Sudah lima tahun aku tidak bertemu Yohanes. Dia adikku dan biasa dipanggil John. Sore itu sebuah taksi berhenti di depan rumah mengantar seorang perempuan. Buru-buru aku menyambutnya, memeluknya, dan kami bertangis-tangisan.
“Bagaimana kabar John?” Tanyaku penuh kerinduan.
“Mas John baik, Mbak. Dia segera menyusul sepulang kerja nanti.” Jawab adik iparku sambil mengusap matanya. Segera kubantu dia membawa barang bawaan ke dalam rumah. “Mana Bapak?” Tanyanya.
“Ada di kamar. Ayo aku antar!” Kamipun menuju ruangan dimana ayah kami terbaring tak berdaya oleh stroke. Nila tampak ragu-ragu untuk masuk, tapi aku memberinya dorongan. Adik iparku itupun segera menghambur menciumi tangan kanan bapak yang hanya diam membatu. Masih ada kecongkakan yang terpancar dari mata tua lelaki itu.
“Pak, maafkan saya ya. Saya yang menelpon John dan memberitahu kalau bapak sedang sakit. Saya bingung, Pak. Seminggu lagi saya harus ikut suami ke tempat kerjanya yang baru. Kalau saya pergi, siapa yang akan merawat bapak? Saya tidak tega jika bapak hanya ditemani perawat. Saya tidak mungkin mengajak bapak, karena tempat baru itu sangat jauh. Sangat beresiko, Pak. John dan Nila yang akan merawat bapak.” Jika bapak masih sehat, pastilah aku sudah dimaki-makinya. Seperti dulu saat ibu meninggal, aku memberitahu John. Dia datang bersama istrinya dan hanya berdiri di halaman rumah. Dalam suasana duka itu, bapak marah besar padaku. Ketika peti jenazah akan ditutup, aku mencegah dan memohon agar John diperbolehkan melihat ibu untuk terakhir kali. Tapi bapak memarahiku. Katanya John yang murtad tidak layak memberi penghormatan pada ibu yang telah meninggal dalam Kristus. Kakak iparku segera mendekati adikku itu dan dengan wajah tak bersahabat menyuruhnya pergi. Aku berlari ke halaman sambil memanggil-manggil nama John, tapi tangan suami dan kakak tertuaku dengan kuat mencegah. Bapak menampar wajahku. Sejak itu aku tak berani lagi menghubungi John. Diapun lenyap tak berbekas dari hadapanku. Kadang jika aku kangen padanya, kupandangi foto-foto masa kecil kami dan aku bicara padanya. Mungkin karena umur kami tak beda jauh dan dia anak bungsu, maka hati kami begitu dekat. Hanya aku yang bisa memahami dirinya. Ketiga kakak kami selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sehingga kurang peduli.
Ketika adikku itu mengutarakan niatnya untuk menikahi seorang gadis yang berbeda suku dan agamanya dengan kami, hanya aku yang memeluknya ketika maksudnya itu mendapat jalan buntu dalam rapat keluarga. Seperti biasa bapak hanya marah-marah, memaki, lantas menampar. Ibu hanya diam, menunduk, dan menangis karena takut pada bapak. Kakakku yang tertua dengan segala retorikanya menasihati John agar meninggalkan gadis itu. Kakakku yang kedua menuduh John telah mempermalukan keluarga kami dan akan memecah keutuhan keluarga yang telah turun-temurun mengikuti Yesus. Sedangkan kakakku yang ketiga menuding John tidak setia pada Kristus dan dikutuk berdosa besar yang tak terampuni. Hanya aku yang berani berdiri dan mengatakan bahwa John sudah dewasa, dia punya hak untuk menentukan pilihan, dia juga sudah bisa menanggung segala konsekwensi dari sikapnya itu. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan John? Apa tega keluarga ini melihat John menderita dan frustasi? Apakah seperti ini sikap keluarga kristiani yang mengaku mengenal kasih Yesus? Kasih Yesus mengatasi segala aturan dan agama manapun. Yesus juga tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti-Nya. Dia selalu menggunakan istilah ‘barang siapa’ yang merujuk pada siapa saja yang dengan rela dan tulus mau mengikuti-Nya. Lagi-lagi aku mendapat gertakan dari bapak disertai tamparan keras. Tapi sebelum tangan kasar itu menyentuh wajahku, buru-buru John memelukku sehingga kepalanyalah yang jadi sasaran. Malam itu John diusir dan tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga kami.
Pernah aku tanyakan padanya kenapa tidak menikah saja di gereja. Bukankah dia laki-laki dan bisa mempengaruhi, atau meminta, atau memaksa gadisnya untuk mengikuti keyakinannya? Tapi dia bilang, cara itu bukan cara lelaki sejati. Dia lebih memilih keluar dari lingkaran keluarga besar kami ketimbang kehilangan gadis yang teramat dicintainya. Dia mengaku tidak bisa hidup tanpa Nila. Dia juga tidak tega jika Nila mendapat pertentangan dari keluarganya dan harus menderita karena dijauhi sanak familinya.
