling memukau di kampus. Mungkin karena senyumnya merekah sexy oleh lip gloss bening dan tubuhnya padat dengan lekuk-liku yang mempesona. Aku jatuh hati pada keramahannya. Temannya banyak. Bahkan teman-teman kostkupun langsung akrab dengannya. Cowok sekaku batu sepertiku, sangat beruntung bisa menggaet cewek sesupel Niarti.
Hanya satu yang membuatku ketakutan. Dia terlalu bersemangat dan bergairah. Dada busungnya menempel erat di punggungku ketika kami melintasi malam-malam biru di atas sepeda motor sepanjang jalan raya. Suaranya berbisik manja penuh desahan di telingaku dan bibir basahnya sengaja mengenai belakang telinga. Udara malam yang dingin semakin membuatku bergidik. Tapi aku selalu bisa menyelamatkan diri. Jangankan menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang paling inti, mengecup bibirnyapun aku tidak berani, meskipun dia dengan suka rela menawarkan. Aku bukannya munafik, tapi hanya tidak ingin merusak anak orang. Aku mencintainya, maka akan kujaga dia agar tetap utuh dan tidak membuat keluarganya kecewa. Empat adikku perempuan, sehingga akupun tidak ingin ada lelaki yang kurang ajar memperlakukan mereka.
Aku selalu bisa menyelamatkan diriku. Tapi tidak bisa menyelamatkan dirinya. Suatu malam, sepulang dari rapat senat di kampus, lampu sepeda motorku menangkap sepasang muda-mudi yang berboncengan di depanku. Mereka begitu mesra dan membuatku hampir terjungkal ke selokan. Itu Niarti dan Asman, teman satu kostku. Keesokan harinya, kutanya gadisku, pergi kemana dia semalam. Bibir penuh lip gloss-nya hanya bungkam. Kutanya Asman. Kawanku itu menyeringai, persis raut muka Dania ketika menyerahkan map-map yang kucari.
“Kau jadi lelaki terlalu kaku, Danto. Gadismu punya gelora seperti ombak lautan selatan, sedangkan dirimu tidak bisa mengatasinya karena bersikap seperti karang-karang keras kepala. Aku hanya mencoba membantu mengatasinya saja. Dan nyatanya, ombak-ombak ganas itu bisa aku jinakkan agar mengalir ke teluk-teluk yang tenang,” jawab Asman sambil menyunggingkan senyum sinis yang membuatku menggigil.
“Kauapakan dia, Asman?” Tanyaku geram. Tanganku terkepal keras oleh amarah.
“Tanyakan sendiri pada gadismu itu, dia minta apa dariku? Aku hanya menurutinya saja. Aku hanya melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan padanya.” Darahku mendidih mendengar ucapannya. Sebuah bogem mentah mendarat dimukanya dan membuat hidungnya berdarah. Keributan itu membuat seluruh penghuni kost keluar dan melerai kami. Itu adalah hari terakhir Niarti menjadi pacarku. Aku sudah berusaha menjaga dirinya, namun ternyata dia sendiri tidak mau kujaga. Aku kalah.
Setengah tahun belum bisa membuatku sembuh dari luka batin itu. Sakit hati memang serupa dengan goresan luka di tubuh. Meskipun perihnya telah hilang, namun bopeng bekas luka tetap saja menempel dan tidak mau pergi. Seorang kawan dekat Niarti datang ke kost baruku. Sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai karena sayatan luka yang mulai mengering itu sudah pasti akan berdarah kembali.
“Dan, datanglah ke rumah sakit barang sebentar. Semalam Niarti mencoba bunuh diri dengan memutus nadinya. Dia sedang depresi. Kandungannya sudah hampir empat bulan dan Asman menghilang begitu saja,” ujar gadis itu memohon. Sebenarnya aku sudah tidak ada sangkut-pautnya dengan kekotoran itu meskipun masih terus mengingat dia. Waktu enam bulan tak mampu melenyapkan Niarti dari hidupku. Gadis itu bak bayang-bayang yang menempel pada tubuhku dan mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia hanya lenyap kala aku sembunyi dalam kegelapan, tapi langsung muncul lagi ketika aku menginjak tanah yang diterpa cahaya. Aku bukan hanya kasihan mendengar kabar buruknya. Aku terpukul. Aku seperti dihantam benda keras untuk kedua kalinya. Aku tidak rela dia diperlakukan secara tidak bertanggungjawab seperti itu. Sama seperti aku tidak akan rela jika kewanitaan adik-adikku dilecehkan serendah itu.
“Apa maumu?”
“Tolong, cari dimana Asman. Suruh dia kembali dan mempertanggungjawabkan semua ini. Tentunya kamu tidak ingin melihat Niarti mati dengan cara hina seperti itu kan?” Aku hanya diam, tapi rupanya kawan baik Niarti itu sudah cukup puas dan mendapatkan jawaban yang dia cari. Dia pun pergi.
Aku hanya melihat Niarti dari kaca jendela kamar kelas tiga itu. Dia tidur nyenyak dalam kekuasaan obat penenang. Wajahnya pucat. Bibir basahnya mengering dan membiru. Rambut ikal wanginya kini kusut masai. Tubuhnya yang padat tampak rapuh dan sengsara. Tidak ada lagi gairah yang kutakuti dulu. Aku harus mencari Asman, dimanapun dia. Akhirnya kutemukan dia di rumah salah satu kerabat dan dia mencoba berkelit. Saat itulah aku hilang kendali dan hampir saja membunuhnya. Dia baru kulepas ketika suaranya yang parau tercekik berjanji mau menikahi Niarti. Segera kuberitahu kawan dekat Niarti, bahwa Asman akan datang menjemput akhir minggu nanti.
“Sudah tiga minggu aku menunggu Asman. Dia tidak datang juga,” keluh Niarti kala datang ke tempat kostku.
“Maafkan aku. Aku sudah berusaha.”
“Tak apa. Terimakasih kamu sudah mau membantu aku.”
“Lantas apa rencanamu?”
“Aku akan menggugurkan kandungan ini. Aku terlalu muda untuk menjadi ibu tanpa suami.” Aku terhenyak dengan keputusanya itu. Tidak. Dia tidak boleh menjadi pembunuh. Dan bukankah seseorang yang mengetahui rencana pembunuhan dan hanya diam saja, itu jauh lebih kejam dan berbahaya?
“Aku akan menikahimu, Niar. Jangan pernah menjadi pembunuh. Kau bisa terhukum seumur hidupmu dan hukuman dunia tidak bisa menghilangkan hukuman akhirat.”
Dania sudah jadi perawan dan mengaku punya pacar seumur diriku. Minggu pagi dia pamit untuk belajar melukis dan pulang cepat dengan muka muram. Guru melukisnya masuk rumah sakit karena kanker prostat ganas.
“Pa, aku sangat mengidolakannya. Dia itu seumur Papa dan entah kenapa aku sangat menyayangi dan menghormatinya. Bahkan kadang aku ingin jadi pacarnya. Mungkin aku juga sudah jatuh cinta padanya. Tapi itu ide gila kan, Pa? Pasti Papa akan menentangku habis-habisan. Nah, biar Papa tidak khawatir dan tidak menuduhku pacaran sama om-om, antar aku pergi menjenguknya ya, Pa.” Dania tidak pernah meminta apa-apa dariku, maka kuturuti saja permintaannya itu. Aku mengasihinya seperti milikku sendiri, karena dia lahir dan tumbuh di pangkuanku. Di rumah sakit, lelaki itu terbaring tak berdaya dan hampir mati.
“Terimakasih, Danto. Kaubawa dia kemari untukku,” bisik lelaki itu terbata-bata. Dania tidak mendengarnya. “Maafkan aku, Danto. Sampaikan juga maafku pada istrimu.” Aku hanya diam. “Aku tahu nomor teleponmu dari daftar riwayat hidup Dania.” Jadi sebenarnya selama ini dia sudah tahu bahwa Dania itu anaknya dan menelponku hanya untuk meneror dan menguak luka lama. Andai dia masih sehat, mungkin aku masih bernafsu untuk meninjunya. Tapi sekarang dia sudah tak berdaya dan hanya ingin aku melihat bagaimana anaknya begitu sayang padanya. Ya sudah, kebetulan. Lihatlah anakmu ini, mirip sekali denganmu bukan? Kasihan Dania, murid kesayangannya itu tidak tahu siapa sebenarnya guru idolanya itu. Asman mengatupkan mata dengan senyum getir di pelukan anak gadisnya.
“Asman meninggal dunia, Niar.” Kusampaikan kabar duka itu pada istriku.
“Bukankah dia sudah mati duapuluh tahun silam? Kuburannyapun sudah hancur. Kenapa kau masih saja ketakutan ?” (Bekasi Utara, Februari 2008)
Kamis, 25 Maret 2010
CINTA KAN ADA SELAMANYA
CINTA KAN ADA SELAMANYA
Oleh Rini Giri
Zeta lagi baca di teras. Punggung menyandar santai, kaki menjulur merdeka. Mulutnya mengunyah camilan. Asyik banget. Suara motor yang merapat ke pagarpun sampai nggak kedengeran.
“Hai, Ze! Lagi ngapain?” Sapaan itu nggak digubris. Udah tau lagi baca, masih nanya. “Baca apaan? Yah, udah gede masih baca komik.” Zeta mencibir dan terus baca. Tapi tiba-tiba dia merasa perlu bertindak saat tangan tamu nggak diundang itu mulai mencomot keripiknya.
“Usil banget sih! Balikin nggak!” Zeta menepis tangan yang nggak kenal permisi itu. Buru-buru keripik dibalikin ke toples.
“Pelit! Galak lagi!” Sungut si tamu. Zeta naik pitam. Dia berdiri berkacak pinggang.
“Udah tau aku pelit, galak, ngapain masih datang kemari? Pokoknya aku nggak suka kamu dekat-dekat. Pacarku bisa salah paham gara-gara ulahmu yang nggak jelas ini. Ngerti?”
“Siapa juga yang mau ketemu kamu? Aku ke sini mau ngebetulin mesin cuci. Tabung pengeringnya ngadat. Aku janjian sama ibumu! GR!” Rano nggak kalah sengit. Dia melengos dan segera pergi ke belakang menemui ibu Zeta. Cewek itu jadi tengsin.
“Dasar!” Gengsinya amat tinggi, maka kata itu yang terluncur.
Keluarga Zeta dan Rano bersahabat. Sejak kecil keduanya sering bersama. Sebenarnya Rano sayang sama Zeta. Tapi Zeta kesal padanya. Akhirnya, bahasa yang mereka pakai cuma bahasa saling cerca.
Rano nggak pernah menyatakan rasa cintanya karena udah pasti ditolak. Wah, tamatlah kebersamaan mereka yang sulit didefinisikan itu. Mendingan begini, tanpa status. Zeta akan tetap jadi bagian penting dalam hidupnya. Meski Zeta udah pacaran, nggak jadi soal. Toh dia selalu punya alasan untuk bertandang ke rumah Zeta. Tapi bagi Zeta, kedekatan itu sangat mengganggu. Pacarnya nggak suka pada Rano. Mungkin cemburu.
*
“Ze, aku nggak akan diam aja kalau kamu dipermainkan kayak gini.” Kata Rano suatu sore. Dia punya janji sama ayah Zeta. Mau bikin akun di facebook. Ayah Zeta pengin promosiin usaha barunya lewat internet.
“Maksudmu apa?” Tanya Zeta.
“Beni nggak cuma jalan sama kamu.” Ujar Rano serius. Zeta kaget.
“Dia selingkuh?” Bak disambar petir.”Ran, kamu jangan ngarang cerita deh! Kamu nggak suka sama Beni kan? Kamu ingin ngejauhin aku dari dia kan?”
“Aku nggak bohong soal Beni! Dia nggak suka aku karena aku tahu persis segala borok dia. Ze, lebih baik kamu tahu sekarang daripada nanti-nanti kamu sakit hati!” Hati Zeta serasa tersambar geledek dan menangis. Rano paling nggak tahan melihat situasi seperti itu. Sejak kecil, dimaki-maki dan dipojokin Zeta pun dia rela asal jangan sampai cewek itu menangis.
*
Buat ngebuktiin, Zeta pergi ke tempat Beni main bola. Selama ini dia nggak pernah nemenin pacarnya latihan, soalnya nggak suka bola. Dia melihat dari jauh. Beni sangat bersemangat saat seorang cewek berteriak ngasih dukungan padanya. Itu kan Tia, mantan Beni. Jadi mereka masih berhubungan? Zeta menunggu sampai latihan usai. Beni minum dari botol yang disodorin Tia. Mereka sangat dekat dan mesra. Hati Zeta ngilu.
Dia bergegas ke parkiran dan menunggu di dekat mobil Beni. Masalah ini harus tuntas sekarang juga! Menurut beberapa teman Beni, Tia selalu menemani saat latihan. Randi benar, Beni curang. Dia back street sama cewek yang tidak disukai ibunya itu. Hati Zeta jadi kecut. Jadi untuk mengelabuhi ibunya, Beni pura-pura pacaran sama dirinya. Zeta memang cukup dikenal ibu pacarnya. Ibu Zeta kan teman senam ibu Beni.
