Rabu, 24 Februari 2010

SUSTER ROSITA KAMI

Suster Rosita Kami
Oleh Rini Giri


Dia adalah gadis paling menakjubkan di asrama kami. Bukan karena paling modis. Tapi, paling alami, trengginas, dan cerdas. Gadis lain tidak akan percaya diri jika ke kampus tanpa bedak, lipstik, dan parfum. Dia cukup menyisir rambut dan merapikan alisnya yang tebal itu. Kecantikannya sudah terpancar sempurna. Rambut hitam panjangnya, bulu mata lentiknya, bibir ungunya, dan kulitnya yang bersih. Benar-banar anugerah Surga yang jarang dimiliki sekaligus oleh seorang gadis.
Aku menjadi dekat dengannya karena tinggal dalam satu unit. Bersamanya terasa nyaman dan percaya. Mungkin karena dialah yang pertama kali menyambutku saat aku datang ke asrama. Dia yang membawakan rantang makan siangku.
“Aku dengar dari Suster Kepala siang ini akan datang warga baru, jadi tadi kuambilkan makan siang. Pastilah kamu belum sempat makan. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Tapi sayangnya siang ini aku ada kuliah, jadi harus buru-buru ke kampus. Maaf ya, tidak bisa menemanimu makan. Sampai nanti, Nania.” Tutur katanya bersahabat dan gerak tubuhnya seperti malaikat. Dia begitu baik, bahkan mau mengambilkan jatah makan siang untuk seseorang yang belum dikenalnya.
Dia memang berbeda. Setiap gadis akan merasa geer jika diperhatikan lawan jenisnya. Dia tidak. Bahkan sering menjodohkan teman-teman di asrama dengan pemuda yang sedang mendekatinya. Padahal pemuda-pemuda itu ganteng, berotak cemerlang, berhati berlian, kuliah di fakultas favorit, dan berkecukupan materi. Lantas apa yang dia cari? Atau jangan-jangan dia penyuka sesama jenis? Hi!
“Kalau aku lesbian, tentunya sudah sejak dulu aku naksir kamu, Nania!” Jawabnya gemas sambil menarik hidungku hingga pedas. Dia sebenarnya mau berteman dengan siapa saja tanpa pilih kasih. Bahkan teman yang sering datang menemuinya di asrama kebanyakan laki-laki. Begitu banyak sahabatnya, sampai-sampai banyak yang iri padanya. Tapi tak ada seorangpun yang berhasil jadi pacarnya. Katanya, kalau lebih tua dianggap kakak. Sedangkan yang sepantaran dianggap adik. Dia pernah cerita sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang menjadi pegangan hidupnya selama ini. Siapa?
Tidak berbedakpun seperti bidadari. Lantas dia terpikir untuk memotong rambutnya supaya terlihat jelek. Tapi yang ada justru dia semakin menawan karena kulit bersihnya kian memancar. Dan suatu malam aku berhasil mencegahnya merusak wajah dengan silet.
“Kenapa, Ros?” tanyaku sambil memeluknya erat. Rosita menangis, seolah menyesali keelokan jasmaninya. “Cerita, Ros. Cerita!” Bujukku.
“Nan, aku ingin sekali masuk biara.” Jawabnya dengan bibir bergetar.
“Kalau mau masuk biara gampang, Ros, tinggal daftar saja. Tapi nggak perlu membenci diri-sendiri. Yang barusan kaulakukan itu dosa, Ros. Kau sudah diberi keindahan oleh Tuhan, kenapa justru tidak bersyukur?” Aku hampir marah.
“Kecantikan ini menghalangiku, Nan.” Dia menangis sejadi-jadinya. Lantas setelah reda, dia mulai bercerita. Dulu, waktu masih SMU dia terkesan pada kata-kata seorang biarawati. Katanya, jika ingin menjadi orang berguna, bersiap-siaplah untuk bersedia bekerja bagi orang lain tanpa bayaran. Rosita gundah dengan ucapan itu.
Di sekitarnya, semua profesi dihargai dengan gaji bulanan atau honor. Satu-satunya profesi tanpa bayaran yang dikenalnya adalah menjadi rohaniwan atau rohaniwati. Mereka mengabdi sepenuh hati dalam kaul kemiskinan dan tulus bekerja agar orang lain merasa bahagia. Tanpa bayaran.
“Aku berfikir, hanya dengan menjadi seorang biarawati aku akan menemukan hidupku, Nan. Aku akan menemukan Tuhan. Tapi orangtuaku menentangnya. Aku ini anak perempuan satu-satunya. Semua yang dimiliki orangtuaku akan diwariskan padaku. Bahkan ayahku dengan keras mengatakan, buat apa aku jadi suster. Tidak punya keturunan, tidak punya harta, tidak punya kedudukan dalam masyarakat. Pekerjaannya berat tapi tetap saja dicela umat. Lagipula, siapa yang akan mengurus perusahaan dan ayah-ibu jika sudah tua. Semua dibebankan padaku. Toh jika ingin berguna, katanya, aku bisa jadi pengusaha yang gemar berderma. Tapi bukan itu maksudku, Nan. Lalu ayahku mengirimku ke sini, agar masuk ke Fakultas Ekonomi. Dia berharap, kelak aku menjadi pengusaha sukses. Apalagi wajahku menarik, tidak sulit untuk menjerat anak pejabat.”
“Oh, My God.” Mulutku hanya bolong melompong mendengar kisahnya. Kini aku jadi paham, kenapa dia jarang pulang ke rumahnya. Kami boleh pulang dua minggu sekali. Tapi Rosita bahkan tiga atau empat bulan baru pulang, itupun setelah dijemput oleh seseorang. Sepupu yang diutus ayahnya.
Sore itu saat aku akan pulang ke rumah dan melewati ruang tamu asrama, seorang pemuda yang biasa menjemput Rosita berdiri di pintu. Sepertinya, Rosita tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Mungkin pemuda itu belum janjian. Dengan sopan pemuda itu tersenyum padaku. Kuminta dia menunggu dan aku kembali ke kamar memanggil Rosita.
“Ros, sepupumu datang.” Tapi Rosita tidak mau menemui, bahkan menyuruhku untuk mengatakan kalau dia sedang istirahat tak bisa diganggu. “Ros, dia datang dari jauh membawa mandat ayahmu. Tolong hargai dia dong, Ros!” Bujukku. Rosita menggeleng. “Kamu boleh menolak tidak mau pulang, tapi paling tidak temui dia!” Rosita tetap membatu. Aku jadi hilang kesabaran. “Ros, dengar ya, percuma saja kamu ingin menjadi orang berguna bagi sesama tapi kamu tidak peduli pada keluargamu sendiri. Kamu tidak tahu kan sepupumu itu datang membawa berita apa? Bagaimana kalau ternyata ayah atau ibumu sakit? Kau tetap tidak peduli?” Akhirnya sahabatku itu luluh dan minta ditemani untuk bertemu sepupunya.
Ternyata benar, ayahnya sakit keras. Suster Kepala dan beberapa teman turut menjenguk. Rupanya ayahnya itu terhibur dengan kedatangan kami. Terlebih karena tersentuh oleh doa yang dipanjatkan Suster Kepala bagi kesembuhannya. Dengan suara lirih ayahnya ingin Rosita mendekat. Lantas membisikkan sesuatu ke telinganya. Senyum pun merekah di bibir ungu sahabatku itu dan cepat-cepat dipeluknya ayahnya.
Sebulan kemudian, Rosita sudah tidak tinggal di asrama lagi. Tapi saudara sepupunya itu masih sering datang untuk menemuiku. Dan pagi ini, adik iparku Suster Rosita, baru saja selesai mengucapkan kaul kekalnya. Nanti sore, dia akan berangkat ke Papua untuk melayani pendidikan anak-anak suku Amungme.
“Nan, titip ayah dan ibuku ya.” Ucapnya. Aku mengangguk pasti. Ayah dan ibu nya tampak haru dan merasa menjadi yang paling berbahagia atas peristiwa penuh berkat-Nya ini.
“Itu Suster Rosita kami!” Teriak anak-anakku sambil memeluk buliknya.
“Bukan. Sekarang sudah menjadi Suster Rosita milik semua orang.” Kami tertawa.

TAK HARAP KEMBALI

TAK HARAP KEMBALI
Oleh Rini Giri


Sepagi itu, ketika belum ada cahaya secercahpun, Bapak sudah berangkat ke gedogan (tempat potong hewan). Pasti mau beli daging untuk pesta selapanan (satu bulan kelahiran) cucunya, karena kulihat Bapak membawa gluthuk (alat angkut pertanian dari kayu dengan dua gagang pendorong di belakang dan satu ban depan) dan beberapa ember besar. Pastilah daging sapi yang akan dibelinya dalam jumlah banyak.
Biasanya para jagal hewan menangani sapi-sapi yang baru saja dibeli dari para blantik (makelar sapi) di malam hari. Sehingga subuh begini, gedogan sudah dipenuhi daging segar dan para pembeli dalam partai besar. Jika matahari sudah mengintip sedikit saja, daging-daging merah segar itu sudah lenyap berpindah tempat ke kios-kios daging pasar tradisional, pabrik abon, dan restoran-restoran sambel tumpang (masakan khas daerah Ampel Boyolali).
Semoga daging yang dibeli Bapak bukan hasil glonggongan (sapi dicekoki air sampai kembung sebelum disembelih untuk menambah berat timbangan). Akhir-akhir ini, daerahku di pedalaman Jawa Tengah itu memang jadi sedikit terkenal gara-gara ditemukannya kasus daging haram dan tidak sehat itu. Semua stasiun televisi menyiarkannya dalam berita kriminal. Tapi aku yakin, ayahku pasti sudah memesan daging yang bagus dengan harga yang realistis.
Tapi sampai matahari memunculkan bayangan awan di lereng Gunung Merbabu dan anak-anak berseragam putih merah berlarian di jalan depan rumah karena takut terlambat masuk, ayahku belum pulang. Kemana dia? Dan daging segar sebanyak itu dibawa kemana? Padahal belum alih profesi sebagai pedagang daging di Pasar Ampel.
“Bapakmu mengantar daging ke rumah Bu Lurah. Dulu, waktu Mbakyumu menikah, Bu Lurah itu menyumbang kita duapuluh kilo daging sapi. Anak bungsu Bu Lurah yang kuliah di Solo itu kan sudah lulus dan kerja. Nyatanya di tempat kerja ketemu jodoh. Ya sudah, wong sudah cocok, ya dinikahkan saja. Akad nikah dan resepsinya besok siang. Nah, giliran bapak dan ibumu ini yang harus mengembalikan sumbangan Bu Lurah dulu.” Tutur ibuku ketika aku menanyakan perihal Bapak.
Aku jadi kecewa. Berarti selapanan anak Mbak Ning cuma akan dibancaki (syukuran kecil dengan tumpeng) pakai urap daun adas, peyek teri, dan telur rebus. Kebetulan kakak perempuanku itu pulang untuk melahirkan. Cuti tiga bulan akan dihabiskannya di tempat sejuk ini. Maklum, bayi itu anak pertamanya dan dia sangat mengandalkan Ibu. Apalagi suaminya juga kerja. Di sini, dia lebih aman. Banyak yang siaga.
“Maksud Ibu, Bapak dan Ibu juga harus ganti menyumbang duapuluh kilo daging sapi ke rumah Bu Lurah?” Aku tak habis mengerti. Menyumbang bukankah suatu urusan suka rela, tapi kenapa yang disumbang dibebani kewajiban untuk mengembalikan dalam jumlah yang sama?
“Ya itulah yang namanya pirukun (hidup layak bermasyarakat), Dar. Kamu juga harus tahu. Kamu kan juga akan hidup bermasyarakat. Harus mengenali gotong-royong cara orang ndeso. Kalau kamu mau dibantu orang ya harus mbantu orang lain terlebih dahulu. Kalau di desa tidak mau srawung (bergaul) ya kamu sakitpun tidak ada yang njenguk. Di desa itu harus saling, balas-membalas budi, tepa slira (tenggang rasa). Tuh, Mbakyumu, saat remaja lebih banyak sekolah di luar kota, ndak guyup dengan karang taruna di sini. Akibatnya, saat nikah, karang taruna juga tidak ada yang mau laden (jadi pramusaji pesta).”
Di dusun memang serba rumit. Di kota, kebaikan seseorang bisa saja dibeli dengan uang. Kebaikan tulus cukup dibalas dengan terimakasih. Praktis dan tidak perlu merasa berhutang budi. Tapi di sini, sumbangan barang harus diganti barang, uang dengan uang, tenaga dengan tenaga, sikap baik dengan sikap baik. Dulu, waktu aku kecil, pernah sakit gara-gara Ibu rewang (membantu memasak) di tempat tetangga yang hajatan tujuh hari tujuh malam. Aku sampai tak terurus. Gara-garanya, dulu waktu kakak laki-lakiku Mas Haryo disunat, tetangga itu juga rewang sampai pesta selesai. Ampun!
“Kalau ternyata Ibu tidak bisa mengembalikan sebanyak yang pernah Ibu terima bagaimana?” Bukankah memberi, menyumbang, menderma, atau apapun namanya itu harus iklas dan tidak menjadi beban, baik bagi pemberi maupun penerima?
“Ini sudah tradisi, Tole Darto. Penerima sumbangan sudah menyadari bahwa sebenarnya pemberian itu adalah hutang yang harus dikembalikan suatu saat nanti, mau tak mau. Kalau tidak, hubungan baik bisa runyam. Kalau perlu, sumbangan yang diterima itu dicatat supaya tidak lupa.” Tandas Ibu. Waduh, ternyata sistem ini sama saja dengan kartu kredit. Puyeng-puyeng! “Kita juga harus melihat pada siapa yang akan kita sumbang. Kalau terpandang ya kita sumbang banyak biar nanti kembalinya juga banyak. Kalau yang nyumbang orang kebanyakan atau malah di bawahnya ya sumbangannya rata-rata saja, jadi mereka tidak kelabakan saat mengembalikannya nanti.” Busyet!Bukankah seharusnya yang miskin disumbang lebih banyak?
Waktu melahirkan, Mbak Ning dijenguk kawan-kawan Ibu. Maklumlah sepak terjang Ibu dalam bersosial sangat lincah. Mereka membawakan kado dan memberi amplop. Dengan ucapan terimakasih yang mendalam Mbak Ning menerima hadiah-hadiah itu. Tapi Ibu sangat marah ketika tahu.
“Ning, kita kan tidak nompo (menerima sumbangan). Kalau ada orang yang ngasih harus kamu tolak dengan tegas. Kalau nompo, berarti kita juga harus menggelar pesta. Kalau tidak, bisa habis kita jadi omongan tetangga!” Mbak Ning sampai menangis waktu itu. Masakan menolak kado-kado yang sudah terbeli dan uang yang sudah dipersiapkan oleh para tamu tadi? Bukankah seharusnya menolak bisa menyinggung perasaan mereka? Tapi apalah daya, itulah sistem! Terpaksa paginya aku mengembalikan tumpukan kado dan amplop itu ke alamat pemberi dengan ucapan beribu maaf.
Bukankah kita selalu diajari untuk bermurah hati seperti Bapa di Sorga yang murah hati pada orang baik maupun orang jahat? Di mana lagi ada tempat untuk memberi tanpa harapan dikembalikan seperti itu? Memberi ya memberi saja. Kutengok kamar Mbak Ning. Dia sedang bercanda dengan bayinya. Mungkin hanya kasih seperti itulah yang tak mengharap balasan. Seperti Ibu mengasihiku. Puji Tuhan, di dunia ini masih ada relasi seindah itu.
“Mau kemana, Dar?” tanya Ibu suatu pagi.
“Mau ikut sambatan (gotong-royong membangun rumah) di rumah Lik Sardi.”
“Kurang kerjaan saja! Dulu waktu kita membetulkan kandang sapi di belakang itu, dia tidak membantu kok!”
“Ah, tak apa, Bu. Membantu ya membantu saja, bukan karena pernah dibantu atau mengharap bantuan.” Dengan semangat kutenteng peralatan tukang ke rumah Lik Sardi. (Okt’08)