“Biarlah aku saja yang menderita, Mbak.” Katanya waktu itu.
“Tapi John, kamu sudah dibabtis. Kita selalu pergi ke sekolah minggu bersama. Belajar menjadi putra-putri altar bersama. Sama-sama aktif di Mudika. Apa semua itu benar-benar akan kamu tinggalkan?” Tanyaku. John hanya diam. Aku tahu dalam lubuk hatinya terjadi pergumulan batin hebat.
“Aku sudah pernah mengenal Dia, Mbak. Selamanya aku akan mengenal Dia.” Aku sebagai kakaknya sebenarnya juga sedih dan merasa sangat kehilangan jika adikku tersayang itu betul-betul meninggalkan gereja. Tapi manakah yang harus dimenangkan? Kemanusiaan atau institusi agama? Bukankah kemanusiaan itu esensi kasih yang diajarkan Yesus? Yesus lebih mengutamakan kasih daripada aturan dan tradisi orang Yahudi. Oh, seandainya saja bapak mau lebih teliti membaca kitab suci, pastilah dia malu pada Yesus. Mesias menawarkan dua jalan untuk ditempuh tanpa pernah memaksa seseorang untuk memilih salah satu. Yang Dia tunjukkan hanyalah konsekuensi dari pilihan itu. Kenapa keluargaku yang mengaku meneladan Kristus lebih memilih mengusir anak kandungnya daripada merangkul dia dan memberikan kebebasan menentukan jalan hidup. Kemana kasih keluargaku?
“Pak, Mas Frans terlalu sibuk dengan kariernya. Jangankan merawat bapak, menjengukpun tidak pernah. Mas Danil terlalu takut pada istrinya yang keberatan jika harus merawat bapak di rumahnya. Mbak Magda anaknya banyak dan masih kecil-kecil, jadi dia kerepotan jika harus mengurus bapak. Hanya John dan Nila yang bisa diharapkan, Pak. Kalau tugas suami saya di tempat baru sudah selesai, saya berjanji akan segera pulang dan merawat bapak lagi. Sudah saatnya bapak menerima John dan Nila, Pak. Anak-anak bapak yang penurut dan setia, nyatanya sekarang tidak bisa diandalkan. John sudah lama hilang dan kini sudah kembali. Bukankah kita harus merayakannya, Pak?”
“Mbak!” Aku menoleh. Adikku berdiri di ambang pintu. Segera kusongsong dan kupeluk dia. John mendekati bapak dan mencium keningnya. “Pak, kami punya rencana untuk memperbaharui perkawinan kami. Nila sendiri yang minta.” Kulihat ada lelehan air di sudut mata bapak. (Bekasi Utara, April 2008)
“Bagaimana kabar John?” Tanyaku penuh kerinduan.
“Mas John baik, Mbak. Dia segera menyusul sepulang kerja nanti.” Jawab adik iparku sambil mengusap matanya. Segera kubantu dia membawa barang bawaan ke dalam rumah. “Mana Bapak?” Tanyanya.
“Ada di kamar. Ayo aku antar!” Kamipun menuju ruangan dimana ayah kami terbaring tak berdaya oleh stroke. Nila tampak ragu-ragu untuk masuk, tapi aku memberinya dorongan. Adik iparku itupun segera menghambur menciumi tangan kanan bapak yang hanya diam membatu. Masih ada kecongkakan yang terpancar dari mata tua lelaki itu.
“Pak, maafkan saya ya. Saya yang menelpon John dan memberitahu kalau bapak sedang sakit. Saya bingung, Pak. Seminggu lagi saya harus ikut suami ke tempat kerjanya yang baru. Kalau saya pergi, siapa yang akan merawat bapak? Saya tidak tega jika bapak hanya ditemani perawat. Saya tidak mungkin mengajak bapak, karena tempat baru itu sangat jauh. Sangat beresiko, Pak. John dan Nila yang akan merawat bapak.” Jika bapak masih sehat, pastilah aku sudah dimaki-makinya. Seperti dulu saat ibu meninggal, aku memberitahu John. Dia datang bersama istrinya dan hanya berdiri di halaman rumah. Dalam suasana duka itu, bapak marah besar padaku. Ketika peti jenazah akan ditutup, aku mencegah dan memohon agar John diperbolehkan melihat ibu untuk terakhir kali. Tapi bapak memarahiku. Katanya John yang murtad tidak layak memberi penghormatan pada ibu yang telah meninggal dalam Kristus. Kakak iparku segera mendekati adikku itu dan dengan wajah tak bersahabat menyuruhnya pergi. Aku berlari ke halaman sambil memanggil-manggil nama John, tapi tangan suami dan kakak tertuaku dengan kuat mencegah. Bapak menampar wajahku. Sejak itu aku tak berani lagi menghubungi John. Diapun lenyap tak berbekas dari hadapanku. Kadang jika aku kangen padanya, kupandangi foto-foto masa kecil kami dan aku bicara padanya. Mungkin karena umur kami tak beda jauh dan dia anak bungsu, maka hati kami begitu dekat. Hanya aku yang bisa memahami dirinya. Ketiga kakak kami selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sehingga kurang peduli.