Ibu Beni pernah cerita kalau dulu hubungannya dengan Beni tegang lantaran tidak suka sama Tia. Soalnya ayah Tia pernah menipu ibu Beni dalam bisnis mereka. Kunci mobil dan kartu kredit Beni akan ditarik jika nggak mau putus dari cewek itu. Ternyata sampai sekarang mereka masih pacaran. Beni memacari Zeta hanya sebagai tameng dari ancaman ibunya. Zeta benar-benar kecewa. Ketika datang, Beni tercengang. Cowok itu salah tingkah. Tia mengikutinya.
“Ze, kok di sini?”
“Salah ya kalau pengin ketemu?”
“Ze…” Beni mendekat dan suaranya sedikit berbisik. Tia tampak gusar.
“Gini ya caramu mempertahankan mobil ini? Aku lebih mahal dari mobil ini, Ben. Detik ini juga kita putus!”
“Ze!” Zeta berjalan cepat dan tidak menoleh lagi. Di belakang sana keributan dimulai.
*
Putus cinta emang berat. Bikin menderita. Batin terluka. Zeta jadi murung dan pendiam. Nafsu makannya hilang, rambutnya rontok, dan berat badannya susut. Habislah dunia ini di matanya. Beni adalah cinta pertama yang telah menusuk batinnya. Zeta merasa sangat direndahkan dengan status palsu itu.
Akhirnya Rano mengisi hari-hari Zeta. Tentu saja dengan status mereka yang tidak jelas. Rano ingin senyum Si Jutek kembali. Dia kangen pada makian dan celaannya. Cewek itu seperti kehilangan roh. Dia berubah. Menjadi sangat tidak peduli pada apapun. Perubahan Zeta membuat Rano khawatir.
Rano dan Zeta makin dekat. Kemana-mana Rano yang mengawal. Anehnya kali ini Zeta nurut aja. Bahkan nada suaranya saat bicara turun beberapa oktaf. Nggak ada acara berantem lagi. Dua keluarga juga makin dekat. Bahkan Zeta ngerawat ibu Rano waktu sakit keras.
“Ibu ingin kalian tunangan. Sebentar lagi kan Zeta kuliah di kota lain.” Pinta Ibu Rano lemah. Dia ingin kejelasan hubungan keduanya. Rano bingung dengan ide itu.
“Tapi, Bu. Aku dan Zeta kan…”
“Rano, please, dengar kata ibu. Jangan membantah. Ze, kamu bagaimana?” Zeta tersenyum. Dia nggak ingin ngecewain ibu Rano. Cewek itu udah nggak punya ambisi lagi. Hanya Rano yang ada dalam hari-harinya dua tahun terakhir sejak putus dengan Beni. Rano melindunginya dan nggak pernah nyakitin hatinya. Zeta tidak sampai hati menolak.
*
Tak diduga, kehidupan di kampus membuat roh Zeta kembali. Dunia berwarna dan penuh harapan lagi. “Apa aku benar-benar cinta pada Rano? Apa aku hanya kasihan? Kenapa aku nggak bahagia? Meski Beni berkhianat, tapi selagi dengannya hatiku meletup-letup. Tidak seperti ini.” Nggak ada yang hidup dalam jalinan asmaranya.
“Ran, sejak bertunangan, aku kehilangan kakak yang dulu selalu ada dalam duniaku. Aku butuh dia.” Tutur Zeta suatu kali. Rano bisa menebak, sesuatu yang sangat ditakutinya akan terjadi.
“Aku tetap kakakmu, Ze.” Rano memastikan.
“Kamu cinta padaku dan aku hargai itu. Tapi hubungan kita jadi kaku.” Rano sadar, Zeta menerima cintanya karena pertimbangan lain. Kasihan pada ibunya yang sakit dan pada dirinya yang terus-menerus berkorban.
“Kamu udah berusaha sekuat tenaga untuk mencintaiku. Kalau hanya sanggup mencintaiku sebagai kakak, itu bukan salahmu. Pergilah, Ze. Tersenyumlah kembali.” Cinta memang nggak bisa dipaksa.
“Apa kamu nggak marah?” Rano menggeleng lalu memeluk Zeta. Ada kemerdekaan di senyum Zeta. Namun pilu meremas hati Rano. Meski keduanya sepakat untuk tetap jadi kakak-adik, toh luka batin Rano pasti menyisakan bekas.
Rano terpuruk. Semakin ingin melupakan, semakin besar keinginannya untuk mencintai. Semakin ingin menghapus dari ingatan, tapi bayangan Zeta makin nyata. Dalam kondisi jiwa yang nggak seimbang, Rano memilih pergi jauh. Nggak ada yang tahu. Hilang begitu saja.
*
Zeta bertemu kakak-kakak baru. Bahkan ada yang menjalin cinta dengannya. Bayang-bayang Rano kian pudar. Kadang hadir dalam mimpi buruk dan segera dilupain.
Perubahan terus terjadi. Begitu pula cinta Zeta. Patah hati udah jadi hal biasa Terpuruk akibat putus dari Beni, hanya karena dia belum pengalaman. Ah, besok pagi cinta baru pasti datang. Tapi keadaan seperti itu lama-lama bikin bosan. Hubungan yang dijalinnya selalu game over.
Suatu hari adik Rano menghubungi hape-nya dan bertanya apakah si abang pernah menghubungi dirinya. Zeta tercenung. Kemana Rano? Hampir setahun? Berarti sejak mereka putus? Rano pergi karena frustasi? Oh, Tuhan. Zeta merasa bersalah. Teman terbaiknya luka. Bayangan Rano kembali. Sebenarnya hanya Rano yang benar-benar tanpa pamprih mencintainya. Rano setia, tidak pernah menuntut dan macam-macam. Dia cowok yang super baik.
Harapan Zeta untuk menemukan Rano nyaris pupus. Tak ada satupun teman Rano yang tau. E-mail, facebook, blog, dan hape Rano sudah lama tidak aktif. Hingga datanglah kabar itu. Teman Zeta pernah melihat Rano di panti jompo. Ah, jodoh memang nggak bakal lari kemana! Zeta bertekat membawa Rano pulang.
“Saya ingin bertemu Rano. Em, Frater Rano. Saya adiknya.” Ujar Zeta pada penerima tamu. Lelaki itu mengangguk kalem dan dengan sopan mempersilakan Zeta duduk. Keheningan menguasai ruangan itu. Mata Zeta terpejam. Jantungnya deg-deg-plas.
“Selamat siang.” Sebuah suara bikin kaget. Serta-merta Zeta memeluk sosok itu.
“Rano. Jangan pergi lagi.” Bisik Zeta. Air matanya meleleh. “Maafkan aku, Ran.” Rano membalas pelukan itu. Dia juga rindu. Lama mereka terbenam, sampai akhirnya suara lonceng penanda waktu mengingatkan.
“Kita bicara di luar.” Rano melepas Zeta. Mereka berjalan di taman biara yang sangat terawat.
“Semua orang mencarimu. Pulanglah, Ran. Kita bisa memperbaiki semuanya.” Rano tersenyum. Dia mengajak Zeta ke sebuah kompleks bangunan. Panti Jompo. Rano mengunjungi kamar seorang kakek untuk memastikan dia baik-baik saja. Lalu ke kamar lain untuk menyuapi seorang nenek yang sudah lumpuh. Dia memperkenalkan Zeta pada setiap orang di situ dan memintanya membaca cerita buat salah seorang oma. Rano tampak bahagia dengan segala pekerjaannya. Bahkan yang menjijikkan sekalipun.
“Ze, aku senang kamu datang. Ini kejutan. Tapi maaf, aku nggak bisa pulang.”
“Kenapa? Kamu masuk biara karena lari dariku kan? Aku datang, Ran. Apa kamu nggak peduli?”
“Aku peduli. Tapi aku ingin mengabdi di sini.”
“Kamu nggak cinta lagi padaku?”
“Cintaku sangat besar. Biarlah tetap begini. Cinta akan ada selamanya. Kalau kamu lagi sedih, kamu boleh kok datang kemari. Aku kan udah janji mau jadi abangmu.” Reno mengacak rambut Zeta. Zeta merasa disayang.
Lonceng penanda waktu berdentang lagi. Keheningan petang membawa damai. Para calon bruder bergegas menuju ruang doa. Mereka adalah biarawan yang bertugas merawat kaum papa. Zeta pamit. Rano pun bergabung dalam barisan itu. Zeta lega sudah menemukan Rano. Biarlah dia menjalani cinta baru, sebab cinta Zeta mungkin hanya pelarian. Cinta mereka akan ada selamanya justru ketika mereka tak bisa bersatu.
Oleh Rini Giri
Zeta lagi baca di teras. Punggung menyandar santai, kaki menjulur merdeka. Mulutnya mengunyah camilan. Asyik banget. Suara motor yang merapat ke pagarpun sampai nggak kedengeran.
“Hai, Ze! Lagi ngapain?” Sapaan itu nggak digubris. Udah tau lagi baca, masih nanya. “Baca apaan? Yah, udah gede masih baca komik.” Zeta mencibir dan terus baca. Tapi tiba-tiba dia merasa perlu bertindak saat tangan tamu nggak diundang itu mulai mencomot keripiknya.
“Usil banget sih! Balikin nggak!” Zeta menepis tangan yang nggak kenal permisi itu. Buru-buru keripik dibalikin ke toples.
“Pelit! Galak lagi!” Sungut si tamu. Zeta naik pitam. Dia berdiri berkacak pinggang.
“Udah tau aku pelit, galak, ngapain masih datang kemari? Pokoknya aku nggak suka kamu dekat-dekat. Pacarku bisa salah paham gara-gara ulahmu yang nggak jelas ini. Ngerti?”
“Siapa juga yang mau ketemu kamu? Aku ke sini mau ngebetulin mesin cuci. Tabung pengeringnya ngadat. Aku janjian sama ibumu! GR!” Rano nggak kalah sengit. Dia melengos dan segera pergi ke belakang menemui ibu Zeta. Cewek itu jadi tengsin.
“Dasar!” Gengsinya amat tinggi, maka kata itu yang terluncur.
Keluarga Zeta dan Rano bersahabat. Sejak kecil keduanya sering bersama. Sebenarnya Rano sayang sama Zeta. Tapi Zeta kesal padanya. Akhirnya, bahasa yang mereka pakai cuma bahasa saling cerca.
Rano nggak pernah menyatakan rasa cintanya karena udah pasti ditolak. Wah, tamatlah kebersamaan mereka yang sulit didefinisikan itu. Mendingan begini, tanpa status. Zeta akan tetap jadi bagian penting dalam hidupnya. Meski Zeta udah pacaran, nggak jadi soal. Toh dia selalu punya alasan untuk bertandang ke rumah Zeta. Tapi bagi Zeta, kedekatan itu sangat mengganggu. Pacarnya nggak suka pada Rano. Mungkin cemburu.
*
“Ze, aku nggak akan diam aja kalau kamu dipermainkan kayak gini.” Kata Rano suatu sore. Dia punya janji sama ayah Zeta. Mau bikin akun di facebook. Ayah Zeta pengin promosiin usaha barunya lewat internet.
“Maksudmu apa?” Tanya Zeta.
“Beni nggak cuma jalan sama kamu.” Ujar Rano serius. Zeta kaget.
“Dia selingkuh?” Bak disambar petir.”Ran, kamu jangan ngarang cerita deh! Kamu nggak suka sama Beni kan? Kamu ingin ngejauhin aku dari dia kan?”
“Aku nggak bohong soal Beni! Dia nggak suka aku karena aku tahu persis segala borok dia. Ze, lebih baik kamu tahu sekarang daripada nanti-nanti kamu sakit hati!” Hati Zeta serasa tersambar geledek dan menangis. Rano paling nggak tahan melihat situasi seperti itu. Sejak kecil, dimaki-maki dan dipojokin Zeta pun dia rela asal jangan sampai cewek itu menangis.
*
Buat ngebuktiin, Zeta pergi ke tempat Beni main bola. Selama ini dia nggak pernah nemenin pacarnya latihan, soalnya nggak suka bola. Dia melihat dari jauh. Beni sangat bersemangat saat seorang cewek berteriak ngasih dukungan padanya. Itu kan Tia, mantan Beni. Jadi mereka masih berhubungan? Zeta menunggu sampai latihan usai. Beni minum dari botol yang disodorin Tia. Mereka sangat dekat dan mesra. Hati Zeta ngilu.
Dia bergegas ke parkiran dan menunggu di dekat mobil Beni. Masalah ini harus tuntas sekarang juga! Menurut beberapa teman Beni, Tia selalu menemani saat latihan. Randi benar, Beni curang. Dia back street sama cewek yang tidak disukai ibunya itu. Hati Zeta jadi kecut. Jadi untuk mengelabuhi ibunya, Beni pura-pura pacaran sama dirinya. Zeta memang cukup dikenal ibu pacarnya. Ibu Zeta kan teman senam ibu Beni.
Ibu Beni pernah cerita kalau dulu hubungannya dengan Beni tegang lantaran tidak suka sama Tia. Soalnya ayah Tia pernah menipu ibu Beni dalam bisnis mereka. Kunci mobil dan kartu kredit Beni akan ditarik jika nggak mau putus dari cewek itu. Ternyata sampai sekarang mereka masih pacaran. Beni memacari Zeta hanya sebagai tameng dari ancaman ibunya. Zeta benar-benar kecewa. Ketika datang, Beni tercengang. Cowok itu salah tingkah. Tia mengikutinya.
“Ze, kok di sini?”
“Salah ya kalau pengin ketemu?”
“Ze…” Beni mendekat dan suaranya sedikit berbisik. Tia tampak gusar.
“Gini ya caramu mempertahankan mobil ini? Aku lebih mahal dari mobil ini, Ben. Detik ini juga kita putus!”
“Ze!” Zeta berjalan cepat dan tidak menoleh lagi. Di belakang sana keributan dimulai.
*
Putus cinta emang berat. Bikin menderita. Batin terluka. Zeta jadi murung dan pendiam. Nafsu makannya hilang, rambutnya rontok, dan berat badannya susut. Habislah dunia ini di matanya. Beni adalah cinta pertama yang telah menusuk batinnya. Zeta merasa sangat direndahkan dengan status palsu itu.
Akhirnya Rano mengisi hari-hari Zeta. Tentu saja dengan status mereka yang tidak jelas. Rano ingin senyum Si Jutek kembali. Dia kangen pada makian dan celaannya. Cewek itu seperti kehilangan roh. Dia berubah. Menjadi sangat tidak peduli pada apapun. Perubahan Zeta membuat Rano khawatir.
Rano dan Zeta makin dekat. Kemana-mana Rano yang mengawal. Anehnya kali ini Zeta nurut aja. Bahkan nada suaranya saat bicara turun beberapa oktaf. Nggak ada acara berantem lagi. Dua keluarga juga makin dekat. Bahkan Zeta ngerawat ibu Rano waktu sakit keras.
“Ibu ingin kalian tunangan. Sebentar lagi kan Zeta kuliah di kota lain.” Pinta Ibu Rano lemah. Dia ingin kejelasan hubungan keduanya. Rano bingung dengan ide itu.
“Tapi, Bu. Aku dan Zeta kan…”
“Rano, please, dengar kata ibu. Jangan membantah. Ze, kamu bagaimana?” Zeta tersenyum. Dia nggak ingin ngecewain ibu Rano. Cewek itu udah nggak punya ambisi lagi. Hanya Rano yang ada dalam hari-harinya dua tahun terakhir sejak putus dengan Beni. Rano melindunginya dan nggak pernah nyakitin hatinya. Zeta tidak sampai hati menolak.
*
Tak diduga, kehidupan di kampus membuat roh Zeta kembali. Dunia berwarna dan penuh harapan lagi. “Apa aku benar-benar cinta pada Rano? Apa aku hanya kasihan? Kenapa aku nggak bahagia? Meski Beni berkhianat, tapi selagi dengannya hatiku meletup-letup. Tidak seperti ini.” Nggak ada yang hidup dalam jalinan asmaranya.
“Ran, sejak bertunangan, aku kehilangan kakak yang dulu selalu ada dalam duniaku. Aku butuh dia.” Tutur Zeta suatu kali. Rano bisa menebak, sesuatu yang sangat ditakutinya akan terjadi.
“Aku tetap kakakmu, Ze.” Rano memastikan.
“Kamu cinta padaku dan aku hargai itu. Tapi hubungan kita jadi kaku.” Rano sadar, Zeta menerima cintanya karena pertimbangan lain. Kasihan pada ibunya yang sakit dan pada dirinya yang terus-menerus berkorban.
“Kamu udah berusaha sekuat tenaga untuk mencintaiku. Kalau hanya sanggup mencintaiku sebagai kakak, itu bukan salahmu. Pergilah, Ze. Tersenyumlah kembali.” Cinta memang nggak bisa dipaksa.
“Apa kamu nggak marah?” Rano menggeleng lalu memeluk Zeta. Ada kemerdekaan di senyum Zeta. Namun pilu meremas hati Rano. Meski keduanya sepakat untuk tetap jadi kakak-adik, toh luka batin Rano pasti menyisakan bekas.
Rano terpuruk. Semakin ingin melupakan, semakin besar keinginannya untuk mencintai. Semakin ingin menghapus dari ingatan, tapi bayangan Zeta makin nyata. Dalam kondisi jiwa yang nggak seimbang, Rano memilih pergi jauh. Nggak ada yang tahu. Hilang begitu saja.
*
Zeta bertemu kakak-kakak baru. Bahkan ada yang menjalin cinta dengannya. Bayang-bayang Rano kian pudar. Kadang hadir dalam mimpi buruk dan segera dilupain.
Perubahan terus terjadi. Begitu pula cinta Zeta. Patah hati udah jadi hal biasa Terpuruk akibat putus dari Beni, hanya karena dia belum pengalaman. Ah, besok pagi cinta baru pasti datang. Tapi keadaan seperti itu lama-lama bikin bosan. Hubungan yang dijalinnya selalu game over.
Suatu hari adik Rano menghubungi hape-nya dan bertanya apakah si abang pernah menghubungi dirinya. Zeta tercenung. Kemana Rano? Hampir setahun? Berarti sejak mereka putus? Rano pergi karena frustasi? Oh, Tuhan. Zeta merasa bersalah. Teman terbaiknya luka. Bayangan Rano kembali. Sebenarnya hanya Rano yang benar-benar tanpa pamprih mencintainya. Rano setia, tidak pernah menuntut dan macam-macam. Dia cowok yang super baik.
Harapan Zeta untuk menemukan Rano nyaris pupus. Tak ada satupun teman Rano yang tau. E-mail, facebook, blog, dan hape Rano sudah lama tidak aktif. Hingga datanglah kabar itu. Teman Zeta pernah melihat Rano di panti jompo. Ah, jodoh memang nggak bakal lari kemana! Zeta bertekat membawa Rano pulang.
“Saya ingin bertemu Rano. Em, Frater Rano. Saya adiknya.” Ujar Zeta pada penerima tamu. Lelaki itu mengangguk kalem dan dengan sopan mempersilakan Zeta duduk. Keheningan menguasai ruangan itu. Mata Zeta terpejam. Jantungnya deg-deg-plas.
“Selamat siang.” Sebuah suara bikin kaget. Serta-merta Zeta memeluk sosok itu.
“Rano. Jangan pergi lagi.” Bisik Zeta. Air matanya meleleh. “Maafkan aku, Ran.” Rano membalas pelukan itu. Dia juga rindu. Lama mereka terbenam, sampai akhirnya suara lonceng penanda waktu mengingatkan.
“Kita bicara di luar.” Rano melepas Zeta. Mereka berjalan di taman biara yang sangat terawat.
“Semua orang mencarimu. Pulanglah, Ran. Kita bisa memperbaiki semuanya.” Rano tersenyum. Dia mengajak Zeta ke sebuah kompleks bangunan. Panti Jompo. Rano mengunjungi kamar seorang kakek untuk memastikan dia baik-baik saja. Lalu ke kamar lain untuk menyuapi seorang nenek yang sudah lumpuh. Dia memperkenalkan Zeta pada setiap orang di situ dan memintanya membaca cerita buat salah seorang oma. Rano tampak bahagia dengan segala pekerjaannya. Bahkan yang menjijikkan sekalipun.
“Ze, aku senang kamu datang. Ini kejutan. Tapi maaf, aku nggak bisa pulang.”
“Kenapa? Kamu masuk biara karena lari dariku kan? Aku datang, Ran. Apa kamu nggak peduli?”
“Aku peduli. Tapi aku ingin mengabdi di sini.”
“Kamu nggak cinta lagi padaku?”
“Cintaku sangat besar. Biarlah tetap begini. Cinta akan ada selamanya. Kalau kamu lagi sedih, kamu boleh kok datang kemari. Aku kan udah janji mau jadi abangmu.” Reno mengacak rambut Zeta. Zeta merasa disayang.
Lonceng penanda waktu berdentang lagi. Keheningan petang membawa damai. Para calon bruder bergegas menuju ruang doa. Mereka adalah biarawan yang bertugas merawat kaum papa. Zeta pamit. Rano pun bergabung dalam barisan itu. Zeta lega sudah menemukan Rano. Biarlah dia menjalani cinta baru, sebab cinta Zeta mungkin hanya pelarian. Cinta mereka akan ada selamanya justru ketika mereka tak bisa bersatu.
BALAS CINTAKU, GO!
BALAS CINTAKU, GO!
Oleh Rini Giri
Hari ini aku seneng banget. Soalnya begitu keluar dari gerbang sekolah, sebuah lambaian tangan dan senyum hangat menyambutku. Dia di seberang jalan dan tampak berkeringat. Pasti udah lama nunggu. Aku menyeberang dan mendekatinya.
“Mau makan bakso atau siomai?” Sambutnya.“Cerpenku dimuat lagi.”
“O ya?” Mataku terbelalak gembira. “Hebat! Hebat! Yang mana?”
“Yang kamu posin sebulan lalu.”
“Selamat ya…” Tangannya kujabat erat. Dia meringis. “Bakso plus es teler. Boleh ya?”
Dia mengangguk dan ngebetulin letak tongkat yang hampir sepuluh tahun menyangga tubuh kanannya. Kami berjalan menuju kedai bakso di ujung jalan.
Golan temanku sejak kecil. Hari pertama masuk kelas satu SD, dia yang nolong aku. Aku lupa bawa buku dan cuma mengisi tas dengan kotak bekal. Golan yang baru kukenal kasihan ngelihat aku menangis. Tanpa ngomong, sebuah buku tulis baru diulurkan padaku. Dia punya dua. Aku diam lantas terbahak-bahak melihat gigi ompongnya. Sejak saat itu kami berteman.
Tapi waktu kelas tiga, tiba-tiba Golan menghilang. Dia nggak masuk sekolah hampir tiga bulan. Bu guru cuma bilang kalau Golan sedang sakit keras. Selama itu hari-hariku sepi. Kalau ada anak yang usil nggak ada lagi yang ngebelain. Bekal yang kubawa nggak ada lagi yang minta. Aku kesepian.
Akhirnya, tibalah hari itu. Saat yang kutunggu-tunggu. Yaitu kembalinya Golan ke sekolah. Ibunya menggendongnya di punggung. Tubuh Golan tampak pucat dan sangat kurus. Tapi aku nggak peduli. Yang penting sahabat terbaikku kembali. Aku berlari menyambut dia dan memanggil-manggil namanya. Aku ingin Golan tahu kalau aku kangen banget padanya. Tapi kawanku itu malah sembunyi di punggung ibunya.
“Go! Turun Go! Ayo, ajari aku main gundu lagi!” Teriakku. Tanganku menarik-narik kakinya yang terjuntai lemas. Aku melihat kaki Golan mengecil sebelah. Apa yang telah terjadi dengannya? “Go, kamu kenapa?” Aku berhenti, berjongkok dan menangis. Ibu Golan mendekatiku.
“Kamu pasti yang bernama Alisa. Golan baru sembuh dari sakit. Tante boleh minta tolong padamu?” Aku menyeka air mata. Tentu saja boleh. Hatiku sangat senang dimintai bantuan sama ibu Golan. “Golan habis kena panas tinggi. Sekarang ini dia kesulitan untuk berjalan. Boleh tante minta tolong sama kamu untuk membantu dia di kelas? Tante akan menunggu di dekat kantin sekolah sampai pelajaran selesai.” Aku berusaha kasih senyum semanis mungkin dan menganggukkan kepala. “Terimakasih ya, Sa. Kamu anak yang sangat baik.”
Aku minta Ita pindah tempat, biar Golan bisa sebangku sama aku. Golan jadi pendiam banget. Tak apalah, yang penting dia masih mau ngedengerin aku. Dia nggak protes saat aku ngomong terus. Paling dia senyum dikit. Selama seminggu ibunya nungguin di dekat kantin. Tapi setelah itu cuma nganterin dan ngejemput aja. Aku yakin Golan akan aman bersamaku.
Setiap jam istirahat aku nemenin dia di kelas. Kubuka tempat bekalku dan dia ambil satu. Tapi dia nggak rakus lagi kayak dulu. Bahkan sepotong roti aja nggak habis.”Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Nggak lama kok.” Aku kebelet pipis. Golan mengangguk. Saat aku kembali, bangku kami dikerumuni banyak anak. Akupun menembus masuk dan melihat Golan tersungkur di lantai.
“Awas! Minggir! Minggir! Bini Golan datang!” Ledek salah satu temanku. Aku kesal pada mereka. Bukannya menolong, tapi malah nonton. Golan cuma pengin meraih pensil yang jatuh ke lantai, tapi kursinya roboh dan dia terjungkal. Tubuh Golan berat. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Akupun lari ke ruang guru cari bantuan. Sejak saat itu Golan nggak mau masuk sekolah lagi. Aku nyesel udah ninggalin Golan sendirian.
“Sa, ini bukan salahmu. Golan hanya belum siap untuk bertemu teman-temannya lagi. Nanti kalau sudah baik keadaannya, Golan pasti masuk sekolah lagi.” Ibu Golan menghibur. Tapi nyatanya hingga aku hampir lulus SMU, Golan nggak pernah masuk sekolah. Dia belajar sendiri di rumah. Hebatnya, dia malah lebih pintar dibanding aku yang nggak pernah bolos. Kalau ada PR atau soal latihan yang sulit, aku akan tanya padanya. Materi-materi yang susah dipahami pun jadi mudah setelah dia yang ngasih penjelasan. Kemampuannya menulis juga makin hebat. Dia suka nunjukin hasil karyanya untuk kukomentari. Lalu minta tolong buat ngeposin naskah-naskah itu. Tentu dia bakal kesulitan kalau harus naik turun kendaraan umum ke kantor pos. Setiap cerpennya dimuat, aku ditraktir.
“Dewo titip salam.” Ujar Golan sambil menggulung mie dengan garpu. Dewo itu sepupu Golan. Kata Golan, cowok itu ingin mendekatiku, tapi gimana ya, aku kan udah nyediain hatiku buat orang lain.
“Nggak usah ngomongin dia.”
“Sa, kamu udah tujuhbelas tahun. Udah waktunya pacaran. Nanti dikira nggak normal lho. Dewo kan anak baik. Kenapa kamu nggak kasih kesempatan?”
“Aku normal kok. Cuma, hatiku udah tertutup bagi cowok lain.”
“Berarti udah ada cowok yang nempatin hati kamu dong? Siapa?” Huh, sebel. Wajahnya sok polos. Siapa lagi kalau bukan kamu, Go! Apa kamu mati rasa sampai nggak bisa ngerasain kegembiraanku tiap kali dekat sama kamu? Apa kamu nggak punya hati sehingga nggak bisa ngerti arti binar mataku saat bicara padamu? Atau pura-pura nggak tau? Dasar bodoh! Kamu memang pintar soal fisika, kimia dan matematika, tapi tulalit soal cinta.
“Go, menurutmu cewek boleh nggak nembak duluan?”
“Boleh aja. Pikiran dan perasaan cewek kan juga harus dihargai.” Dia terus makan, sampai keringetan. Aku gelisah. Mungkin ini saat yang tepat.
“Go, cowok itu kamu.” Golan tersedak. Buru-buru dia minum dan menenangkan diri. “Aku sungguh-sungguh.” Kepalanya menggeleng. Sendok dan garpu dirapikan, padahal masih ada tiga butir bakso di mangkuk. Dia menatapku. Matanya kuning.
“Kamu memang bodoh, Sa.” Golan bangkit dengan bantuan tongkat, lalu membayar. Akupun menyudahi makanku dan mengikuti dia. Langkahnya tergesa-gesa.
“Go, maumu apa?” Aku menyejajari langkahnya.
“Lihat dirimu, lantas lihat aku! Kamu mau bikin masalah?”
“Semua orang punya hak sama dalam cinta kan, Go?”
“Pintarlah sedikit, Sa!”
“Maksudmu apa? Kamu takut bikin repot aku? Kamu ngerasa nggak pantes? Kurangmu maupun lebihmu udah jadi bagian hidupku, Go. Apa lagi?”
“Kamu salah! Sadarlah bahwa aku cuma memanfaatkan kedekatan kita!”
“Go!” Aku nggak percaya mendengar perkataan kasar itu. “Kamu bohong kan, Go?”
“Sa, aku udah pasang modem internet di rumah. Jadi mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi bantuin aku ngeposin naskah atau nemenin aku ke warnet. Aku serius.” Aku mundur beberapa langkah, lantas berlari dengan hati hancur.
Hari-hariku sepi lagi, bahkan lebih parah dibanding sepuluh tahun lalu saat Golan sakit. Kayaknya Golan bisa bertahan dengan perpisahan itu, tapi aku nggak bisa. Aku sempat punya niat buat baikan ke rumahnya, tapi dia terus menghindar. Yang selalu menemuiku cuma Dewo. Sampai akhirnya kudengar kabar kalau Golan pergi dan kerja di sebuah panti rehabilitasi penyandang tuna daksa.
“Kenapa dia pergi?” Tanyaku pada Dewo.
“Setahuku dia ingin hidupnya lebih berarti.”
Jadi meninggalkanku lebih berarti baginya. Sejak saat itu aku nggak pernah mencari Golan lagi. Aku benci dia. Dia egois, cuma mikirin kepentingan sendiri. Pengecut, lari dari cinta yang sebenarnya kami miliki. Apa benar dia takut jadi bebanku? Atau jangan-jangan mengalah bagi Dewo? Keterlaluan! Meski kadang merasa kangen dan kehilangan, tapi rasa itu segera kutebas. Tapi tunas cintaku selalu tumbuh lagi. Aku sangat tersiksa. Nggak mudah ngilangin seseorang dari hidup ini, meski dia udah nyakitin perasaanku.
“Sebenarnya Golan minta aku buat ngerahasiain semua ini, Sa. Tapi aku nggak tega sama kamu. Dia sakit parah. Kalau kamu mau, kuantar ketemu dia.” Tutur Dewo suatu petang. Golan tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Virus Hepatitis B membuat levernya keras dan bengkak, sehingga metabolisme tubuhnya terganggu. Dia udah nggak punya tenaga buat merespon kedatanganku. Nafsu makannya hilang dan sering muntah. Yang kulihat hanya tatapan mata yang melelehkan air mata. Sekujur tubuhnya jadi kuning. Virus itu sudah merusak dan bergabung dengan DNA-nya sehingga nggak bisa disembuhin. Obat-obatan hanya bisa mengurangi sedikit deritanya.
“Go, kenapa kamu keterlaluan banget? Ninggalin aku gitu aja. Padahal persahabatan bisa diperbaiki. Aku menghormati sikapmu kok.” Kuraih jari-jari Golan dan kuusap lembut. “Kamu setuju kan kalau kita baikan?” Lelehan di sudut mata kuning itu kian deras dan kuhapus dengan ujung jariku.
Tiap sore aku datang ke rumah sakit buat nemenin Golan. Aku bahagia melihat senyum tipisnya. “Aku tahu kamu udah ngebalas cintaku, Go.” Bisik hatiku. Hari-hariku kembali berharga karena Golan ada lagi dalam hidupku. Dia mulai mau makan, bisa bicara, mencoba duduk bersandar bantal, sedikit menulis, bahkan menggodaku. Aku senang dia mulai nunjukin emosinya. Kepalaku pun penuh harapan. Golan pasti akan pulih dan aku berjanji akan menjaganya.
“Sa, tadi malam, begitu kamu pulang. Golan sesak nafas. Dokter sudah berusaha keras. Daya tahan tubuhnya lemah, dia tidak sanggup bertahan. Dia pulang ke pangkuan Tuhan dengan senyum. Aku yakin di hari-hari terakhirnya dia amat bahagia, karena ada kamu di dekatnya.” Dewo menemuiku usai pemakaman itu. “Flashdisk ini tolong kausimpan. Ibunya bilang, kamu yang paling tau buat mengurus semuanya. ” Kuterima kotak berisi karya-karya berharga itu. Akan kukirim ke media.”Golan sangat sayang padamu, kau tau itu. Dia takut hepatitis-nya menulari kamu jika sudah menikah nanti, makanya dia menolak cintamu. Menjadi teman terdekatmu adalah hal paling indah baginya. Dia tertular secara menurun dari ibunya. Ibunya tertular dari ayahnya yang pecandu narkoba. Ayahnya sering gantian pakai alat suntik. Golan hanya ingin memutus rantai penyakit itu. Perlu kamu tau, aku nggak mungkin merebutmu dari dia. Itu cuma akal-akalan Golan supaya kau bisa menjauhinya pelan-pelan.”
“Golan nggak pernah cerita kalau dia sakit.”
“Mungkin dia ingin kau tetap gembira.”
“Keterlaluan. Beginikah cara dia membalas cintaku?”
“Yang bisa kita lakukan hanyalah menghargainya, Sa.” Aku menunduk pilu.
Oleh Rini Giri
Hari ini aku seneng banget. Soalnya begitu keluar dari gerbang sekolah, sebuah lambaian tangan dan senyum hangat menyambutku. Dia di seberang jalan dan tampak berkeringat. Pasti udah lama nunggu. Aku menyeberang dan mendekatinya.
“Mau makan bakso atau siomai?” Sambutnya.“Cerpenku dimuat lagi.”
“O ya?” Mataku terbelalak gembira. “Hebat! Hebat! Yang mana?”
“Yang kamu posin sebulan lalu.”
“Selamat ya…” Tangannya kujabat erat. Dia meringis. “Bakso plus es teler. Boleh ya?”
Dia mengangguk dan ngebetulin letak tongkat yang hampir sepuluh tahun menyangga tubuh kanannya. Kami berjalan menuju kedai bakso di ujung jalan.
Golan temanku sejak kecil. Hari pertama masuk kelas satu SD, dia yang nolong aku. Aku lupa bawa buku dan cuma mengisi tas dengan kotak bekal. Golan yang baru kukenal kasihan ngelihat aku menangis. Tanpa ngomong, sebuah buku tulis baru diulurkan padaku. Dia punya dua. Aku diam lantas terbahak-bahak melihat gigi ompongnya. Sejak saat itu kami berteman.
Tapi waktu kelas tiga, tiba-tiba Golan menghilang. Dia nggak masuk sekolah hampir tiga bulan. Bu guru cuma bilang kalau Golan sedang sakit keras. Selama itu hari-hariku sepi. Kalau ada anak yang usil nggak ada lagi yang ngebelain. Bekal yang kubawa nggak ada lagi yang minta. Aku kesepian.
Akhirnya, tibalah hari itu. Saat yang kutunggu-tunggu. Yaitu kembalinya Golan ke sekolah. Ibunya menggendongnya di punggung. Tubuh Golan tampak pucat dan sangat kurus. Tapi aku nggak peduli. Yang penting sahabat terbaikku kembali. Aku berlari menyambut dia dan memanggil-manggil namanya. Aku ingin Golan tahu kalau aku kangen banget padanya. Tapi kawanku itu malah sembunyi di punggung ibunya.
“Go! Turun Go! Ayo, ajari aku main gundu lagi!” Teriakku. Tanganku menarik-narik kakinya yang terjuntai lemas. Aku melihat kaki Golan mengecil sebelah. Apa yang telah terjadi dengannya? “Go, kamu kenapa?” Aku berhenti, berjongkok dan menangis. Ibu Golan mendekatiku.
“Kamu pasti yang bernama Alisa. Golan baru sembuh dari sakit. Tante boleh minta tolong padamu?” Aku menyeka air mata. Tentu saja boleh. Hatiku sangat senang dimintai bantuan sama ibu Golan. “Golan habis kena panas tinggi. Sekarang ini dia kesulitan untuk berjalan. Boleh tante minta tolong sama kamu untuk membantu dia di kelas? Tante akan menunggu di dekat kantin sekolah sampai pelajaran selesai.” Aku berusaha kasih senyum semanis mungkin dan menganggukkan kepala. “Terimakasih ya, Sa. Kamu anak yang sangat baik.”
Aku minta Ita pindah tempat, biar Golan bisa sebangku sama aku. Golan jadi pendiam banget. Tak apalah, yang penting dia masih mau ngedengerin aku. Dia nggak protes saat aku ngomong terus. Paling dia senyum dikit. Selama seminggu ibunya nungguin di dekat kantin. Tapi setelah itu cuma nganterin dan ngejemput aja. Aku yakin Golan akan aman bersamaku.
Setiap jam istirahat aku nemenin dia di kelas. Kubuka tempat bekalku dan dia ambil satu. Tapi dia nggak rakus lagi kayak dulu. Bahkan sepotong roti aja nggak habis.”Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Nggak lama kok.” Aku kebelet pipis. Golan mengangguk. Saat aku kembali, bangku kami dikerumuni banyak anak. Akupun menembus masuk dan melihat Golan tersungkur di lantai.
“Awas! Minggir! Minggir! Bini Golan datang!” Ledek salah satu temanku. Aku kesal pada mereka. Bukannya menolong, tapi malah nonton. Golan cuma pengin meraih pensil yang jatuh ke lantai, tapi kursinya roboh dan dia terjungkal. Tubuh Golan berat. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Akupun lari ke ruang guru cari bantuan. Sejak saat itu Golan nggak mau masuk sekolah lagi. Aku nyesel udah ninggalin Golan sendirian.
“Sa, ini bukan salahmu. Golan hanya belum siap untuk bertemu teman-temannya lagi. Nanti kalau sudah baik keadaannya, Golan pasti masuk sekolah lagi.” Ibu Golan menghibur. Tapi nyatanya hingga aku hampir lulus SMU, Golan nggak pernah masuk sekolah. Dia belajar sendiri di rumah. Hebatnya, dia malah lebih pintar dibanding aku yang nggak pernah bolos. Kalau ada PR atau soal latihan yang sulit, aku akan tanya padanya. Materi-materi yang susah dipahami pun jadi mudah setelah dia yang ngasih penjelasan. Kemampuannya menulis juga makin hebat. Dia suka nunjukin hasil karyanya untuk kukomentari. Lalu minta tolong buat ngeposin naskah-naskah itu. Tentu dia bakal kesulitan kalau harus naik turun kendaraan umum ke kantor pos. Setiap cerpennya dimuat, aku ditraktir.
“Dewo titip salam.” Ujar Golan sambil menggulung mie dengan garpu. Dewo itu sepupu Golan. Kata Golan, cowok itu ingin mendekatiku, tapi gimana ya, aku kan udah nyediain hatiku buat orang lain.
“Nggak usah ngomongin dia.”
“Sa, kamu udah tujuhbelas tahun. Udah waktunya pacaran. Nanti dikira nggak normal lho. Dewo kan anak baik. Kenapa kamu nggak kasih kesempatan?”
“Aku normal kok. Cuma, hatiku udah tertutup bagi cowok lain.”
“Berarti udah ada cowok yang nempatin hati kamu dong? Siapa?” Huh, sebel. Wajahnya sok polos. Siapa lagi kalau bukan kamu, Go! Apa kamu mati rasa sampai nggak bisa ngerasain kegembiraanku tiap kali dekat sama kamu? Apa kamu nggak punya hati sehingga nggak bisa ngerti arti binar mataku saat bicara padamu? Atau pura-pura nggak tau? Dasar bodoh! Kamu memang pintar soal fisika, kimia dan matematika, tapi tulalit soal cinta.
“Go, menurutmu cewek boleh nggak nembak duluan?”
“Boleh aja. Pikiran dan perasaan cewek kan juga harus dihargai.” Dia terus makan, sampai keringetan. Aku gelisah. Mungkin ini saat yang tepat.
“Go, cowok itu kamu.” Golan tersedak. Buru-buru dia minum dan menenangkan diri. “Aku sungguh-sungguh.” Kepalanya menggeleng. Sendok dan garpu dirapikan, padahal masih ada tiga butir bakso di mangkuk. Dia menatapku. Matanya kuning.
“Kamu memang bodoh, Sa.” Golan bangkit dengan bantuan tongkat, lalu membayar. Akupun menyudahi makanku dan mengikuti dia. Langkahnya tergesa-gesa.
“Go, maumu apa?” Aku menyejajari langkahnya.
“Lihat dirimu, lantas lihat aku! Kamu mau bikin masalah?”
“Semua orang punya hak sama dalam cinta kan, Go?”
“Pintarlah sedikit, Sa!”
“Maksudmu apa? Kamu takut bikin repot aku? Kamu ngerasa nggak pantes? Kurangmu maupun lebihmu udah jadi bagian hidupku, Go. Apa lagi?”
“Kamu salah! Sadarlah bahwa aku cuma memanfaatkan kedekatan kita!”
“Go!” Aku nggak percaya mendengar perkataan kasar itu. “Kamu bohong kan, Go?”
“Sa, aku udah pasang modem internet di rumah. Jadi mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi bantuin aku ngeposin naskah atau nemenin aku ke warnet. Aku serius.” Aku mundur beberapa langkah, lantas berlari dengan hati hancur.
Hari-hariku sepi lagi, bahkan lebih parah dibanding sepuluh tahun lalu saat Golan sakit. Kayaknya Golan bisa bertahan dengan perpisahan itu, tapi aku nggak bisa. Aku sempat punya niat buat baikan ke rumahnya, tapi dia terus menghindar. Yang selalu menemuiku cuma Dewo. Sampai akhirnya kudengar kabar kalau Golan pergi dan kerja di sebuah panti rehabilitasi penyandang tuna daksa.
“Kenapa dia pergi?” Tanyaku pada Dewo.
“Setahuku dia ingin hidupnya lebih berarti.”
Jadi meninggalkanku lebih berarti baginya. Sejak saat itu aku nggak pernah mencari Golan lagi. Aku benci dia. Dia egois, cuma mikirin kepentingan sendiri. Pengecut, lari dari cinta yang sebenarnya kami miliki. Apa benar dia takut jadi bebanku? Atau jangan-jangan mengalah bagi Dewo? Keterlaluan! Meski kadang merasa kangen dan kehilangan, tapi rasa itu segera kutebas. Tapi tunas cintaku selalu tumbuh lagi. Aku sangat tersiksa. Nggak mudah ngilangin seseorang dari hidup ini, meski dia udah nyakitin perasaanku.
“Sebenarnya Golan minta aku buat ngerahasiain semua ini, Sa. Tapi aku nggak tega sama kamu. Dia sakit parah. Kalau kamu mau, kuantar ketemu dia.” Tutur Dewo suatu petang. Golan tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Virus Hepatitis B membuat levernya keras dan bengkak, sehingga metabolisme tubuhnya terganggu. Dia udah nggak punya tenaga buat merespon kedatanganku. Nafsu makannya hilang dan sering muntah. Yang kulihat hanya tatapan mata yang melelehkan air mata. Sekujur tubuhnya jadi kuning. Virus itu sudah merusak dan bergabung dengan DNA-nya sehingga nggak bisa disembuhin. Obat-obatan hanya bisa mengurangi sedikit deritanya.
“Go, kenapa kamu keterlaluan banget? Ninggalin aku gitu aja. Padahal persahabatan bisa diperbaiki. Aku menghormati sikapmu kok.” Kuraih jari-jari Golan dan kuusap lembut. “Kamu setuju kan kalau kita baikan?” Lelehan di sudut mata kuning itu kian deras dan kuhapus dengan ujung jariku.
Tiap sore aku datang ke rumah sakit buat nemenin Golan. Aku bahagia melihat senyum tipisnya. “Aku tahu kamu udah ngebalas cintaku, Go.” Bisik hatiku. Hari-hariku kembali berharga karena Golan ada lagi dalam hidupku. Dia mulai mau makan, bisa bicara, mencoba duduk bersandar bantal, sedikit menulis, bahkan menggodaku. Aku senang dia mulai nunjukin emosinya. Kepalaku pun penuh harapan. Golan pasti akan pulih dan aku berjanji akan menjaganya.
“Sa, tadi malam, begitu kamu pulang. Golan sesak nafas. Dokter sudah berusaha keras. Daya tahan tubuhnya lemah, dia tidak sanggup bertahan. Dia pulang ke pangkuan Tuhan dengan senyum. Aku yakin di hari-hari terakhirnya dia amat bahagia, karena ada kamu di dekatnya.” Dewo menemuiku usai pemakaman itu. “Flashdisk ini tolong kausimpan. Ibunya bilang, kamu yang paling tau buat mengurus semuanya. ” Kuterima kotak berisi karya-karya berharga itu. Akan kukirim ke media.”Golan sangat sayang padamu, kau tau itu. Dia takut hepatitis-nya menulari kamu jika sudah menikah nanti, makanya dia menolak cintamu. Menjadi teman terdekatmu adalah hal paling indah baginya. Dia tertular secara menurun dari ibunya. Ibunya tertular dari ayahnya yang pecandu narkoba. Ayahnya sering gantian pakai alat suntik. Golan hanya ingin memutus rantai penyakit itu. Perlu kamu tau, aku nggak mungkin merebutmu dari dia. Itu cuma akal-akalan Golan supaya kau bisa menjauhinya pelan-pelan.”
“Golan nggak pernah cerita kalau dia sakit.”
“Mungkin dia ingin kau tetap gembira.”
“Keterlaluan. Beginikah cara dia membalas cintaku?”
“Yang bisa kita lakukan hanyalah menghargainya, Sa.” Aku menunduk pilu.
Rabu, 24 Februari 2010
SUSTER ROSITA KAMI
Suster Rosita Kami
Oleh Rini Giri
Dia adalah gadis paling menakjubkan di asrama kami. Bukan karena paling modis. Tapi, paling alami, trengginas, dan cerdas. Gadis lain tidak akan percaya diri jika ke kampus tanpa bedak, lipstik, dan parfum. Dia cukup menyisir rambut dan merapikan alisnya yang tebal itu. Kecantikannya sudah terpancar sempurna. Rambut hitam panjangnya, bulu mata lentiknya, bibir ungunya, dan kulitnya yang bersih. Benar-banar anugerah Surga yang jarang dimiliki sekaligus oleh seorang gadis.
Aku menjadi dekat dengannya karena tinggal dalam satu unit. Bersamanya terasa nyaman dan percaya. Mungkin karena dialah yang pertama kali menyambutku saat aku datang ke asrama. Dia yang membawakan rantang makan siangku.
“Aku dengar dari Suster Kepala siang ini akan datang warga baru, jadi tadi kuambilkan makan siang. Pastilah kamu belum sempat makan. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Tapi sayangnya siang ini aku ada kuliah, jadi harus buru-buru ke kampus. Maaf ya, tidak bisa menemanimu makan. Sampai nanti, Nania.” Tutur katanya bersahabat dan gerak tubuhnya seperti malaikat. Dia begitu baik, bahkan mau mengambilkan jatah makan siang untuk seseorang yang belum dikenalnya.
Dia memang berbeda. Setiap gadis akan merasa geer jika diperhatikan lawan jenisnya. Dia tidak. Bahkan sering menjodohkan teman-teman di asrama dengan pemuda yang sedang mendekatinya. Padahal pemuda-pemuda itu ganteng, berotak cemerlang, berhati berlian, kuliah di fakultas favorit, dan berkecukupan materi. Lantas apa yang dia cari? Atau jangan-jangan dia penyuka sesama jenis? Hi!
“Kalau aku lesbian, tentunya sudah sejak dulu aku naksir kamu, Nania!” Jawabnya gemas sambil menarik hidungku hingga pedas. Dia sebenarnya mau berteman dengan siapa saja tanpa pilih kasih. Bahkan teman yang sering datang menemuinya di asrama kebanyakan laki-laki. Begitu banyak sahabatnya, sampai-sampai banyak yang iri padanya. Tapi tak ada seorangpun yang berhasil jadi pacarnya. Katanya, kalau lebih tua dianggap kakak. Sedangkan yang sepantaran dianggap adik. Dia pernah cerita sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang menjadi pegangan hidupnya selama ini. Siapa?
Tidak berbedakpun seperti bidadari. Lantas dia terpikir untuk memotong rambutnya supaya terlihat jelek. Tapi yang ada justru dia semakin menawan karena kulit bersihnya kian memancar. Dan suatu malam aku berhasil mencegahnya merusak wajah dengan silet.
“Kenapa, Ros?” tanyaku sambil memeluknya erat. Rosita menangis, seolah menyesali keelokan jasmaninya. “Cerita, Ros. Cerita!” Bujukku.
“Nan, aku ingin sekali masuk biara.” Jawabnya dengan bibir bergetar.
“Kalau mau masuk biara gampang, Ros, tinggal daftar saja. Tapi nggak perlu membenci diri-sendiri. Yang barusan kaulakukan itu dosa, Ros. Kau sudah diberi keindahan oleh Tuhan, kenapa justru tidak bersyukur?” Aku hampir marah.
“Kecantikan ini menghalangiku, Nan.” Dia menangis sejadi-jadinya. Lantas setelah reda, dia mulai bercerita. Dulu, waktu masih SMU dia terkesan pada kata-kata seorang biarawati. Katanya, jika ingin menjadi orang berguna, bersiap-siaplah untuk bersedia bekerja bagi orang lain tanpa bayaran. Rosita gundah dengan ucapan itu.
Di sekitarnya, semua profesi dihargai dengan gaji bulanan atau honor. Satu-satunya profesi tanpa bayaran yang dikenalnya adalah menjadi rohaniwan atau rohaniwati. Mereka mengabdi sepenuh hati dalam kaul kemiskinan dan tulus bekerja agar orang lain merasa bahagia. Tanpa bayaran.
“Aku berfikir, hanya dengan menjadi seorang biarawati aku akan menemukan hidupku, Nan. Aku akan menemukan Tuhan. Tapi orangtuaku menentangnya. Aku ini anak perempuan satu-satunya. Semua yang dimiliki orangtuaku akan diwariskan padaku. Bahkan ayahku dengan keras mengatakan, buat apa aku jadi suster. Tidak punya keturunan, tidak punya harta, tidak punya kedudukan dalam masyarakat. Pekerjaannya berat tapi tetap saja dicela umat. Lagipula, siapa yang akan mengurus perusahaan dan ayah-ibu jika sudah tua. Semua dibebankan padaku. Toh jika ingin berguna, katanya, aku bisa jadi pengusaha yang gemar berderma. Tapi bukan itu maksudku, Nan. Lalu ayahku mengirimku ke sini, agar masuk ke Fakultas Ekonomi. Dia berharap, kelak aku menjadi pengusaha sukses. Apalagi wajahku menarik, tidak sulit untuk menjerat anak pejabat.”
“Oh, My God.” Mulutku hanya bolong melompong mendengar kisahnya. Kini aku jadi paham, kenapa dia jarang pulang ke rumahnya. Kami boleh pulang dua minggu sekali. Tapi Rosita bahkan tiga atau empat bulan baru pulang, itupun setelah dijemput oleh seseorang. Sepupu yang diutus ayahnya.
Sore itu saat aku akan pulang ke rumah dan melewati ruang tamu asrama, seorang pemuda yang biasa menjemput Rosita berdiri di pintu. Sepertinya, Rosita tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Mungkin pemuda itu belum janjian. Dengan sopan pemuda itu tersenyum padaku. Kuminta dia menunggu dan aku kembali ke kamar memanggil Rosita.
“Ros, sepupumu datang.” Tapi Rosita tidak mau menemui, bahkan menyuruhku untuk mengatakan kalau dia sedang istirahat tak bisa diganggu. “Ros, dia datang dari jauh membawa mandat ayahmu. Tolong hargai dia dong, Ros!” Bujukku. Rosita menggeleng. “Kamu boleh menolak tidak mau pulang, tapi paling tidak temui dia!” Rosita tetap membatu. Aku jadi hilang kesabaran. “Ros, dengar ya, percuma saja kamu ingin menjadi orang berguna bagi sesama tapi kamu tidak peduli pada keluargamu sendiri. Kamu tidak tahu kan sepupumu itu datang membawa berita apa? Bagaimana kalau ternyata ayah atau ibumu sakit? Kau tetap tidak peduli?” Akhirnya sahabatku itu luluh dan minta ditemani untuk bertemu sepupunya.
Ternyata benar, ayahnya sakit keras. Suster Kepala dan beberapa teman turut menjenguk. Rupanya ayahnya itu terhibur dengan kedatangan kami. Terlebih karena tersentuh oleh doa yang dipanjatkan Suster Kepala bagi kesembuhannya. Dengan suara lirih ayahnya ingin Rosita mendekat. Lantas membisikkan sesuatu ke telinganya. Senyum pun merekah di bibir ungu sahabatku itu dan cepat-cepat dipeluknya ayahnya.
Sebulan kemudian, Rosita sudah tidak tinggal di asrama lagi. Tapi saudara sepupunya itu masih sering datang untuk menemuiku. Dan pagi ini, adik iparku Suster Rosita, baru saja selesai mengucapkan kaul kekalnya. Nanti sore, dia akan berangkat ke Papua untuk melayani pendidikan anak-anak suku Amungme.
“Nan, titip ayah dan ibuku ya.” Ucapnya. Aku mengangguk pasti. Ayah dan ibu nya tampak haru dan merasa menjadi yang paling berbahagia atas peristiwa penuh berkat-Nya ini.
“Itu Suster Rosita kami!” Teriak anak-anakku sambil memeluk buliknya.
“Bukan. Sekarang sudah menjadi Suster Rosita milik semua orang.” Kami tertawa.
Oleh Rini Giri
Dia adalah gadis paling menakjubkan di asrama kami. Bukan karena paling modis. Tapi, paling alami, trengginas, dan cerdas. Gadis lain tidak akan percaya diri jika ke kampus tanpa bedak, lipstik, dan parfum. Dia cukup menyisir rambut dan merapikan alisnya yang tebal itu. Kecantikannya sudah terpancar sempurna. Rambut hitam panjangnya, bulu mata lentiknya, bibir ungunya, dan kulitnya yang bersih. Benar-banar anugerah Surga yang jarang dimiliki sekaligus oleh seorang gadis.
Aku menjadi dekat dengannya karena tinggal dalam satu unit. Bersamanya terasa nyaman dan percaya. Mungkin karena dialah yang pertama kali menyambutku saat aku datang ke asrama. Dia yang membawakan rantang makan siangku.
“Aku dengar dari Suster Kepala siang ini akan datang warga baru, jadi tadi kuambilkan makan siang. Pastilah kamu belum sempat makan. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Tapi sayangnya siang ini aku ada kuliah, jadi harus buru-buru ke kampus. Maaf ya, tidak bisa menemanimu makan. Sampai nanti, Nania.” Tutur katanya bersahabat dan gerak tubuhnya seperti malaikat. Dia begitu baik, bahkan mau mengambilkan jatah makan siang untuk seseorang yang belum dikenalnya.
Dia memang berbeda. Setiap gadis akan merasa geer jika diperhatikan lawan jenisnya. Dia tidak. Bahkan sering menjodohkan teman-teman di asrama dengan pemuda yang sedang mendekatinya. Padahal pemuda-pemuda itu ganteng, berotak cemerlang, berhati berlian, kuliah di fakultas favorit, dan berkecukupan materi. Lantas apa yang dia cari? Atau jangan-jangan dia penyuka sesama jenis? Hi!
“Kalau aku lesbian, tentunya sudah sejak dulu aku naksir kamu, Nania!” Jawabnya gemas sambil menarik hidungku hingga pedas. Dia sebenarnya mau berteman dengan siapa saja tanpa pilih kasih. Bahkan teman yang sering datang menemuinya di asrama kebanyakan laki-laki. Begitu banyak sahabatnya, sampai-sampai banyak yang iri padanya. Tapi tak ada seorangpun yang berhasil jadi pacarnya. Katanya, kalau lebih tua dianggap kakak. Sedangkan yang sepantaran dianggap adik. Dia pernah cerita sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang menjadi pegangan hidupnya selama ini. Siapa?
Tidak berbedakpun seperti bidadari. Lantas dia terpikir untuk memotong rambutnya supaya terlihat jelek. Tapi yang ada justru dia semakin menawan karena kulit bersihnya kian memancar. Dan suatu malam aku berhasil mencegahnya merusak wajah dengan silet.
“Kenapa, Ros?” tanyaku sambil memeluknya erat. Rosita menangis, seolah menyesali keelokan jasmaninya. “Cerita, Ros. Cerita!” Bujukku.
“Nan, aku ingin sekali masuk biara.” Jawabnya dengan bibir bergetar.
“Kalau mau masuk biara gampang, Ros, tinggal daftar saja. Tapi nggak perlu membenci diri-sendiri. Yang barusan kaulakukan itu dosa, Ros. Kau sudah diberi keindahan oleh Tuhan, kenapa justru tidak bersyukur?” Aku hampir marah.
“Kecantikan ini menghalangiku, Nan.” Dia menangis sejadi-jadinya. Lantas setelah reda, dia mulai bercerita. Dulu, waktu masih SMU dia terkesan pada kata-kata seorang biarawati. Katanya, jika ingin menjadi orang berguna, bersiap-siaplah untuk bersedia bekerja bagi orang lain tanpa bayaran. Rosita gundah dengan ucapan itu.
Di sekitarnya, semua profesi dihargai dengan gaji bulanan atau honor. Satu-satunya profesi tanpa bayaran yang dikenalnya adalah menjadi rohaniwan atau rohaniwati. Mereka mengabdi sepenuh hati dalam kaul kemiskinan dan tulus bekerja agar orang lain merasa bahagia. Tanpa bayaran.
“Aku berfikir, hanya dengan menjadi seorang biarawati aku akan menemukan hidupku, Nan. Aku akan menemukan Tuhan. Tapi orangtuaku menentangnya. Aku ini anak perempuan satu-satunya. Semua yang dimiliki orangtuaku akan diwariskan padaku. Bahkan ayahku dengan keras mengatakan, buat apa aku jadi suster. Tidak punya keturunan, tidak punya harta, tidak punya kedudukan dalam masyarakat. Pekerjaannya berat tapi tetap saja dicela umat. Lagipula, siapa yang akan mengurus perusahaan dan ayah-ibu jika sudah tua. Semua dibebankan padaku. Toh jika ingin berguna, katanya, aku bisa jadi pengusaha yang gemar berderma. Tapi bukan itu maksudku, Nan. Lalu ayahku mengirimku ke sini, agar masuk ke Fakultas Ekonomi. Dia berharap, kelak aku menjadi pengusaha sukses. Apalagi wajahku menarik, tidak sulit untuk menjerat anak pejabat.”
“Oh, My God.” Mulutku hanya bolong melompong mendengar kisahnya. Kini aku jadi paham, kenapa dia jarang pulang ke rumahnya. Kami boleh pulang dua minggu sekali. Tapi Rosita bahkan tiga atau empat bulan baru pulang, itupun setelah dijemput oleh seseorang. Sepupu yang diutus ayahnya.
Sore itu saat aku akan pulang ke rumah dan melewati ruang tamu asrama, seorang pemuda yang biasa menjemput Rosita berdiri di pintu. Sepertinya, Rosita tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Mungkin pemuda itu belum janjian. Dengan sopan pemuda itu tersenyum padaku. Kuminta dia menunggu dan aku kembali ke kamar memanggil Rosita.
“Ros, sepupumu datang.” Tapi Rosita tidak mau menemui, bahkan menyuruhku untuk mengatakan kalau dia sedang istirahat tak bisa diganggu. “Ros, dia datang dari jauh membawa mandat ayahmu. Tolong hargai dia dong, Ros!” Bujukku. Rosita menggeleng. “Kamu boleh menolak tidak mau pulang, tapi paling tidak temui dia!” Rosita tetap membatu. Aku jadi hilang kesabaran. “Ros, dengar ya, percuma saja kamu ingin menjadi orang berguna bagi sesama tapi kamu tidak peduli pada keluargamu sendiri. Kamu tidak tahu kan sepupumu itu datang membawa berita apa? Bagaimana kalau ternyata ayah atau ibumu sakit? Kau tetap tidak peduli?” Akhirnya sahabatku itu luluh dan minta ditemani untuk bertemu sepupunya.
Ternyata benar, ayahnya sakit keras. Suster Kepala dan beberapa teman turut menjenguk. Rupanya ayahnya itu terhibur dengan kedatangan kami. Terlebih karena tersentuh oleh doa yang dipanjatkan Suster Kepala bagi kesembuhannya. Dengan suara lirih ayahnya ingin Rosita mendekat. Lantas membisikkan sesuatu ke telinganya. Senyum pun merekah di bibir ungu sahabatku itu dan cepat-cepat dipeluknya ayahnya.
Sebulan kemudian, Rosita sudah tidak tinggal di asrama lagi. Tapi saudara sepupunya itu masih sering datang untuk menemuiku. Dan pagi ini, adik iparku Suster Rosita, baru saja selesai mengucapkan kaul kekalnya. Nanti sore, dia akan berangkat ke Papua untuk melayani pendidikan anak-anak suku Amungme.
“Nan, titip ayah dan ibuku ya.” Ucapnya. Aku mengangguk pasti. Ayah dan ibu nya tampak haru dan merasa menjadi yang paling berbahagia atas peristiwa penuh berkat-Nya ini.
“Itu Suster Rosita kami!” Teriak anak-anakku sambil memeluk buliknya.
“Bukan. Sekarang sudah menjadi Suster Rosita milik semua orang.” Kami tertawa.
TAK HARAP KEMBALI
TAK HARAP KEMBALI
Oleh Rini Giri
Sepagi itu, ketika belum ada cahaya secercahpun, Bapak sudah berangkat ke gedogan (tempat potong hewan). Pasti mau beli daging untuk pesta selapanan (satu bulan kelahiran) cucunya, karena kulihat Bapak membawa gluthuk (alat angkut pertanian dari kayu dengan dua gagang pendorong di belakang dan satu ban depan) dan beberapa ember besar. Pastilah daging sapi yang akan dibelinya dalam jumlah banyak.
Biasanya para jagal hewan menangani sapi-sapi yang baru saja dibeli dari para blantik (makelar sapi) di malam hari. Sehingga subuh begini, gedogan sudah dipenuhi daging segar dan para pembeli dalam partai besar. Jika matahari sudah mengintip sedikit saja, daging-daging merah segar itu sudah lenyap berpindah tempat ke kios-kios daging pasar tradisional, pabrik abon, dan restoran-restoran sambel tumpang (masakan khas daerah Ampel Boyolali).
Semoga daging yang dibeli Bapak bukan hasil glonggongan (sapi dicekoki air sampai kembung sebelum disembelih untuk menambah berat timbangan). Akhir-akhir ini, daerahku di pedalaman Jawa Tengah itu memang jadi sedikit terkenal gara-gara ditemukannya kasus daging haram dan tidak sehat itu. Semua stasiun televisi menyiarkannya dalam berita kriminal. Tapi aku yakin, ayahku pasti sudah memesan daging yang bagus dengan harga yang realistis.
Tapi sampai matahari memunculkan bayangan awan di lereng Gunung Merbabu dan anak-anak berseragam putih merah berlarian di jalan depan rumah karena takut terlambat masuk, ayahku belum pulang. Kemana dia? Dan daging segar sebanyak itu dibawa kemana? Padahal belum alih profesi sebagai pedagang daging di Pasar Ampel.
“Bapakmu mengantar daging ke rumah Bu Lurah. Dulu, waktu Mbakyumu menikah, Bu Lurah itu menyumbang kita duapuluh kilo daging sapi. Anak bungsu Bu Lurah yang kuliah di Solo itu kan sudah lulus dan kerja. Nyatanya di tempat kerja ketemu jodoh. Ya sudah, wong sudah cocok, ya dinikahkan saja. Akad nikah dan resepsinya besok siang. Nah, giliran bapak dan ibumu ini yang harus mengembalikan sumbangan Bu Lurah dulu.” Tutur ibuku ketika aku menanyakan perihal Bapak.
Aku jadi kecewa. Berarti selapanan anak Mbak Ning cuma akan dibancaki (syukuran kecil dengan tumpeng) pakai urap daun adas, peyek teri, dan telur rebus. Kebetulan kakak perempuanku itu pulang untuk melahirkan. Cuti tiga bulan akan dihabiskannya di tempat sejuk ini. Maklum, bayi itu anak pertamanya dan dia sangat mengandalkan Ibu. Apalagi suaminya juga kerja. Di sini, dia lebih aman. Banyak yang siaga.
“Maksud Ibu, Bapak dan Ibu juga harus ganti menyumbang duapuluh kilo daging sapi ke rumah Bu Lurah?” Aku tak habis mengerti. Menyumbang bukankah suatu urusan suka rela, tapi kenapa yang disumbang dibebani kewajiban untuk mengembalikan dalam jumlah yang sama?
“Ya itulah yang namanya pirukun (hidup layak bermasyarakat), Dar. Kamu juga harus tahu. Kamu kan juga akan hidup bermasyarakat. Harus mengenali gotong-royong cara orang ndeso. Kalau kamu mau dibantu orang ya harus mbantu orang lain terlebih dahulu. Kalau di desa tidak mau srawung (bergaul) ya kamu sakitpun tidak ada yang njenguk. Di desa itu harus saling, balas-membalas budi, tepa slira (tenggang rasa). Tuh, Mbakyumu, saat remaja lebih banyak sekolah di luar kota, ndak guyup dengan karang taruna di sini. Akibatnya, saat nikah, karang taruna juga tidak ada yang mau laden (jadi pramusaji pesta).”
Di dusun memang serba rumit. Di kota, kebaikan seseorang bisa saja dibeli dengan uang. Kebaikan tulus cukup dibalas dengan terimakasih. Praktis dan tidak perlu merasa berhutang budi. Tapi di sini, sumbangan barang harus diganti barang, uang dengan uang, tenaga dengan tenaga, sikap baik dengan sikap baik. Dulu, waktu aku kecil, pernah sakit gara-gara Ibu rewang (membantu memasak) di tempat tetangga yang hajatan tujuh hari tujuh malam. Aku sampai tak terurus. Gara-garanya, dulu waktu kakak laki-lakiku Mas Haryo disunat, tetangga itu juga rewang sampai pesta selesai. Ampun!
“Kalau ternyata Ibu tidak bisa mengembalikan sebanyak yang pernah Ibu terima bagaimana?” Bukankah memberi, menyumbang, menderma, atau apapun namanya itu harus iklas dan tidak menjadi beban, baik bagi pemberi maupun penerima?
“Ini sudah tradisi, Tole Darto. Penerima sumbangan sudah menyadari bahwa sebenarnya pemberian itu adalah hutang yang harus dikembalikan suatu saat nanti, mau tak mau. Kalau tidak, hubungan baik bisa runyam. Kalau perlu, sumbangan yang diterima itu dicatat supaya tidak lupa.” Tandas Ibu. Waduh, ternyata sistem ini sama saja dengan kartu kredit. Puyeng-puyeng! “Kita juga harus melihat pada siapa yang akan kita sumbang. Kalau terpandang ya kita sumbang banyak biar nanti kembalinya juga banyak. Kalau yang nyumbang orang kebanyakan atau malah di bawahnya ya sumbangannya rata-rata saja, jadi mereka tidak kelabakan saat mengembalikannya nanti.” Busyet!Bukankah seharusnya yang miskin disumbang lebih banyak?
Waktu melahirkan, Mbak Ning dijenguk kawan-kawan Ibu. Maklumlah sepak terjang Ibu dalam bersosial sangat lincah. Mereka membawakan kado dan memberi amplop. Dengan ucapan terimakasih yang mendalam Mbak Ning menerima hadiah-hadiah itu. Tapi Ibu sangat marah ketika tahu.
“Ning, kita kan tidak nompo (menerima sumbangan). Kalau ada orang yang ngasih harus kamu tolak dengan tegas. Kalau nompo, berarti kita juga harus menggelar pesta. Kalau tidak, bisa habis kita jadi omongan tetangga!” Mbak Ning sampai menangis waktu itu. Masakan menolak kado-kado yang sudah terbeli dan uang yang sudah dipersiapkan oleh para tamu tadi? Bukankah seharusnya menolak bisa menyinggung perasaan mereka? Tapi apalah daya, itulah sistem! Terpaksa paginya aku mengembalikan tumpukan kado dan amplop itu ke alamat pemberi dengan ucapan beribu maaf.
Bukankah kita selalu diajari untuk bermurah hati seperti Bapa di Sorga yang murah hati pada orang baik maupun orang jahat? Di mana lagi ada tempat untuk memberi tanpa harapan dikembalikan seperti itu? Memberi ya memberi saja. Kutengok kamar Mbak Ning. Dia sedang bercanda dengan bayinya. Mungkin hanya kasih seperti itulah yang tak mengharap balasan. Seperti Ibu mengasihiku. Puji Tuhan, di dunia ini masih ada relasi seindah itu.
“Mau kemana, Dar?” tanya Ibu suatu pagi.
“Mau ikut sambatan (gotong-royong membangun rumah) di rumah Lik Sardi.”
“Kurang kerjaan saja! Dulu waktu kita membetulkan kandang sapi di belakang itu, dia tidak membantu kok!”
“Ah, tak apa, Bu. Membantu ya membantu saja, bukan karena pernah dibantu atau mengharap bantuan.” Dengan semangat kutenteng peralatan tukang ke rumah Lik Sardi. (Okt’08)
Oleh Rini Giri
Sepagi itu, ketika belum ada cahaya secercahpun, Bapak sudah berangkat ke gedogan (tempat potong hewan). Pasti mau beli daging untuk pesta selapanan (satu bulan kelahiran) cucunya, karena kulihat Bapak membawa gluthuk (alat angkut pertanian dari kayu dengan dua gagang pendorong di belakang dan satu ban depan) dan beberapa ember besar. Pastilah daging sapi yang akan dibelinya dalam jumlah banyak.
Biasanya para jagal hewan menangani sapi-sapi yang baru saja dibeli dari para blantik (makelar sapi) di malam hari. Sehingga subuh begini, gedogan sudah dipenuhi daging segar dan para pembeli dalam partai besar. Jika matahari sudah mengintip sedikit saja, daging-daging merah segar itu sudah lenyap berpindah tempat ke kios-kios daging pasar tradisional, pabrik abon, dan restoran-restoran sambel tumpang (masakan khas daerah Ampel Boyolali).
Semoga daging yang dibeli Bapak bukan hasil glonggongan (sapi dicekoki air sampai kembung sebelum disembelih untuk menambah berat timbangan). Akhir-akhir ini, daerahku di pedalaman Jawa Tengah itu memang jadi sedikit terkenal gara-gara ditemukannya kasus daging haram dan tidak sehat itu. Semua stasiun televisi menyiarkannya dalam berita kriminal. Tapi aku yakin, ayahku pasti sudah memesan daging yang bagus dengan harga yang realistis.
Tapi sampai matahari memunculkan bayangan awan di lereng Gunung Merbabu dan anak-anak berseragam putih merah berlarian di jalan depan rumah karena takut terlambat masuk, ayahku belum pulang. Kemana dia? Dan daging segar sebanyak itu dibawa kemana? Padahal belum alih profesi sebagai pedagang daging di Pasar Ampel.
“Bapakmu mengantar daging ke rumah Bu Lurah. Dulu, waktu Mbakyumu menikah, Bu Lurah itu menyumbang kita duapuluh kilo daging sapi. Anak bungsu Bu Lurah yang kuliah di Solo itu kan sudah lulus dan kerja. Nyatanya di tempat kerja ketemu jodoh. Ya sudah, wong sudah cocok, ya dinikahkan saja. Akad nikah dan resepsinya besok siang. Nah, giliran bapak dan ibumu ini yang harus mengembalikan sumbangan Bu Lurah dulu.” Tutur ibuku ketika aku menanyakan perihal Bapak.
Aku jadi kecewa. Berarti selapanan anak Mbak Ning cuma akan dibancaki (syukuran kecil dengan tumpeng) pakai urap daun adas, peyek teri, dan telur rebus. Kebetulan kakak perempuanku itu pulang untuk melahirkan. Cuti tiga bulan akan dihabiskannya di tempat sejuk ini. Maklum, bayi itu anak pertamanya dan dia sangat mengandalkan Ibu. Apalagi suaminya juga kerja. Di sini, dia lebih aman. Banyak yang siaga.
“Maksud Ibu, Bapak dan Ibu juga harus ganti menyumbang duapuluh kilo daging sapi ke rumah Bu Lurah?” Aku tak habis mengerti. Menyumbang bukankah suatu urusan suka rela, tapi kenapa yang disumbang dibebani kewajiban untuk mengembalikan dalam jumlah yang sama?
“Ya itulah yang namanya pirukun (hidup layak bermasyarakat), Dar. Kamu juga harus tahu. Kamu kan juga akan hidup bermasyarakat. Harus mengenali gotong-royong cara orang ndeso. Kalau kamu mau dibantu orang ya harus mbantu orang lain terlebih dahulu. Kalau di desa tidak mau srawung (bergaul) ya kamu sakitpun tidak ada yang njenguk. Di desa itu harus saling, balas-membalas budi, tepa slira (tenggang rasa). Tuh, Mbakyumu, saat remaja lebih banyak sekolah di luar kota, ndak guyup dengan karang taruna di sini. Akibatnya, saat nikah, karang taruna juga tidak ada yang mau laden (jadi pramusaji pesta).”
Di dusun memang serba rumit. Di kota, kebaikan seseorang bisa saja dibeli dengan uang. Kebaikan tulus cukup dibalas dengan terimakasih. Praktis dan tidak perlu merasa berhutang budi. Tapi di sini, sumbangan barang harus diganti barang, uang dengan uang, tenaga dengan tenaga, sikap baik dengan sikap baik. Dulu, waktu aku kecil, pernah sakit gara-gara Ibu rewang (membantu memasak) di tempat tetangga yang hajatan tujuh hari tujuh malam. Aku sampai tak terurus. Gara-garanya, dulu waktu kakak laki-lakiku Mas Haryo disunat, tetangga itu juga rewang sampai pesta selesai. Ampun!
“Kalau ternyata Ibu tidak bisa mengembalikan sebanyak yang pernah Ibu terima bagaimana?” Bukankah memberi, menyumbang, menderma, atau apapun namanya itu harus iklas dan tidak menjadi beban, baik bagi pemberi maupun penerima?
“Ini sudah tradisi, Tole Darto. Penerima sumbangan sudah menyadari bahwa sebenarnya pemberian itu adalah hutang yang harus dikembalikan suatu saat nanti, mau tak mau. Kalau tidak, hubungan baik bisa runyam. Kalau perlu, sumbangan yang diterima itu dicatat supaya tidak lupa.” Tandas Ibu. Waduh, ternyata sistem ini sama saja dengan kartu kredit. Puyeng-puyeng! “Kita juga harus melihat pada siapa yang akan kita sumbang. Kalau terpandang ya kita sumbang banyak biar nanti kembalinya juga banyak. Kalau yang nyumbang orang kebanyakan atau malah di bawahnya ya sumbangannya rata-rata saja, jadi mereka tidak kelabakan saat mengembalikannya nanti.” Busyet!Bukankah seharusnya yang miskin disumbang lebih banyak?
Waktu melahirkan, Mbak Ning dijenguk kawan-kawan Ibu. Maklumlah sepak terjang Ibu dalam bersosial sangat lincah. Mereka membawakan kado dan memberi amplop. Dengan ucapan terimakasih yang mendalam Mbak Ning menerima hadiah-hadiah itu. Tapi Ibu sangat marah ketika tahu.
“Ning, kita kan tidak nompo (menerima sumbangan). Kalau ada orang yang ngasih harus kamu tolak dengan tegas. Kalau nompo, berarti kita juga harus menggelar pesta. Kalau tidak, bisa habis kita jadi omongan tetangga!” Mbak Ning sampai menangis waktu itu. Masakan menolak kado-kado yang sudah terbeli dan uang yang sudah dipersiapkan oleh para tamu tadi? Bukankah seharusnya menolak bisa menyinggung perasaan mereka? Tapi apalah daya, itulah sistem! Terpaksa paginya aku mengembalikan tumpukan kado dan amplop itu ke alamat pemberi dengan ucapan beribu maaf.
Bukankah kita selalu diajari untuk bermurah hati seperti Bapa di Sorga yang murah hati pada orang baik maupun orang jahat? Di mana lagi ada tempat untuk memberi tanpa harapan dikembalikan seperti itu? Memberi ya memberi saja. Kutengok kamar Mbak Ning. Dia sedang bercanda dengan bayinya. Mungkin hanya kasih seperti itulah yang tak mengharap balasan. Seperti Ibu mengasihiku. Puji Tuhan, di dunia ini masih ada relasi seindah itu.
“Mau kemana, Dar?” tanya Ibu suatu pagi.
“Mau ikut sambatan (gotong-royong membangun rumah) di rumah Lik Sardi.”
“Kurang kerjaan saja! Dulu waktu kita membetulkan kandang sapi di belakang itu, dia tidak membantu kok!”
“Ah, tak apa, Bu. Membantu ya membantu saja, bukan karena pernah dibantu atau mengharap bantuan.” Dengan semangat kutenteng peralatan tukang ke rumah Lik Sardi. (Okt’08)
NEGERI TANPA TAPAL BATAS
NEGERI TANPA TAPAL BATAS
Oleh Rini Giri
Hari itu tepat setahun wafatnya Kakek Yus. Sungguh beruntung, karena keesokan harinya Tri Hari Suci dimulai dan pemilu legislatif digelar. Keluarga tampak bahagia bisa menyelenggarakan misa arwah bagi almarhum. Andre duduk bersandar dekat pintu setelah selesai memunguti gelas air mineral sisa para tamu. Tikar yang tadi dipakai belum digulung. Dia lelah. Seharian sibuk mempersiapkan acara itu. Pinjam tikar ke pos RT, mengambil pesanan kue, mengatur altar, dan menjemput Romo di pasturan. Sementara para sepupu hanya haha-hihi sambil duduk-duduk main HP.
Andre tidak iri. Kakek Yus menghabiskan masa tua dan meninggal di rumah itu bersama keluarganya. Dia adalah cucu terdekat secara fisik dan emosional. Jadi dirinya paham jika sepupu yang lain kurang antusias terlibat dalam perhelatan itu, karena mereka tidak memiliki ikatan batin pada Kakek Yus sedalam yang ia miliki.
Angin malam berhembus melalui pintu dan kusen jendela. Ibunya sibuk membersihkan remah-remah makanan yang mengotori tikar. “Kalau capek, istirahat saja di kamar. Biar ibu yang membereskan tikar.” Andre mengangguk. Di luar sana cahaya bulan keemasan menimpa pohon-pohon buah yang dulu ditanam kakeknya. Tiba-tiba terselip rindu pada sosok yang sering mengajaknya duduk-duduk di teras sambil main catur dan menyeruput wedang jahe itu.
Andre terhenyak. Seseorang yang baru datang menegurnya. “Kenapa mendung, Ndre? Kamu kelelahan ya?” Dia merasa mengenal wajah itu. Mirip bapaknya. Tapi bukan. “Bapak siapa?” Tanya Andre terbata. Wajah itu tersenyum, seteduh malam dengan sinar bulan yang tertahan barisan awan. Bajunya bercahaya seperti pagi. Angin dingin menyibak tirai. Andre panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada orang lain. Ibunya sudah pergi. Para sepupu sudah berhenti bercanda. Hanya dia dan lelaki itu. Andre bengong. “Aku rakyat negeri yang terjanji. Rajanya adil dan benar serta diliputi belas kasih. Para pelayan hidup dalam kekudusan.” Lelaki itu mengulurkan tangan membantu Andre berdiri. Dalam diam mereka berjalan melampaui pohon dan sinar bulan.
“Segala bangsa, suku, golongan, dan agama yang baik dan benar boleh masuk ke negeri itu. Tak pernah Sang Raja melakukan ekspansi untuk memperluas kekuasaan. Negeri itu menjadi luas dengan sendirinya, segala bangsa dengan suka-rela menggabungkan diri sebagai sekutu. Raja memberlakukan bahasa cinta sebagai bahasa persatuan, semua sekutu dari segala ujung bumi bisa memahaminya. Hukum yang diterapkan adalah kasih yang mengatasi segala hukum buatan manusia, sehingga beribu-ribu suku tidak mungkin buta hukum. Semua orang punya dua mata, tapi hanya melihat kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kedamaian.
Kebohongan, kesewenang-wenangan, hawa nafsu, dan huru-hara sudah lenyap. Tak ada lagi kematian, tangis dan duka. Tak ada lagi sakit dan kelaparan. Kecacatan berubah menjadi kesempurnaan. Yang ada hanya damai dan sukacita. Di sini masih ada perang, di sana hanya ada persahabatan abadi. Di sini ada demonstrasi, di sana ada saling mendengar. Di sini masih ada korupsi, di sana yang ada saling peduli. Di sini orang harus antri berdesakan lantas rusuh hanya karena menunggu BLT atau pembagian sembako, di sana kami mengantri untuk diberkati.” Andre sangat antusias mendengar.
“Negeri itu tak berpengawal, tak berserdadu dan algojo. Yang ada hanyalah para pelayan kudus. Mereka hidup suci. Kami tak butuh polisi, hansip, satpam, apalagi satpol PP untuk menertibkan lingkungan. Kami saling mengasihi, mengerti, menghormati, membantu dan melayani sehingga kehidupan berjalan tertib dengan sendirinya.
Tak ada ranjau di perbatasan, tak ada tentara di garis depan, sebab negeri itu tanpa tapal batas. Ia mengundang siapa saja yang baik dan benar untuk menjadi warga negara istimewanya. Semua suku bangsa bisa menjadi satu saudara. Tak ada lagi kotak dan sekat yang menimbulkan perpecahan antar golongan. Semua sama istimewanya di hadapan Raja. Negeri itu telah dibangun sejak semula, tidak akan lekang oleh masa, tak roboh oleh musuh, dan tak terbatasi waktu. Ada selamanya.” Mereka sampai di jalan raya. Bulan tersenyum.
“Jadi rakyat negeri bapak tak perlu pusing dengan gambar-gambar orang, nomor-nomor urut, dan simbol-simbol golongan yang bergelantungan di pohon-pohon seperti itu?” Tanya Andre. Lelaki yang kian berkilau itu tersenyum. Menggeleng.
“Pelayan-pelayan kudus yang berdedikasi tinggi, jujur, dan setia akan senang hati menyampaikan aspirasi kami. Bahkan ketika mulut belum terucap, mereka sudah paham apa yang ingin kita sampaikan. Meski pemimpin, tapi yang tinggi itu justru melayani dan melindungi kami.”
“Negeri itu tanpa batas dan tanpa serdadu, apa tidak khawatir akan adanya penyusup, bahaya laten, atau tindakan makar?”
“Negeri itu seperti obat bagi yang sakit, hiburan bagi yang duka, makanan bagi yang lapar, dan air sejuk bagi yang dahaga. Bukankah kamu akan menjual apapun yang kaupunya hanya untuk membeli obat? Semua merasa terpilih dan memiliki, sehingga menjaga negeri itu dengan setia. Bodoh bukan membuang roti saat perut lapar?”
“Mungkinkah negeri itu akan meluas sampai kemari?” Harap Andre.
“Negeri itu dijanjikan bagi yang baik dan benar.” Oh alangkah indahnya menikmati keadilan negeri itu. Tak ada kejahatan, kerakusan, dendam, kebencian, dan mementingkan diri sendiri. Bumi menjadi hancur karena semua nafsu jelek itu. Manusia menjadi teraniaya, tertindas, dan tak berharga karena segala sifat jahanam itu. Oh negeri yang damai, harapan bagi seluruh penduduk bumi. Tanpa perang, kehancuran, tangisan anak-anak, jeritan pilu para ibu, dan bau mesiu. Andre masih ingin bersama, tapi lelaki dan cahaya bulan beringsut pergi, ufuk timur mulai memerah.
“Ndre, bangun! Hari ini kamu harus nyontreng! TPS buka jam tujuh!” Andre tergagap. Dia membuka mata dan merasakan silau pagi. Semalam dia tertidur di atas tikar. Samar-samar matanya menangkap wajah lelaki yang bersinar itu pada foto keluarga di dinding. Wajah kakeknya kala muda. “Aku mimpi ketemu kakek, Bu.” Ibunya tersenyum. “Sepertinya sudah damai dan bahagia.”
“Amin.” Ucap ibunya. Andre menggeliat bangun. Para tetangga lewat dengan baju necis menuju TPS. Wajah mereka berkilau. Oh kenapa negeri itu hanya lewat dalam mimpi dan hanya menjadi milik mereka yang sudah almarhum? Apa yang masih hidup tak berdaya mewujudkannya? Yah semoga saja dengan mencontreng hari itu, yang hidup bisa mendapatkan pelayan-pelayan kudus yang rendah hati, jujur, dan setia sehingga kemakmuran dan keadilan bangsa ini tak sebatas impian.
Oleh Rini Giri
Hari itu tepat setahun wafatnya Kakek Yus. Sungguh beruntung, karena keesokan harinya Tri Hari Suci dimulai dan pemilu legislatif digelar. Keluarga tampak bahagia bisa menyelenggarakan misa arwah bagi almarhum. Andre duduk bersandar dekat pintu setelah selesai memunguti gelas air mineral sisa para tamu. Tikar yang tadi dipakai belum digulung. Dia lelah. Seharian sibuk mempersiapkan acara itu. Pinjam tikar ke pos RT, mengambil pesanan kue, mengatur altar, dan menjemput Romo di pasturan. Sementara para sepupu hanya haha-hihi sambil duduk-duduk main HP.
Andre tidak iri. Kakek Yus menghabiskan masa tua dan meninggal di rumah itu bersama keluarganya. Dia adalah cucu terdekat secara fisik dan emosional. Jadi dirinya paham jika sepupu yang lain kurang antusias terlibat dalam perhelatan itu, karena mereka tidak memiliki ikatan batin pada Kakek Yus sedalam yang ia miliki.
Angin malam berhembus melalui pintu dan kusen jendela. Ibunya sibuk membersihkan remah-remah makanan yang mengotori tikar. “Kalau capek, istirahat saja di kamar. Biar ibu yang membereskan tikar.” Andre mengangguk. Di luar sana cahaya bulan keemasan menimpa pohon-pohon buah yang dulu ditanam kakeknya. Tiba-tiba terselip rindu pada sosok yang sering mengajaknya duduk-duduk di teras sambil main catur dan menyeruput wedang jahe itu.
Andre terhenyak. Seseorang yang baru datang menegurnya. “Kenapa mendung, Ndre? Kamu kelelahan ya?” Dia merasa mengenal wajah itu. Mirip bapaknya. Tapi bukan. “Bapak siapa?” Tanya Andre terbata. Wajah itu tersenyum, seteduh malam dengan sinar bulan yang tertahan barisan awan. Bajunya bercahaya seperti pagi. Angin dingin menyibak tirai. Andre panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada orang lain. Ibunya sudah pergi. Para sepupu sudah berhenti bercanda. Hanya dia dan lelaki itu. Andre bengong. “Aku rakyat negeri yang terjanji. Rajanya adil dan benar serta diliputi belas kasih. Para pelayan hidup dalam kekudusan.” Lelaki itu mengulurkan tangan membantu Andre berdiri. Dalam diam mereka berjalan melampaui pohon dan sinar bulan.
“Segala bangsa, suku, golongan, dan agama yang baik dan benar boleh masuk ke negeri itu. Tak pernah Sang Raja melakukan ekspansi untuk memperluas kekuasaan. Negeri itu menjadi luas dengan sendirinya, segala bangsa dengan suka-rela menggabungkan diri sebagai sekutu. Raja memberlakukan bahasa cinta sebagai bahasa persatuan, semua sekutu dari segala ujung bumi bisa memahaminya. Hukum yang diterapkan adalah kasih yang mengatasi segala hukum buatan manusia, sehingga beribu-ribu suku tidak mungkin buta hukum. Semua orang punya dua mata, tapi hanya melihat kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kedamaian.
Kebohongan, kesewenang-wenangan, hawa nafsu, dan huru-hara sudah lenyap. Tak ada lagi kematian, tangis dan duka. Tak ada lagi sakit dan kelaparan. Kecacatan berubah menjadi kesempurnaan. Yang ada hanya damai dan sukacita. Di sini masih ada perang, di sana hanya ada persahabatan abadi. Di sini ada demonstrasi, di sana ada saling mendengar. Di sini masih ada korupsi, di sana yang ada saling peduli. Di sini orang harus antri berdesakan lantas rusuh hanya karena menunggu BLT atau pembagian sembako, di sana kami mengantri untuk diberkati.” Andre sangat antusias mendengar.
“Negeri itu tak berpengawal, tak berserdadu dan algojo. Yang ada hanyalah para pelayan kudus. Mereka hidup suci. Kami tak butuh polisi, hansip, satpam, apalagi satpol PP untuk menertibkan lingkungan. Kami saling mengasihi, mengerti, menghormati, membantu dan melayani sehingga kehidupan berjalan tertib dengan sendirinya.
Tak ada ranjau di perbatasan, tak ada tentara di garis depan, sebab negeri itu tanpa tapal batas. Ia mengundang siapa saja yang baik dan benar untuk menjadi warga negara istimewanya. Semua suku bangsa bisa menjadi satu saudara. Tak ada lagi kotak dan sekat yang menimbulkan perpecahan antar golongan. Semua sama istimewanya di hadapan Raja. Negeri itu telah dibangun sejak semula, tidak akan lekang oleh masa, tak roboh oleh musuh, dan tak terbatasi waktu. Ada selamanya.” Mereka sampai di jalan raya. Bulan tersenyum.
“Jadi rakyat negeri bapak tak perlu pusing dengan gambar-gambar orang, nomor-nomor urut, dan simbol-simbol golongan yang bergelantungan di pohon-pohon seperti itu?” Tanya Andre. Lelaki yang kian berkilau itu tersenyum. Menggeleng.
“Pelayan-pelayan kudus yang berdedikasi tinggi, jujur, dan setia akan senang hati menyampaikan aspirasi kami. Bahkan ketika mulut belum terucap, mereka sudah paham apa yang ingin kita sampaikan. Meski pemimpin, tapi yang tinggi itu justru melayani dan melindungi kami.”
“Negeri itu tanpa batas dan tanpa serdadu, apa tidak khawatir akan adanya penyusup, bahaya laten, atau tindakan makar?”
“Negeri itu seperti obat bagi yang sakit, hiburan bagi yang duka, makanan bagi yang lapar, dan air sejuk bagi yang dahaga. Bukankah kamu akan menjual apapun yang kaupunya hanya untuk membeli obat? Semua merasa terpilih dan memiliki, sehingga menjaga negeri itu dengan setia. Bodoh bukan membuang roti saat perut lapar?”
“Mungkinkah negeri itu akan meluas sampai kemari?” Harap Andre.
“Negeri itu dijanjikan bagi yang baik dan benar.” Oh alangkah indahnya menikmati keadilan negeri itu. Tak ada kejahatan, kerakusan, dendam, kebencian, dan mementingkan diri sendiri. Bumi menjadi hancur karena semua nafsu jelek itu. Manusia menjadi teraniaya, tertindas, dan tak berharga karena segala sifat jahanam itu. Oh negeri yang damai, harapan bagi seluruh penduduk bumi. Tanpa perang, kehancuran, tangisan anak-anak, jeritan pilu para ibu, dan bau mesiu. Andre masih ingin bersama, tapi lelaki dan cahaya bulan beringsut pergi, ufuk timur mulai memerah.
“Ndre, bangun! Hari ini kamu harus nyontreng! TPS buka jam tujuh!” Andre tergagap. Dia membuka mata dan merasakan silau pagi. Semalam dia tertidur di atas tikar. Samar-samar matanya menangkap wajah lelaki yang bersinar itu pada foto keluarga di dinding. Wajah kakeknya kala muda. “Aku mimpi ketemu kakek, Bu.” Ibunya tersenyum. “Sepertinya sudah damai dan bahagia.”
“Amin.” Ucap ibunya. Andre menggeliat bangun. Para tetangga lewat dengan baju necis menuju TPS. Wajah mereka berkilau. Oh kenapa negeri itu hanya lewat dalam mimpi dan hanya menjadi milik mereka yang sudah almarhum? Apa yang masih hidup tak berdaya mewujudkannya? Yah semoga saja dengan mencontreng hari itu, yang hidup bisa mendapatkan pelayan-pelayan kudus yang rendah hati, jujur, dan setia sehingga kemakmuran dan keadilan bangsa ini tak sebatas impian.
Langganan:
Postingan (Atom)