NEGERI TANPA TAPAL BATAS

NEGERI TANPA TAPAL BATAS
Oleh Rini Giri


Hari itu tepat setahun wafatnya Kakek Yus. Sungguh beruntung, karena keesokan harinya Tri Hari Suci dimulai dan pemilu legislatif digelar. Keluarga tampak bahagia bisa menyelenggarakan misa arwah bagi almarhum. Andre duduk bersandar dekat pintu setelah selesai memunguti gelas air mineral sisa para tamu. Tikar yang tadi dipakai belum digulung. Dia lelah. Seharian sibuk mempersiapkan acara itu. Pinjam tikar ke pos RT, mengambil pesanan kue, mengatur altar, dan menjemput Romo di pasturan. Sementara para sepupu hanya haha-hihi sambil duduk-duduk main HP.
Andre tidak iri. Kakek Yus menghabiskan masa tua dan meninggal di rumah itu bersama keluarganya. Dia adalah cucu terdekat secara fisik dan emosional. Jadi dirinya paham jika sepupu yang lain kurang antusias terlibat dalam perhelatan itu, karena mereka tidak memiliki ikatan batin pada Kakek Yus sedalam yang ia miliki.
Angin malam berhembus melalui pintu dan kusen jendela. Ibunya sibuk membersihkan remah-remah makanan yang mengotori tikar. “Kalau capek, istirahat saja di kamar. Biar ibu yang membereskan tikar.” Andre mengangguk. Di luar sana cahaya bulan keemasan menimpa pohon-pohon buah yang dulu ditanam kakeknya. Tiba-tiba terselip rindu pada sosok yang sering mengajaknya duduk-duduk di teras sambil main catur dan menyeruput wedang jahe itu.
Andre terhenyak. Seseorang yang baru datang menegurnya. “Kenapa mendung, Ndre? Kamu kelelahan ya?” Dia merasa mengenal wajah itu. Mirip bapaknya. Tapi bukan. “Bapak siapa?” Tanya Andre terbata. Wajah itu tersenyum, seteduh malam dengan sinar bulan yang tertahan barisan awan. Bajunya bercahaya seperti pagi. Angin dingin menyibak tirai. Andre panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada orang lain. Ibunya sudah pergi. Para sepupu sudah berhenti bercanda. Hanya dia dan lelaki itu. Andre bengong. “Aku rakyat negeri yang terjanji. Rajanya adil dan benar serta diliputi belas kasih. Para pelayan hidup dalam kekudusan.” Lelaki itu mengulurkan tangan membantu Andre berdiri. Dalam diam mereka berjalan melampaui pohon dan sinar bulan.
“Segala bangsa, suku, golongan, dan agama yang baik dan benar boleh masuk ke negeri itu. Tak pernah Sang Raja melakukan ekspansi untuk memperluas kekuasaan. Negeri itu menjadi luas dengan sendirinya, segala bangsa dengan suka-rela menggabungkan diri sebagai sekutu. Raja memberlakukan bahasa cinta sebagai bahasa persatuan, semua sekutu dari segala ujung bumi bisa memahaminya. Hukum yang diterapkan adalah kasih yang mengatasi segala hukum buatan manusia, sehingga beribu-ribu suku tidak mungkin buta hukum. Semua orang punya dua mata, tapi hanya melihat kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kedamaian.
Kebohongan, kesewenang-wenangan, hawa nafsu, dan huru-hara sudah lenyap. Tak ada lagi kematian, tangis dan duka. Tak ada lagi sakit dan kelaparan. Kecacatan berubah menjadi kesempurnaan. Yang ada hanya damai dan sukacita. Di sini masih ada perang, di sana hanya ada persahabatan abadi. Di sini ada demonstrasi, di sana ada saling mendengar. Di sini masih ada korupsi, di sana yang ada saling peduli. Di sini orang harus antri berdesakan lantas rusuh hanya karena menunggu BLT atau pembagian sembako, di sana kami mengantri untuk diberkati.” Andre sangat antusias mendengar.
“Negeri itu tak berpengawal, tak berserdadu dan algojo. Yang ada hanyalah para pelayan kudus. Mereka hidup suci. Kami tak butuh polisi, hansip, satpam, apalagi satpol PP untuk menertibkan lingkungan. Kami saling mengasihi, mengerti, menghormati, membantu dan melayani sehingga kehidupan berjalan tertib dengan sendirinya.
Tak ada ranjau di perbatasan, tak ada tentara di garis depan, sebab negeri itu tanpa tapal batas. Ia mengundang siapa saja yang baik dan benar untuk menjadi warga negara istimewanya. Semua suku bangsa bisa menjadi satu saudara. Tak ada lagi kotak dan sekat yang menimbulkan perpecahan antar golongan. Semua sama istimewanya di hadapan Raja. Negeri itu telah dibangun sejak semula, tidak akan lekang oleh masa, tak roboh oleh musuh, dan tak terbatasi waktu. Ada selamanya.” Mereka sampai di jalan raya. Bulan tersenyum.
“Jadi rakyat negeri bapak tak perlu pusing dengan gambar-gambar orang, nomor-nomor urut, dan simbol-simbol golongan yang bergelantungan di pohon-pohon seperti itu?” Tanya Andre. Lelaki yang kian berkilau itu tersenyum. Menggeleng.
“Pelayan-pelayan kudus yang berdedikasi tinggi, jujur, dan setia akan senang hati menyampaikan aspirasi kami. Bahkan ketika mulut belum terucap, mereka sudah paham apa yang ingin kita sampaikan. Meski pemimpin, tapi yang tinggi itu justru melayani dan melindungi kami.”
“Negeri itu tanpa batas dan tanpa serdadu, apa tidak khawatir akan adanya penyusup, bahaya laten, atau tindakan makar?”
“Negeri itu seperti obat bagi yang sakit, hiburan bagi yang duka, makanan bagi yang lapar, dan air sejuk bagi yang dahaga. Bukankah kamu akan menjual apapun yang kaupunya hanya untuk membeli obat? Semua merasa terpilih dan memiliki, sehingga menjaga negeri itu dengan setia. Bodoh bukan membuang roti saat perut lapar?”
“Mungkinkah negeri itu akan meluas sampai kemari?” Harap Andre.
“Negeri itu dijanjikan bagi yang baik dan benar.” Oh alangkah indahnya menikmati keadilan negeri itu. Tak ada kejahatan, kerakusan, dendam, kebencian, dan mementingkan diri sendiri. Bumi menjadi hancur karena semua nafsu jelek itu. Manusia menjadi teraniaya, tertindas, dan tak berharga karena segala sifat jahanam itu. Oh negeri yang damai, harapan bagi seluruh penduduk bumi. Tanpa perang, kehancuran, tangisan anak-anak, jeritan pilu para ibu, dan bau mesiu. Andre masih ingin bersama, tapi lelaki dan cahaya bulan beringsut pergi, ufuk timur mulai memerah.
“Ndre, bangun! Hari ini kamu harus nyontreng! TPS buka jam tujuh!” Andre tergagap. Dia membuka mata dan merasakan silau pagi. Semalam dia tertidur di atas tikar. Samar-samar matanya menangkap wajah lelaki yang bersinar itu pada foto keluarga di dinding. Wajah kakeknya kala muda. “Aku mimpi ketemu kakek, Bu.” Ibunya tersenyum. “Sepertinya sudah damai dan bahagia.”
“Amin.” Ucap ibunya. Andre menggeliat bangun. Para tetangga lewat dengan baju necis menuju TPS. Wajah mereka berkilau. Oh kenapa negeri itu hanya lewat dalam mimpi dan hanya menjadi milik mereka yang sudah almarhum? Apa yang masih hidup tak berdaya mewujudkannya? Yah semoga saja dengan mencontreng hari itu, yang hidup bisa mendapatkan pelayan-pelayan kudus yang rendah hati, jujur, dan setia sehingga kemakmuran dan keadilan bangsa ini tak sebatas impian.

LUKISAN SUNGAI KELABU

LUKISAN SUNGAI KELABU
Oleh Rini Giri


Arum menerima kiriman amplop coklat besar dari Nikolas. Tebal sekali isinya. Ternyata, lukisan-lukisan hasil karya anak-anak Amungme. Sebuah lukisan membuat bulu kuduknya berdiri. Saat dia masih kecil, ibunya selalu mengajari mewarnai gambar sesuai dengan warna yang sesungguhnya. Gunung, laut, sungai dan langit tentu dengan crayon biru bersih. Pohon dan rerimbunan daun tentulah dengan crayon hijau cerah. Tanah dan batang pohon pastilah crayon cokelat terang. Begitu pula ketika dia mengajari menggambar baik pada murid-muridnya di Timika dulu maupun sekarang di tepi Ciliwung. Tapi ada apa dengan lukisan yang dipegangnya itu? Mungkinkah Nikolas salah memberi arahan pada para muridnya? Sehingga sungaipun airnya dipoles dengan crayon putih kekuningan, pohon-pohon tanpa daun bahkan tinggal tonggaknya yang menghitam, serta tanah sekeliling yang berwarna abu-abu.
Setamat SPG, Arum pergi ke Timika. Dia mendaftar sebagai guru sekolah dasar yang didirikan para misionaris di tepi Sungai Ajkwa yang tenang mengalir. Kala itu, 1971, tekad dan kemauannya sangat berarti untuk diterjunkan di belantara Irian Jaya.
Murid-muridnya adalah anak-anak suku Amungme yang datang dari beberapa kampung. Puncak gunung Nemangkawi Nenggok yang lamat-lamat terlihat di sebelah utara sungai, membuatnya terpukau. Juga gunung-gunung berkadar tembaga dan emas yang berwarna kuning, merah, dan cokelat kala senja itu. Hutan tropis perawan yang hijau di sepanjang sungai, membuatnya betah.
Kala itu bolduser mulai berdatangan untuk mengeruk Gunung Bijih yang terkenal dengan nama Estberg. Mungkin sampai menjadi ceruk. Alhasil orang-orang Amungme ini terpaksa hengkang dari tanahnya dan tinggal di kaki pegunungan.
Arum sempat bertanya, kenapa anak-anak bangsa ini harus pergi dari tanah leluhurnya demi kepentingan orang lain? Jawabannya, lagi-lagi untuk pembangunan. Supaya jalan-jalan bisa dibangun, sekolah didirikan, dan suku-suku pedalaman itu belajar modernisasi. Biar mereka pakai baju dan bukan koteka lagi. Tapi jauh di lubuk hatinya, Arum punya jawaban. Bukan. Bukan untuk pembangunan. Tapi untuk memperkaya orang-orang yang sudah kaya. Nyatanya suku Amungme justru harus pergi dari tanahnya sendiri. Padahal di kalangan mereka, tinggal di tanah orang berarti kehilangan martabat. Warga suku satu belum tentu bisa berdampingan dengan suku lain dalam satu wilayah, sebab mereka mempunyai sejarah nenek moyang sendiri-sendiri.
Dalam sebuah perjalanan, Arum bertanya pada muridnya yang selalu tampak geram setiap kali melemparkan pandangan ke puncak gunung itu. “Ada apa denganmu, Nikolas?” Orang Amungme adalah pejalan kaki yang tangguh. Naik turun gunung menyusur jalan setapak yang dirintis nenek moyang adalah hal biasa. Kini mereka tak bisa lagi melintasi jalur-jalur gunung yang masuk areal pertambangan.
“Seandainya saya jadi Ibu Guru, Ibu juga akan marah toch? Ibu guru pasti marah lihat orang lain bikin kebun di halaman kita. Pasti ingin usir itu orang toch?” Arum hanya melongo mendengar pengakuan sedalam itu keluar dari mulut anak belasan tahun.
Dia tidak pernah menyesal telah dikirim ke tempat itu. Murid-muridnya semua berlian. Mereka juga punya hak untuk belajar. Tidak ada yang bodoh dalam kamus Arum. Yang ada hanyalah belum tahu atau terlambat tahu. Kewajiban bagi yang tahu untuk memberi tahu. Tak ada yang bodoh lagi jika semua sudah tahu. Dia bercita-cita, anak-anak didiknya menjadi orang yang lebih baik. Kaya akan kasih pada sesama dan kaya akan rasa cinta pada alam semesta. Bukan kaya harta tapi tetap kemaruk.
Arum mengajar di daerah yang setelah proses pemekaran masuk dalam wilayah Kabupaten Paniai itu selama limabelas tahun lantas pulang ke Jakarta. Kondisi kesehatannya tak memungkinkan untuk bertahan di Timika. Nikolas, muridnya yang paling cerdas, kini telah menjadi guru di sekolah misi itu.
“Anak-anak itu jujur, Ibu. Tak ada murid Ibu yang pembohong toch? Mereka gambar apa yang mereka lihat, Ibu. Sungai Atjwa memang sudah begitu. Rusak sudah semua yang Ibu pernah lihat dulu.” Tutur Nikolas ketika Arum menghubunginya lewat sambungan interlokal.
Sejak Arum pergi, areal pertambangan meluas ke Grasberg. Bahkan Timika telah berubah menjadi kota yang lengkap bagi para pendatang. Aliran limbah bermuara ke sungai-sungai dan membunuh biotanya. Penambang tradisional pengais sisa-sisa limbah tambang yang digelontorkan ke batang Sungai Ajkwa semakin banyak. Kini mencapai tigabelas ribu orang. Pribumi maupun pendatang. Meskipun sampah, toh namanya tetap emas. Jadi semakin hari semakin banyak saja orang yang datang untuk mendulang tailing yang menyebabkan sungai itu berwarna seperti kopi susu. Mereka tinggal di bivak-bivak sepanjang bantaran sungai, dan akan turun ke Timika jika pasir emas telah terkumpul banyak. Di kota itu, para pedagang emas yang kebanyakan orang Bugis, sudah menanti untuk membeli hasil keringat para pendulang. Sehari seorang pendulang yang bermodal sekop, ayakan, papan kayu miring, dan wajan mampu menghasilkan dua hingga lima gram pasir emas.
Nikolas bercerita, sebenarnya menjadi pendulang emas dari tailing pertambangan bukanlah cita-cita warga kampungnya. Cita-cita mereka yang sesungguhnya hanyalah ingin diakui martabat dan haknya sebagai manusia. Mereka ingin menikmati tata hidup yang adil dan aman. Pengakuan orang lain atas sejarah perjalanan hidup suku-suku di sepanjang ungai Ajkwa amat mereka dambakan. Mereka ingin tetap melestarikan nilai-nilai agung warisan leluhur. Dulu orang-orang Amungme merupakan penguasa-penguasa tanah di Tembagapura. Tapi, kini kebun mereka di Timika jadi sempit, bahkan untuk beternak babipun tidak cukup. Tata hidup harmonis mereka telah rusak.
Nikolas kembali berkisah, menjadi pendulang sisa limbah tambang pun kini tak nyaman lagi. Aparat keamanan sering melakukan pengusiran dengan kekerasan. Para pendulang dianggap mengganggu stabilitas keamanan di sekitar areal pertambangan. Mereka yang merasa diusik mata pencahariannya tentu saja mengamuk. Kata-kata Nikolas kala remaja terngiang kembali,“Siapa yang tidak akan marah jika ada orang asing bercocok tanam di pekarangannya.”
Arum hanya bisa menitikkan air mata masa tuanya. “Bagaimana aku harus menghiburmu, Nikolas? Sementara anak-anakku di Ciliwung yang dihimpit kota besar ini juga sudah tidak pernah melihat sungai-sungai bening lagi. Mungkinkah sungai jernih dengan kerimbunan pohon hijau akan tinggal cerita? Padahal tanah ini milik angkatan yang akan datang. Tetaplah kaya akan kasih dan cinta, Nikolas.”

PINTU EDEN

PINTU EDEN
Oleh Rini Giri


Hujan turun dalam rintik. Pohon raksasa di tengah taman itu menjadi naungan banyak makhluk. Induk rusa menggiring anaknya untuk berteduh, burung-burung kembali ke sarang di pangkal dahan, dan monyet-monyet bersembunyi di rerimbunan daun. Dua manusia, lelaki datang dari utara dan perempuan dari arah berlawanan, juga mencari perlindungan di situ. Mall-mall yang mengepung taman itu menjanjikan surga baru bagi sebagian orang.
“Sebenarnya Eden tidak pernah rusak ataupun sirna. Secara fisik dia masih utuh seperti sedia kala. Hanya saja kita tidak tahu ada di mana. Kesalahan besar masa lalu sudah membuat pintu taman itu tertutup rapat dan kita tidak bisa memasukinya lagi. Satu-satunya kerusakan Eden adalah noda dosa yang turut terbawa ke bumi dan merusak pula di sini. Beberapa penjaga dengan pedang terhunus ditempatkan di sebelah timur untuk menghalangi kita. Seharusnya kini taman itu menjadi tempat tinggal kita andaikan bapakku tidak terbujuk rayuan ibumu untuk mencicipi buah pohon yang baik dan yang jahat. Lihatlah! Sekarang kita harus mati-matian banting-tulang untuk mendapatkan makanan dari bumi.” Ujar lelaki itu sambil memandangi langit yang kelam oleh awan-awan yang menggelantung.
“Itu bukan kesalahan ibuku. Ular yang telah menyebabkan semuanya terjadi!” Jawab perempuan itu sengit.
“Tapi ibumu termakan rayuannya! Perempuan selalu cari kambing hitam!”
“Salah bapakmu juga! Kenapa dia mau mendengarkan rajukan ibuku! Lelaki sering lupa pada kesalahannya sendiri dan menuduh orang lain sebagai penyebab!” Lalu keduanya terdiam dengan amarah di ubun masing-masing. Air terus menetes dari langit, tapi tanah di bawah bayang-bayang pohon itu tetap kering. Perempuan itu merapatkan tangannya di dada bertahan dari rasa dingin.
“Apakah taman itu akan dikembalikan kepada kita suatu saat nanti?” Tanya perempuan lirih. Ah, seandainya dia punya kesempatan untuk melihat Eden barang sejenak. Segala satwa dan manusia hidup rukun tanpa menakuti ataupun ditakuti, tanpa memburu ataupun diburu, tanpa memangsa ataupun dimangsa. Sebab semua makhluk hanya makan tumbuhan dan buah-buahan. Bahkan mulut harimau, cakar srigala, ataupun moncong buaya tidak akan membahayakan seorang bayi merangkak yang sedang bermain di hamparan rumput. Di sana tidak ada permusuhan, tidak ada iri dengki, tidak ada persaingan dan sengketa, tidak ada penindasan dan pelecehan, tidak ada peperangan. Dirinya, dan pastilah semua orang, teramat merindukan tempat itu. Warga kota dengan sengaja membangun taman ini agar bisa bernostalgia pada ketentraman taman masa lalu itu. Alangkah damainya. Apalagi kedamaian sudah menjadi barang langka di zaman ini. Kedamaian sulit diwujudkan untuk hal-hal yang baik, tapi begitu mudah dibeli untuk hal-hal yang curang. Damai hanya dipakai manusia untuk melarikan diri saat menghadapi masalah.
“Taman itu diciptakan untuk kita. Tentunya akan dikembalikan pada kita. Mungkin butuh usaha untuk mendapatkannya kembali.” Jawab lelaki kurang yakin.
“Usaha apa?” Tanya perempuan itu penasaran. “Tidak dengan membuat imitasinya kan?” Nyatanya taman kota ini tidak mengobati kerinduan. Hanya menjadi penanda kota, tempat kencan muda-mudi dan menambah jumlah sampah yang dibuang sembarangan.
“Mungkin kita bisa menanam pohon-pohonnya kembali. Dalam hidup setiap hari. Bukankah esensi taman itu adalah kedamaian? Kita tinggal menyemai bibit-bibitnya agar tumbuh di segala lorong dan sudut bumi.” Lelaki berusaha menduga.
“Ingatlah, yang terbawa ke bumi ini hanyalah akibat dosa. Tak ada sebiji kedamaianpun yang turut terbawa ketika bapak dan ibu kita diusir dari taman itu. Lantas kemana kita harus mencari bibitnya?” Perempuan tampak ragu.
“Bukankah esensi dari setiap ciptaan di taman itu kedamaian? Pastilah leluhur kita juga punya esensi itu dan kita menuruni bakatnya. Hanya saja masih tersembunyi. Kita harus menemukannya. Mulai dari kita.”
“Ya, mungkin harus dimulai dari diri kita. Kita berdua harus berdamai. Jangan saling menyalahkan lagi. Bukankah di taman itu bapak dan ibu kita tidak pernah bertengkar, tidak saling tuding, tidak saling mengungguli, tidak saling menindas, tidak saling merendahkan, dan tidak saling memeras? Mereka rukun, saling menolong, saling mengisi, dan melengkapi. Sebab mereka memang diciptakan untuk begitu.” Kenang sang perempuan.
“Mereka mulai saling tuding ketika ketahuan melanggar perintah untuk tidak memakan buah dari pohon kebajikan itu. Bapak kita menyalahkan ibu kita, dan ibu kita menuduh si ular licik sebagai biang kerok. Siapa sebenarnya yang telah bersalah? Bukankah ketiganya salah? Bukan cuma si ular, atau si perempuan, atau si lelaki. Tapi ketiganya.”
“Ya. Sejak saat itu mereka diusir ke tempat ini dan keturunannya menjadi sengsara. Berjuang untuk makan, menderita sakit bersalin, sengsara karena sakit, mengalami ketuaan, lantas menghadapi kematian. Seandainya kesalahan besar itu tidak terjadi, atau seandainya taman itu bisa kembali kita miliki, tentulah segala kengerian itu akan sirna. Tidak ada derita lagi. Alangkah indahnya. Alangkah damainya. Alangkah nikmatnya.” Mata perempuan menerawang jauh ke gugusan awan-awan yang masih menggelantung dan tak tertahankan ingin melahirkan gerimis. Senyumnya merekah mengikuti pengembaraan pikiranya yang jauh. Tangannyapun melambai-lambai menari dan meliuk di angkasa oleh imajinasi.
“Kau terlalu tinggi berkhayal!” Hardik si lelaki kurang suka. Perempuan cemberut. Sepasang rusa dewasa sedang berkasih-kasihan di dekat onggokan batu.
“Bukankah seharusnya kita saling tertarik dan mencinta? Meninggalkan keluarga kita masing-masing dan menjadi satu daging dan tujuan untuk menguasai bumi dan seisinya? Tapi kenapa kita justru saling menjadi duri dalam daging? Tercipta kelas dan kasta. Terjadi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi di antara kita. Tugas dan peran kita jelas beda, tapi masih saja ada ambisi untuk saling menguasai. Sejak kapan itu terjadi?” Si lelaki tertawa geli. Si perempuan jadi kesal.
“Bukankah sejak dilahirkan kitapun sudah dibekali senjata untuk bermusuhan? Aku memiliki alat tajam untuk menusuk dan melukai, sedangkan kau punya jebakan licik untuk menerkam. Dan waktu kau tumbuh menjadi gadis kecil, aku sudah tertarik untuk menggoda dan menakut-nakutimu sampai menjerit. Ada kesenangan setiap kali membuat dirimu menangis.”
“Dasar! Akupun benci melihatmu yang hanya memakai cawat berlarian di jalanan mengejar layang-layang putus, sementara aku harus belajar mengerjakan banyak hal di rumah. Aku menjadi dua tahun lebih tua padahal usia kita sama.”
“Sudahlah, itu sudah masa lalu. Tahukah ketika mulai ada kuntum-kuntum di dadamu dan tubuhmu meliuk-liuk membentuk barisan perbukitan, adalah masa paling menyiksa bagiku? Ada perasaan ingin menyayangi dan melindungimu, tapi juga perasaan gengsi untuk mengutarakannya. Aku takut mendapat penolakan. Kau lebih suka dikejar-kejar daripada dimiliki.”
“Kau harus maklum. Bukankah setangkai bunga justru indah ketika mekar liar di rumpun-rumpun perdu? Dia akan segera layu jika dipetik. Oya, tahukah kau pendapatku tentang dirimu saat itu? Kau tak ubahnya seperti adik laki-lakiku yang belum bisa mengambil nasi sendiri ketika perutnya lapar. Huh! Makhluk manja!”
“Bukankah sudah seharusnya insan yang terlahir sebagai raja mendapatkan pelayanan kelas satu? Apa gunanya dilahirkan pelayan-pelayan setia?” “Aku bukan pelayan! Enak saja!” Si perempuan tidak terima.
“Dulu memang pernah ada rasa suka dan cinta padamu. Kubilang, kaulah darahku, kaulah jantungku, kaulah nadiku, kaulah pelengkap diriku. Tapi lama-kelamaan ada keinginan kuatku untuk menguasaimu. Kaulah pembantuku yang setia. Dan bukankah kau sendiri yang inginkan itu? Sebenarnya aku bisa mengambil baju dan sarapanku sendiri, tapi kau yang memaksakan diri untuk melayani agar dianggap baik dan setia. Bih!”
“Kaupikir akupun tidak memanfaatkanmu? Dulu kukatakan, kaulah pahlawanku, kaulah ksatriaku, kaulah dambaan hati. Tapi kini dengan jujur kuakui, kaulah sumber penghasilanku. Tidak lebih.”
“Dasar licik!” Gerutu lelaki sambil mengeratkan kepalan tangannya.
“Dasar bodoh!” Ejek si perempuan.
Rintik hujan mulai berhenti. Secercah sinar kuning menyapu angkasa dan menerangi taman itu. Binatang-binatang segera bangkit dan berjalan menjauh ke rerumputan untuk menikmati cahaya hangat yang baru saja sampai. Kedua insan terdiam. Kenapa mereka kembali saling menyalahkan? Bukankah seharusnya mereka mulai mengumpulkan kembali biji-biji kedamaian untuk ditanam agar menjadi Eden bisa kembali?
“Sudah reda. Ayo kita pulang!” Ajak si lelaki sambil meraih tangan perempuan.
“Kita belum selesai bicara.” Sang perempuan mengelak, menepis tangan kekar itu agar tidak menyentuh dirinya.
“Tak perlu kita bicara lagi. Semakin banyak bicara, semakin suramlah keadaannya. Jauh dari kedamaian. Yang kita cari jawaban atas pertanyaan, bukan pernyataan-pernyataan.” Perempuan menghela nafas panjang, menghirup udara kesabaran dan kekuatan. Diapun beranjak dari bayangan pohon itu. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang masih basah menuju sebuah pemukiman di sebelah barat taman.
“Yang mana rumah kita?” Tanya si lelaki.
“Ketuk saja pintunya satu persatu. Maka kita akan tahu mana rumah yang ingin kita tinggali.” Jawab perempuan.
Merekapun mulai mengetuk pintu rumah pertama. Seorang wanita seksi dengan baju transparan membukakan pintu. Mulutnya berbau alkohol. Dari dalam terdengar orang-orang berteriak-teriak girang sambil berjingkrak dalam pesta-pora. Lelaki menelan ludah, tapi perempuan segera menarik tangannya sambil menggelengkan kepala kepada penerima tamu itu.
“Bukan. Bukan ini rumah kita.” Merekapun pergi dan bergegas menuju rumah kedua. Rumah itu tampak kotor karena kurang terawat. Seorang anak kecil duduk tertunduk di beranda. Wajahnya pucat, bibirnya menggigil, dan lengannya memar-memar. Tiba-tiba terdengar barang pecah di dalam rumah. Seseorang sedang memaki-maki, mengumpat, dan melempar segala sesuatu yang terpegang oleh tangannya. Tak lama terdengar lolongan tangis yang meratap seperti menahan sakit hati. Si anak kecil semakin menggigil dan ketakutan.
“Bukan. Ini juga bukan rumah kita. Ayo lekas pergi dari sini!” Si perempuan tidak tahan melihat pemandangan memilukan itu. Si lelakipun segera menutupi matanya dengan tangan agar terhindar dari adegan-adegan kekerasan yang sangat tidak manusiawi itu.
Merekapun segera sampai di depan pintu rumah ketiga. Rumah tertutup rapat, bahkan tirai-tiraipun diturunkan. Dari balik jendela terdengar dua raga sedang memadu kasih. “Kau harus menceraikan istrimu sekarang juga. Aku tidak mau terus-menerus kauduakan. Apa sih yang membuatmu bertahan pada istrimu itu? Bukankah dia gendut dan tidak punya otak?” Suara wanita itu begitu menuntut. “Sabarlah, sayang. Aku tidak mungkin menceraikan dia. Limapuluh persen saham di perusahaanku itu milik dia. Sudahlah. Yang penting kita bisa menikmati keindahan hidup kita berdua. Tidak usah pedulikan dia. Sudahlah…” Suara pria merayu. Lelaki dan perempuan saling berpandangan, memicingkan mata, lantas menggelengkan kepala. Bukan rumah itu yang mereka inginkan.
Akhirnya mereka berjalan lunglai ke arah rumah terakhir. Seolah kehilangan pengharapan. Rumah itu sangat sederhana. Bercat hijau apel yang memantulkan kesejukan. Jendelanya terbuka lebar sehingga udara segar dan cahaya matahari masuk leluasa. Di beranda terdapat sepasang kursi dengan meja kecil berhias rangkaian bunga dalam vas. Tanaman bunga tampak segar dan menebarkan wewangian. Kupu-kupu bercengkerama di atas mahkota warna-warni. Di depan pintu terdapat sebuah keset berwarna dasar biru muda dengan tulisan “WELCOME” berwarna biru tua. Dan di pintu terdapat sebuah stiker bertuliskan “Akulah Pintu Itu.” Seorang pelayan membukanya dan dengan hormat memberikan petunjuk.
“Silakan anda berdua mengebaskan debu kedengkian di keset biru itu. Tinggalkan segala pertikaian di rak sepatu itu. Gantungkan segala dendam di hanger itu. Silakan masuk. Ini rumah damai. Hanya yang benar-benar manusiawi saja yang bisa menjadi kedamaian.” (Bekasi Utara, April 2008)

PERSIAPAN MENYONGSONG NATAL

PERSIAPAN MENYONGSONG NATAL
Oleh Rini Giri


Malam Minggu di kota besar seperti Jakarta ini selalu diwarnai dengan pesta-pora, cuci mata, belanja, dan kencan berdua-dua. Lihat saja suasana mall besar yang aku kunjungi ini. Di sana-sini pasangan muda-mudi bergandengan mesra sambil naik-turun eskalator, keluarga-keluarga berduit duduk di restorant fast food, ibu-ibu tampak kerepotan dengan kereta belanja yang menggunung, baby sister sibuk mengejar-ngejar anak majikannya di arena bermain, dan toko pakaianpun penuh dengan orang. Apalagi ini menjelang Natal Dan Tahun Baru. Moment tahunan yang laku keras untuk dijual kepada konsumen. Mall-mall berhias diri dengan lampu-lampu aneka warna, pohon-pohon natal meriah, lampion-lampion kerlap-kerlip, gambar-gambar lonceng, patung Sinter Klas, dan spanduk-spanduk besar bertulis Merry Christmas And Happy New Year.
Aku sedang berada di sebuah counter pakaian anak. Kami harus pakai baju baru di acara Misa Malam Natal Nanti. Natal harus dipersiapkan sebaik mungkin. Pergi ke Misa Natal dengan baju lama tentulah tidak bikin bangga, tidak menumbuhkan semangat baru, tidak memberikan kesan, dan Natal berlalu tanpa makna. Empat setel pakaian untuk keluargaku akhirnya kudapat. Aku merasa puas dan merasa semakin siap menyongsong Hari Kelahiran Yesus Kristus yang dirayakan cuma setahun sekali dan disambut dengan gegap gempita oleh sebagian besar penduduk dunia.
Dari counter baju, aku langsung pindah ke counter kue. Natal tanpa penganan dan camilan tentu tidak meriah. Meskipun tidak ada tamu, paling tidak untuk menyenangkan diri dan keluarga. Suasana harus lain dari biasanya supaya anak-anak tahu bedanya antara hari-hari biasa dengan satu hari yang luar biasa di penghujung tahun itu. Kuborong beberapa toples kue kering dan kupesan seloyang black forest. Aku semakin puas. Rasa-rasanya tidak ada orang lain yang mempersiapkan Natal dengan sebegitu baiknya seperti diriku. Kutinggalkan mall dengan perasaan lega dan bahagia meskipun isi kartu ATM-ku cukup terkuras.
Ruang tamu aku hias dengan sempurna. Kertas-kertas krep warna hijau dan merah yang terlilit rapi menghiasi plafon, tulisan Selamat Natal dan Tahun Baru pada sebuah kertas emas yang berumbai-rumbai aku pasang di atas pintu, lingkaran adven lengkap dengan keempat lilinnya menghias meja tamu, di sudut ruangan terdapat miniatur kandang domba dari ranting-ranting kering berikut Keluarga Kudus dan para Majus. Anak-anakpun aku libatkan untuk menghias pohon terang dan membungkus kado. Lengkap sudah persiapanku menyongsong Natal yang cerah. Doaku, semoga Malam Natal nanti Jakarta tidak diguyur hujan dan digenangi banjir. Semoga aman.
“Ma, ada undangan!” Teriak anak sulungku sambil menyerahkan selembar foto copy undangan dari Ketua Lingkungan. Undangan untuk menghadiri Pembukaan Masa Adven. OK, baiklah, aku akan datang. Apa ruginya sih menghadiri acara lingkungan? Toh di sana nanti aku cuma butuh kesabaran untuk duduk tenang berdoa, lantas bisa ketemuan dengan ibu-ibu lainnya, bisa curhat dan tahu berita-berita terbaru tentang si itu atau si ini, dan ujung-ujungnya dapat suguhan lezat dari tuan rumah. Anak-anak mau ikut? Boleh saja, asal jangan ribut dan bikin ulah selama doa berlangsung! Bikin malu! Dikira aku tidak bisa mengajari tata krama dalam berdoa! Suamiku? Jangan harap dia mau datang. Dia paling tidak betah duduk manis dan diam berlama-lama, kakinya bisa kram. Dia lebih suka lembur di kantor untuk menambah penghasilan. Nah, kalau soal ini, meskipun duduk setengah hari di depan komputer juga tidak bakalan kram! Sudahlah!
“Bapak-Ibu sekalian, Adven adalah masa yang sangat penting sebagai persiapan kita untuk menyambut kedatangan Tuhan Kita Yesus kristus. Dalam masa ini kita diminta untuk berjaga-jaga, untuk bersiap-siap, terutama mempersiapkan hati kita agar layak menyambut kehadiran Allah. Berjaga-jaga bukan berarti kita harus tegang dan serba was-was, tapi tetap bekerja sambil melakukan kehendak Allah setiap hari dengan tekun, setia, dan sabar.” Pro Diakon yang memimpin doa mulai memberikan renungan, namun kata-katanya seolah hanya lewat saja di telingaku karena aku merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa akupun sudah bersiap-siap dan berjaga-jaga.
“Mungkin Bapak dan Ibu sekalian bisa mensyaringkan pengalaman imannya. Apa yang telah dilakukan untuk menyongsong Natal kali ini?” Tanya Pro Diakon. Buru-buru kuangkat tanganku. “Silakan Ibu Berta mengawali sharing kita.” Akupun segera berdiri dan tanpa ragu-ragu, bahkan dengan bangga, kuceritakan apa yang telah kulakukan bersama keluargaku untuk menyambut Natal kali ini. Seluruh umatpun mengangguk-angguk. Aku sangat senang.
Setelah aku selesai bicara, seorang bapak mengangkat tangan dan mulai bersharing bahwa dirinya dan keluarganya telah turut ambil bagian dalam regu koor untuk perayaan Misa Malam Natal nanti. Seluruh hadirinpun mengangguk-angguk. Tak lama seorang pemuda anggota Mudika berdiri dan menceritakan tentang keterlibatannya dalam acara bakti sosial pada masyarakat dan kerja bakti di lingkungan gereja menjelang Natal. Lantas seorang remaja putri berdiri dan bercerita bahwa menjelang Natal ini, dia dan kawan-kawan sekolahnya mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke panti asuhan agar anak-anak yatim-piatu pun bisa merasakan kebahagiaan Natal seperti yang selalu mereka rasakan. Seluruh umat bahkan bertepuk tangan karena bangga.
“Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudari sekalian. Semua yang disharingkan tadi merupakan wujud dari sikap berjaga-jaga kita. Kita mempersiapkan diri kita baik secara rohani maupun jasmani untuk menyambut Kristus. Mungkin masih ada yang ingin bersharing?” Pro Diakon memberi kesempatan lagi. Seorang laki-laki berdiri dan kepalanya terus menunduk. Umat memandanginya dengan perasaan tidak suka. Merekapun saling berbisik, kenapa laki-laki itu datang, mau ngomong apa dia? Sudah dua tahun ini dia jadi pemabuk, pejudi, dan keluarganya terlantar.
“Maafkan saya. Saya merasa belum melakukan apapun untuk menyambut Hari Natal. Saya penuh dosa dan merasa tidak pantas menyambut Natal. Saya malu pada Bapak Ibu sekalian yang telah mempersiapkan diri dengan baik. Pertanyaan Bapak Pro Diakon tadi benar-benar menyentak hati saya. Saya hanya ingin bertanya, kapan Pastur Paroki akan memberi waktu untuk pengakuan dosa?” Seluruh umat terdiam. Terutama aku. Aku jadi sangat malu. Ternyata lelaki itu jauh lebih baik dalam berjaga-jaga mempersiapkan diri. Dia ingin mempersiapkan hatinya. Sementara aku? Yang telah kupersiapkan hanyalah barang-barang duniawi belaka.

NATAL INI KAMI TIDAK PULANG

NATAL INI KAMI TAK PULANG
Oleh Rini Giri


Untuk ongkos pulang-pergi berlima dengan bus butuh dua juta, untuk oleh-oleh sekitar limaratus ribu, untuk salam tempel pada para kemenakan di kampung limaratus ribu, untuk ngajak jalan-jalan orangtua usai Misa Malam Natal tigaratus ribu cukup, untuk memberi tinggalan pada orangtuaku dan mertua masing-masing limaratus ribu bolehlah, dan untuk biaya jajan anak-anak selama seminggu duaratus ribu tidaklah terlalu sedikit. Lantas untuk biaya tak terduga? Untuk beli oleh-oleh di kampung untuk dibawa balik ke Jakarta? Saat mudik Lebaran kemarin saja, para tetangga memberi begitu banyak oleh-oleh. Masakan kali ini saat kami yang kebagian mudik Natal tidak bawa oleh-oleh? Belum lagi untuk sewa kendaraan di kampung nanti jika ingin berpariwisata? Aduh, kepalaku pusing! Pulang butuh uang minimal sepuluh juta!
Kubuka buku tabungan kami. Pas ada sepuluh juta! Itu hasil menyisihkan sepuluh ribu demi sepuluh ribu setiap bulan selama sebelas tahun kami menikah. Gaji suamiku bulan ini pastilah habis untuk biaya hidup sebulan. Gajinya sebagai reporter berita di sebuah stasiun televisi swasta sebenarnya hanya cukup untuk menghidupi dirinya-sendiri, tapi karena aku bisa hemat dalam mengelolanya, maka cukup untuk hidup kami berdua bersama ketiga anak kami. Tunjangan Hari Raya dan bonus akhir tahun harus disisihkan untuk angsuran rumah, angsuran sepeda motor, uang pangkal si bungsu yang mau masuk SD, dan biaya daftar ulang kedua kakaknya. Haruskah uang tabungan itu aku kuras agar bisa pulang ke Wonogiri untuk merayakan natal bersama keluarga besar kami?
Sudah tiga tahun kami tidak pulang. Aku rindu pada bapak, ibu dan kakak-adikku. Suamiku pasti juga kangen pada orangtuanya. Anak-anak pasti juga sudah ingin ketemu para sepupunya. Aku sungguh tidak tega untuk mengatakan “tidak pulang lagi” pada anak-anak. Mereka pasti akan sangat kecewa. Apalagi dua minggu lalu ada surat dari anak kakakku tertua untuk mereka. Keponakanku itu menanyakan apakah saudara-saudara sepupunya di Ibukota akan pulang Natal tahun ini?
“Ma, kata Mbak Ajeng, nanti kalau pulang, kita akan diajak jalan-jalan ke Waduk Gajah Mungkur. Katanya di sana sekarang ada taman bermainnya.” Ujar Desti, anak sulung kami.
“Iya, Ma. Kata Mbak Ajeng, Pakdhe Herman juga akan mengajak kita ziarah ke Gua Maria Sendang Ratu Kenyo. Katanya tempatnya sudah diperbaiki jadi bagus banget. Kita kan sudah lama tidak ke sana, Ma.” Danti, adiknya menyambung.
“Ma, lihat! Ini gambar Eyang Kung sama Eyang Uti Pracimantoro, ini gambar Mbah Uti Selo Giri, ini gambar Pakdhe Herman, ini gambar Budhe Rati, ini Pakdhe Danang, ini Om Jati, ini Bulik Tuti, ini Mas Agung, ini Mas Adi, dan ini Mbak Ajeng. Siapa lagi ya yang belum digambar? Oh, iya…Watu Plintheng Semar!” Damar, anak lelaki bungsu, tertawa girang sambil menunjukkan gambarnya. Aku tahu, begitu besar keinginan anak-anak untuk pulang. Bahkan tawa girang Damar nyaris membuatku menangis.
“Lalu apa yang harus aku katakan pada Mbak Ajeng, Ma? Kita mau pulang atau tidak?” Pertanyaan Desti membuatku tersentak. Aku hanya tersenyum menutupi kepahitan dalam hatiku.
“Surat Mbak Ajeng tidak harus dibalas sekarang kan? Nanti tunggu Papa dulu ya? Kita musti tanya pada Papa, Natal nanti mendapat cuti atau tidak. Jangan-jangan Papa musti liputan seperti biasanya.”
“Yaaah.” Kedua mulut gadisku itu mengeluh kecewa, sementara si bungsu tetap semangat menggambar sebuah batu besar di lereng bukit, dekat Pasar Wonogiri, yang nyaris menggelinding ke jalan raya jika tidak disangga sebatang pohon kekar berbentuk huruf Y.
“Alasan apa lagi yang harus kukatakan pada anak-anak, Mas?” tanyaku pada suami saat menemaninya makan di meja dapur. Ini hampir tengah malam dan dia baru pulang. Anak-anak sudah tidur.
“Bilang saja kali ini aku ada tugas meliput acara Malam Natal di Katedral.” Jawabnya ringan seolah tanpa beban.
“Sudah tiga tahun berturut-turut alasan itu aku pakai, Mas. Anak-anak udah tambah besar dan kritis. Kalau mereka minta pulang tanpa kamu gimana?”
“Terserah kamu sajalah. Cari apa saja alasannya. Biasanya kan kamu cukup ahli menghadapi mereka.” Huh, beginilah nasib istri yang ditinggal kerja suami tanpa kenal waktu. Segala urusan yang menyangkut anak dilimpahkan kepadaku semua. Bahkan dia sendiri sampai tak punya waktu untuk mereka. “Atau kalau kamu rela, kita pakai saja uang tabungan kita.” Nada bicaranya enteng sekali. Ha? Lantas usai pulang kampung, keluarga ini hidup tanpa uang tabungan sama sekali? Tidak! Tidak! Ini di Jakarta, bo! Kalau ada apa-apa, anak sakit, atau apa, siapa yang nanggung?
Suatu malam seorang pengurus lingkungan datang ke rumah mengedarkan proposal perayaan Natal. Aduh, lagi-lagi ada orang minta sumbangan! Mereka tidak tahu ya kalau aku sedang pusing! Nambah pusing aja! Kulihat daftar donatur, rata-rata menyumbang seratus ribu. Gila!
“Serelanya saja kok, Bu.” Pengurus lingkungan itu tersenyum maklum ketika mataku terbelalak melihat draft yang disodorkannya. Aku sedang tidak punya gengsi, jadi kuberikan saja uang sisa belanja hari ini. “Oya, Bu. Anak-anak mau dilatih main drama, menari, dan vocal group untuk mengisi acara. Kami mohon kesediaan Ibu untuk melibatkan mereka. Minggu depan mulai latihan di rumah saya.” Aku hanya mengangguk-angguk. Rupanya anak-anak bersedia ikut latihan bahkan mereka sangat antusias. Dalam latihan hari pertama Desti ditunjuk untuk memerankan tokoh Maria, Danti ikut menari, dan Damar kebagian peran sebagai penggembala domba.
“Mbeek! Mbeek!” Seru Damar ketika aku datang menjemputnya di tempat latihan. Desti dan Dantipun mulai sibuk menghafal dialog dan gerakan tari di rumah. Mereka senang sekali bisa ikut kegiatan anak-anak untuk mengisi acara perayaan Natal di lingkungan nanti.
“Ma, berarti Natal nanti kita nggak bisa pulang dong. Aku kan harus jadi Maria. Itu tokoh utama lho, Ma. Berarti aku harus segera membalas surat Mbak Ajeng, Ma. Biar Mbak Ajeng nggak nunggu-nungguin dan keluarga Eyang tidak kecewa.” Ujar Desti. “Nanti aku mau kirim kartu Natal buat Eyang, Simbah, Pakdhe, Budhe, Om, Bulik, dan semua sepupu kita. Satu orang satu kartu. Kita bikin sendiri seperti biasanya ya, Ma.” Usul Danti. Aku mengangguk dan keharuan merayapi dadaku. Oh, terimakasih banyak Tuhan. Terimakasih. Aku tak bingung soal mudik Natal lagi. Aku jadi menyesal kenapa selama ini kurang peduli pada kegiatan-kegiatan di lingkungan dan tidak pernah menyertakan anak-anak dalam pembinaan iman di lingkungan. Bukankah warga lingkungan adalah saudara terdekat kami?

ANAK-ANAK URBAN

ANAK-ANAK URBAN
Oleh Rini Giri


Sudah limabelas tahun Narni ikut Jarwo ke Jakarta. Kampung mereka tidak menyediakan lapangan pekerjaan untuk suaminya. Orang-orang tanpa modal seperti mereka, paling banter jadi penangkap ikan di waduk atau menjadi kru bus malam agar berpenghasilan. Tanah berbatu-batu tandus tidak bisa menghasilkan palawija sebagai sumber hidup.
Sejak lama masyarakat di daerah itu terkenal suka merantau ke kota ini. Di sini mereka bisa menjual bakso, jamu, gorengan, pecel lele, ayam panggang, ikan bakar, atau apapun yang bisa menghasilkan uang. Orang kota suka jajan. Itu yang dimanfaatkan orang dari daerah asal Narni dan Jarwo sebagai peluang kerja. Mereka cukup kompak di perantauan, bahkan membentuk sebuah paguyuban. Barangsiapa telah sukses, pasti mengajak teman atau sanak saudaranya yang masih di dusun untuk ikut bekerja di kota.
Jarwo termasuk beruntung. Dia tidak perlu jual ini-jual itu untuk hidup. Dia cukup menjual ijasah politehniknya ke sebuah perusahaan textile tempat kakaknya bekerja. Pengalaman kerja selama hampir limabelas tahun sudah mengantarnya menjadi seorang kepala bagian mesin. Kini, setelah merasa berpenghasilan lumayan, Jarwo ingin membahagiakan ibunya dengan jalan-jalan di kota ini. Setahun lalu kakaknya sudah melakukan hal yang sama, kini tiba gilirannya.
Udara kota besar memang selalu bikin gerah. Siang hari, terasa panas sampai ke ubun-ubun dan membuat keringat meleleh di sekujur tubuh. Malam pun tak ada bedanya. Malah tambah parah. Kamar-kamar menjadi pengap karena minim ventilasi dan nyamuk-nyamuk mulai bergerilya mencari darah segar.
Mungkin itu yang membuat mertua Narni tidak betah tinggal di rumah tipe tiga enam yang baru lunas cicilannya itu. Baru tiga hari yang lalu datang dari Wonogiri, susah-payah naik bus ekonomi karena tidak tahan AC, kini sudah minta pulang. Padahal janjinya mau tinggal di Jakarta paling sedikit satu bulan.
Narni menyusul Jarwo ke kamar. Malam telah membuat ketiga anak mereka terlelap di depan televisi sambil dihembusi putaran-putaran kipas angin yang lembut membuai. Ibu mertuanyapun sudah terbaring di kamar sebelah. Entah benar-benar tidur nyeyak atau pura-pura tidur saja. Mungkin lelah juga seharian merengek-rengek pada anaknya supaya besok pagi dicarikan tiket bus malam menuju kampung halaman. Usai menggeser letak obat nyamuk agar tidak terlalu dekat dengan gordin, perempuan itupun naik ke ranjang. Suaminya belum lelap benar.
“Mas, apa aku salah ngomong sama ibu ya?” tanya Narni mengoreksi diri. Selama tiga hari tiga malam, dia merasa telah menyambut ibu suaminya sebaik dan selayak mungkin. Ucapan-ucapannyapun diusahakan sesopan dan sehormat mungkin. Lantas kenapa mertuanya itu nekat mau pulang sebelum mereka sempat jalan-jalan ke Ancol atau Taman Mini. Padahal ini adalah kesempatan pertama bagi mertuanya untuk mengunjungi keluarga mereka.
Dulu saat pulang kampung anak-anak masih balita, kini sudah tumbuh sehat menjadi anak-anak sekolah dasar. Bukankah seharusnya mertuanya senang bisa berkumpul dan bercengkerama dengan ketiga cucunya? Suaminya hanya geleng kepala, tanda tak habis mengerti juga.
Tahun lalu ibu mertuanya datang ke Jakarta dan menginap di rumah kontrakan kakak iparnya. Rumah abangnya itu hanya rumah petak dengan satu kamar dan berdempet-dempetan dengan tetangga. Istri abangnya jauh lebih cerewet dibanding dirinya. Dia merasa lebih kalem dan bertata krama. Anehnya ibu suaminya itu justru bisa kerasan di rumah sempit abangnya. Jadi bukan kondisi rumah mereka yang membuat mertuanya tidak betah, karena rumah mereka jelas lebih besar dan lebih bagus. Juga bukan akibat ketidakbecusannya dalam menjalin komunikasi dengan mertuanya, soalnya dengan menantu banyak omong saja bisa nyambung apalagi dengan menantu penuh perhatian semacam dirinya.
Jarwo menggeleng lagi, pertanda tidak tahu dan tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti malah susah tidur. Ibunya memang sudah semakin tua, pastilah semakin aneh-aneh keinginan dan tabiatnya. Lelaki itupun segera memiringkan badan, menekuk kaki dan mulai mendesis dalam kenyenyakan.
Mata Narni sulit terpejam. Suara dengkuran suaminya membuat matanya semakin nyala terjaga. Dingat-ingatnya hari pertama ketika mertuanya datang. Biasa saja. Mereka sekeluarga menyambut perempuan tua itu di terminal. Anak-anak menyalami nenek mereka sambil mencium tangan renta itu dengan sopan, demikian pula dengan dirinya dan suami. Lantas mereka pulang dengan taxi. Saat tiba acara makan siang, karena terlalu sibuk membereskan dapur, dirinya menyuruh anak tertua untuk mengajak neneknya makan.
“Mbahe, makan yuk! Tuh udah disiapin Ibu. Nanti keburu dingin lho!” ajak Satrio lantas duduk di meja makan terlebih dulu. Adik-adiknyapun segera berebut memilih tempat duduk. Saat makan, mertuanya hanya mengambil sedikit seperti tak berselera. Padahal masakannya cukup enak dan anggota keluarga yang lain makan dengan lahap.
Hari kedua, anak perempuannya mendapat PR untuk menggambar gedung-gedung pencakar langit. Tapi mulutnya tidak berhenti mengeluh karena tidak bisa menggunakan penggaris secara tepat. Narni sedang sibuk mengajari anak bungsunya menulis huruf sambung, maka dia meminta anak kedua itu supaya lebih sabar dan terus berusaha sendiri. Ibu mertuanyapun mendekati sang cucu sambil memberi nasihat.
“Kalau mau membuat garis lurus sebaiknya dimulai dengan menggambar dua titik, Nduk. Baru kemudian ditarik garis dengan menggunakan penggaris itu. Pasti garisnya akan lurus dan rapi.” Sang nenek memberi petunjuk, namun buru-buru dibantah oleh sang cucu.
“Putri itu sudah tahu caranya, Mbahe. Bu Guru juga sudah ngasih tahu. Tapi tetap saja garisnya nggak lempeng.” Tiba-tiba sang nenek terdiam dan tidak berminat lagi membantu cucunya, lantas menyibukkan diri dengan membaca koran yang sudah basi.
Dan tadi siang, saat anak-anak pulang sekolah, ibu mertuanya sedang tertidur di kursi ruang tamu, sementara televisi menyala tanpa ditonton. Buru-buru si bungsu membangunkan neneknya.
“Mbahe, kalau tidur pindah ke kamar saja! Nanti kalau ada tamu loh! Tuh, tivinya nyala terus. Ntar Bapak bayar listriknya mahal.” Ujar si bungsu sambil mengangkat remote dan mematikan layar kaca itu. Sang nenek tampak kaget dan dengan muka masam berjalan menuju kamarnya. Narni jadi berpikir, apa mungkin ketidakkerasanan mertuanya disebabkan oleh ulah anak-anak? Mungkin saja. Bukankah anak kakak iparnya masih balita dan belum bisa ngomong, sehingga mertuanya justru betah? Besok pagi dia harus bicara pada mertuanya.
Ibu mertuanya segera mengeluarkan isi hati begitu dipancing oleh Narni. Benar saja. Anak-anak Narni dianggap tidak sopan dan tidak tahu tata krama. Masa sih mengajak makan neneknya seperti mengajak makan teman main?
“Ajari anakmu itu sopan santun. Kalau pada orang tua, pakai kata-kata yang halus. Tuh, anaknya Trisno, kakakmu yang di Wonogiri itu, baru empat tahun umurnya, tapi sudah pintar. Kamu dan suamimu itu meskipun sudah lama di Jakarta, tetap orang Wonogiri, Ni. Anak-anakmu itu juga berdarah Wonogiri. Jadi jangan sok kekota-kotaan. Sopan-santun yang diajarkan para leluhur kita harus tetap kamu ajarkan pada anak-anakmu.” Ujar Ibu Mertua panjang lebar. Narni hanya mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Inggih, Bu.” Hanya itu yang mampu diucapkan Narni. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa budaya dan tipe tata krama antara desa dan kota itu berbeda, sehingga anak-anaknya yang lahir dan besar di kota otomatis lebih mudah mengikuti nilai-nilai yang ada di lingkungan barunya dibanding nilai-nilai dari daerah asal. Masyarakat di kota besar itu beragam, kadang kita harus menanggalkan kedaerahan kita agar bisa berbaur akrab dengan tetangga dan lebih mengedepankan keindonesiaan kita. Begitu juga anak-anak. Mereka bisa dikucilkan teman sepermainannya jika bersikap kejawa-jawaan. Tapi Narni memilih untuk diam dan mendengar saja. Nanti mertuanya malah menuduhnya berani nyap-nyap.
“Anak-anakmu itu kok bisa jadi kurang ajar begitu? Padahal aku ini mengajari Jarwo sopan-santun. Orangtuamu juga penuh tata krama. Lha kok anak-anakmu itu bisa jadi urakan seperti itu? Apa di sekolah juga tidak diajari unggah-ungguh (sopan-santun” keluh mertuanya lagi.
“Maafkan mereka, Bu. Jangan diambil hati ya. Mereka kan cuma anak-anak.. Nanti biar saya tegur. ” Kata Narni sambil mengelus-elus tangan mertuanya lembut, agar luluh hatinya.
Anak-anak mereka lahir dan dibesarkan di perantauan. Sebuah kota besar dengan beragam budaya. Hanya satu bahasa yang bisa mengatasi segala kemajemukan itu, yaitu Bahasa Indonesia. Suatu bahasa yang tidak mengenal strata, universal berlaku bagi siapa saja. Tidak mengenal bahasa halus dan kasar seperti Bahasa Jawa. Bahkan kosa kata anaknyapun sudah sangat gaul.
Narni sadar, sebenarnya Satrio tidak bermaksud kurang ajar. Dia justru ingin mengajak neneknya makan bersama dengan caranya yang akrab. Hanya saja gaya bahasa yang digunakan terdengar asing dan membuat neneknya tersinggung. Putri juga hanya ingin mengungkapkan pendapatnya secara terbuka, bahkan Narni sendiri yang membiasakan anak-anaknya untuk bebas menyampaikan pikiran. Tapi rupanya, kebiasaan semacam itu dianggap sebagai perilaku kecap demi sekecap (setiap kata dibantah dengan satu kata juga). Kebiasaan disiplin untuk menghemat energi dan melakukan kegiatan pada tempatnya yang ingin ditunjukkan oleh si bungsu justru dianggap sebagai sikap terlampau berani pada orang tua.
Anak-anaknya memang punya darah Wonogiri, tapi Bahasa Jawa Ngoko Kasar yang stratanya paling rendahpun mereka tidak tahu, apalagi Bahasa Jawa Kromo Inggil yang stratanya paling tinggi. Mereka keturunan Wonogiri, tapi sudah kehilangan kewonogiriannya. Mereka tumbuh di Jakarta, tapi juga tidak seratus persen Jakarta. Bahkan pernah salah satu teman Putri mengolok-olok, “Ngomongnya sih pakai Bahasa Indonesia, tapi logatnya …medhok banget!” Dan Putri sempat tertekan karenanya.
Hal-hal yang sebenarnya cukup sopan di Jakarta ternyata dianggap kurang pantas di Wonogiri. Hal-hal yang sopan dan layak di Wonogiri, ternyata terlalu ribet untuk diterapkan di Jakarta. Kebebasan berbicara dan berekspresi ala Jakarta ternyata bisa bikin orang tersinggung di Wonogiri. Sikap menurut dan serba mendengarkan ala pedusunan justru bisa bikin celaka di Jakarta. Serba salah. Dan yang menjadi korban adalah anak-anak berdarah kampung yang lahir dan tumbuh di daerah urban seperti anak-anak Narni itu. Mereka digerundeli neneknya sendiri. Jika dipaksa memakai norma-norma kampung halaman, mereka justru akan tersisih di Ibu Kota. Tapi ketika mereka dibiasakan dengan norma-norma Ibu Kota, keluarga mereka dari kampung akan protes dan menganggap mereka kurang ajar. Kasihan betul.
“Ya sudah. Kita pakai bahasa campuran saja untuk Simbah!” ujar Narni pada suami dan anak-anaknya. Narnipun membisikkan sesuatu ke telinga Satrio saat mereka hendak makan siang. Anak itupun bergegas menuju kamar neneknya.
“Mbahe, silakan dahar (makan) dulu. Setelah dahar baru sare (tidur) lagi.” Ujar Satrio di depan pintu kamar. Sang Nenek tampak senang mendengar ajakan sang cucu yang dinilai lebih sopan.
“Cah Bagus, kamu kok sekarang sudah tambah pintar.” Nenek itupun segera bangkit dari pembaringan dan melenggang menuju meja makan dengan senyum cerah. Diapun lupa menanyakan apakah Jarwo sudah mendapat tiket atau belum. Sepertinya tiket itu sudah tidak penting lagi. (Bekasi Utara, 2008)

Anak-Anakpun Senang Mengenal Dia

ANAK-ANAK PUN SENANG MENGENAL DIA
Oleh Rini Giri


Malam itu Pastur akan mengunjungi umat. Anak-anak disuruh duduk bersila di depan altar. Katanya, agar lebih banyak mendapat berkat Tuhan. Orang-orang dewasa duduk di belakang. Rita kecil berdebar-debar hatinya. Itu adalah kesempatan pertamanya melihat Pastur dari jarak dekat. Ibunya selalu mengajak duduk di teras gereja jika misa, karena takut membuat kegaduhan kecil yang bisa mengganggu konsentrasi umat lain.
“Duduk yang manis ya, Anak-anak. Sebentar lagi Pastur datang. Selama misa, anak-anak harus tenang ya. Jangan ngobrol sendiri. Sebab saat berdoa, kita sedang bicara pada Tuhan. Jadi harus sungguh-sungguh.” Nasihat Bapak Ketua Lingkungan. Dengan masih sedikit bersuara, anak-anak mengangguk.
Tubuh Rita mungil, sehingga dia beberapa kali berdiri dan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Pastur sudah datang atau belum. Di belakangnya, duduk sederet anak lelaki bertubuh bongsor. Dia penasaran dengan warna kasula Pastur yang berubah-ubah itu. Hari ini Pastur pakai warna putih, merah, atau hijau ya?
“Rita, duduk! Nanti Pastur marah!” Hardik ibunya dari belakang. Rita mendengus kesal lantas duduk kembali. Ah, nyatanya Pastur itu tidak pemarah kok. Buktinya begitu datang, anak-anak disalami satu-persatu dengan senyum ramah.
Ketika Pastur sedang berkotbah, Rita tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Pastur. Dia lebih tertarik untuk membahas warna jubah pastur dengan Andin yang duduk di sebelahnya. Pastur di sekolahnya memakai jubah putih tapi kenapa yang datang ini pakai jubah coklat? Lagi-lagi ibunya menghardik,” Rita! Diam! Nanti Tuhan marah! Tidak diberkati kamu nanti!” Hardikan ini membuat Rita terdiam. Lantas melirik gambar Yesus yang terpasang di dinding. Tangan kanan Yesus yang sedikit terangkat seolah menegurnya agar tidak berisik. Sejak saat itu, Rita tidak mau lagi duduk di depan dalam kegiatan lingkungan. Dia takut Tuhan marah dan tidak mau memberkatinya lagi. Lebih baik dia duduk di belakang, sehingga jika berisik, Tuhan tidak mendengar.
Setelah beranjak dewasa dan mengenal Kitab Suci, barulah Rita mendapat jawaban pasti. Tuhan itu Maha Baik. Dia menjadikan bumi seisinya dalam keadaan prima hanya untuk diberikan gratis pada manusia. Apa ada kerelaan cuma-cuma sebesar itu kalau bukan dari Tuhan? Diapun selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat jika melakukan kesalahan. Meskipun bangsa Israel berkali-kali berpaling pada allah lain, namun dengan sabar Tuhan membimbing mereka sampai ke tanah terjanji. Bahkan dikirim-Nya nabi-nabi untuk memperingatkan mereka. Dan yang paling hebat lagi, Dia mengutus Putra-Nya Yang Tunggal untuk menderita sengsara demi penebusan dosa manusia. Ada cinta yang rela mengorbankan nyawanya demi sahabatnya, tapi apakah ada cinta lain yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk manusia yang pendosa dan tidak setia? Sungguh Tuhan itu baik, tidak menakutkan seperti yang selama ini dikenalnya.
“Sudah, Bu. Jangan dimarahi, nanti dia malah tidak mau ikut sekolah minggu lagi.” Tutur Rita pada seorang ibu yang menegur keras anaknya karena sedari tadi tidak mau duduk seperti teman yang lain. Gadis itu segera mengambil gambar Yesus yang sedang memberi makan limaribu orang dan memberikan pada anak itu supaya diwarnai. Tak apalah hari ini anak itu tidak mengikuti dinamika kelompok, yang penting dia tetap senang berada di tempat Bina Iman Anak itu.
Sungguh, Rita tidak ingin anak-anak mendapatkan gambaran yang menakutkan tentang Tuhan. Apalagi kalau hanya dipakai orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar menurut. Tuhan itu baik, sampai kapanpun sifat itu tidak akan berubah, dan Rita merasa punya hutang untuk mewartakan kabar gembira itu kepada anak-anak. Masa kecilnya dihantui gambaran Tuhan yang akan marah jika dia berisik dalam misa, tidak mau memberikan berkat jika dia ngobrol selama rosario, atau memotong lidah-tangan-kaki jika dia bicara buruk atau berbuat kenakalan. Dia tidak ingin anak-anak ketakutan seperti dirinya.
Rasa takut itu telah membuat imannya tidak bisa berkembang dengan baik. Dia melakukan segala kegiatan doa hanya karena takut. Bukan karena cinta-Nya pada Tuhan yang telah lebih dahulu mencintai dirinya. Bukankah hamba dengan satu talenta itu hanya menanam talentanya dalam tanah karena punya rasa takut luar biasa pada tuannya? Dia takut talentanya akan hilang dan akhirnya mendapat hukuman dari tuannya. Seandainya dia punya relasi yang baik dengan tuannya, pastilah dia akan lebih berani dan terbuka untuk melipatgandakan talentanya itu.
“Bang, Kitab Suci Untuk Anak-anak yang diceritakan kembali oleh Anne de Graaf itu harganya berapa ya?” Tanya Rita pada kakaknya yang menjadi staff marketing sebuah toko buku besar. Kakaknya hanya tersenyum. Mungkin perlu waktu dua bulan untuk menyisihkan uang jajan guna mendapatkan buku itu.
Menurut Rita, anak-anak juga harus mengenal kebaikan Tuhan secara benar sedari kecil. Satu-satunya cara adalah mendengarkan Sabda Tuhan supaya lebih mengenal Yesus. Sebab Yesus bersabda, barangsiapa mengenal Aku maka dia menganal Bapa yang mengutus Aku. Mereka akan kesulitan jika harus membaca Alkitab atau mendengar kotbah pastur di gereja. Satu-satunya sarana adalah cerita-cerita Kitab Suci dengan bahasa dan visualisasi yang mudah dimengerti anak-anak.
“Nih, bukunya.” Ujar kakaknya sambil menyerahkan sebuah buku tebal bersampul biru kelabu dengan gambar Yesus sedang memberkati anak-anak.
“Aku harus bayar berapa, Bang?” tanya Rita. Betapa gembira hati Rita menerima buku impiannya itu.
“Udah, nggak usah. Aku senang kok. Cuma itu yang bisa kuberikan. Aku salut pada orang-orang muda sepertimu yang peduli pada perkembangan iman anak-anak.” Rita tersipu.
Dalam pertemuan BIA, Rita menunjukkan buku baru itu pada anak-anak. Mereka sangat antusias ketika gadis itu mulai membuka halaman pertama dan mengisahkan Allah Menciptakan Semuanya Baik.
“Lihatlah gambar pohon-pohon, rumput, bunga, binatang di darat, ikan di laut, burung di udara, dan air jernih ini. Semua diciptakan untuk kita. Betapa baik Tuhan pada kita. Kitapun harus merawat dan memelihara ciptaan Tuhan ini sebagai tanda syukur kita.”
Rita berjanji akan menceritakan halaman berikutnya dalam pertemuan mendatang. Halaman demi halaman, hingga yang terakhir Dunia Baru Milik Allah. Dia bersyukur, dengan membacakan Sabda Tuhan berarti dia lebih mendengar-Nya. Mengajar mereka, berarti juga mengajar diri-sendiri. Dengan mengajarkan kebaikan Allah, kebaikan-Nya itu semakin nyata. Anak-anakpun senang mengenal Dia.

AKU BERHENTI MEMUKUL

AKU BERHENTI MEMUKUL
Oleh Rini Giri



Anak itu lahir tanpa ayah. Aku membencinya seperti aku membenci ayahnya. Mereka telah merenggut keindahan masa mudaku. Mereka telah mempermalukanku pada keluarga, teman, dan tetangga. Mereka menghancurkan masa depanku. Hidupku menjadi nelangsa akibat ulah mereka.
Waktu itu umurku baru sembilan belas dan sedang mengawali masa kuliahku di Yogya. Aku bagaikan sekuntum mawar yang sedang separuh merekah, mulai menebarkan aroma wangi dan menampilkan pesona kelopaknya. Begitu mudah aku bergaul. Semudah itu pula aku berjumpa dengan seorang pemuda yang sangat memikat hatiku.
Daya jeratnya membutakan akal sehatku. Perhatiannya menyita lebih dari separuh waktuku. Rayuannya membuatku mengesampingkan iman dan prinsip-prinsip hidup yang pernah diajarkan orangtua. Aku hanyut dalam cintanya. Aku terlena dalam cintaku. Aku mabuk dalam rindunya. Aku kehilangan kesadaran dalam rinduku.
“Pak, saya hamil.” Pengakuanku itu membuat ayahku diterjang kalap. Dia amat marah padaku, sampai-sampai tidak sanggup menanggungnya. Seandainya dia bisa, pastilah aku sudah dipukul. Tapi jantungnya mendadak berhenti dan dia berpulang dengan sorot mata yang masih menyisakan kegeraman. Kata-kataku telah membunuh ayahku.
Duka karena kehilangan suami dan malu menanggung aib karena anak perempuan satu-satunya hamil di luar nikah, membuat ibuku menjadi pemurung. Dia sayang padaku, teramat sayang, sama seperti perasaan ayah padaku. Begitu pula rasa kecewanya padaku, sangat dalam.
“Kuliahlah dengan sungguh-sungguh, Yana. Kau harapan kami. Jika kamu menjadi sarjana, tentulah menjadi kebanggaan keluarga kita. Jangan pikirkan bagaimana Bapak dan Ibu akan membiayaimu. Kami akan berusaha. Jika kamu berhasil, kami tidak mengharap apa-apa darimu. Keberhasilanmu berarti juga keberhasilan kami. Kami sudah cukup puas jika kauberi kebanggaan.” Itu adalah nasihat Bapak ketika aku akan berangkat ke Yogya sepuluh tahun silam. Harapannya padaku begitu besar. Kepercayaan yang diberikan padaku tidak sedikit. Pengorbanannya untukkupun tidak tanggung-tanggung.
Tapi pemuda itu telah menghancurkan semuanya. Apalagi ketika dia tiba-tiba menghilang setelah beberapa kali menyuruhku menggugurkan kandungan. Ayahku telah pergi, tidak ada lagi kewibawaan di rumah, sehingga akupun tidak berdaya untuk mencari pemuda itu. Beban Ibu terlalu berat, sehingga dia jatuh sakit. Lengkap sudah penderitaan jiwa dan ragaku. Apalagi di dalam rahimku tumbuh janin yang tidak aku kehendaki. Aku benar-benar terpuruk.
“Yang harus kita utamakan adalah kehidupan. Yesus mengajari kita untuk pro life, Nak. Dimana-mana Dia menyembuhkan, memberi makan, menyelamatkan orang, dan membangkitkan orang mati. Dia sendiripun rela menderita sengsara demi kehidupan manusia agar lebih baik. Renungkanlah, Nak. Cintailah kehidupan. Jangan membunuh.” Tutur seorang suster CB yang kutemui usai misa di Kapel Bintang Samudra, belakang Rumah Sakit Panti Rapih.
Suster itupun kembali menasihati,”Tahukah kamu, Nak. Janin di dalam rahim itu hidup dan punya naluri. Diapun pasti akan menjerit, meronta dan berteriak jika dipaksa gugur dari dalam rahim ibunya. Apa kamu sanggup membayangkan jeritan yang tak terdengar itu?” Kata-kata suster itulah yang membuatku mempertahankan kandunganku.
Kini anak itu sudah berumur delapan tahun. Wajahnya sama persis dengan pemuda pengecut itu. Dia bisa makan dan sekolah karena akhirnya aku dinikahi oleh seorang laki-laki yang sebenarnya tidak kucintai. Aku tidak punya pilihan lain untuk menutupi aib. Tapi aku sangat menghormatinya, karena dia begitu baik. Dia tahu masa laluku yang kelam, namun dia tetap memperjuangkan diriku agar bisa diterima keluarganya dan membawaku ke dalam sakramen perkawinan.
“Bu Yana! Tuh Si Rani tadi mukulin anak saya sampai biru-biru! Udah tahu itu mainan orang, masih saja direbut! Yang punya marah, eh, malah main pukul! Tolong dong Bu Yana, anaknya dididik yang bener!” Teriak Bu Santi, tetangga sebelah, sore tadi. Aku hanya diam, tapi kemarahan memuncak sampai ubun-ubun. Segera kutarik lengan Rani, kuajak pulang, dan kupukuli pantatnya dengan tangkai kemoceng sampai berteriak-teriak minta ampun.
Anak itu selalu saja bikin masalah. Di sekolah, para guru geleng kepala. Di masyarakat, para tetangga sering melaporkan kenakalannya. Di gereja dan kegiatan lingkungan, aku sampai malu karena dia sering ribut sendiri. Di rumah pun dia tidak bisa dinasihati. Dia baru akan berhenti membuat onar jika pantatnya sudah kupukuli. Itupun tidak membuatnya kapok.
Suamiku baru pulang dan segera mencegahku. Dia segera menarik Rani ke dalam pelukannya dan marah padaku. Belum pernah aku melihat dia semarah ini.
“Rani itu anakmu, Yana. Darah dagingmu sendiri. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya gara-gara kamu pukul sekeras itu? Bagaimana kalau dia sakit? Dia itu anak-anak! Apa kamu tidak mikir?” Ujar suamiku ketika kemarahanku sudah reda dan kami hanya berdua di kamar.
Aku kalah mendengar kata-katanya itu. Dia bukan ayah kandung Rani, tapi mau mencintai Rani seperti anaknya sendiri. Aku malu padanya. “Apa kamu sering memukul dia saat aku tidak ada di rumah?” Aku mengangguk. “Jangan lagi, Yana. Rotan memang bisa mendidik jika diperlukan, tapi rotan justru akan melukai batin anak jika kaugunakan dalam amarahmu. Aku tahu, kamu belum bisa menghilangkan kecewamu atas kelahirannya. Tapi dia itu tidak bersalah, Yana. Dia hanya akibat. Tak heran kalau dia suka main kasar pada teman-temannya, karena yang dia tahu adalah kekerasan yang kamu terapkan padanya. Please, Yana, demi kebaikan Rani.” Tutur suamiku lagi. Aku jadi sadar, sebenarnya yang membuat runyam masa remajaku bukan Rani, juga bukan hanya pemuda itu, tapi akupun turut andil.
Malam itu aku mengintip Rani yang tengah tidur pulas dari balik pintu kamarnya. Matanya terkatup separuh dan mulutnya sedikit terbuka. Wajah polosnya itu membuatku menyesal telah sering kasar padanya hanya karena ingin melampiaskan dendamku pada masa lalu.
“Romo, saya menyesali perbuatan saya itu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Untuk itu saya mohon pengampunan Allah dan penitensi yang berguna bagi saya.” Ucapku di kamar pengakuan. Aku teringat pada kata-kata suster CB itu, “cintailah kehidupan.” Biarlah Rani hidup menjadi anak-anak yang bahagia.
Suamiku telah mengajariku untuk lebih sayang pada Rani. Jadi seandainya aku menjadi lebih sabar pada anakku sendiri, bukankah aku sedang mengajarinya untuk mencintai kehidupan? Sehingga kelakpun dia tidak akan mewariskan kekerasan pada anak-anaknya.

Indahnya Mencintai

INDAHNYA MENCINTAI
Oleh Rini Giri



Kata orang, dicintai itu lebih enak daripada mencintai. Kupikir-pikir, benar juga. Dicintai membuat hidup mudah, karena selalu ada yang memperhatikan tanpa harus berkorban. Sedangkan mencintai, kerap kali bikin sakit hati padahal sudah banyak berkorban. Beberapa kali aku mencintai, tapi gagal dan patah hati. Capek! Akhirnya kupilih untuk dicintai lagi saja. Itulah tujuanku datang ke panti asuhan putra di lereng bukit ini.
Seorang bruder menyambut kedatanganku dengan ramah. Dia mengatakan bahwa orang yang kucari sedang mengantar seorang anak berobat ke klinik dan akan segera kembali. Aku menunggu di ruang tamu. Di halaman, anak-anak bermain bola plastik. Para balita bermain di ruang sebelah bersama pengasuh. Seorang anak membawakan album foto untukku.
“Kakak bisa melihat foto-foto Bruder Randi. Dia jagonya main bola.” Ujar anak itu bangga. Aku menerimanya sambil tersenyum. Ya, pemuda jago main bola itulah yang membuatku nekat datang ke sini. Sebulan lalu, Sisil, sahabatku yang kini jadi guru di Jogja, tanpa sengaja bertemu dengannya dan buru-buru menelponku.
“Aduh, De. Aku kaget bukan main. Saat keluar kelas, tiba-tiba kulihat seorang cowok dengan senyum amat manis. Tatanan rambutnya rapi klimis! Kumisnya bercukur bersih. Tidak berantakan kayak dulu. Tatapan matanya santun dan sejuk. Aku bisa pingsan kalau tidak segera menyadari bahwa dia seorang bruder yang sedang dibuntuti lima anak asuhnya yang mau mendaftar masuk sekolah. Celakanya lagi, De, aku kenal betul siapa bruder itu. Aduh, De, kamupun pasti bakalan kesamber geledek kalau lihat dia. Aduh Gusti, saiki kok nggantenge ora mekakat!”
“Siapa?” Tanyaku penasaran.
“Bener lho, De. Kalau kamu sendiri yang melihat, pasti tidak percaya. Aku sampai tidak bisa ngomong, ngerti nggak? Tutur katanya sopan berwibawa, gerak dan tingkahnya penuh kasih dan perhatian. Apalagi pada anak-anak asuhnya. Anak-anak itu juga sangat hormat pada bruder tadi. Namun begitu, mereka juga sangat akrab dan bisa bercanda layaknya berteman. Ngerti ora to kowe, De?”
“Sil, siapa?”
“La yo siapa lagi kalau bukan Mas Randi, eh, Bruder Randi.” Tiba-tiba kerongkonganku tercekat mendengar nama itu disebut. Bengong. “Dea! Kamu masih disitu kan, De? De, kok jadi diam? Harusnya kamu bahagia lho, De. Dia sekarang sudah menjadi lebih baik. Jauh lebih baik malah. Rasa bersalah yang selama ini kamu pelihara ternyata tidak ada gunanya. Lha wong nyatanya dia itu sangat bahagia dengan jalan hidup yang sudah dipilihnya kok. Lak yo bener to, De? De, De, haloo, haloo, Dea…” Aku terduduk lemas di kursi kerja. Saat itu, aku jadi lupa pada artikel yang sedang kuketik, padahal sudah ditagih redakturku.
“Iya, Sil. Aku masih di sini. Apa dia sehat?”
“Ya jelas dong! Sehat jasmani dan rohani. Dia juga titip salam buat kamu. Aku bercerita sedikit tentang kamu padanya. Nggak pa-pa to? Gini aja, aku akan SMS alamat panti asuhan tempat dia berkarya sekarang. Kita bertiga kan teman baik dari kecil. Nggak baik hubungan silaturohmi putus hanya karena masalah cinta ditolak. Eh, sorry ya, De. Kita harus tetap bersahabat. Lak yo bener to, De?”
“Iya, Sil.” Lalu Sisil menyudahi pembicaraan. Mataku meniti huruf-huruf di monitor, seolah itu deretan peristiwa yang selalu menghantuiku. Rasa bersalah.
Dulu, Randi kuanggap seperti kakak. Aku anak perempuan sulung yang mendamba kasih saudara tua, dan aku menemukannya pada Randi. Aku sangat mempercayainya. Rasa iriku pada Sisil yang selalu dimanja kakak-kakaknya terobati oleh perhatian Randi. Dia selalu ada saat kuperlukan, baik kuminta maupun tidak. Bahkan untuk urusan pribadi, dia tempat curhatku. Tapi hubungan indah kakak-adik itu pupus ketika dia menyatakan cinta. Aku memang sayang padanya, aku sangat menghargainya, aku hormat padanya, tapi dari hati seorang adik kepada abangnya bukan dari kalbu seorang kekasih. Randi mengkhianati hubungan indah itu dengan mengartikan lain rasa sayangku. Dia bilang serius, namun jika aku menolak ya sudah. Aku marah dan kecewa pada tindakannya yang membuatku kehilangan sosok kakak. Keegoisan membuatku tidak pernah memikirkan kekecewaannya. Aku hanya memikirkan kepentinganku saja. Sebenarnya dia masih ingin berhubungan baik, karena mencintaiku adalah kebahagiaannya. Tapi aku memilih untuk jaga jarak dan tenggelam dalam kuliahku. Itulah yang membuatku merasa bersalah.
Sisil pernah datang ke kost dan memberitahu kalau Randi akhirnya masuk novisiat. Pemuda itu lebih memilih hidup selibat daripada tidak bisa hidup denganku. Dia ingin aku bahagia dengan orang lain saja. Aku tak peduli! Sisil juga bercerita kalau hubungan Randi dan orangtuanya tegang karena mereka tidak merestui keputusannya itu . Aku juga tak peduli! Aku tidak mau dianggap sebagai penyebab masalah itu.
“Gini ya, Sil. Aku berhak menentukan jalan hidupku. Saat patah hati, aku juga harus menyembuhkan lukaku sendiri. Randi juga berhak mencintai aku, tapi ketika aku tidak mau, bukan tanggung jawabku untuk menyembuhkannya. Kalau masuk novisiat membuatnya sembuh, ya sudah. Bagus kan?”
Aku menyesalinya. Apalagi setelah ibu Randi benar-benar sakit keras. Perempuan itu bukannya tidak bangga punya anak biarawan, tapi alasan Randi lah yang membuatnya berat hati. Masuk novisiat hanya untuk melupakan aku, konyol kan? Surat persetujuan dari orang tua baru ditandatangani ibunya setelah Randi memohon untuk ketiga kalinya. Aku tahu, Randi sudah memaafkanku. Tapi aku tidak dapat memaafkan diriku sendiri. Aku memang bodoh! Hanya Randi yang benar-benar mencintaiku. Aku akan merebut cintanya kembali. Belum terlambat. Aku masih bisa menemukannya dan membawanya pulang. Aku yakin, niatannya menjadi pelayan sesama hanyalah pelarian karena cintanya kutolak.
Di dalam album foto kulihat seorang lelaki dengan jubah putih sedang merangkul anak-anak berseragam sepak bola yang dengan bangga mengangkat piala kemenangan. Senyumnya tepat seperti apa kata Sisil. Penuh kasih. Ada kebahagiaan pada binar matanya. Seumur hidup, belum pernah kulihat wajah Randi secerah itu. Kehidupannya berubah sejak ada di sini. Tiba-tiba aku merasa berdosa jika harus merenggut kebahagiaan itu. Dia sudah mencintai anak-anak ini dan sangat bahagia karenanya. Cintanya bukan untukku lagi, tapi untuk Tuhan dalam wajah polos para bocah itu. Aku iri, dia selalu bahagia saat mencintai. Dicintai memang mudah, tapi mencintai ternyata jauh lebih indah. Selama ini aku mencintai tapi banyak menuntut dan menguasai, makanya jadi pahit. Mencintai memang hanya memberi saja. Seperti cinta-Nya. Maka kuputuskan untuk berpamitan. Dia sudah punya cinta baru di sini.