Ketika adikku itu mengutarakan niatnya untuk menikahi seorang gadis yang berbeda suku dan agamanya dengan kami, hanya aku yang memeluknya ketika maksudnya itu mendapat jalan buntu dalam rapat keluarga. Seperti biasa bapak hanya marah-marah, memaki, lantas menampar. Ibu hanya diam, menunduk, dan menangis karena takut pada bapak. Kakakku yang tertua dengan segala retorikanya menasihati John agar meninggalkan gadis itu. Kakakku yang kedua menuduh John telah mempermalukan keluarga kami dan akan memecah keutuhan keluarga yang telah turun-temurun mengikuti Yesus. Sedangkan kakakku yang ketiga menuding John tidak setia pada Kristus dan dikutuk berdosa besar yang tak terampuni. Hanya aku yang berani berdiri dan mengatakan bahwa John sudah dewasa, dia punya hak untuk menentukan pilihan, dia juga sudah bisa menanggung segala konsekwensi dari sikapnya itu. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan John? Apa tega keluarga ini melihat John menderita dan frustasi? Apakah seperti ini sikap keluarga kristiani yang mengaku mengenal kasih Yesus? Kasih Yesus mengatasi segala aturan dan agama manapun. Yesus juga tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti-Nya. Dia selalu menggunakan istilah ‘barang siapa’ yang merujuk pada siapa saja yang dengan rela dan tulus mau mengikuti-Nya. Lagi-lagi aku mendapat gertakan dari bapak disertai tamparan keras. Tapi sebelum tangan kasar itu menyentuh wajahku, buru-buru John memelukku sehingga kepalanyalah yang jadi sasaran. Malam itu John diusir dan tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga kami.
Pernah aku tanyakan padanya kenapa tidak menikah saja di gereja. Bukankah dia laki-laki dan bisa mempengaruhi, atau meminta, atau memaksa gadisnya untuk mengikuti keyakinannya? Tapi dia bilang, cara itu bukan cara lelaki sejati. Dia lebih memilih keluar dari lingkaran keluarga besar kami ketimbang kehilangan gadis yang teramat dicintainya. Dia mengaku tidak bisa hidup tanpa Nila. Dia juga tidak tega jika Nila mendapat pertentangan dari keluarganya dan harus menderita karena dijauhi sanak familinya.
“Biarlah aku saja yang menderita, Mbak.” Katanya waktu itu.
“Tapi John, kamu sudah dibabtis. Kita selalu pergi ke sekolah minggu bersama. Belajar menjadi putra-putri altar bersama. Sama-sama aktif di Mudika. Apa semua itu benar-benar akan kamu tinggalkan?” Tanyaku. John hanya diam. Aku tahu dalam lubuk hatinya terjadi pergumulan batin hebat.
“Aku sudah pernah mengenal Dia, Mbak. Selamanya aku akan mengenal Dia.” Aku sebagai kakaknya sebenarnya juga sedih dan merasa sangat kehilangan jika adikku tersayang itu betul-betul meninggalkan gereja. Tapi manakah yang harus dimenangkan? Kemanusiaan atau institusi agama? Bukankah kemanusiaan itu esensi kasih yang diajarkan Yesus? Yesus lebih mengutamakan kasih daripada aturan dan tradisi orang Yahudi. Oh, seandainya saja bapak mau lebih teliti membaca kitab suci, pastilah dia malu pada Yesus. Mesias menawarkan dua jalan untuk ditempuh tanpa pernah memaksa seseorang untuk memilih salah satu. Yang Dia tunjukkan hanyalah konsekuensi dari pilihan itu. Kenapa keluargaku yang mengaku meneladan Kristus lebih memilih mengusir anak kandungnya daripada merangkul dia dan memberikan kebebasan menentukan jalan hidup. Kemana kasih keluargaku?
“Pak, Mas Frans terlalu sibuk dengan kariernya. Jangankan merawat bapak, menjengukpun tidak pernah. Mas Danil terlalu takut pada istrinya yang keberatan jika harus merawat bapak di rumahnya. Mbak Magda anaknya banyak dan masih kecil-kecil, jadi dia kerepotan jika harus mengurus bapak. Hanya John dan Nila yang bisa diharapkan, Pak. Kalau tugas suami saya di tempat baru sudah selesai, saya berjanji akan segera pulang dan merawat bapak lagi. Sudah saatnya bapak menerima John dan Nila, Pak. Anak-anak bapak yang penurut dan setia, nyatanya sekarang tidak bisa diandalkan. John sudah lama hilang dan kini sudah kembali. Bukankah kita harus merayakannya, Pak?”
“Mbak!” Aku menoleh. Adikku berdiri di ambang pintu. Segera kusongsong dan kupeluk dia. John mendekati bapak dan mencium keningnya. “Pak, kami punya rencana untuk memperbaharui perkawinan kami. Nila sendiri yang minta.” Kulihat ada lelehan air di sudut mata bapak. (Bekasi Utara, April 2008)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar