BOCAH DI BAWAH POHON
Oleh Rini Giri
Bocah laki-laki itu duduk di bawah pohon mangga depan rumah. Persis di sebelah bak sampah yang baru saja dikorek-koreknya dengan tongkatnya. Dia sedang memandang ke atas, ke arah mangga-mangga muda yang bergelantungan. Seonggok karung bekas berisikan sampah-sampah pagi menemaninya. Cuaca cerah dan menjanjikan banyak sinar matahari di siang nanti, sehingga aku buru-buru menjemur cucianku. Bocah itu sesekali menoleh ke arahku. Entah takut, entah malu. Aroma telur dadar yang baru saja aku bikin menyeruak keluar lewat celah teralis jendela. Anak-anakku ribut dengan persiapan mereka menuju sekolah.
“Bu, boleh minta mangganya?” Aku menoleh. Anak itu sudah berdiri di pintu garasi dengan sikap salah tingkah. Mataku melongok ke dahan-dahan yang baru membuahkan mangga kecil-kecil. Jangankan dimakan begitu saja, dirujakpun pasti belum enak.
“Buahnya masih kecil-kecil. Mana enak dimakan.” Sahutku sambil mengibaskan baju basah. Anak itu semakin salah tingkah karena mendengar pertanda bahwa permintaannya akan ditolak. Aroma telur dadar kembali tercium menyengat dan membuat lapar. Anak-anakku mulai berebut tempat duduk untuk sarapan. Pastilah bocah dekil itu juga lapar. Sepagi ini sudah harus memulung sampah, pastilah belum makan. Bahkan mungkin tidak punya apa-apa untuk dimakan, sampai-sampai nekat meminta mangga kruntil untuk mengganjal perut. “Kamu lapar? Kuberi nasi saja ya? Pagi-pagi jangan makan kruntil, nanti sakit perut. Tunggu dulu di situ.” Ujarku sambil mengangkat ember yang sudah kosong dan bergegas masuk rumah.
“Buat siapa, Ma?” tanya anakku ketika aku mencendok nasi, telur dadar, dan oseng-oseng buncis lantas membungkusnya dengan kertas makan.
“Di depan ada pemulung. Kasihan dia belum makan.”
“Kenapa Mama yang ngasih makan? Kenapa bukan mamanya sendiri saja?” “Mungkin mamanya tidak punya makanan. Tuhan kan sudah begitu baik pada kita. Pagi-pagi kita sudah bisa sarapan enak. Pergi ke sekolah bisa bawa bekal. Pulang sekolah kalian juga sudah bisa makan lagi. Jadi kita juga harus baik sama orang lain. Apalagi kalau dia tidak seberuntung kita. Kalian lihat kan, seharusnya pagi begini dia bersiap ke sekolah seperti kalian, tapi terpaksa cari uang dengan memulung barang bekas. Kasihan kan?” Jawabku. Kedua jagoan kecilku itu hanya manggut-manggut sembari melahap sarapan mereka.
“Ini ada nasi. Makanlah. Juga koran bekas sedikit siapa tahu bisa dijual.” Bocah itu malu-malu menerima pemberianku. Dia mengucapkan terimakasih lantas buru-buru kembali ke bawah pohon. Dia duduk dan makan dengan lahapnya.
Keesokan harinya anak itu kembali duduk di bawah pohon mangga. Dia menunggu aku keluar. Sesekali dia menoleh ke arah rumah. Melihat anak-anakku makan dengan lahap di meja makan, aku jadi merasa tidak tega pada bocah dekil itu. Kubungkuskan lagi seporsi sarapan dan kuberikan padanya. Akhirnya menjadi kebiasaan, setiap pagi pemulung kecil itu makan di bawah pohon mangga. Namanya Joni. Umurnya duabelas tahun. Ayah dan ibunya entah dimana dan dia tinggal di bedeng pinggir kota dengan bibinya yang hanya menyuruhnya bekerja, bekerja, dan terus bekerja tanpa diurus kebutuhannya. Ya sudah, sebungkus nasi setiap pagi mungkin bisa membantunya. Aku juga tidak akan bangkrut. Seorang anak kecil saja rela memberikan dua ikan dan lima rotinya pada Yesus dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sengaja kutambah takaran beras yang kutanak dan beberapa kali kubekali dia sebungkus lagi untuk dimakan di siang hari.
Suamiku senewen ketika belum akhir bulan aku sudah minta uang lagi. Kubilang padanya, harga-harga kebutuhan pokok naik semua. Sudah saatnya dia menambah uang belanjaku.
“Dihemat dong, Ma!” keluhnya.
“Sudah, Pa. Tapi semua meroket harganya. Dulu belanja lima ribu perak udah bisa nyayur asem dan goreng tempe. Sekarang uang segitu cuma buat goreng tempenya aja. Tempe dulu seribu sekarang dua ribu selonjor. Minyak goreng dulu seperempat kilo hanya seribu limaratus, sekarang tigaribu.” Aku meyakinkannya. Suamiku mengalah.
Pada suatu pagi, suamiku melihat apa yang kulakukan di bawah pohon mangga itu. Dia marah besar padaku. Menurutnya, dirinya sudah bekerja banting tulang dari pagi hingga petang, namun tidak kuimbangi dengan sifat hemat.
“Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Sok kaya! Bergaya sok dermawan! Hidup kita udah pas-pasan! Ngapain ngasih santunan pada orang lain segala?” “Aku cuma kasihan sama anak itu, Pa.”
“Kamu tidak kasihan sama suamimu yang pontang-panting cari duit? Lagipula, anak itu nanti berkebiasaan buruk. Maunya minta-minta terus pada orang.”
“Pa, aku cuma…”
“Sudah! Aku nggak peduli! Pokoknya aku nggak suka dengan caramu itu!” Suamiku menghardik dan buru-buru memacu sepeda motornya. Aku hanya diam. Sebenarnya pengeluaran yang meningkat di keluarga ini bukan karena anak yang numpang makan setiap pagi itu. Toh porsinya tak seberapa. Tapi harga-harga memang sedang membubung dengan congkaknya. Suamiku tidak mau mengerti.
Pagi itu ketika bocah itu kembali ke bawah pohon mangga, aku tidak keluar. Dia menunggu begitu lama. Beberapa kali menoleh ke arah pintu dengan gelisah. Aku tahu dia lapar dan tergoda dengan aroma nasi goreng yang baru kuangkat dari wajan. Tapi aku tidak membungkuskannya lagi. Sebenarnya aku merasa bersalah padanya karena lebih memilih untuk tidak cekcok dengan suami ketimbang membelanya. Aku seakan mendengar suara perut kosongnya tapi hanya diam. Meskipun aku tahu, siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban kalau dirinya sendiri berseru-seru. Tiga hari berturut-turut anak itu menunggu, tapi aku tidak membuka pintu. Akhirnya dia tidak pernah duduk lagi di bawah pohon itu. Mungkin bosan menunggu. Di satu sisi aku merasa bebas karena tidak harus melihat dia menunggu dengan gelisah lagi. Tapi di sisi lain, aku merasa menyesal karena menutup hatiku padanya.
Siang itu anak bungsuku pulang sekolah sambil menangis. Siku dan lututnya berdarah karena jatuh dari sepeda. Di belakangnya kulihat Joni menuntun sepeda itu dan menyandarkannya di pintu garasi.
“Dia nolongin Andre, Ma.” Ujar anakku terbata-bata. Aku segera mengambil uang ke dalam dan memberikan pada Joni.
“Makasih ya Jon. Terimalah ini sebagai ucapan terimakasih.” Tapi dia menggeleng.
“Nggak usah, Bu. Ibu sudah banyak menolong saya.” Joni segera berpaling hendak pergi.
“Besok pagi datanglah lagi ke sini.” Pintaku.
“Nggak usah, Bu. Sekarang saya bisa sarapan di rumah singgah.” Jonipun berlalu. Dia anak yang tahu balas budi. Aku terpaku dan malu. Makasih, Jon. Maafkan aku. (Bekasi Utara, Mei 2008)
Selasa, 30 Maret 2010
Jumat, 26 Maret 2010
AYAH DANIA
AYAH DANIA
Oleh Rini Giri
Senja terasa penat dalam kemacetan lalu-lintas kota. Ruas jalan tak bergerak hampir satu jam. Tak ada satupun pengemudi yang mau sabar. Semua ingin saling mendahului. Berhasrat lekas sampai di rumah, mencium istri, memeluk anak-anak, mandi air hangat, makan hidangan malam istimewa, lantas bercinta semalaman.
Kerja seharian cukup meremukkan otak dan tulang. Hanya rumah yang bisa memulihkan kerusakan-kerusakan batin dan raga yang telah tersedot sekian jam di meja-meja komputer dan ruangan meeting ber-AC gedung-gedung pencakar langit. Ya, hanya rumah mereka, bukan rumahku. Mungkin hanya aku yang suka dengan kemacetan ini. Aku sangat menikmati. Pulang terlambat telah banyak menyelamatkan harga diriku. Aku terhindar dari suatu kewajiban.
Ponselku berbunyi, melantunkan lagu. Di layar terbaca sederet nomor yang tidak aku kenal, mungkin calon klien. Jantungku tersentak saat mengenali suara, yang duapuluh tahun silam pernah menjadi parau karena kucekik dan kuhajar.
“Danto, aku hanya ingin melihat dia. Sekali ini saja. Tolonglah aku, Danto. Aku tahu kau begitu benci dan muak padaku. Mungkin kau masih dendam padaku. Kau pasti masih ingin menonjok dan menendangku. Atau kau masih punya ambisi untuk membunuhku. Aku tidak peduli. Aku rela jadi sasaran kemarahanmu. Asalkan, ijinkan aku melihatnya, Danto. Sekali saja.” Suara itu merendah memohon. Seperti yang sudah-sudah. Keinginan, permintaan, dan nada putus asanyapun masih sama.
“Tidak!” jawabku datar dengan nada pongah. Biarlah dia kelabakan menanggung dosa dan penyesalan. Aku tidak peduli. Itu hukuman yang pantas dia terima. Semua sudah menjadi milikku. Hanya aku yang boleh menguasai. Dia hanya sedikit bagian di masa lalu, jadi tidak punya hak secuilpun.
“Dan, tolonglah aku. Apa kau tega membiarkan aku mati tanpa jawaban? Aku sedang sekarat. Tubuhku sedang digerogoti penyakit maut. Umurku tidak lama lagi. Apa kau tega, Danto?” Suara itu semakin memelas, sama persis duapuluh tahun lalu ketika dia minta ampun dan meronta-ronta agar aku melepaskan cengkeraman tangan kalapku di lehernya. Minta hidup. Memohon untuk bernafas.
“Alasan!” Jawabku, lantas kumatikan ponsel. Di depan sana deretan mobil belum juga bergerak dan di belakangku bunyi klakson ketidaksabaran silih berganti menusuk gendang telinga. Aku jadi geram. Baru kali ini aku memaki-maki dalam kemacetan lalu-lintas. Darimana keparat itu tahu nomor ponselku!
Di luar sana, penjaja asongan semakin agresif menawarkan barang dagangan, pengamen-pengamen kecil dengan alat musik dari tutup botol soft drink mengetuk-ngetuk kaca mobil, dan para gelandangan terus saja mengulurkan gelas bekas air mineral untuk meminta derma. Siapa yang sudi buka kaca jendela di kemacetan kota seperti ini? Setiap warga kota sudah menjadi paranoid dan curiga pada setiap orang.
Waktuku habis di jalan. Sudut-sudut segala penjuru jalanan kota aku kenal dengan baik. Jauh lebih baik dibanding aku mengenali lekuk-lekuk tubuh istriku sendiri. Aku nyaris tak pernah menyentuhnya. Aku jadi impoten sejak menikahinya. Seringai wajah yang kucekik itu terus menghantuiku.
Anak perempuan kami sudah berumur sembilan belas tahun. Kadang aku keliru menyimpan dokumen-dokumen kantor di laci miliknya, karena sudut-sudut kota lebih kukenal dibanding ruangan rumahku sendiri. Saat aku kelabakan mencari, dengan enteng gadis itu nyeletuk, “Papa tuh masih seumuran pacar Dania, tapi udah pikun.” Map-map yang aku butuhkan itu sudah terulur di tangannya. Eh, apa? Pacarnya seumuran denganku? Gila! Sungguh gila dan tidak boleh dibiarkan! Jangan-jangan pacarnya itu om-om senang, hidung belang, yang suka memanfaatkan kepolosan para gadis muda! Atau jangan-jangan anak gadisku sedang mengganggu keutuhan rumah tangga orang! Tidak boleh! Tapi dia hanya menyeringai sambil berlari menuju tangga untuk bersembunyi di kamarnya.
“Kau tahu kalau Dania sudah punya pacar?” Kutanya istriku. Perempuan itu hanya menggeleng tanpa mencoba memandangku. “Dia tidak pernah cerita sama kamu?” Dia menggeleng lagi. “Jadi kamu tidak tahu kalau dia itu pacaran sama om-om?” Kali ini dia baru mau menoleh. Senyumnya dingin.
“Dia hanya bercanda,” jawabnya ringan sambil terus sibuk melipat-lipat baju dari almari yang sebenarnya sudah rapi tersimpan di situ. Istriku selalu sibuk. Pekerjaannya seolah tak pernah selesai. Bahkan kadang setelah semua beres, dia sengaja menciptakan pekerjaan baru. Mungkin dia ingin menyalurkan energinya yang berlebih, atau mungkin memang ingin kelihatan sibuk sehingga tidak perlu kudekati. Aku tidak peduli. Satu-satunya rasa peduliku sudah kuberikan padanya duapuluh tahun silam dan kutanggung konsekuensinya hingga kini. Menjadi lelaki yang tidak utuh. Selama ini dia memang memasak dan berdandan untukku, tapi aku tidak pernah yakin apakah cintanya hanya untukku atau terbagi pada orang lain di masa lalu.
Niarti, dara paling memukau di kampus. Mungkin karena senyumnya merekah sexy oleh lip gloss bening dan tubuhnya padat dengan lekuk-liku yang mempesona. Aku jatuh hati pada keramahannya. Temannya banyak. Bahkan teman-teman kostkupun langsung akrab dengannya. Cowok sekaku batu sepertiku, sangat beruntung bisa menggaet cewek sesupel Niarti.
Hanya satu yang membuatku ketakutan. Dia terlalu bersemangat dan bergairah. Dada busungnya menempel erat di punggungku ketika kami melintasi malam-malam biru di atas sepeda motor sepanjang jalan raya. Suaranya berbisik manja penuh desahan di telingaku dan bibir basahnya sengaja mengenai belakang telinga. Udara malam yang dingin semakin membuatku bergidik. Tapi aku selalu bisa menyelamatkan diri. Jangankan menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang paling inti, mengecup bibirnyapun aku tidak berani, meskipun dia dengan suka rela menawarkan. Aku bukannya munafik, tapi hanya tidak ingin merusak anak orang. Aku mencintainya, maka akan kujaga dia agar tetap utuh dan tidak membuat keluarganya kecewa. Empat adikku perempuan, sehingga akupun tidak ingin ada lelaki yang kurang ajar memperlakukan mereka.
Aku selalu bisa menyelamatkan diriku. Tapi tidak bisa menyelamatkan dirinya. Suatu malam, sepulang dari rapat senat di kampus, lampu sepeda motorku menangkap sepasang muda-mudi yang berboncengan di depanku. Mereka begitu mesra dan membuatku hampir terjungkal ke selokan. Itu Niarti dan Asman, teman satu kostku. Keesokan harinya, kutanya gadisku, pergi kemana dia semalam. Bibir penuh lip gloss-nya hanya bungkam. Kutanya Asman. Kawanku itu menyeringai, persis raut muka Dania ketika menyerahkan map-map yang kucari.
“Kau jadi lelaki terlalu kaku, Danto. Gadismu punya gelora seperti ombak lautan selatan, sedangkan dirimu tidak bisa mengatasinya karena bersikap seperti karang-karang keras kepala. Aku hanya mencoba membantu mengatasinya saja. Dan nyatanya, ombak-ombak ganas itu bisa aku jinakkan agar mengalir ke teluk-teluk yang tenang,” jawab Asman sambil menyunggingkan senyum sinis yang membuatku menggigil.
“Kauapakan dia, Asman?” Tanyaku geram. Tanganku terkepal keras oleh amarah.
“Tanyakan sendiri pada gadismu itu, dia minta apa dariku? Aku hanya menurutinya saja. Aku hanya melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan padanya.” Darahku mendidih mendengar ucapannya. Sebuah bogem mentah mendarat dimukanya dan membuat hidungnya berdarah. Keributan itu membuat seluruh penghuni kost keluar dan melerai kami. Itu adalah hari terakhir Niarti menjadi pacarku. Aku sudah berusaha menjaga dirinya, namun ternyata dia sendiri tidak mau kujaga. Aku kalah.
Setengah tahun belum bisa membuatku sembuh dari luka batin itu. Sakit hati memang serupa dengan goresan luka di tubuh. Meskipun perihnya telah hilang, namun bopeng bekas luka tetap saja menempel dan tidak mau pergi. Seorang kawan dekat Niarti datang ke kost baruku. Sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai karena sayatan luka yang mulai mengering itu sudah pasti akan berdarah kembali.
“Dan, datanglah ke rumah sakit barang sebentar. Semalam Niarti mencoba bunuh diri dengan memutus nadinya. Dia sedang depresi. Kandungannya sudah hampir empat bulan dan Asman menghilang begitu saja,” ujar gadis itu memohon. Sebenarnya aku sudah tidak ada sangkut-pautnya dengan kekotoran itu meskipun masih terus mengingat dia. Waktu enam bulan tak mampu melenyapkan Niarti dari hidupku. Gadis itu bak bayang-bayang yang menempel pada tubuhku dan mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia hanya lenyap kala aku sembunyi dalam kegelapan, tapi langsung muncul lagi ketika aku menginjak tanah yang diterpa cahaya. Aku bukan hanya kasihan mendengar kabar buruknya. Aku terpukul. Aku seperti dihantam benda keras untuk kedua kalinya. Aku tidak rela dia diperlakukan secara tidak bertanggungjawab seperti itu. Sama seperti aku tidak akan rela jika kewanitaan adik-adikku dilecehkan serendah itu.
“Apa maumu?”
“Tolong, cari dimana Asman. Suruh dia kembali dan mempertanggungjawabkan semua ini. Tentunya kamu tidak ingin melihat Niarti mati dengan cara hina seperti itu kan?” Aku hanya diam, tapi rupanya kawan baik Niarti itu sudah cukup puas dan mendapatkan jawaban yang dia cari. Dia pun pergi.
Aku hanya melihat Niarti dari kaca jendela kamar kelas tiga itu. Dia tidur nyenyak dalam kekuasaan obat penenang. Wajahnya pucat. Bibir basahnya mengering dan membiru. Rambut ikal wanginya kini kusut masai. Tubuhnya yang padat tampak rapuh dan sengsara. Tidak ada lagi gairah yang kutakuti dulu. Aku harus mencari Asman, dimanapun dia. Akhirnya kutemukan dia di rumah salah satu kerabat dan dia mencoba berkelit. Saat itulah aku hilang kendali dan hampir saja membunuhnya. Dia baru kulepas ketika suaranya yang parau tercekik berjanji mau menikahi Niarti. Segera kuberitahu kawan dekat Niarti, bahwa Asman akan datang menjemput akhir minggu nanti.
“Sudah tiga minggu aku menunggu Asman. Dia tidak datang juga,” keluh Niarti kala datang ke tempat kostku.
“Maafkan aku. Aku sudah berusaha.”
“Tak apa. Terimakasih kamu sudah mau membantu aku.”
“Lantas apa rencanamu?”
“Aku akan menggugurkan kandungan ini. Aku terlalu muda untuk menjadi ibu tanpa suami.” Aku terhenyak dengan keputusanya itu. Tidak. Dia tidak boleh menjadi pembunuh. Dan bukankah seseorang yang mengetahui rencana pembunuhan dan hanya diam saja, itu jauh lebih kejam dan berbahaya?
“Aku akan menikahimu, Niar. Jangan pernah menjadi pembunuh. Kau bisa terhukum seumur hidupmu dan hukuman dunia tidak bisa menghilangkan hukuman akhirat.”
Dania sudah jadi perawan dan mengaku punya pacar seumur diriku. Minggu pagi dia pamit untuk belajar melukis dan pulang cepat dengan muka muram. Guru melukisnya masuk rumah sakit karena kanker prostat ganas.
“Pa, aku sangat mengidolakannya. Dia itu seumur Papa dan entah kenapa aku sangat menyayangi dan menghormatinya. Bahkan kadang aku ingin jadi pacarnya. Mungkin aku juga sudah jatuh cinta padanya. Tapi itu ide gila kan, Pa? Pasti Papa akan menentangku habis-habisan. Nah, biar Papa tidak khawatir dan tidak menuduhku pacaran sama om-om, antar aku pergi menjenguknya ya, Pa.” Dania tidak pernah meminta apa-apa dariku, maka kuturuti saja permintaannya itu. Aku mengasihinya seperti milikku sendiri, karena dia lahir dan tumbuh di pangkuanku. Di rumah sakit, lelaki itu terbaring tak berdaya dan hampir mati.
“Terimakasih, Danto. Kaubawa dia kemari untukku,” bisik lelaki itu terbata-bata. Dania tidak mendengarnya. “Maafkan aku, Danto. Sampaikan juga maafku pada istrimu.” Aku hanya diam. “Aku tahu nomor teleponmu dari daftar riwayat hidup Dania.” Jadi sebenarnya selama ini dia sudah tahu bahwa Dania itu anaknya dan menelponku hanya untuk meneror dan menguak luka lama. Andai dia masih sehat, mungkin aku masih bernafsu untuk meninjunya. Tapi sekarang dia sudah tak berdaya dan hanya ingin aku melihat bagaimana anaknya begitu sayang padanya. Ya sudah, kebetulan. Lihatlah anakmu ini, mirip sekali denganmu bukan? Kasihan Dania, murid kesayangannya itu tidak tahu siapa sebenarnya guru idolanya itu. Asman mengatupkan mata dengan senyum getir di pelukan anak gadisnya.
“Asman meninggal dunia, Niar.” Kusampaikan kabar duka itu pada istriku.
“Bukankah dia sudah mati duapuluh tahun silam? Kuburannyapun sudah hancur. Kenapa kau masih saja ketakutan ?” (Bekasi Utara, Februari 2008)
Oleh Rini Giri
Senja terasa penat dalam kemacetan lalu-lintas kota. Ruas jalan tak bergerak hampir satu jam. Tak ada satupun pengemudi yang mau sabar. Semua ingin saling mendahului. Berhasrat lekas sampai di rumah, mencium istri, memeluk anak-anak, mandi air hangat, makan hidangan malam istimewa, lantas bercinta semalaman.
Kerja seharian cukup meremukkan otak dan tulang. Hanya rumah yang bisa memulihkan kerusakan-kerusakan batin dan raga yang telah tersedot sekian jam di meja-meja komputer dan ruangan meeting ber-AC gedung-gedung pencakar langit. Ya, hanya rumah mereka, bukan rumahku. Mungkin hanya aku yang suka dengan kemacetan ini. Aku sangat menikmati. Pulang terlambat telah banyak menyelamatkan harga diriku. Aku terhindar dari suatu kewajiban.
Ponselku berbunyi, melantunkan lagu. Di layar terbaca sederet nomor yang tidak aku kenal, mungkin calon klien. Jantungku tersentak saat mengenali suara, yang duapuluh tahun silam pernah menjadi parau karena kucekik dan kuhajar.
“Danto, aku hanya ingin melihat dia. Sekali ini saja. Tolonglah aku, Danto. Aku tahu kau begitu benci dan muak padaku. Mungkin kau masih dendam padaku. Kau pasti masih ingin menonjok dan menendangku. Atau kau masih punya ambisi untuk membunuhku. Aku tidak peduli. Aku rela jadi sasaran kemarahanmu. Asalkan, ijinkan aku melihatnya, Danto. Sekali saja.” Suara itu merendah memohon. Seperti yang sudah-sudah. Keinginan, permintaan, dan nada putus asanyapun masih sama.
“Tidak!” jawabku datar dengan nada pongah. Biarlah dia kelabakan menanggung dosa dan penyesalan. Aku tidak peduli. Itu hukuman yang pantas dia terima. Semua sudah menjadi milikku. Hanya aku yang boleh menguasai. Dia hanya sedikit bagian di masa lalu, jadi tidak punya hak secuilpun.
“Dan, tolonglah aku. Apa kau tega membiarkan aku mati tanpa jawaban? Aku sedang sekarat. Tubuhku sedang digerogoti penyakit maut. Umurku tidak lama lagi. Apa kau tega, Danto?” Suara itu semakin memelas, sama persis duapuluh tahun lalu ketika dia minta ampun dan meronta-ronta agar aku melepaskan cengkeraman tangan kalapku di lehernya. Minta hidup. Memohon untuk bernafas.
“Alasan!” Jawabku, lantas kumatikan ponsel. Di depan sana deretan mobil belum juga bergerak dan di belakangku bunyi klakson ketidaksabaran silih berganti menusuk gendang telinga. Aku jadi geram. Baru kali ini aku memaki-maki dalam kemacetan lalu-lintas. Darimana keparat itu tahu nomor ponselku!
Di luar sana, penjaja asongan semakin agresif menawarkan barang dagangan, pengamen-pengamen kecil dengan alat musik dari tutup botol soft drink mengetuk-ngetuk kaca mobil, dan para gelandangan terus saja mengulurkan gelas bekas air mineral untuk meminta derma. Siapa yang sudi buka kaca jendela di kemacetan kota seperti ini? Setiap warga kota sudah menjadi paranoid dan curiga pada setiap orang.
Waktuku habis di jalan. Sudut-sudut segala penjuru jalanan kota aku kenal dengan baik. Jauh lebih baik dibanding aku mengenali lekuk-lekuk tubuh istriku sendiri. Aku nyaris tak pernah menyentuhnya. Aku jadi impoten sejak menikahinya. Seringai wajah yang kucekik itu terus menghantuiku.
Anak perempuan kami sudah berumur sembilan belas tahun. Kadang aku keliru menyimpan dokumen-dokumen kantor di laci miliknya, karena sudut-sudut kota lebih kukenal dibanding ruangan rumahku sendiri. Saat aku kelabakan mencari, dengan enteng gadis itu nyeletuk, “Papa tuh masih seumuran pacar Dania, tapi udah pikun.” Map-map yang aku butuhkan itu sudah terulur di tangannya. Eh, apa? Pacarnya seumuran denganku? Gila! Sungguh gila dan tidak boleh dibiarkan! Jangan-jangan pacarnya itu om-om senang, hidung belang, yang suka memanfaatkan kepolosan para gadis muda! Atau jangan-jangan anak gadisku sedang mengganggu keutuhan rumah tangga orang! Tidak boleh! Tapi dia hanya menyeringai sambil berlari menuju tangga untuk bersembunyi di kamarnya.
“Kau tahu kalau Dania sudah punya pacar?” Kutanya istriku. Perempuan itu hanya menggeleng tanpa mencoba memandangku. “Dia tidak pernah cerita sama kamu?” Dia menggeleng lagi. “Jadi kamu tidak tahu kalau dia itu pacaran sama om-om?” Kali ini dia baru mau menoleh. Senyumnya dingin.
“Dia hanya bercanda,” jawabnya ringan sambil terus sibuk melipat-lipat baju dari almari yang sebenarnya sudah rapi tersimpan di situ. Istriku selalu sibuk. Pekerjaannya seolah tak pernah selesai. Bahkan kadang setelah semua beres, dia sengaja menciptakan pekerjaan baru. Mungkin dia ingin menyalurkan energinya yang berlebih, atau mungkin memang ingin kelihatan sibuk sehingga tidak perlu kudekati. Aku tidak peduli. Satu-satunya rasa peduliku sudah kuberikan padanya duapuluh tahun silam dan kutanggung konsekuensinya hingga kini. Menjadi lelaki yang tidak utuh. Selama ini dia memang memasak dan berdandan untukku, tapi aku tidak pernah yakin apakah cintanya hanya untukku atau terbagi pada orang lain di masa lalu.
Niarti, dara paling memukau di kampus. Mungkin karena senyumnya merekah sexy oleh lip gloss bening dan tubuhnya padat dengan lekuk-liku yang mempesona. Aku jatuh hati pada keramahannya. Temannya banyak. Bahkan teman-teman kostkupun langsung akrab dengannya. Cowok sekaku batu sepertiku, sangat beruntung bisa menggaet cewek sesupel Niarti.
Hanya satu yang membuatku ketakutan. Dia terlalu bersemangat dan bergairah. Dada busungnya menempel erat di punggungku ketika kami melintasi malam-malam biru di atas sepeda motor sepanjang jalan raya. Suaranya berbisik manja penuh desahan di telingaku dan bibir basahnya sengaja mengenai belakang telinga. Udara malam yang dingin semakin membuatku bergidik. Tapi aku selalu bisa menyelamatkan diri. Jangankan menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang paling inti, mengecup bibirnyapun aku tidak berani, meskipun dia dengan suka rela menawarkan. Aku bukannya munafik, tapi hanya tidak ingin merusak anak orang. Aku mencintainya, maka akan kujaga dia agar tetap utuh dan tidak membuat keluarganya kecewa. Empat adikku perempuan, sehingga akupun tidak ingin ada lelaki yang kurang ajar memperlakukan mereka.
Aku selalu bisa menyelamatkan diriku. Tapi tidak bisa menyelamatkan dirinya. Suatu malam, sepulang dari rapat senat di kampus, lampu sepeda motorku menangkap sepasang muda-mudi yang berboncengan di depanku. Mereka begitu mesra dan membuatku hampir terjungkal ke selokan. Itu Niarti dan Asman, teman satu kostku. Keesokan harinya, kutanya gadisku, pergi kemana dia semalam. Bibir penuh lip gloss-nya hanya bungkam. Kutanya Asman. Kawanku itu menyeringai, persis raut muka Dania ketika menyerahkan map-map yang kucari.
“Kau jadi lelaki terlalu kaku, Danto. Gadismu punya gelora seperti ombak lautan selatan, sedangkan dirimu tidak bisa mengatasinya karena bersikap seperti karang-karang keras kepala. Aku hanya mencoba membantu mengatasinya saja. Dan nyatanya, ombak-ombak ganas itu bisa aku jinakkan agar mengalir ke teluk-teluk yang tenang,” jawab Asman sambil menyunggingkan senyum sinis yang membuatku menggigil.
“Kauapakan dia, Asman?” Tanyaku geram. Tanganku terkepal keras oleh amarah.
“Tanyakan sendiri pada gadismu itu, dia minta apa dariku? Aku hanya menurutinya saja. Aku hanya melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan padanya.” Darahku mendidih mendengar ucapannya. Sebuah bogem mentah mendarat dimukanya dan membuat hidungnya berdarah. Keributan itu membuat seluruh penghuni kost keluar dan melerai kami. Itu adalah hari terakhir Niarti menjadi pacarku. Aku sudah berusaha menjaga dirinya, namun ternyata dia sendiri tidak mau kujaga. Aku kalah.
Setengah tahun belum bisa membuatku sembuh dari luka batin itu. Sakit hati memang serupa dengan goresan luka di tubuh. Meskipun perihnya telah hilang, namun bopeng bekas luka tetap saja menempel dan tidak mau pergi. Seorang kawan dekat Niarti datang ke kost baruku. Sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai karena sayatan luka yang mulai mengering itu sudah pasti akan berdarah kembali.
“Dan, datanglah ke rumah sakit barang sebentar. Semalam Niarti mencoba bunuh diri dengan memutus nadinya. Dia sedang depresi. Kandungannya sudah hampir empat bulan dan Asman menghilang begitu saja,” ujar gadis itu memohon. Sebenarnya aku sudah tidak ada sangkut-pautnya dengan kekotoran itu meskipun masih terus mengingat dia. Waktu enam bulan tak mampu melenyapkan Niarti dari hidupku. Gadis itu bak bayang-bayang yang menempel pada tubuhku dan mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia hanya lenyap kala aku sembunyi dalam kegelapan, tapi langsung muncul lagi ketika aku menginjak tanah yang diterpa cahaya. Aku bukan hanya kasihan mendengar kabar buruknya. Aku terpukul. Aku seperti dihantam benda keras untuk kedua kalinya. Aku tidak rela dia diperlakukan secara tidak bertanggungjawab seperti itu. Sama seperti aku tidak akan rela jika kewanitaan adik-adikku dilecehkan serendah itu.
“Apa maumu?”
“Tolong, cari dimana Asman. Suruh dia kembali dan mempertanggungjawabkan semua ini. Tentunya kamu tidak ingin melihat Niarti mati dengan cara hina seperti itu kan?” Aku hanya diam, tapi rupanya kawan baik Niarti itu sudah cukup puas dan mendapatkan jawaban yang dia cari. Dia pun pergi.
Aku hanya melihat Niarti dari kaca jendela kamar kelas tiga itu. Dia tidur nyenyak dalam kekuasaan obat penenang. Wajahnya pucat. Bibir basahnya mengering dan membiru. Rambut ikal wanginya kini kusut masai. Tubuhnya yang padat tampak rapuh dan sengsara. Tidak ada lagi gairah yang kutakuti dulu. Aku harus mencari Asman, dimanapun dia. Akhirnya kutemukan dia di rumah salah satu kerabat dan dia mencoba berkelit. Saat itulah aku hilang kendali dan hampir saja membunuhnya. Dia baru kulepas ketika suaranya yang parau tercekik berjanji mau menikahi Niarti. Segera kuberitahu kawan dekat Niarti, bahwa Asman akan datang menjemput akhir minggu nanti.
“Sudah tiga minggu aku menunggu Asman. Dia tidak datang juga,” keluh Niarti kala datang ke tempat kostku.
“Maafkan aku. Aku sudah berusaha.”
“Tak apa. Terimakasih kamu sudah mau membantu aku.”
“Lantas apa rencanamu?”
“Aku akan menggugurkan kandungan ini. Aku terlalu muda untuk menjadi ibu tanpa suami.” Aku terhenyak dengan keputusanya itu. Tidak. Dia tidak boleh menjadi pembunuh. Dan bukankah seseorang yang mengetahui rencana pembunuhan dan hanya diam saja, itu jauh lebih kejam dan berbahaya?
“Aku akan menikahimu, Niar. Jangan pernah menjadi pembunuh. Kau bisa terhukum seumur hidupmu dan hukuman dunia tidak bisa menghilangkan hukuman akhirat.”
Dania sudah jadi perawan dan mengaku punya pacar seumur diriku. Minggu pagi dia pamit untuk belajar melukis dan pulang cepat dengan muka muram. Guru melukisnya masuk rumah sakit karena kanker prostat ganas.
“Pa, aku sangat mengidolakannya. Dia itu seumur Papa dan entah kenapa aku sangat menyayangi dan menghormatinya. Bahkan kadang aku ingin jadi pacarnya. Mungkin aku juga sudah jatuh cinta padanya. Tapi itu ide gila kan, Pa? Pasti Papa akan menentangku habis-habisan. Nah, biar Papa tidak khawatir dan tidak menuduhku pacaran sama om-om, antar aku pergi menjenguknya ya, Pa.” Dania tidak pernah meminta apa-apa dariku, maka kuturuti saja permintaannya itu. Aku mengasihinya seperti milikku sendiri, karena dia lahir dan tumbuh di pangkuanku. Di rumah sakit, lelaki itu terbaring tak berdaya dan hampir mati.
“Terimakasih, Danto. Kaubawa dia kemari untukku,” bisik lelaki itu terbata-bata. Dania tidak mendengarnya. “Maafkan aku, Danto. Sampaikan juga maafku pada istrimu.” Aku hanya diam. “Aku tahu nomor teleponmu dari daftar riwayat hidup Dania.” Jadi sebenarnya selama ini dia sudah tahu bahwa Dania itu anaknya dan menelponku hanya untuk meneror dan menguak luka lama. Andai dia masih sehat, mungkin aku masih bernafsu untuk meninjunya. Tapi sekarang dia sudah tak berdaya dan hanya ingin aku melihat bagaimana anaknya begitu sayang padanya. Ya sudah, kebetulan. Lihatlah anakmu ini, mirip sekali denganmu bukan? Kasihan Dania, murid kesayangannya itu tidak tahu siapa sebenarnya guru idolanya itu. Asman mengatupkan mata dengan senyum getir di pelukan anak gadisnya.
“Asman meninggal dunia, Niar.” Kusampaikan kabar duka itu pada istriku.
“Bukankah dia sudah mati duapuluh tahun silam? Kuburannyapun sudah hancur. Kenapa kau masih saja ketakutan ?” (Bekasi Utara, Februari 2008)
Kamis, 25 Maret 2010
CINTA KAN ADA SELAMANYA
CINTA KAN ADA SELAMANYA
Oleh Rini Giri
Zeta lagi baca di teras. Punggung menyandar santai, kaki menjulur merdeka. Mulutnya mengunyah camilan. Asyik banget. Suara motor yang merapat ke pagarpun sampai nggak kedengeran.
“Hai, Ze! Lagi ngapain?” Sapaan itu nggak digubris. Udah tau lagi baca, masih nanya. “Baca apaan? Yah, udah gede masih baca komik.” Zeta mencibir dan terus baca. Tapi tiba-tiba dia merasa perlu bertindak saat tangan tamu nggak diundang itu mulai mencomot keripiknya.
“Usil banget sih! Balikin nggak!” Zeta menepis tangan yang nggak kenal permisi itu. Buru-buru keripik dibalikin ke toples.
“Pelit! Galak lagi!” Sungut si tamu. Zeta naik pitam. Dia berdiri berkacak pinggang.
“Udah tau aku pelit, galak, ngapain masih datang kemari? Pokoknya aku nggak suka kamu dekat-dekat. Pacarku bisa salah paham gara-gara ulahmu yang nggak jelas ini. Ngerti?”
“Siapa juga yang mau ketemu kamu? Aku ke sini mau ngebetulin mesin cuci. Tabung pengeringnya ngadat. Aku janjian sama ibumu! GR!” Rano nggak kalah sengit. Dia melengos dan segera pergi ke belakang menemui ibu Zeta. Cewek itu jadi tengsin.
“Dasar!” Gengsinya amat tinggi, maka kata itu yang terluncur.
Keluarga Zeta dan Rano bersahabat. Sejak kecil keduanya sering bersama. Sebenarnya Rano sayang sama Zeta. Tapi Zeta kesal padanya. Akhirnya, bahasa yang mereka pakai cuma bahasa saling cerca.
Rano nggak pernah menyatakan rasa cintanya karena udah pasti ditolak. Wah, tamatlah kebersamaan mereka yang sulit didefinisikan itu. Mendingan begini, tanpa status. Zeta akan tetap jadi bagian penting dalam hidupnya. Meski Zeta udah pacaran, nggak jadi soal. Toh dia selalu punya alasan untuk bertandang ke rumah Zeta. Tapi bagi Zeta, kedekatan itu sangat mengganggu. Pacarnya nggak suka pada Rano. Mungkin cemburu.
*
“Ze, aku nggak akan diam aja kalau kamu dipermainkan kayak gini.” Kata Rano suatu sore. Dia punya janji sama ayah Zeta. Mau bikin akun di facebook. Ayah Zeta pengin promosiin usaha barunya lewat internet.
“Maksudmu apa?” Tanya Zeta.
“Beni nggak cuma jalan sama kamu.” Ujar Rano serius. Zeta kaget.
“Dia selingkuh?” Bak disambar petir.”Ran, kamu jangan ngarang cerita deh! Kamu nggak suka sama Beni kan? Kamu ingin ngejauhin aku dari dia kan?”
“Aku nggak bohong soal Beni! Dia nggak suka aku karena aku tahu persis segala borok dia. Ze, lebih baik kamu tahu sekarang daripada nanti-nanti kamu sakit hati!” Hati Zeta serasa tersambar geledek dan menangis. Rano paling nggak tahan melihat situasi seperti itu. Sejak kecil, dimaki-maki dan dipojokin Zeta pun dia rela asal jangan sampai cewek itu menangis.
*
Buat ngebuktiin, Zeta pergi ke tempat Beni main bola. Selama ini dia nggak pernah nemenin pacarnya latihan, soalnya nggak suka bola. Dia melihat dari jauh. Beni sangat bersemangat saat seorang cewek berteriak ngasih dukungan padanya. Itu kan Tia, mantan Beni. Jadi mereka masih berhubungan? Zeta menunggu sampai latihan usai. Beni minum dari botol yang disodorin Tia. Mereka sangat dekat dan mesra. Hati Zeta ngilu.
Dia bergegas ke parkiran dan menunggu di dekat mobil Beni. Masalah ini harus tuntas sekarang juga! Menurut beberapa teman Beni, Tia selalu menemani saat latihan. Randi benar, Beni curang. Dia back street sama cewek yang tidak disukai ibunya itu. Hati Zeta jadi kecut. Jadi untuk mengelabuhi ibunya, Beni pura-pura pacaran sama dirinya. Zeta memang cukup dikenal ibu pacarnya. Ibu Zeta kan teman senam ibu Beni.
Ibu Beni pernah cerita kalau dulu hubungannya dengan Beni tegang lantaran tidak suka sama Tia. Soalnya ayah Tia pernah menipu ibu Beni dalam bisnis mereka. Kunci mobil dan kartu kredit Beni akan ditarik jika nggak mau putus dari cewek itu. Ternyata sampai sekarang mereka masih pacaran. Beni memacari Zeta hanya sebagai tameng dari ancaman ibunya. Zeta benar-benar kecewa. Ketika datang, Beni tercengang. Cowok itu salah tingkah. Tia mengikutinya.
“Ze, kok di sini?”
“Salah ya kalau pengin ketemu?”
“Ze…” Beni mendekat dan suaranya sedikit berbisik. Tia tampak gusar.
“Gini ya caramu mempertahankan mobil ini? Aku lebih mahal dari mobil ini, Ben. Detik ini juga kita putus!”
“Ze!” Zeta berjalan cepat dan tidak menoleh lagi. Di belakang sana keributan dimulai.
*
Putus cinta emang berat. Bikin menderita. Batin terluka. Zeta jadi murung dan pendiam. Nafsu makannya hilang, rambutnya rontok, dan berat badannya susut. Habislah dunia ini di matanya. Beni adalah cinta pertama yang telah menusuk batinnya. Zeta merasa sangat direndahkan dengan status palsu itu.
Akhirnya Rano mengisi hari-hari Zeta. Tentu saja dengan status mereka yang tidak jelas. Rano ingin senyum Si Jutek kembali. Dia kangen pada makian dan celaannya. Cewek itu seperti kehilangan roh. Dia berubah. Menjadi sangat tidak peduli pada apapun. Perubahan Zeta membuat Rano khawatir.
Rano dan Zeta makin dekat. Kemana-mana Rano yang mengawal. Anehnya kali ini Zeta nurut aja. Bahkan nada suaranya saat bicara turun beberapa oktaf. Nggak ada acara berantem lagi. Dua keluarga juga makin dekat. Bahkan Zeta ngerawat ibu Rano waktu sakit keras.
“Ibu ingin kalian tunangan. Sebentar lagi kan Zeta kuliah di kota lain.” Pinta Ibu Rano lemah. Dia ingin kejelasan hubungan keduanya. Rano bingung dengan ide itu.
“Tapi, Bu. Aku dan Zeta kan…”
“Rano, please, dengar kata ibu. Jangan membantah. Ze, kamu bagaimana?” Zeta tersenyum. Dia nggak ingin ngecewain ibu Rano. Cewek itu udah nggak punya ambisi lagi. Hanya Rano yang ada dalam hari-harinya dua tahun terakhir sejak putus dengan Beni. Rano melindunginya dan nggak pernah nyakitin hatinya. Zeta tidak sampai hati menolak.
*
Tak diduga, kehidupan di kampus membuat roh Zeta kembali. Dunia berwarna dan penuh harapan lagi. “Apa aku benar-benar cinta pada Rano? Apa aku hanya kasihan? Kenapa aku nggak bahagia? Meski Beni berkhianat, tapi selagi dengannya hatiku meletup-letup. Tidak seperti ini.” Nggak ada yang hidup dalam jalinan asmaranya.
“Ran, sejak bertunangan, aku kehilangan kakak yang dulu selalu ada dalam duniaku. Aku butuh dia.” Tutur Zeta suatu kali. Rano bisa menebak, sesuatu yang sangat ditakutinya akan terjadi.
“Aku tetap kakakmu, Ze.” Rano memastikan.
“Kamu cinta padaku dan aku hargai itu. Tapi hubungan kita jadi kaku.” Rano sadar, Zeta menerima cintanya karena pertimbangan lain. Kasihan pada ibunya yang sakit dan pada dirinya yang terus-menerus berkorban.
“Kamu udah berusaha sekuat tenaga untuk mencintaiku. Kalau hanya sanggup mencintaiku sebagai kakak, itu bukan salahmu. Pergilah, Ze. Tersenyumlah kembali.” Cinta memang nggak bisa dipaksa.
“Apa kamu nggak marah?” Rano menggeleng lalu memeluk Zeta. Ada kemerdekaan di senyum Zeta. Namun pilu meremas hati Rano. Meski keduanya sepakat untuk tetap jadi kakak-adik, toh luka batin Rano pasti menyisakan bekas.
Rano terpuruk. Semakin ingin melupakan, semakin besar keinginannya untuk mencintai. Semakin ingin menghapus dari ingatan, tapi bayangan Zeta makin nyata. Dalam kondisi jiwa yang nggak seimbang, Rano memilih pergi jauh. Nggak ada yang tahu. Hilang begitu saja.
*
Zeta bertemu kakak-kakak baru. Bahkan ada yang menjalin cinta dengannya. Bayang-bayang Rano kian pudar. Kadang hadir dalam mimpi buruk dan segera dilupain.
Perubahan terus terjadi. Begitu pula cinta Zeta. Patah hati udah jadi hal biasa Terpuruk akibat putus dari Beni, hanya karena dia belum pengalaman. Ah, besok pagi cinta baru pasti datang. Tapi keadaan seperti itu lama-lama bikin bosan. Hubungan yang dijalinnya selalu game over.
Suatu hari adik Rano menghubungi hape-nya dan bertanya apakah si abang pernah menghubungi dirinya. Zeta tercenung. Kemana Rano? Hampir setahun? Berarti sejak mereka putus? Rano pergi karena frustasi? Oh, Tuhan. Zeta merasa bersalah. Teman terbaiknya luka. Bayangan Rano kembali. Sebenarnya hanya Rano yang benar-benar tanpa pamprih mencintainya. Rano setia, tidak pernah menuntut dan macam-macam. Dia cowok yang super baik.
Harapan Zeta untuk menemukan Rano nyaris pupus. Tak ada satupun teman Rano yang tau. E-mail, facebook, blog, dan hape Rano sudah lama tidak aktif. Hingga datanglah kabar itu. Teman Zeta pernah melihat Rano di panti jompo. Ah, jodoh memang nggak bakal lari kemana! Zeta bertekat membawa Rano pulang.
“Saya ingin bertemu Rano. Em, Frater Rano. Saya adiknya.” Ujar Zeta pada penerima tamu. Lelaki itu mengangguk kalem dan dengan sopan mempersilakan Zeta duduk. Keheningan menguasai ruangan itu. Mata Zeta terpejam. Jantungnya deg-deg-plas.
“Selamat siang.” Sebuah suara bikin kaget. Serta-merta Zeta memeluk sosok itu.
“Rano. Jangan pergi lagi.” Bisik Zeta. Air matanya meleleh. “Maafkan aku, Ran.” Rano membalas pelukan itu. Dia juga rindu. Lama mereka terbenam, sampai akhirnya suara lonceng penanda waktu mengingatkan.
“Kita bicara di luar.” Rano melepas Zeta. Mereka berjalan di taman biara yang sangat terawat.
“Semua orang mencarimu. Pulanglah, Ran. Kita bisa memperbaiki semuanya.” Rano tersenyum. Dia mengajak Zeta ke sebuah kompleks bangunan. Panti Jompo. Rano mengunjungi kamar seorang kakek untuk memastikan dia baik-baik saja. Lalu ke kamar lain untuk menyuapi seorang nenek yang sudah lumpuh. Dia memperkenalkan Zeta pada setiap orang di situ dan memintanya membaca cerita buat salah seorang oma. Rano tampak bahagia dengan segala pekerjaannya. Bahkan yang menjijikkan sekalipun.
“Ze, aku senang kamu datang. Ini kejutan. Tapi maaf, aku nggak bisa pulang.”
“Kenapa? Kamu masuk biara karena lari dariku kan? Aku datang, Ran. Apa kamu nggak peduli?”
“Aku peduli. Tapi aku ingin mengabdi di sini.”
“Kamu nggak cinta lagi padaku?”
“Cintaku sangat besar. Biarlah tetap begini. Cinta akan ada selamanya. Kalau kamu lagi sedih, kamu boleh kok datang kemari. Aku kan udah janji mau jadi abangmu.” Reno mengacak rambut Zeta. Zeta merasa disayang.
Lonceng penanda waktu berdentang lagi. Keheningan petang membawa damai. Para calon bruder bergegas menuju ruang doa. Mereka adalah biarawan yang bertugas merawat kaum papa. Zeta pamit. Rano pun bergabung dalam barisan itu. Zeta lega sudah menemukan Rano. Biarlah dia menjalani cinta baru, sebab cinta Zeta mungkin hanya pelarian. Cinta mereka akan ada selamanya justru ketika mereka tak bisa bersatu.
Oleh Rini Giri
Zeta lagi baca di teras. Punggung menyandar santai, kaki menjulur merdeka. Mulutnya mengunyah camilan. Asyik banget. Suara motor yang merapat ke pagarpun sampai nggak kedengeran.
“Hai, Ze! Lagi ngapain?” Sapaan itu nggak digubris. Udah tau lagi baca, masih nanya. “Baca apaan? Yah, udah gede masih baca komik.” Zeta mencibir dan terus baca. Tapi tiba-tiba dia merasa perlu bertindak saat tangan tamu nggak diundang itu mulai mencomot keripiknya.
“Usil banget sih! Balikin nggak!” Zeta menepis tangan yang nggak kenal permisi itu. Buru-buru keripik dibalikin ke toples.
“Pelit! Galak lagi!” Sungut si tamu. Zeta naik pitam. Dia berdiri berkacak pinggang.
“Udah tau aku pelit, galak, ngapain masih datang kemari? Pokoknya aku nggak suka kamu dekat-dekat. Pacarku bisa salah paham gara-gara ulahmu yang nggak jelas ini. Ngerti?”
“Siapa juga yang mau ketemu kamu? Aku ke sini mau ngebetulin mesin cuci. Tabung pengeringnya ngadat. Aku janjian sama ibumu! GR!” Rano nggak kalah sengit. Dia melengos dan segera pergi ke belakang menemui ibu Zeta. Cewek itu jadi tengsin.
“Dasar!” Gengsinya amat tinggi, maka kata itu yang terluncur.
Keluarga Zeta dan Rano bersahabat. Sejak kecil keduanya sering bersama. Sebenarnya Rano sayang sama Zeta. Tapi Zeta kesal padanya. Akhirnya, bahasa yang mereka pakai cuma bahasa saling cerca.
Rano nggak pernah menyatakan rasa cintanya karena udah pasti ditolak. Wah, tamatlah kebersamaan mereka yang sulit didefinisikan itu. Mendingan begini, tanpa status. Zeta akan tetap jadi bagian penting dalam hidupnya. Meski Zeta udah pacaran, nggak jadi soal. Toh dia selalu punya alasan untuk bertandang ke rumah Zeta. Tapi bagi Zeta, kedekatan itu sangat mengganggu. Pacarnya nggak suka pada Rano. Mungkin cemburu.
*
“Ze, aku nggak akan diam aja kalau kamu dipermainkan kayak gini.” Kata Rano suatu sore. Dia punya janji sama ayah Zeta. Mau bikin akun di facebook. Ayah Zeta pengin promosiin usaha barunya lewat internet.
“Maksudmu apa?” Tanya Zeta.
“Beni nggak cuma jalan sama kamu.” Ujar Rano serius. Zeta kaget.
“Dia selingkuh?” Bak disambar petir.”Ran, kamu jangan ngarang cerita deh! Kamu nggak suka sama Beni kan? Kamu ingin ngejauhin aku dari dia kan?”
“Aku nggak bohong soal Beni! Dia nggak suka aku karena aku tahu persis segala borok dia. Ze, lebih baik kamu tahu sekarang daripada nanti-nanti kamu sakit hati!” Hati Zeta serasa tersambar geledek dan menangis. Rano paling nggak tahan melihat situasi seperti itu. Sejak kecil, dimaki-maki dan dipojokin Zeta pun dia rela asal jangan sampai cewek itu menangis.
*
Buat ngebuktiin, Zeta pergi ke tempat Beni main bola. Selama ini dia nggak pernah nemenin pacarnya latihan, soalnya nggak suka bola. Dia melihat dari jauh. Beni sangat bersemangat saat seorang cewek berteriak ngasih dukungan padanya. Itu kan Tia, mantan Beni. Jadi mereka masih berhubungan? Zeta menunggu sampai latihan usai. Beni minum dari botol yang disodorin Tia. Mereka sangat dekat dan mesra. Hati Zeta ngilu.
Dia bergegas ke parkiran dan menunggu di dekat mobil Beni. Masalah ini harus tuntas sekarang juga! Menurut beberapa teman Beni, Tia selalu menemani saat latihan. Randi benar, Beni curang. Dia back street sama cewek yang tidak disukai ibunya itu. Hati Zeta jadi kecut. Jadi untuk mengelabuhi ibunya, Beni pura-pura pacaran sama dirinya. Zeta memang cukup dikenal ibu pacarnya. Ibu Zeta kan teman senam ibu Beni.
Ibu Beni pernah cerita kalau dulu hubungannya dengan Beni tegang lantaran tidak suka sama Tia. Soalnya ayah Tia pernah menipu ibu Beni dalam bisnis mereka. Kunci mobil dan kartu kredit Beni akan ditarik jika nggak mau putus dari cewek itu. Ternyata sampai sekarang mereka masih pacaran. Beni memacari Zeta hanya sebagai tameng dari ancaman ibunya. Zeta benar-benar kecewa. Ketika datang, Beni tercengang. Cowok itu salah tingkah. Tia mengikutinya.
“Ze, kok di sini?”
“Salah ya kalau pengin ketemu?”
“Ze…” Beni mendekat dan suaranya sedikit berbisik. Tia tampak gusar.
“Gini ya caramu mempertahankan mobil ini? Aku lebih mahal dari mobil ini, Ben. Detik ini juga kita putus!”
“Ze!” Zeta berjalan cepat dan tidak menoleh lagi. Di belakang sana keributan dimulai.
*
Putus cinta emang berat. Bikin menderita. Batin terluka. Zeta jadi murung dan pendiam. Nafsu makannya hilang, rambutnya rontok, dan berat badannya susut. Habislah dunia ini di matanya. Beni adalah cinta pertama yang telah menusuk batinnya. Zeta merasa sangat direndahkan dengan status palsu itu.
Akhirnya Rano mengisi hari-hari Zeta. Tentu saja dengan status mereka yang tidak jelas. Rano ingin senyum Si Jutek kembali. Dia kangen pada makian dan celaannya. Cewek itu seperti kehilangan roh. Dia berubah. Menjadi sangat tidak peduli pada apapun. Perubahan Zeta membuat Rano khawatir.
Rano dan Zeta makin dekat. Kemana-mana Rano yang mengawal. Anehnya kali ini Zeta nurut aja. Bahkan nada suaranya saat bicara turun beberapa oktaf. Nggak ada acara berantem lagi. Dua keluarga juga makin dekat. Bahkan Zeta ngerawat ibu Rano waktu sakit keras.
“Ibu ingin kalian tunangan. Sebentar lagi kan Zeta kuliah di kota lain.” Pinta Ibu Rano lemah. Dia ingin kejelasan hubungan keduanya. Rano bingung dengan ide itu.
“Tapi, Bu. Aku dan Zeta kan…”
“Rano, please, dengar kata ibu. Jangan membantah. Ze, kamu bagaimana?” Zeta tersenyum. Dia nggak ingin ngecewain ibu Rano. Cewek itu udah nggak punya ambisi lagi. Hanya Rano yang ada dalam hari-harinya dua tahun terakhir sejak putus dengan Beni. Rano melindunginya dan nggak pernah nyakitin hatinya. Zeta tidak sampai hati menolak.
*
Tak diduga, kehidupan di kampus membuat roh Zeta kembali. Dunia berwarna dan penuh harapan lagi. “Apa aku benar-benar cinta pada Rano? Apa aku hanya kasihan? Kenapa aku nggak bahagia? Meski Beni berkhianat, tapi selagi dengannya hatiku meletup-letup. Tidak seperti ini.” Nggak ada yang hidup dalam jalinan asmaranya.
“Ran, sejak bertunangan, aku kehilangan kakak yang dulu selalu ada dalam duniaku. Aku butuh dia.” Tutur Zeta suatu kali. Rano bisa menebak, sesuatu yang sangat ditakutinya akan terjadi.
“Aku tetap kakakmu, Ze.” Rano memastikan.
“Kamu cinta padaku dan aku hargai itu. Tapi hubungan kita jadi kaku.” Rano sadar, Zeta menerima cintanya karena pertimbangan lain. Kasihan pada ibunya yang sakit dan pada dirinya yang terus-menerus berkorban.
“Kamu udah berusaha sekuat tenaga untuk mencintaiku. Kalau hanya sanggup mencintaiku sebagai kakak, itu bukan salahmu. Pergilah, Ze. Tersenyumlah kembali.” Cinta memang nggak bisa dipaksa.
“Apa kamu nggak marah?” Rano menggeleng lalu memeluk Zeta. Ada kemerdekaan di senyum Zeta. Namun pilu meremas hati Rano. Meski keduanya sepakat untuk tetap jadi kakak-adik, toh luka batin Rano pasti menyisakan bekas.
Rano terpuruk. Semakin ingin melupakan, semakin besar keinginannya untuk mencintai. Semakin ingin menghapus dari ingatan, tapi bayangan Zeta makin nyata. Dalam kondisi jiwa yang nggak seimbang, Rano memilih pergi jauh. Nggak ada yang tahu. Hilang begitu saja.
*
Zeta bertemu kakak-kakak baru. Bahkan ada yang menjalin cinta dengannya. Bayang-bayang Rano kian pudar. Kadang hadir dalam mimpi buruk dan segera dilupain.
Perubahan terus terjadi. Begitu pula cinta Zeta. Patah hati udah jadi hal biasa Terpuruk akibat putus dari Beni, hanya karena dia belum pengalaman. Ah, besok pagi cinta baru pasti datang. Tapi keadaan seperti itu lama-lama bikin bosan. Hubungan yang dijalinnya selalu game over.
Suatu hari adik Rano menghubungi hape-nya dan bertanya apakah si abang pernah menghubungi dirinya. Zeta tercenung. Kemana Rano? Hampir setahun? Berarti sejak mereka putus? Rano pergi karena frustasi? Oh, Tuhan. Zeta merasa bersalah. Teman terbaiknya luka. Bayangan Rano kembali. Sebenarnya hanya Rano yang benar-benar tanpa pamprih mencintainya. Rano setia, tidak pernah menuntut dan macam-macam. Dia cowok yang super baik.
Harapan Zeta untuk menemukan Rano nyaris pupus. Tak ada satupun teman Rano yang tau. E-mail, facebook, blog, dan hape Rano sudah lama tidak aktif. Hingga datanglah kabar itu. Teman Zeta pernah melihat Rano di panti jompo. Ah, jodoh memang nggak bakal lari kemana! Zeta bertekat membawa Rano pulang.
“Saya ingin bertemu Rano. Em, Frater Rano. Saya adiknya.” Ujar Zeta pada penerima tamu. Lelaki itu mengangguk kalem dan dengan sopan mempersilakan Zeta duduk. Keheningan menguasai ruangan itu. Mata Zeta terpejam. Jantungnya deg-deg-plas.
“Selamat siang.” Sebuah suara bikin kaget. Serta-merta Zeta memeluk sosok itu.
“Rano. Jangan pergi lagi.” Bisik Zeta. Air matanya meleleh. “Maafkan aku, Ran.” Rano membalas pelukan itu. Dia juga rindu. Lama mereka terbenam, sampai akhirnya suara lonceng penanda waktu mengingatkan.
“Kita bicara di luar.” Rano melepas Zeta. Mereka berjalan di taman biara yang sangat terawat.
“Semua orang mencarimu. Pulanglah, Ran. Kita bisa memperbaiki semuanya.” Rano tersenyum. Dia mengajak Zeta ke sebuah kompleks bangunan. Panti Jompo. Rano mengunjungi kamar seorang kakek untuk memastikan dia baik-baik saja. Lalu ke kamar lain untuk menyuapi seorang nenek yang sudah lumpuh. Dia memperkenalkan Zeta pada setiap orang di situ dan memintanya membaca cerita buat salah seorang oma. Rano tampak bahagia dengan segala pekerjaannya. Bahkan yang menjijikkan sekalipun.
“Ze, aku senang kamu datang. Ini kejutan. Tapi maaf, aku nggak bisa pulang.”
“Kenapa? Kamu masuk biara karena lari dariku kan? Aku datang, Ran. Apa kamu nggak peduli?”
“Aku peduli. Tapi aku ingin mengabdi di sini.”
“Kamu nggak cinta lagi padaku?”
“Cintaku sangat besar. Biarlah tetap begini. Cinta akan ada selamanya. Kalau kamu lagi sedih, kamu boleh kok datang kemari. Aku kan udah janji mau jadi abangmu.” Reno mengacak rambut Zeta. Zeta merasa disayang.
Lonceng penanda waktu berdentang lagi. Keheningan petang membawa damai. Para calon bruder bergegas menuju ruang doa. Mereka adalah biarawan yang bertugas merawat kaum papa. Zeta pamit. Rano pun bergabung dalam barisan itu. Zeta lega sudah menemukan Rano. Biarlah dia menjalani cinta baru, sebab cinta Zeta mungkin hanya pelarian. Cinta mereka akan ada selamanya justru ketika mereka tak bisa bersatu.
BALAS CINTAKU, GO!
BALAS CINTAKU, GO!
Oleh Rini Giri
Hari ini aku seneng banget. Soalnya begitu keluar dari gerbang sekolah, sebuah lambaian tangan dan senyum hangat menyambutku. Dia di seberang jalan dan tampak berkeringat. Pasti udah lama nunggu. Aku menyeberang dan mendekatinya.
“Mau makan bakso atau siomai?” Sambutnya.“Cerpenku dimuat lagi.”
“O ya?” Mataku terbelalak gembira. “Hebat! Hebat! Yang mana?”
“Yang kamu posin sebulan lalu.”
“Selamat ya…” Tangannya kujabat erat. Dia meringis. “Bakso plus es teler. Boleh ya?”
Dia mengangguk dan ngebetulin letak tongkat yang hampir sepuluh tahun menyangga tubuh kanannya. Kami berjalan menuju kedai bakso di ujung jalan.
Golan temanku sejak kecil. Hari pertama masuk kelas satu SD, dia yang nolong aku. Aku lupa bawa buku dan cuma mengisi tas dengan kotak bekal. Golan yang baru kukenal kasihan ngelihat aku menangis. Tanpa ngomong, sebuah buku tulis baru diulurkan padaku. Dia punya dua. Aku diam lantas terbahak-bahak melihat gigi ompongnya. Sejak saat itu kami berteman.
Tapi waktu kelas tiga, tiba-tiba Golan menghilang. Dia nggak masuk sekolah hampir tiga bulan. Bu guru cuma bilang kalau Golan sedang sakit keras. Selama itu hari-hariku sepi. Kalau ada anak yang usil nggak ada lagi yang ngebelain. Bekal yang kubawa nggak ada lagi yang minta. Aku kesepian.
Akhirnya, tibalah hari itu. Saat yang kutunggu-tunggu. Yaitu kembalinya Golan ke sekolah. Ibunya menggendongnya di punggung. Tubuh Golan tampak pucat dan sangat kurus. Tapi aku nggak peduli. Yang penting sahabat terbaikku kembali. Aku berlari menyambut dia dan memanggil-manggil namanya. Aku ingin Golan tahu kalau aku kangen banget padanya. Tapi kawanku itu malah sembunyi di punggung ibunya.
“Go! Turun Go! Ayo, ajari aku main gundu lagi!” Teriakku. Tanganku menarik-narik kakinya yang terjuntai lemas. Aku melihat kaki Golan mengecil sebelah. Apa yang telah terjadi dengannya? “Go, kamu kenapa?” Aku berhenti, berjongkok dan menangis. Ibu Golan mendekatiku.
“Kamu pasti yang bernama Alisa. Golan baru sembuh dari sakit. Tante boleh minta tolong padamu?” Aku menyeka air mata. Tentu saja boleh. Hatiku sangat senang dimintai bantuan sama ibu Golan. “Golan habis kena panas tinggi. Sekarang ini dia kesulitan untuk berjalan. Boleh tante minta tolong sama kamu untuk membantu dia di kelas? Tante akan menunggu di dekat kantin sekolah sampai pelajaran selesai.” Aku berusaha kasih senyum semanis mungkin dan menganggukkan kepala. “Terimakasih ya, Sa. Kamu anak yang sangat baik.”
Aku minta Ita pindah tempat, biar Golan bisa sebangku sama aku. Golan jadi pendiam banget. Tak apalah, yang penting dia masih mau ngedengerin aku. Dia nggak protes saat aku ngomong terus. Paling dia senyum dikit. Selama seminggu ibunya nungguin di dekat kantin. Tapi setelah itu cuma nganterin dan ngejemput aja. Aku yakin Golan akan aman bersamaku.
Setiap jam istirahat aku nemenin dia di kelas. Kubuka tempat bekalku dan dia ambil satu. Tapi dia nggak rakus lagi kayak dulu. Bahkan sepotong roti aja nggak habis.”Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Nggak lama kok.” Aku kebelet pipis. Golan mengangguk. Saat aku kembali, bangku kami dikerumuni banyak anak. Akupun menembus masuk dan melihat Golan tersungkur di lantai.
“Awas! Minggir! Minggir! Bini Golan datang!” Ledek salah satu temanku. Aku kesal pada mereka. Bukannya menolong, tapi malah nonton. Golan cuma pengin meraih pensil yang jatuh ke lantai, tapi kursinya roboh dan dia terjungkal. Tubuh Golan berat. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Akupun lari ke ruang guru cari bantuan. Sejak saat itu Golan nggak mau masuk sekolah lagi. Aku nyesel udah ninggalin Golan sendirian.
“Sa, ini bukan salahmu. Golan hanya belum siap untuk bertemu teman-temannya lagi. Nanti kalau sudah baik keadaannya, Golan pasti masuk sekolah lagi.” Ibu Golan menghibur. Tapi nyatanya hingga aku hampir lulus SMU, Golan nggak pernah masuk sekolah. Dia belajar sendiri di rumah. Hebatnya, dia malah lebih pintar dibanding aku yang nggak pernah bolos. Kalau ada PR atau soal latihan yang sulit, aku akan tanya padanya. Materi-materi yang susah dipahami pun jadi mudah setelah dia yang ngasih penjelasan. Kemampuannya menulis juga makin hebat. Dia suka nunjukin hasil karyanya untuk kukomentari. Lalu minta tolong buat ngeposin naskah-naskah itu. Tentu dia bakal kesulitan kalau harus naik turun kendaraan umum ke kantor pos. Setiap cerpennya dimuat, aku ditraktir.
“Dewo titip salam.” Ujar Golan sambil menggulung mie dengan garpu. Dewo itu sepupu Golan. Kata Golan, cowok itu ingin mendekatiku, tapi gimana ya, aku kan udah nyediain hatiku buat orang lain.
“Nggak usah ngomongin dia.”
“Sa, kamu udah tujuhbelas tahun. Udah waktunya pacaran. Nanti dikira nggak normal lho. Dewo kan anak baik. Kenapa kamu nggak kasih kesempatan?”
“Aku normal kok. Cuma, hatiku udah tertutup bagi cowok lain.”
“Berarti udah ada cowok yang nempatin hati kamu dong? Siapa?” Huh, sebel. Wajahnya sok polos. Siapa lagi kalau bukan kamu, Go! Apa kamu mati rasa sampai nggak bisa ngerasain kegembiraanku tiap kali dekat sama kamu? Apa kamu nggak punya hati sehingga nggak bisa ngerti arti binar mataku saat bicara padamu? Atau pura-pura nggak tau? Dasar bodoh! Kamu memang pintar soal fisika, kimia dan matematika, tapi tulalit soal cinta.
“Go, menurutmu cewek boleh nggak nembak duluan?”
“Boleh aja. Pikiran dan perasaan cewek kan juga harus dihargai.” Dia terus makan, sampai keringetan. Aku gelisah. Mungkin ini saat yang tepat.
“Go, cowok itu kamu.” Golan tersedak. Buru-buru dia minum dan menenangkan diri. “Aku sungguh-sungguh.” Kepalanya menggeleng. Sendok dan garpu dirapikan, padahal masih ada tiga butir bakso di mangkuk. Dia menatapku. Matanya kuning.
“Kamu memang bodoh, Sa.” Golan bangkit dengan bantuan tongkat, lalu membayar. Akupun menyudahi makanku dan mengikuti dia. Langkahnya tergesa-gesa.
“Go, maumu apa?” Aku menyejajari langkahnya.
“Lihat dirimu, lantas lihat aku! Kamu mau bikin masalah?”
“Semua orang punya hak sama dalam cinta kan, Go?”
“Pintarlah sedikit, Sa!”
“Maksudmu apa? Kamu takut bikin repot aku? Kamu ngerasa nggak pantes? Kurangmu maupun lebihmu udah jadi bagian hidupku, Go. Apa lagi?”
“Kamu salah! Sadarlah bahwa aku cuma memanfaatkan kedekatan kita!”
“Go!” Aku nggak percaya mendengar perkataan kasar itu. “Kamu bohong kan, Go?”
“Sa, aku udah pasang modem internet di rumah. Jadi mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi bantuin aku ngeposin naskah atau nemenin aku ke warnet. Aku serius.” Aku mundur beberapa langkah, lantas berlari dengan hati hancur.
Hari-hariku sepi lagi, bahkan lebih parah dibanding sepuluh tahun lalu saat Golan sakit. Kayaknya Golan bisa bertahan dengan perpisahan itu, tapi aku nggak bisa. Aku sempat punya niat buat baikan ke rumahnya, tapi dia terus menghindar. Yang selalu menemuiku cuma Dewo. Sampai akhirnya kudengar kabar kalau Golan pergi dan kerja di sebuah panti rehabilitasi penyandang tuna daksa.
“Kenapa dia pergi?” Tanyaku pada Dewo.
“Setahuku dia ingin hidupnya lebih berarti.”
Jadi meninggalkanku lebih berarti baginya. Sejak saat itu aku nggak pernah mencari Golan lagi. Aku benci dia. Dia egois, cuma mikirin kepentingan sendiri. Pengecut, lari dari cinta yang sebenarnya kami miliki. Apa benar dia takut jadi bebanku? Atau jangan-jangan mengalah bagi Dewo? Keterlaluan! Meski kadang merasa kangen dan kehilangan, tapi rasa itu segera kutebas. Tapi tunas cintaku selalu tumbuh lagi. Aku sangat tersiksa. Nggak mudah ngilangin seseorang dari hidup ini, meski dia udah nyakitin perasaanku.
“Sebenarnya Golan minta aku buat ngerahasiain semua ini, Sa. Tapi aku nggak tega sama kamu. Dia sakit parah. Kalau kamu mau, kuantar ketemu dia.” Tutur Dewo suatu petang. Golan tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Virus Hepatitis B membuat levernya keras dan bengkak, sehingga metabolisme tubuhnya terganggu. Dia udah nggak punya tenaga buat merespon kedatanganku. Nafsu makannya hilang dan sering muntah. Yang kulihat hanya tatapan mata yang melelehkan air mata. Sekujur tubuhnya jadi kuning. Virus itu sudah merusak dan bergabung dengan DNA-nya sehingga nggak bisa disembuhin. Obat-obatan hanya bisa mengurangi sedikit deritanya.
“Go, kenapa kamu keterlaluan banget? Ninggalin aku gitu aja. Padahal persahabatan bisa diperbaiki. Aku menghormati sikapmu kok.” Kuraih jari-jari Golan dan kuusap lembut. “Kamu setuju kan kalau kita baikan?” Lelehan di sudut mata kuning itu kian deras dan kuhapus dengan ujung jariku.
Tiap sore aku datang ke rumah sakit buat nemenin Golan. Aku bahagia melihat senyum tipisnya. “Aku tahu kamu udah ngebalas cintaku, Go.” Bisik hatiku. Hari-hariku kembali berharga karena Golan ada lagi dalam hidupku. Dia mulai mau makan, bisa bicara, mencoba duduk bersandar bantal, sedikit menulis, bahkan menggodaku. Aku senang dia mulai nunjukin emosinya. Kepalaku pun penuh harapan. Golan pasti akan pulih dan aku berjanji akan menjaganya.
“Sa, tadi malam, begitu kamu pulang. Golan sesak nafas. Dokter sudah berusaha keras. Daya tahan tubuhnya lemah, dia tidak sanggup bertahan. Dia pulang ke pangkuan Tuhan dengan senyum. Aku yakin di hari-hari terakhirnya dia amat bahagia, karena ada kamu di dekatnya.” Dewo menemuiku usai pemakaman itu. “Flashdisk ini tolong kausimpan. Ibunya bilang, kamu yang paling tau buat mengurus semuanya. ” Kuterima kotak berisi karya-karya berharga itu. Akan kukirim ke media.”Golan sangat sayang padamu, kau tau itu. Dia takut hepatitis-nya menulari kamu jika sudah menikah nanti, makanya dia menolak cintamu. Menjadi teman terdekatmu adalah hal paling indah baginya. Dia tertular secara menurun dari ibunya. Ibunya tertular dari ayahnya yang pecandu narkoba. Ayahnya sering gantian pakai alat suntik. Golan hanya ingin memutus rantai penyakit itu. Perlu kamu tau, aku nggak mungkin merebutmu dari dia. Itu cuma akal-akalan Golan supaya kau bisa menjauhinya pelan-pelan.”
“Golan nggak pernah cerita kalau dia sakit.”
“Mungkin dia ingin kau tetap gembira.”
“Keterlaluan. Beginikah cara dia membalas cintaku?”
“Yang bisa kita lakukan hanyalah menghargainya, Sa.” Aku menunduk pilu.
Oleh Rini Giri
Hari ini aku seneng banget. Soalnya begitu keluar dari gerbang sekolah, sebuah lambaian tangan dan senyum hangat menyambutku. Dia di seberang jalan dan tampak berkeringat. Pasti udah lama nunggu. Aku menyeberang dan mendekatinya.
“Mau makan bakso atau siomai?” Sambutnya.“Cerpenku dimuat lagi.”
“O ya?” Mataku terbelalak gembira. “Hebat! Hebat! Yang mana?”
“Yang kamu posin sebulan lalu.”
“Selamat ya…” Tangannya kujabat erat. Dia meringis. “Bakso plus es teler. Boleh ya?”
Dia mengangguk dan ngebetulin letak tongkat yang hampir sepuluh tahun menyangga tubuh kanannya. Kami berjalan menuju kedai bakso di ujung jalan.
Golan temanku sejak kecil. Hari pertama masuk kelas satu SD, dia yang nolong aku. Aku lupa bawa buku dan cuma mengisi tas dengan kotak bekal. Golan yang baru kukenal kasihan ngelihat aku menangis. Tanpa ngomong, sebuah buku tulis baru diulurkan padaku. Dia punya dua. Aku diam lantas terbahak-bahak melihat gigi ompongnya. Sejak saat itu kami berteman.
Tapi waktu kelas tiga, tiba-tiba Golan menghilang. Dia nggak masuk sekolah hampir tiga bulan. Bu guru cuma bilang kalau Golan sedang sakit keras. Selama itu hari-hariku sepi. Kalau ada anak yang usil nggak ada lagi yang ngebelain. Bekal yang kubawa nggak ada lagi yang minta. Aku kesepian.
Akhirnya, tibalah hari itu. Saat yang kutunggu-tunggu. Yaitu kembalinya Golan ke sekolah. Ibunya menggendongnya di punggung. Tubuh Golan tampak pucat dan sangat kurus. Tapi aku nggak peduli. Yang penting sahabat terbaikku kembali. Aku berlari menyambut dia dan memanggil-manggil namanya. Aku ingin Golan tahu kalau aku kangen banget padanya. Tapi kawanku itu malah sembunyi di punggung ibunya.
“Go! Turun Go! Ayo, ajari aku main gundu lagi!” Teriakku. Tanganku menarik-narik kakinya yang terjuntai lemas. Aku melihat kaki Golan mengecil sebelah. Apa yang telah terjadi dengannya? “Go, kamu kenapa?” Aku berhenti, berjongkok dan menangis. Ibu Golan mendekatiku.
“Kamu pasti yang bernama Alisa. Golan baru sembuh dari sakit. Tante boleh minta tolong padamu?” Aku menyeka air mata. Tentu saja boleh. Hatiku sangat senang dimintai bantuan sama ibu Golan. “Golan habis kena panas tinggi. Sekarang ini dia kesulitan untuk berjalan. Boleh tante minta tolong sama kamu untuk membantu dia di kelas? Tante akan menunggu di dekat kantin sekolah sampai pelajaran selesai.” Aku berusaha kasih senyum semanis mungkin dan menganggukkan kepala. “Terimakasih ya, Sa. Kamu anak yang sangat baik.”
Aku minta Ita pindah tempat, biar Golan bisa sebangku sama aku. Golan jadi pendiam banget. Tak apalah, yang penting dia masih mau ngedengerin aku. Dia nggak protes saat aku ngomong terus. Paling dia senyum dikit. Selama seminggu ibunya nungguin di dekat kantin. Tapi setelah itu cuma nganterin dan ngejemput aja. Aku yakin Golan akan aman bersamaku.
Setiap jam istirahat aku nemenin dia di kelas. Kubuka tempat bekalku dan dia ambil satu. Tapi dia nggak rakus lagi kayak dulu. Bahkan sepotong roti aja nggak habis.”Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Nggak lama kok.” Aku kebelet pipis. Golan mengangguk. Saat aku kembali, bangku kami dikerumuni banyak anak. Akupun menembus masuk dan melihat Golan tersungkur di lantai.
“Awas! Minggir! Minggir! Bini Golan datang!” Ledek salah satu temanku. Aku kesal pada mereka. Bukannya menolong, tapi malah nonton. Golan cuma pengin meraih pensil yang jatuh ke lantai, tapi kursinya roboh dan dia terjungkal. Tubuh Golan berat. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Akupun lari ke ruang guru cari bantuan. Sejak saat itu Golan nggak mau masuk sekolah lagi. Aku nyesel udah ninggalin Golan sendirian.
“Sa, ini bukan salahmu. Golan hanya belum siap untuk bertemu teman-temannya lagi. Nanti kalau sudah baik keadaannya, Golan pasti masuk sekolah lagi.” Ibu Golan menghibur. Tapi nyatanya hingga aku hampir lulus SMU, Golan nggak pernah masuk sekolah. Dia belajar sendiri di rumah. Hebatnya, dia malah lebih pintar dibanding aku yang nggak pernah bolos. Kalau ada PR atau soal latihan yang sulit, aku akan tanya padanya. Materi-materi yang susah dipahami pun jadi mudah setelah dia yang ngasih penjelasan. Kemampuannya menulis juga makin hebat. Dia suka nunjukin hasil karyanya untuk kukomentari. Lalu minta tolong buat ngeposin naskah-naskah itu. Tentu dia bakal kesulitan kalau harus naik turun kendaraan umum ke kantor pos. Setiap cerpennya dimuat, aku ditraktir.
“Dewo titip salam.” Ujar Golan sambil menggulung mie dengan garpu. Dewo itu sepupu Golan. Kata Golan, cowok itu ingin mendekatiku, tapi gimana ya, aku kan udah nyediain hatiku buat orang lain.
“Nggak usah ngomongin dia.”
“Sa, kamu udah tujuhbelas tahun. Udah waktunya pacaran. Nanti dikira nggak normal lho. Dewo kan anak baik. Kenapa kamu nggak kasih kesempatan?”
“Aku normal kok. Cuma, hatiku udah tertutup bagi cowok lain.”
“Berarti udah ada cowok yang nempatin hati kamu dong? Siapa?” Huh, sebel. Wajahnya sok polos. Siapa lagi kalau bukan kamu, Go! Apa kamu mati rasa sampai nggak bisa ngerasain kegembiraanku tiap kali dekat sama kamu? Apa kamu nggak punya hati sehingga nggak bisa ngerti arti binar mataku saat bicara padamu? Atau pura-pura nggak tau? Dasar bodoh! Kamu memang pintar soal fisika, kimia dan matematika, tapi tulalit soal cinta.
“Go, menurutmu cewek boleh nggak nembak duluan?”
“Boleh aja. Pikiran dan perasaan cewek kan juga harus dihargai.” Dia terus makan, sampai keringetan. Aku gelisah. Mungkin ini saat yang tepat.
“Go, cowok itu kamu.” Golan tersedak. Buru-buru dia minum dan menenangkan diri. “Aku sungguh-sungguh.” Kepalanya menggeleng. Sendok dan garpu dirapikan, padahal masih ada tiga butir bakso di mangkuk. Dia menatapku. Matanya kuning.
“Kamu memang bodoh, Sa.” Golan bangkit dengan bantuan tongkat, lalu membayar. Akupun menyudahi makanku dan mengikuti dia. Langkahnya tergesa-gesa.
“Go, maumu apa?” Aku menyejajari langkahnya.
“Lihat dirimu, lantas lihat aku! Kamu mau bikin masalah?”
“Semua orang punya hak sama dalam cinta kan, Go?”
“Pintarlah sedikit, Sa!”
“Maksudmu apa? Kamu takut bikin repot aku? Kamu ngerasa nggak pantes? Kurangmu maupun lebihmu udah jadi bagian hidupku, Go. Apa lagi?”
“Kamu salah! Sadarlah bahwa aku cuma memanfaatkan kedekatan kita!”
“Go!” Aku nggak percaya mendengar perkataan kasar itu. “Kamu bohong kan, Go?”
“Sa, aku udah pasang modem internet di rumah. Jadi mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi bantuin aku ngeposin naskah atau nemenin aku ke warnet. Aku serius.” Aku mundur beberapa langkah, lantas berlari dengan hati hancur.
Hari-hariku sepi lagi, bahkan lebih parah dibanding sepuluh tahun lalu saat Golan sakit. Kayaknya Golan bisa bertahan dengan perpisahan itu, tapi aku nggak bisa. Aku sempat punya niat buat baikan ke rumahnya, tapi dia terus menghindar. Yang selalu menemuiku cuma Dewo. Sampai akhirnya kudengar kabar kalau Golan pergi dan kerja di sebuah panti rehabilitasi penyandang tuna daksa.
“Kenapa dia pergi?” Tanyaku pada Dewo.
“Setahuku dia ingin hidupnya lebih berarti.”
Jadi meninggalkanku lebih berarti baginya. Sejak saat itu aku nggak pernah mencari Golan lagi. Aku benci dia. Dia egois, cuma mikirin kepentingan sendiri. Pengecut, lari dari cinta yang sebenarnya kami miliki. Apa benar dia takut jadi bebanku? Atau jangan-jangan mengalah bagi Dewo? Keterlaluan! Meski kadang merasa kangen dan kehilangan, tapi rasa itu segera kutebas. Tapi tunas cintaku selalu tumbuh lagi. Aku sangat tersiksa. Nggak mudah ngilangin seseorang dari hidup ini, meski dia udah nyakitin perasaanku.
“Sebenarnya Golan minta aku buat ngerahasiain semua ini, Sa. Tapi aku nggak tega sama kamu. Dia sakit parah. Kalau kamu mau, kuantar ketemu dia.” Tutur Dewo suatu petang. Golan tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Virus Hepatitis B membuat levernya keras dan bengkak, sehingga metabolisme tubuhnya terganggu. Dia udah nggak punya tenaga buat merespon kedatanganku. Nafsu makannya hilang dan sering muntah. Yang kulihat hanya tatapan mata yang melelehkan air mata. Sekujur tubuhnya jadi kuning. Virus itu sudah merusak dan bergabung dengan DNA-nya sehingga nggak bisa disembuhin. Obat-obatan hanya bisa mengurangi sedikit deritanya.
“Go, kenapa kamu keterlaluan banget? Ninggalin aku gitu aja. Padahal persahabatan bisa diperbaiki. Aku menghormati sikapmu kok.” Kuraih jari-jari Golan dan kuusap lembut. “Kamu setuju kan kalau kita baikan?” Lelehan di sudut mata kuning itu kian deras dan kuhapus dengan ujung jariku.
Tiap sore aku datang ke rumah sakit buat nemenin Golan. Aku bahagia melihat senyum tipisnya. “Aku tahu kamu udah ngebalas cintaku, Go.” Bisik hatiku. Hari-hariku kembali berharga karena Golan ada lagi dalam hidupku. Dia mulai mau makan, bisa bicara, mencoba duduk bersandar bantal, sedikit menulis, bahkan menggodaku. Aku senang dia mulai nunjukin emosinya. Kepalaku pun penuh harapan. Golan pasti akan pulih dan aku berjanji akan menjaganya.
“Sa, tadi malam, begitu kamu pulang. Golan sesak nafas. Dokter sudah berusaha keras. Daya tahan tubuhnya lemah, dia tidak sanggup bertahan. Dia pulang ke pangkuan Tuhan dengan senyum. Aku yakin di hari-hari terakhirnya dia amat bahagia, karena ada kamu di dekatnya.” Dewo menemuiku usai pemakaman itu. “Flashdisk ini tolong kausimpan. Ibunya bilang, kamu yang paling tau buat mengurus semuanya. ” Kuterima kotak berisi karya-karya berharga itu. Akan kukirim ke media.”Golan sangat sayang padamu, kau tau itu. Dia takut hepatitis-nya menulari kamu jika sudah menikah nanti, makanya dia menolak cintamu. Menjadi teman terdekatmu adalah hal paling indah baginya. Dia tertular secara menurun dari ibunya. Ibunya tertular dari ayahnya yang pecandu narkoba. Ayahnya sering gantian pakai alat suntik. Golan hanya ingin memutus rantai penyakit itu. Perlu kamu tau, aku nggak mungkin merebutmu dari dia. Itu cuma akal-akalan Golan supaya kau bisa menjauhinya pelan-pelan.”
“Golan nggak pernah cerita kalau dia sakit.”
“Mungkin dia ingin kau tetap gembira.”
“Keterlaluan. Beginikah cara dia membalas cintaku?”
“Yang bisa kita lakukan hanyalah menghargainya, Sa.” Aku menunduk pilu.
Rabu, 24 Februari 2010
SUSTER ROSITA KAMI
Suster Rosita Kami
Oleh Rini Giri
Dia adalah gadis paling menakjubkan di asrama kami. Bukan karena paling modis. Tapi, paling alami, trengginas, dan cerdas. Gadis lain tidak akan percaya diri jika ke kampus tanpa bedak, lipstik, dan parfum. Dia cukup menyisir rambut dan merapikan alisnya yang tebal itu. Kecantikannya sudah terpancar sempurna. Rambut hitam panjangnya, bulu mata lentiknya, bibir ungunya, dan kulitnya yang bersih. Benar-banar anugerah Surga yang jarang dimiliki sekaligus oleh seorang gadis.
Aku menjadi dekat dengannya karena tinggal dalam satu unit. Bersamanya terasa nyaman dan percaya. Mungkin karena dialah yang pertama kali menyambutku saat aku datang ke asrama. Dia yang membawakan rantang makan siangku.
“Aku dengar dari Suster Kepala siang ini akan datang warga baru, jadi tadi kuambilkan makan siang. Pastilah kamu belum sempat makan. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Tapi sayangnya siang ini aku ada kuliah, jadi harus buru-buru ke kampus. Maaf ya, tidak bisa menemanimu makan. Sampai nanti, Nania.” Tutur katanya bersahabat dan gerak tubuhnya seperti malaikat. Dia begitu baik, bahkan mau mengambilkan jatah makan siang untuk seseorang yang belum dikenalnya.
Dia memang berbeda. Setiap gadis akan merasa geer jika diperhatikan lawan jenisnya. Dia tidak. Bahkan sering menjodohkan teman-teman di asrama dengan pemuda yang sedang mendekatinya. Padahal pemuda-pemuda itu ganteng, berotak cemerlang, berhati berlian, kuliah di fakultas favorit, dan berkecukupan materi. Lantas apa yang dia cari? Atau jangan-jangan dia penyuka sesama jenis? Hi!
“Kalau aku lesbian, tentunya sudah sejak dulu aku naksir kamu, Nania!” Jawabnya gemas sambil menarik hidungku hingga pedas. Dia sebenarnya mau berteman dengan siapa saja tanpa pilih kasih. Bahkan teman yang sering datang menemuinya di asrama kebanyakan laki-laki. Begitu banyak sahabatnya, sampai-sampai banyak yang iri padanya. Tapi tak ada seorangpun yang berhasil jadi pacarnya. Katanya, kalau lebih tua dianggap kakak. Sedangkan yang sepantaran dianggap adik. Dia pernah cerita sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang menjadi pegangan hidupnya selama ini. Siapa?
Tidak berbedakpun seperti bidadari. Lantas dia terpikir untuk memotong rambutnya supaya terlihat jelek. Tapi yang ada justru dia semakin menawan karena kulit bersihnya kian memancar. Dan suatu malam aku berhasil mencegahnya merusak wajah dengan silet.
“Kenapa, Ros?” tanyaku sambil memeluknya erat. Rosita menangis, seolah menyesali keelokan jasmaninya. “Cerita, Ros. Cerita!” Bujukku.
“Nan, aku ingin sekali masuk biara.” Jawabnya dengan bibir bergetar.
“Kalau mau masuk biara gampang, Ros, tinggal daftar saja. Tapi nggak perlu membenci diri-sendiri. Yang barusan kaulakukan itu dosa, Ros. Kau sudah diberi keindahan oleh Tuhan, kenapa justru tidak bersyukur?” Aku hampir marah.
“Kecantikan ini menghalangiku, Nan.” Dia menangis sejadi-jadinya. Lantas setelah reda, dia mulai bercerita. Dulu, waktu masih SMU dia terkesan pada kata-kata seorang biarawati. Katanya, jika ingin menjadi orang berguna, bersiap-siaplah untuk bersedia bekerja bagi orang lain tanpa bayaran. Rosita gundah dengan ucapan itu.
Di sekitarnya, semua profesi dihargai dengan gaji bulanan atau honor. Satu-satunya profesi tanpa bayaran yang dikenalnya adalah menjadi rohaniwan atau rohaniwati. Mereka mengabdi sepenuh hati dalam kaul kemiskinan dan tulus bekerja agar orang lain merasa bahagia. Tanpa bayaran.
“Aku berfikir, hanya dengan menjadi seorang biarawati aku akan menemukan hidupku, Nan. Aku akan menemukan Tuhan. Tapi orangtuaku menentangnya. Aku ini anak perempuan satu-satunya. Semua yang dimiliki orangtuaku akan diwariskan padaku. Bahkan ayahku dengan keras mengatakan, buat apa aku jadi suster. Tidak punya keturunan, tidak punya harta, tidak punya kedudukan dalam masyarakat. Pekerjaannya berat tapi tetap saja dicela umat. Lagipula, siapa yang akan mengurus perusahaan dan ayah-ibu jika sudah tua. Semua dibebankan padaku. Toh jika ingin berguna, katanya, aku bisa jadi pengusaha yang gemar berderma. Tapi bukan itu maksudku, Nan. Lalu ayahku mengirimku ke sini, agar masuk ke Fakultas Ekonomi. Dia berharap, kelak aku menjadi pengusaha sukses. Apalagi wajahku menarik, tidak sulit untuk menjerat anak pejabat.”
“Oh, My God.” Mulutku hanya bolong melompong mendengar kisahnya. Kini aku jadi paham, kenapa dia jarang pulang ke rumahnya. Kami boleh pulang dua minggu sekali. Tapi Rosita bahkan tiga atau empat bulan baru pulang, itupun setelah dijemput oleh seseorang. Sepupu yang diutus ayahnya.
Sore itu saat aku akan pulang ke rumah dan melewati ruang tamu asrama, seorang pemuda yang biasa menjemput Rosita berdiri di pintu. Sepertinya, Rosita tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Mungkin pemuda itu belum janjian. Dengan sopan pemuda itu tersenyum padaku. Kuminta dia menunggu dan aku kembali ke kamar memanggil Rosita.
“Ros, sepupumu datang.” Tapi Rosita tidak mau menemui, bahkan menyuruhku untuk mengatakan kalau dia sedang istirahat tak bisa diganggu. “Ros, dia datang dari jauh membawa mandat ayahmu. Tolong hargai dia dong, Ros!” Bujukku. Rosita menggeleng. “Kamu boleh menolak tidak mau pulang, tapi paling tidak temui dia!” Rosita tetap membatu. Aku jadi hilang kesabaran. “Ros, dengar ya, percuma saja kamu ingin menjadi orang berguna bagi sesama tapi kamu tidak peduli pada keluargamu sendiri. Kamu tidak tahu kan sepupumu itu datang membawa berita apa? Bagaimana kalau ternyata ayah atau ibumu sakit? Kau tetap tidak peduli?” Akhirnya sahabatku itu luluh dan minta ditemani untuk bertemu sepupunya.
Ternyata benar, ayahnya sakit keras. Suster Kepala dan beberapa teman turut menjenguk. Rupanya ayahnya itu terhibur dengan kedatangan kami. Terlebih karena tersentuh oleh doa yang dipanjatkan Suster Kepala bagi kesembuhannya. Dengan suara lirih ayahnya ingin Rosita mendekat. Lantas membisikkan sesuatu ke telinganya. Senyum pun merekah di bibir ungu sahabatku itu dan cepat-cepat dipeluknya ayahnya.
Sebulan kemudian, Rosita sudah tidak tinggal di asrama lagi. Tapi saudara sepupunya itu masih sering datang untuk menemuiku. Dan pagi ini, adik iparku Suster Rosita, baru saja selesai mengucapkan kaul kekalnya. Nanti sore, dia akan berangkat ke Papua untuk melayani pendidikan anak-anak suku Amungme.
“Nan, titip ayah dan ibuku ya.” Ucapnya. Aku mengangguk pasti. Ayah dan ibu nya tampak haru dan merasa menjadi yang paling berbahagia atas peristiwa penuh berkat-Nya ini.
“Itu Suster Rosita kami!” Teriak anak-anakku sambil memeluk buliknya.
“Bukan. Sekarang sudah menjadi Suster Rosita milik semua orang.” Kami tertawa.
Oleh Rini Giri
Dia adalah gadis paling menakjubkan di asrama kami. Bukan karena paling modis. Tapi, paling alami, trengginas, dan cerdas. Gadis lain tidak akan percaya diri jika ke kampus tanpa bedak, lipstik, dan parfum. Dia cukup menyisir rambut dan merapikan alisnya yang tebal itu. Kecantikannya sudah terpancar sempurna. Rambut hitam panjangnya, bulu mata lentiknya, bibir ungunya, dan kulitnya yang bersih. Benar-banar anugerah Surga yang jarang dimiliki sekaligus oleh seorang gadis.
Aku menjadi dekat dengannya karena tinggal dalam satu unit. Bersamanya terasa nyaman dan percaya. Mungkin karena dialah yang pertama kali menyambutku saat aku datang ke asrama. Dia yang membawakan rantang makan siangku.
“Aku dengar dari Suster Kepala siang ini akan datang warga baru, jadi tadi kuambilkan makan siang. Pastilah kamu belum sempat makan. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Tapi sayangnya siang ini aku ada kuliah, jadi harus buru-buru ke kampus. Maaf ya, tidak bisa menemanimu makan. Sampai nanti, Nania.” Tutur katanya bersahabat dan gerak tubuhnya seperti malaikat. Dia begitu baik, bahkan mau mengambilkan jatah makan siang untuk seseorang yang belum dikenalnya.
Dia memang berbeda. Setiap gadis akan merasa geer jika diperhatikan lawan jenisnya. Dia tidak. Bahkan sering menjodohkan teman-teman di asrama dengan pemuda yang sedang mendekatinya. Padahal pemuda-pemuda itu ganteng, berotak cemerlang, berhati berlian, kuliah di fakultas favorit, dan berkecukupan materi. Lantas apa yang dia cari? Atau jangan-jangan dia penyuka sesama jenis? Hi!
“Kalau aku lesbian, tentunya sudah sejak dulu aku naksir kamu, Nania!” Jawabnya gemas sambil menarik hidungku hingga pedas. Dia sebenarnya mau berteman dengan siapa saja tanpa pilih kasih. Bahkan teman yang sering datang menemuinya di asrama kebanyakan laki-laki. Begitu banyak sahabatnya, sampai-sampai banyak yang iri padanya. Tapi tak ada seorangpun yang berhasil jadi pacarnya. Katanya, kalau lebih tua dianggap kakak. Sedangkan yang sepantaran dianggap adik. Dia pernah cerita sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang menjadi pegangan hidupnya selama ini. Siapa?
Tidak berbedakpun seperti bidadari. Lantas dia terpikir untuk memotong rambutnya supaya terlihat jelek. Tapi yang ada justru dia semakin menawan karena kulit bersihnya kian memancar. Dan suatu malam aku berhasil mencegahnya merusak wajah dengan silet.
“Kenapa, Ros?” tanyaku sambil memeluknya erat. Rosita menangis, seolah menyesali keelokan jasmaninya. “Cerita, Ros. Cerita!” Bujukku.
“Nan, aku ingin sekali masuk biara.” Jawabnya dengan bibir bergetar.
“Kalau mau masuk biara gampang, Ros, tinggal daftar saja. Tapi nggak perlu membenci diri-sendiri. Yang barusan kaulakukan itu dosa, Ros. Kau sudah diberi keindahan oleh Tuhan, kenapa justru tidak bersyukur?” Aku hampir marah.
“Kecantikan ini menghalangiku, Nan.” Dia menangis sejadi-jadinya. Lantas setelah reda, dia mulai bercerita. Dulu, waktu masih SMU dia terkesan pada kata-kata seorang biarawati. Katanya, jika ingin menjadi orang berguna, bersiap-siaplah untuk bersedia bekerja bagi orang lain tanpa bayaran. Rosita gundah dengan ucapan itu.
Di sekitarnya, semua profesi dihargai dengan gaji bulanan atau honor. Satu-satunya profesi tanpa bayaran yang dikenalnya adalah menjadi rohaniwan atau rohaniwati. Mereka mengabdi sepenuh hati dalam kaul kemiskinan dan tulus bekerja agar orang lain merasa bahagia. Tanpa bayaran.
“Aku berfikir, hanya dengan menjadi seorang biarawati aku akan menemukan hidupku, Nan. Aku akan menemukan Tuhan. Tapi orangtuaku menentangnya. Aku ini anak perempuan satu-satunya. Semua yang dimiliki orangtuaku akan diwariskan padaku. Bahkan ayahku dengan keras mengatakan, buat apa aku jadi suster. Tidak punya keturunan, tidak punya harta, tidak punya kedudukan dalam masyarakat. Pekerjaannya berat tapi tetap saja dicela umat. Lagipula, siapa yang akan mengurus perusahaan dan ayah-ibu jika sudah tua. Semua dibebankan padaku. Toh jika ingin berguna, katanya, aku bisa jadi pengusaha yang gemar berderma. Tapi bukan itu maksudku, Nan. Lalu ayahku mengirimku ke sini, agar masuk ke Fakultas Ekonomi. Dia berharap, kelak aku menjadi pengusaha sukses. Apalagi wajahku menarik, tidak sulit untuk menjerat anak pejabat.”
“Oh, My God.” Mulutku hanya bolong melompong mendengar kisahnya. Kini aku jadi paham, kenapa dia jarang pulang ke rumahnya. Kami boleh pulang dua minggu sekali. Tapi Rosita bahkan tiga atau empat bulan baru pulang, itupun setelah dijemput oleh seseorang. Sepupu yang diutus ayahnya.
Sore itu saat aku akan pulang ke rumah dan melewati ruang tamu asrama, seorang pemuda yang biasa menjemput Rosita berdiri di pintu. Sepertinya, Rosita tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Mungkin pemuda itu belum janjian. Dengan sopan pemuda itu tersenyum padaku. Kuminta dia menunggu dan aku kembali ke kamar memanggil Rosita.
“Ros, sepupumu datang.” Tapi Rosita tidak mau menemui, bahkan menyuruhku untuk mengatakan kalau dia sedang istirahat tak bisa diganggu. “Ros, dia datang dari jauh membawa mandat ayahmu. Tolong hargai dia dong, Ros!” Bujukku. Rosita menggeleng. “Kamu boleh menolak tidak mau pulang, tapi paling tidak temui dia!” Rosita tetap membatu. Aku jadi hilang kesabaran. “Ros, dengar ya, percuma saja kamu ingin menjadi orang berguna bagi sesama tapi kamu tidak peduli pada keluargamu sendiri. Kamu tidak tahu kan sepupumu itu datang membawa berita apa? Bagaimana kalau ternyata ayah atau ibumu sakit? Kau tetap tidak peduli?” Akhirnya sahabatku itu luluh dan minta ditemani untuk bertemu sepupunya.
Ternyata benar, ayahnya sakit keras. Suster Kepala dan beberapa teman turut menjenguk. Rupanya ayahnya itu terhibur dengan kedatangan kami. Terlebih karena tersentuh oleh doa yang dipanjatkan Suster Kepala bagi kesembuhannya. Dengan suara lirih ayahnya ingin Rosita mendekat. Lantas membisikkan sesuatu ke telinganya. Senyum pun merekah di bibir ungu sahabatku itu dan cepat-cepat dipeluknya ayahnya.
Sebulan kemudian, Rosita sudah tidak tinggal di asrama lagi. Tapi saudara sepupunya itu masih sering datang untuk menemuiku. Dan pagi ini, adik iparku Suster Rosita, baru saja selesai mengucapkan kaul kekalnya. Nanti sore, dia akan berangkat ke Papua untuk melayani pendidikan anak-anak suku Amungme.
“Nan, titip ayah dan ibuku ya.” Ucapnya. Aku mengangguk pasti. Ayah dan ibu nya tampak haru dan merasa menjadi yang paling berbahagia atas peristiwa penuh berkat-Nya ini.
“Itu Suster Rosita kami!” Teriak anak-anakku sambil memeluk buliknya.
“Bukan. Sekarang sudah menjadi Suster Rosita milik semua orang.” Kami tertawa.
TAK HARAP KEMBALI
TAK HARAP KEMBALI
Oleh Rini Giri
Sepagi itu, ketika belum ada cahaya secercahpun, Bapak sudah berangkat ke gedogan (tempat potong hewan). Pasti mau beli daging untuk pesta selapanan (satu bulan kelahiran) cucunya, karena kulihat Bapak membawa gluthuk (alat angkut pertanian dari kayu dengan dua gagang pendorong di belakang dan satu ban depan) dan beberapa ember besar. Pastilah daging sapi yang akan dibelinya dalam jumlah banyak.
Biasanya para jagal hewan menangani sapi-sapi yang baru saja dibeli dari para blantik (makelar sapi) di malam hari. Sehingga subuh begini, gedogan sudah dipenuhi daging segar dan para pembeli dalam partai besar. Jika matahari sudah mengintip sedikit saja, daging-daging merah segar itu sudah lenyap berpindah tempat ke kios-kios daging pasar tradisional, pabrik abon, dan restoran-restoran sambel tumpang (masakan khas daerah Ampel Boyolali).
Semoga daging yang dibeli Bapak bukan hasil glonggongan (sapi dicekoki air sampai kembung sebelum disembelih untuk menambah berat timbangan). Akhir-akhir ini, daerahku di pedalaman Jawa Tengah itu memang jadi sedikit terkenal gara-gara ditemukannya kasus daging haram dan tidak sehat itu. Semua stasiun televisi menyiarkannya dalam berita kriminal. Tapi aku yakin, ayahku pasti sudah memesan daging yang bagus dengan harga yang realistis.
Tapi sampai matahari memunculkan bayangan awan di lereng Gunung Merbabu dan anak-anak berseragam putih merah berlarian di jalan depan rumah karena takut terlambat masuk, ayahku belum pulang. Kemana dia? Dan daging segar sebanyak itu dibawa kemana? Padahal belum alih profesi sebagai pedagang daging di Pasar Ampel.
“Bapakmu mengantar daging ke rumah Bu Lurah. Dulu, waktu Mbakyumu menikah, Bu Lurah itu menyumbang kita duapuluh kilo daging sapi. Anak bungsu Bu Lurah yang kuliah di Solo itu kan sudah lulus dan kerja. Nyatanya di tempat kerja ketemu jodoh. Ya sudah, wong sudah cocok, ya dinikahkan saja. Akad nikah dan resepsinya besok siang. Nah, giliran bapak dan ibumu ini yang harus mengembalikan sumbangan Bu Lurah dulu.” Tutur ibuku ketika aku menanyakan perihal Bapak.
Aku jadi kecewa. Berarti selapanan anak Mbak Ning cuma akan dibancaki (syukuran kecil dengan tumpeng) pakai urap daun adas, peyek teri, dan telur rebus. Kebetulan kakak perempuanku itu pulang untuk melahirkan. Cuti tiga bulan akan dihabiskannya di tempat sejuk ini. Maklum, bayi itu anak pertamanya dan dia sangat mengandalkan Ibu. Apalagi suaminya juga kerja. Di sini, dia lebih aman. Banyak yang siaga.
“Maksud Ibu, Bapak dan Ibu juga harus ganti menyumbang duapuluh kilo daging sapi ke rumah Bu Lurah?” Aku tak habis mengerti. Menyumbang bukankah suatu urusan suka rela, tapi kenapa yang disumbang dibebani kewajiban untuk mengembalikan dalam jumlah yang sama?
“Ya itulah yang namanya pirukun (hidup layak bermasyarakat), Dar. Kamu juga harus tahu. Kamu kan juga akan hidup bermasyarakat. Harus mengenali gotong-royong cara orang ndeso. Kalau kamu mau dibantu orang ya harus mbantu orang lain terlebih dahulu. Kalau di desa tidak mau srawung (bergaul) ya kamu sakitpun tidak ada yang njenguk. Di desa itu harus saling, balas-membalas budi, tepa slira (tenggang rasa). Tuh, Mbakyumu, saat remaja lebih banyak sekolah di luar kota, ndak guyup dengan karang taruna di sini. Akibatnya, saat nikah, karang taruna juga tidak ada yang mau laden (jadi pramusaji pesta).”
Di dusun memang serba rumit. Di kota, kebaikan seseorang bisa saja dibeli dengan uang. Kebaikan tulus cukup dibalas dengan terimakasih. Praktis dan tidak perlu merasa berhutang budi. Tapi di sini, sumbangan barang harus diganti barang, uang dengan uang, tenaga dengan tenaga, sikap baik dengan sikap baik. Dulu, waktu aku kecil, pernah sakit gara-gara Ibu rewang (membantu memasak) di tempat tetangga yang hajatan tujuh hari tujuh malam. Aku sampai tak terurus. Gara-garanya, dulu waktu kakak laki-lakiku Mas Haryo disunat, tetangga itu juga rewang sampai pesta selesai. Ampun!
“Kalau ternyata Ibu tidak bisa mengembalikan sebanyak yang pernah Ibu terima bagaimana?” Bukankah memberi, menyumbang, menderma, atau apapun namanya itu harus iklas dan tidak menjadi beban, baik bagi pemberi maupun penerima?
“Ini sudah tradisi, Tole Darto. Penerima sumbangan sudah menyadari bahwa sebenarnya pemberian itu adalah hutang yang harus dikembalikan suatu saat nanti, mau tak mau. Kalau tidak, hubungan baik bisa runyam. Kalau perlu, sumbangan yang diterima itu dicatat supaya tidak lupa.” Tandas Ibu. Waduh, ternyata sistem ini sama saja dengan kartu kredit. Puyeng-puyeng! “Kita juga harus melihat pada siapa yang akan kita sumbang. Kalau terpandang ya kita sumbang banyak biar nanti kembalinya juga banyak. Kalau yang nyumbang orang kebanyakan atau malah di bawahnya ya sumbangannya rata-rata saja, jadi mereka tidak kelabakan saat mengembalikannya nanti.” Busyet!Bukankah seharusnya yang miskin disumbang lebih banyak?
Waktu melahirkan, Mbak Ning dijenguk kawan-kawan Ibu. Maklumlah sepak terjang Ibu dalam bersosial sangat lincah. Mereka membawakan kado dan memberi amplop. Dengan ucapan terimakasih yang mendalam Mbak Ning menerima hadiah-hadiah itu. Tapi Ibu sangat marah ketika tahu.
“Ning, kita kan tidak nompo (menerima sumbangan). Kalau ada orang yang ngasih harus kamu tolak dengan tegas. Kalau nompo, berarti kita juga harus menggelar pesta. Kalau tidak, bisa habis kita jadi omongan tetangga!” Mbak Ning sampai menangis waktu itu. Masakan menolak kado-kado yang sudah terbeli dan uang yang sudah dipersiapkan oleh para tamu tadi? Bukankah seharusnya menolak bisa menyinggung perasaan mereka? Tapi apalah daya, itulah sistem! Terpaksa paginya aku mengembalikan tumpukan kado dan amplop itu ke alamat pemberi dengan ucapan beribu maaf.
Bukankah kita selalu diajari untuk bermurah hati seperti Bapa di Sorga yang murah hati pada orang baik maupun orang jahat? Di mana lagi ada tempat untuk memberi tanpa harapan dikembalikan seperti itu? Memberi ya memberi saja. Kutengok kamar Mbak Ning. Dia sedang bercanda dengan bayinya. Mungkin hanya kasih seperti itulah yang tak mengharap balasan. Seperti Ibu mengasihiku. Puji Tuhan, di dunia ini masih ada relasi seindah itu.
“Mau kemana, Dar?” tanya Ibu suatu pagi.
“Mau ikut sambatan (gotong-royong membangun rumah) di rumah Lik Sardi.”
“Kurang kerjaan saja! Dulu waktu kita membetulkan kandang sapi di belakang itu, dia tidak membantu kok!”
“Ah, tak apa, Bu. Membantu ya membantu saja, bukan karena pernah dibantu atau mengharap bantuan.” Dengan semangat kutenteng peralatan tukang ke rumah Lik Sardi. (Okt’08)
Oleh Rini Giri
Sepagi itu, ketika belum ada cahaya secercahpun, Bapak sudah berangkat ke gedogan (tempat potong hewan). Pasti mau beli daging untuk pesta selapanan (satu bulan kelahiran) cucunya, karena kulihat Bapak membawa gluthuk (alat angkut pertanian dari kayu dengan dua gagang pendorong di belakang dan satu ban depan) dan beberapa ember besar. Pastilah daging sapi yang akan dibelinya dalam jumlah banyak.
Biasanya para jagal hewan menangani sapi-sapi yang baru saja dibeli dari para blantik (makelar sapi) di malam hari. Sehingga subuh begini, gedogan sudah dipenuhi daging segar dan para pembeli dalam partai besar. Jika matahari sudah mengintip sedikit saja, daging-daging merah segar itu sudah lenyap berpindah tempat ke kios-kios daging pasar tradisional, pabrik abon, dan restoran-restoran sambel tumpang (masakan khas daerah Ampel Boyolali).
Semoga daging yang dibeli Bapak bukan hasil glonggongan (sapi dicekoki air sampai kembung sebelum disembelih untuk menambah berat timbangan). Akhir-akhir ini, daerahku di pedalaman Jawa Tengah itu memang jadi sedikit terkenal gara-gara ditemukannya kasus daging haram dan tidak sehat itu. Semua stasiun televisi menyiarkannya dalam berita kriminal. Tapi aku yakin, ayahku pasti sudah memesan daging yang bagus dengan harga yang realistis.
Tapi sampai matahari memunculkan bayangan awan di lereng Gunung Merbabu dan anak-anak berseragam putih merah berlarian di jalan depan rumah karena takut terlambat masuk, ayahku belum pulang. Kemana dia? Dan daging segar sebanyak itu dibawa kemana? Padahal belum alih profesi sebagai pedagang daging di Pasar Ampel.
“Bapakmu mengantar daging ke rumah Bu Lurah. Dulu, waktu Mbakyumu menikah, Bu Lurah itu menyumbang kita duapuluh kilo daging sapi. Anak bungsu Bu Lurah yang kuliah di Solo itu kan sudah lulus dan kerja. Nyatanya di tempat kerja ketemu jodoh. Ya sudah, wong sudah cocok, ya dinikahkan saja. Akad nikah dan resepsinya besok siang. Nah, giliran bapak dan ibumu ini yang harus mengembalikan sumbangan Bu Lurah dulu.” Tutur ibuku ketika aku menanyakan perihal Bapak.
Aku jadi kecewa. Berarti selapanan anak Mbak Ning cuma akan dibancaki (syukuran kecil dengan tumpeng) pakai urap daun adas, peyek teri, dan telur rebus. Kebetulan kakak perempuanku itu pulang untuk melahirkan. Cuti tiga bulan akan dihabiskannya di tempat sejuk ini. Maklum, bayi itu anak pertamanya dan dia sangat mengandalkan Ibu. Apalagi suaminya juga kerja. Di sini, dia lebih aman. Banyak yang siaga.
“Maksud Ibu, Bapak dan Ibu juga harus ganti menyumbang duapuluh kilo daging sapi ke rumah Bu Lurah?” Aku tak habis mengerti. Menyumbang bukankah suatu urusan suka rela, tapi kenapa yang disumbang dibebani kewajiban untuk mengembalikan dalam jumlah yang sama?
“Ya itulah yang namanya pirukun (hidup layak bermasyarakat), Dar. Kamu juga harus tahu. Kamu kan juga akan hidup bermasyarakat. Harus mengenali gotong-royong cara orang ndeso. Kalau kamu mau dibantu orang ya harus mbantu orang lain terlebih dahulu. Kalau di desa tidak mau srawung (bergaul) ya kamu sakitpun tidak ada yang njenguk. Di desa itu harus saling, balas-membalas budi, tepa slira (tenggang rasa). Tuh, Mbakyumu, saat remaja lebih banyak sekolah di luar kota, ndak guyup dengan karang taruna di sini. Akibatnya, saat nikah, karang taruna juga tidak ada yang mau laden (jadi pramusaji pesta).”
Di dusun memang serba rumit. Di kota, kebaikan seseorang bisa saja dibeli dengan uang. Kebaikan tulus cukup dibalas dengan terimakasih. Praktis dan tidak perlu merasa berhutang budi. Tapi di sini, sumbangan barang harus diganti barang, uang dengan uang, tenaga dengan tenaga, sikap baik dengan sikap baik. Dulu, waktu aku kecil, pernah sakit gara-gara Ibu rewang (membantu memasak) di tempat tetangga yang hajatan tujuh hari tujuh malam. Aku sampai tak terurus. Gara-garanya, dulu waktu kakak laki-lakiku Mas Haryo disunat, tetangga itu juga rewang sampai pesta selesai. Ampun!
“Kalau ternyata Ibu tidak bisa mengembalikan sebanyak yang pernah Ibu terima bagaimana?” Bukankah memberi, menyumbang, menderma, atau apapun namanya itu harus iklas dan tidak menjadi beban, baik bagi pemberi maupun penerima?
“Ini sudah tradisi, Tole Darto. Penerima sumbangan sudah menyadari bahwa sebenarnya pemberian itu adalah hutang yang harus dikembalikan suatu saat nanti, mau tak mau. Kalau tidak, hubungan baik bisa runyam. Kalau perlu, sumbangan yang diterima itu dicatat supaya tidak lupa.” Tandas Ibu. Waduh, ternyata sistem ini sama saja dengan kartu kredit. Puyeng-puyeng! “Kita juga harus melihat pada siapa yang akan kita sumbang. Kalau terpandang ya kita sumbang banyak biar nanti kembalinya juga banyak. Kalau yang nyumbang orang kebanyakan atau malah di bawahnya ya sumbangannya rata-rata saja, jadi mereka tidak kelabakan saat mengembalikannya nanti.” Busyet!Bukankah seharusnya yang miskin disumbang lebih banyak?
Waktu melahirkan, Mbak Ning dijenguk kawan-kawan Ibu. Maklumlah sepak terjang Ibu dalam bersosial sangat lincah. Mereka membawakan kado dan memberi amplop. Dengan ucapan terimakasih yang mendalam Mbak Ning menerima hadiah-hadiah itu. Tapi Ibu sangat marah ketika tahu.
“Ning, kita kan tidak nompo (menerima sumbangan). Kalau ada orang yang ngasih harus kamu tolak dengan tegas. Kalau nompo, berarti kita juga harus menggelar pesta. Kalau tidak, bisa habis kita jadi omongan tetangga!” Mbak Ning sampai menangis waktu itu. Masakan menolak kado-kado yang sudah terbeli dan uang yang sudah dipersiapkan oleh para tamu tadi? Bukankah seharusnya menolak bisa menyinggung perasaan mereka? Tapi apalah daya, itulah sistem! Terpaksa paginya aku mengembalikan tumpukan kado dan amplop itu ke alamat pemberi dengan ucapan beribu maaf.
Bukankah kita selalu diajari untuk bermurah hati seperti Bapa di Sorga yang murah hati pada orang baik maupun orang jahat? Di mana lagi ada tempat untuk memberi tanpa harapan dikembalikan seperti itu? Memberi ya memberi saja. Kutengok kamar Mbak Ning. Dia sedang bercanda dengan bayinya. Mungkin hanya kasih seperti itulah yang tak mengharap balasan. Seperti Ibu mengasihiku. Puji Tuhan, di dunia ini masih ada relasi seindah itu.
“Mau kemana, Dar?” tanya Ibu suatu pagi.
“Mau ikut sambatan (gotong-royong membangun rumah) di rumah Lik Sardi.”
“Kurang kerjaan saja! Dulu waktu kita membetulkan kandang sapi di belakang itu, dia tidak membantu kok!”
“Ah, tak apa, Bu. Membantu ya membantu saja, bukan karena pernah dibantu atau mengharap bantuan.” Dengan semangat kutenteng peralatan tukang ke rumah Lik Sardi. (Okt’08)
NEGERI TANPA TAPAL BATAS
NEGERI TANPA TAPAL BATAS
Oleh Rini Giri
Hari itu tepat setahun wafatnya Kakek Yus. Sungguh beruntung, karena keesokan harinya Tri Hari Suci dimulai dan pemilu legislatif digelar. Keluarga tampak bahagia bisa menyelenggarakan misa arwah bagi almarhum. Andre duduk bersandar dekat pintu setelah selesai memunguti gelas air mineral sisa para tamu. Tikar yang tadi dipakai belum digulung. Dia lelah. Seharian sibuk mempersiapkan acara itu. Pinjam tikar ke pos RT, mengambil pesanan kue, mengatur altar, dan menjemput Romo di pasturan. Sementara para sepupu hanya haha-hihi sambil duduk-duduk main HP.
Andre tidak iri. Kakek Yus menghabiskan masa tua dan meninggal di rumah itu bersama keluarganya. Dia adalah cucu terdekat secara fisik dan emosional. Jadi dirinya paham jika sepupu yang lain kurang antusias terlibat dalam perhelatan itu, karena mereka tidak memiliki ikatan batin pada Kakek Yus sedalam yang ia miliki.
Angin malam berhembus melalui pintu dan kusen jendela. Ibunya sibuk membersihkan remah-remah makanan yang mengotori tikar. “Kalau capek, istirahat saja di kamar. Biar ibu yang membereskan tikar.” Andre mengangguk. Di luar sana cahaya bulan keemasan menimpa pohon-pohon buah yang dulu ditanam kakeknya. Tiba-tiba terselip rindu pada sosok yang sering mengajaknya duduk-duduk di teras sambil main catur dan menyeruput wedang jahe itu.
Andre terhenyak. Seseorang yang baru datang menegurnya. “Kenapa mendung, Ndre? Kamu kelelahan ya?” Dia merasa mengenal wajah itu. Mirip bapaknya. Tapi bukan. “Bapak siapa?” Tanya Andre terbata. Wajah itu tersenyum, seteduh malam dengan sinar bulan yang tertahan barisan awan. Bajunya bercahaya seperti pagi. Angin dingin menyibak tirai. Andre panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada orang lain. Ibunya sudah pergi. Para sepupu sudah berhenti bercanda. Hanya dia dan lelaki itu. Andre bengong. “Aku rakyat negeri yang terjanji. Rajanya adil dan benar serta diliputi belas kasih. Para pelayan hidup dalam kekudusan.” Lelaki itu mengulurkan tangan membantu Andre berdiri. Dalam diam mereka berjalan melampaui pohon dan sinar bulan.
“Segala bangsa, suku, golongan, dan agama yang baik dan benar boleh masuk ke negeri itu. Tak pernah Sang Raja melakukan ekspansi untuk memperluas kekuasaan. Negeri itu menjadi luas dengan sendirinya, segala bangsa dengan suka-rela menggabungkan diri sebagai sekutu. Raja memberlakukan bahasa cinta sebagai bahasa persatuan, semua sekutu dari segala ujung bumi bisa memahaminya. Hukum yang diterapkan adalah kasih yang mengatasi segala hukum buatan manusia, sehingga beribu-ribu suku tidak mungkin buta hukum. Semua orang punya dua mata, tapi hanya melihat kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kedamaian.
Kebohongan, kesewenang-wenangan, hawa nafsu, dan huru-hara sudah lenyap. Tak ada lagi kematian, tangis dan duka. Tak ada lagi sakit dan kelaparan. Kecacatan berubah menjadi kesempurnaan. Yang ada hanya damai dan sukacita. Di sini masih ada perang, di sana hanya ada persahabatan abadi. Di sini ada demonstrasi, di sana ada saling mendengar. Di sini masih ada korupsi, di sana yang ada saling peduli. Di sini orang harus antri berdesakan lantas rusuh hanya karena menunggu BLT atau pembagian sembako, di sana kami mengantri untuk diberkati.” Andre sangat antusias mendengar.
“Negeri itu tak berpengawal, tak berserdadu dan algojo. Yang ada hanyalah para pelayan kudus. Mereka hidup suci. Kami tak butuh polisi, hansip, satpam, apalagi satpol PP untuk menertibkan lingkungan. Kami saling mengasihi, mengerti, menghormati, membantu dan melayani sehingga kehidupan berjalan tertib dengan sendirinya.
Tak ada ranjau di perbatasan, tak ada tentara di garis depan, sebab negeri itu tanpa tapal batas. Ia mengundang siapa saja yang baik dan benar untuk menjadi warga negara istimewanya. Semua suku bangsa bisa menjadi satu saudara. Tak ada lagi kotak dan sekat yang menimbulkan perpecahan antar golongan. Semua sama istimewanya di hadapan Raja. Negeri itu telah dibangun sejak semula, tidak akan lekang oleh masa, tak roboh oleh musuh, dan tak terbatasi waktu. Ada selamanya.” Mereka sampai di jalan raya. Bulan tersenyum.
“Jadi rakyat negeri bapak tak perlu pusing dengan gambar-gambar orang, nomor-nomor urut, dan simbol-simbol golongan yang bergelantungan di pohon-pohon seperti itu?” Tanya Andre. Lelaki yang kian berkilau itu tersenyum. Menggeleng.
“Pelayan-pelayan kudus yang berdedikasi tinggi, jujur, dan setia akan senang hati menyampaikan aspirasi kami. Bahkan ketika mulut belum terucap, mereka sudah paham apa yang ingin kita sampaikan. Meski pemimpin, tapi yang tinggi itu justru melayani dan melindungi kami.”
“Negeri itu tanpa batas dan tanpa serdadu, apa tidak khawatir akan adanya penyusup, bahaya laten, atau tindakan makar?”
“Negeri itu seperti obat bagi yang sakit, hiburan bagi yang duka, makanan bagi yang lapar, dan air sejuk bagi yang dahaga. Bukankah kamu akan menjual apapun yang kaupunya hanya untuk membeli obat? Semua merasa terpilih dan memiliki, sehingga menjaga negeri itu dengan setia. Bodoh bukan membuang roti saat perut lapar?”
“Mungkinkah negeri itu akan meluas sampai kemari?” Harap Andre.
“Negeri itu dijanjikan bagi yang baik dan benar.” Oh alangkah indahnya menikmati keadilan negeri itu. Tak ada kejahatan, kerakusan, dendam, kebencian, dan mementingkan diri sendiri. Bumi menjadi hancur karena semua nafsu jelek itu. Manusia menjadi teraniaya, tertindas, dan tak berharga karena segala sifat jahanam itu. Oh negeri yang damai, harapan bagi seluruh penduduk bumi. Tanpa perang, kehancuran, tangisan anak-anak, jeritan pilu para ibu, dan bau mesiu. Andre masih ingin bersama, tapi lelaki dan cahaya bulan beringsut pergi, ufuk timur mulai memerah.
“Ndre, bangun! Hari ini kamu harus nyontreng! TPS buka jam tujuh!” Andre tergagap. Dia membuka mata dan merasakan silau pagi. Semalam dia tertidur di atas tikar. Samar-samar matanya menangkap wajah lelaki yang bersinar itu pada foto keluarga di dinding. Wajah kakeknya kala muda. “Aku mimpi ketemu kakek, Bu.” Ibunya tersenyum. “Sepertinya sudah damai dan bahagia.”
“Amin.” Ucap ibunya. Andre menggeliat bangun. Para tetangga lewat dengan baju necis menuju TPS. Wajah mereka berkilau. Oh kenapa negeri itu hanya lewat dalam mimpi dan hanya menjadi milik mereka yang sudah almarhum? Apa yang masih hidup tak berdaya mewujudkannya? Yah semoga saja dengan mencontreng hari itu, yang hidup bisa mendapatkan pelayan-pelayan kudus yang rendah hati, jujur, dan setia sehingga kemakmuran dan keadilan bangsa ini tak sebatas impian.
Oleh Rini Giri
Hari itu tepat setahun wafatnya Kakek Yus. Sungguh beruntung, karena keesokan harinya Tri Hari Suci dimulai dan pemilu legislatif digelar. Keluarga tampak bahagia bisa menyelenggarakan misa arwah bagi almarhum. Andre duduk bersandar dekat pintu setelah selesai memunguti gelas air mineral sisa para tamu. Tikar yang tadi dipakai belum digulung. Dia lelah. Seharian sibuk mempersiapkan acara itu. Pinjam tikar ke pos RT, mengambil pesanan kue, mengatur altar, dan menjemput Romo di pasturan. Sementara para sepupu hanya haha-hihi sambil duduk-duduk main HP.
Andre tidak iri. Kakek Yus menghabiskan masa tua dan meninggal di rumah itu bersama keluarganya. Dia adalah cucu terdekat secara fisik dan emosional. Jadi dirinya paham jika sepupu yang lain kurang antusias terlibat dalam perhelatan itu, karena mereka tidak memiliki ikatan batin pada Kakek Yus sedalam yang ia miliki.
Angin malam berhembus melalui pintu dan kusen jendela. Ibunya sibuk membersihkan remah-remah makanan yang mengotori tikar. “Kalau capek, istirahat saja di kamar. Biar ibu yang membereskan tikar.” Andre mengangguk. Di luar sana cahaya bulan keemasan menimpa pohon-pohon buah yang dulu ditanam kakeknya. Tiba-tiba terselip rindu pada sosok yang sering mengajaknya duduk-duduk di teras sambil main catur dan menyeruput wedang jahe itu.
Andre terhenyak. Seseorang yang baru datang menegurnya. “Kenapa mendung, Ndre? Kamu kelelahan ya?” Dia merasa mengenal wajah itu. Mirip bapaknya. Tapi bukan. “Bapak siapa?” Tanya Andre terbata. Wajah itu tersenyum, seteduh malam dengan sinar bulan yang tertahan barisan awan. Bajunya bercahaya seperti pagi. Angin dingin menyibak tirai. Andre panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada orang lain. Ibunya sudah pergi. Para sepupu sudah berhenti bercanda. Hanya dia dan lelaki itu. Andre bengong. “Aku rakyat negeri yang terjanji. Rajanya adil dan benar serta diliputi belas kasih. Para pelayan hidup dalam kekudusan.” Lelaki itu mengulurkan tangan membantu Andre berdiri. Dalam diam mereka berjalan melampaui pohon dan sinar bulan.
“Segala bangsa, suku, golongan, dan agama yang baik dan benar boleh masuk ke negeri itu. Tak pernah Sang Raja melakukan ekspansi untuk memperluas kekuasaan. Negeri itu menjadi luas dengan sendirinya, segala bangsa dengan suka-rela menggabungkan diri sebagai sekutu. Raja memberlakukan bahasa cinta sebagai bahasa persatuan, semua sekutu dari segala ujung bumi bisa memahaminya. Hukum yang diterapkan adalah kasih yang mengatasi segala hukum buatan manusia, sehingga beribu-ribu suku tidak mungkin buta hukum. Semua orang punya dua mata, tapi hanya melihat kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kedamaian.
Kebohongan, kesewenang-wenangan, hawa nafsu, dan huru-hara sudah lenyap. Tak ada lagi kematian, tangis dan duka. Tak ada lagi sakit dan kelaparan. Kecacatan berubah menjadi kesempurnaan. Yang ada hanya damai dan sukacita. Di sini masih ada perang, di sana hanya ada persahabatan abadi. Di sini ada demonstrasi, di sana ada saling mendengar. Di sini masih ada korupsi, di sana yang ada saling peduli. Di sini orang harus antri berdesakan lantas rusuh hanya karena menunggu BLT atau pembagian sembako, di sana kami mengantri untuk diberkati.” Andre sangat antusias mendengar.
“Negeri itu tak berpengawal, tak berserdadu dan algojo. Yang ada hanyalah para pelayan kudus. Mereka hidup suci. Kami tak butuh polisi, hansip, satpam, apalagi satpol PP untuk menertibkan lingkungan. Kami saling mengasihi, mengerti, menghormati, membantu dan melayani sehingga kehidupan berjalan tertib dengan sendirinya.
Tak ada ranjau di perbatasan, tak ada tentara di garis depan, sebab negeri itu tanpa tapal batas. Ia mengundang siapa saja yang baik dan benar untuk menjadi warga negara istimewanya. Semua suku bangsa bisa menjadi satu saudara. Tak ada lagi kotak dan sekat yang menimbulkan perpecahan antar golongan. Semua sama istimewanya di hadapan Raja. Negeri itu telah dibangun sejak semula, tidak akan lekang oleh masa, tak roboh oleh musuh, dan tak terbatasi waktu. Ada selamanya.” Mereka sampai di jalan raya. Bulan tersenyum.
“Jadi rakyat negeri bapak tak perlu pusing dengan gambar-gambar orang, nomor-nomor urut, dan simbol-simbol golongan yang bergelantungan di pohon-pohon seperti itu?” Tanya Andre. Lelaki yang kian berkilau itu tersenyum. Menggeleng.
“Pelayan-pelayan kudus yang berdedikasi tinggi, jujur, dan setia akan senang hati menyampaikan aspirasi kami. Bahkan ketika mulut belum terucap, mereka sudah paham apa yang ingin kita sampaikan. Meski pemimpin, tapi yang tinggi itu justru melayani dan melindungi kami.”
“Negeri itu tanpa batas dan tanpa serdadu, apa tidak khawatir akan adanya penyusup, bahaya laten, atau tindakan makar?”
“Negeri itu seperti obat bagi yang sakit, hiburan bagi yang duka, makanan bagi yang lapar, dan air sejuk bagi yang dahaga. Bukankah kamu akan menjual apapun yang kaupunya hanya untuk membeli obat? Semua merasa terpilih dan memiliki, sehingga menjaga negeri itu dengan setia. Bodoh bukan membuang roti saat perut lapar?”
“Mungkinkah negeri itu akan meluas sampai kemari?” Harap Andre.
“Negeri itu dijanjikan bagi yang baik dan benar.” Oh alangkah indahnya menikmati keadilan negeri itu. Tak ada kejahatan, kerakusan, dendam, kebencian, dan mementingkan diri sendiri. Bumi menjadi hancur karena semua nafsu jelek itu. Manusia menjadi teraniaya, tertindas, dan tak berharga karena segala sifat jahanam itu. Oh negeri yang damai, harapan bagi seluruh penduduk bumi. Tanpa perang, kehancuran, tangisan anak-anak, jeritan pilu para ibu, dan bau mesiu. Andre masih ingin bersama, tapi lelaki dan cahaya bulan beringsut pergi, ufuk timur mulai memerah.
“Ndre, bangun! Hari ini kamu harus nyontreng! TPS buka jam tujuh!” Andre tergagap. Dia membuka mata dan merasakan silau pagi. Semalam dia tertidur di atas tikar. Samar-samar matanya menangkap wajah lelaki yang bersinar itu pada foto keluarga di dinding. Wajah kakeknya kala muda. “Aku mimpi ketemu kakek, Bu.” Ibunya tersenyum. “Sepertinya sudah damai dan bahagia.”
“Amin.” Ucap ibunya. Andre menggeliat bangun. Para tetangga lewat dengan baju necis menuju TPS. Wajah mereka berkilau. Oh kenapa negeri itu hanya lewat dalam mimpi dan hanya menjadi milik mereka yang sudah almarhum? Apa yang masih hidup tak berdaya mewujudkannya? Yah semoga saja dengan mencontreng hari itu, yang hidup bisa mendapatkan pelayan-pelayan kudus yang rendah hati, jujur, dan setia sehingga kemakmuran dan keadilan bangsa ini tak sebatas impian.
LUKISAN SUNGAI KELABU
LUKISAN SUNGAI KELABU
Oleh Rini Giri
Arum menerima kiriman amplop coklat besar dari Nikolas. Tebal sekali isinya. Ternyata, lukisan-lukisan hasil karya anak-anak Amungme. Sebuah lukisan membuat bulu kuduknya berdiri. Saat dia masih kecil, ibunya selalu mengajari mewarnai gambar sesuai dengan warna yang sesungguhnya. Gunung, laut, sungai dan langit tentu dengan crayon biru bersih. Pohon dan rerimbunan daun tentulah dengan crayon hijau cerah. Tanah dan batang pohon pastilah crayon cokelat terang. Begitu pula ketika dia mengajari menggambar baik pada murid-muridnya di Timika dulu maupun sekarang di tepi Ciliwung. Tapi ada apa dengan lukisan yang dipegangnya itu? Mungkinkah Nikolas salah memberi arahan pada para muridnya? Sehingga sungaipun airnya dipoles dengan crayon putih kekuningan, pohon-pohon tanpa daun bahkan tinggal tonggaknya yang menghitam, serta tanah sekeliling yang berwarna abu-abu.
Setamat SPG, Arum pergi ke Timika. Dia mendaftar sebagai guru sekolah dasar yang didirikan para misionaris di tepi Sungai Ajkwa yang tenang mengalir. Kala itu, 1971, tekad dan kemauannya sangat berarti untuk diterjunkan di belantara Irian Jaya.
Murid-muridnya adalah anak-anak suku Amungme yang datang dari beberapa kampung. Puncak gunung Nemangkawi Nenggok yang lamat-lamat terlihat di sebelah utara sungai, membuatnya terpukau. Juga gunung-gunung berkadar tembaga dan emas yang berwarna kuning, merah, dan cokelat kala senja itu. Hutan tropis perawan yang hijau di sepanjang sungai, membuatnya betah.
Kala itu bolduser mulai berdatangan untuk mengeruk Gunung Bijih yang terkenal dengan nama Estberg. Mungkin sampai menjadi ceruk. Alhasil orang-orang Amungme ini terpaksa hengkang dari tanahnya dan tinggal di kaki pegunungan.
Arum sempat bertanya, kenapa anak-anak bangsa ini harus pergi dari tanah leluhurnya demi kepentingan orang lain? Jawabannya, lagi-lagi untuk pembangunan. Supaya jalan-jalan bisa dibangun, sekolah didirikan, dan suku-suku pedalaman itu belajar modernisasi. Biar mereka pakai baju dan bukan koteka lagi. Tapi jauh di lubuk hatinya, Arum punya jawaban. Bukan. Bukan untuk pembangunan. Tapi untuk memperkaya orang-orang yang sudah kaya. Nyatanya suku Amungme justru harus pergi dari tanahnya sendiri. Padahal di kalangan mereka, tinggal di tanah orang berarti kehilangan martabat. Warga suku satu belum tentu bisa berdampingan dengan suku lain dalam satu wilayah, sebab mereka mempunyai sejarah nenek moyang sendiri-sendiri.
Dalam sebuah perjalanan, Arum bertanya pada muridnya yang selalu tampak geram setiap kali melemparkan pandangan ke puncak gunung itu. “Ada apa denganmu, Nikolas?” Orang Amungme adalah pejalan kaki yang tangguh. Naik turun gunung menyusur jalan setapak yang dirintis nenek moyang adalah hal biasa. Kini mereka tak bisa lagi melintasi jalur-jalur gunung yang masuk areal pertambangan.
“Seandainya saya jadi Ibu Guru, Ibu juga akan marah toch? Ibu guru pasti marah lihat orang lain bikin kebun di halaman kita. Pasti ingin usir itu orang toch?” Arum hanya melongo mendengar pengakuan sedalam itu keluar dari mulut anak belasan tahun.
Dia tidak pernah menyesal telah dikirim ke tempat itu. Murid-muridnya semua berlian. Mereka juga punya hak untuk belajar. Tidak ada yang bodoh dalam kamus Arum. Yang ada hanyalah belum tahu atau terlambat tahu. Kewajiban bagi yang tahu untuk memberi tahu. Tak ada yang bodoh lagi jika semua sudah tahu. Dia bercita-cita, anak-anak didiknya menjadi orang yang lebih baik. Kaya akan kasih pada sesama dan kaya akan rasa cinta pada alam semesta. Bukan kaya harta tapi tetap kemaruk.
Arum mengajar di daerah yang setelah proses pemekaran masuk dalam wilayah Kabupaten Paniai itu selama limabelas tahun lantas pulang ke Jakarta. Kondisi kesehatannya tak memungkinkan untuk bertahan di Timika. Nikolas, muridnya yang paling cerdas, kini telah menjadi guru di sekolah misi itu.
“Anak-anak itu jujur, Ibu. Tak ada murid Ibu yang pembohong toch? Mereka gambar apa yang mereka lihat, Ibu. Sungai Atjwa memang sudah begitu. Rusak sudah semua yang Ibu pernah lihat dulu.” Tutur Nikolas ketika Arum menghubunginya lewat sambungan interlokal.
Sejak Arum pergi, areal pertambangan meluas ke Grasberg. Bahkan Timika telah berubah menjadi kota yang lengkap bagi para pendatang. Aliran limbah bermuara ke sungai-sungai dan membunuh biotanya. Penambang tradisional pengais sisa-sisa limbah tambang yang digelontorkan ke batang Sungai Ajkwa semakin banyak. Kini mencapai tigabelas ribu orang. Pribumi maupun pendatang. Meskipun sampah, toh namanya tetap emas. Jadi semakin hari semakin banyak saja orang yang datang untuk mendulang tailing yang menyebabkan sungai itu berwarna seperti kopi susu. Mereka tinggal di bivak-bivak sepanjang bantaran sungai, dan akan turun ke Timika jika pasir emas telah terkumpul banyak. Di kota itu, para pedagang emas yang kebanyakan orang Bugis, sudah menanti untuk membeli hasil keringat para pendulang. Sehari seorang pendulang yang bermodal sekop, ayakan, papan kayu miring, dan wajan mampu menghasilkan dua hingga lima gram pasir emas.
Nikolas bercerita, sebenarnya menjadi pendulang emas dari tailing pertambangan bukanlah cita-cita warga kampungnya. Cita-cita mereka yang sesungguhnya hanyalah ingin diakui martabat dan haknya sebagai manusia. Mereka ingin menikmati tata hidup yang adil dan aman. Pengakuan orang lain atas sejarah perjalanan hidup suku-suku di sepanjang ungai Ajkwa amat mereka dambakan. Mereka ingin tetap melestarikan nilai-nilai agung warisan leluhur. Dulu orang-orang Amungme merupakan penguasa-penguasa tanah di Tembagapura. Tapi, kini kebun mereka di Timika jadi sempit, bahkan untuk beternak babipun tidak cukup. Tata hidup harmonis mereka telah rusak.
Nikolas kembali berkisah, menjadi pendulang sisa limbah tambang pun kini tak nyaman lagi. Aparat keamanan sering melakukan pengusiran dengan kekerasan. Para pendulang dianggap mengganggu stabilitas keamanan di sekitar areal pertambangan. Mereka yang merasa diusik mata pencahariannya tentu saja mengamuk. Kata-kata Nikolas kala remaja terngiang kembali,“Siapa yang tidak akan marah jika ada orang asing bercocok tanam di pekarangannya.”
Arum hanya bisa menitikkan air mata masa tuanya. “Bagaimana aku harus menghiburmu, Nikolas? Sementara anak-anakku di Ciliwung yang dihimpit kota besar ini juga sudah tidak pernah melihat sungai-sungai bening lagi. Mungkinkah sungai jernih dengan kerimbunan pohon hijau akan tinggal cerita? Padahal tanah ini milik angkatan yang akan datang. Tetaplah kaya akan kasih dan cinta, Nikolas.”
Oleh Rini Giri
Arum menerima kiriman amplop coklat besar dari Nikolas. Tebal sekali isinya. Ternyata, lukisan-lukisan hasil karya anak-anak Amungme. Sebuah lukisan membuat bulu kuduknya berdiri. Saat dia masih kecil, ibunya selalu mengajari mewarnai gambar sesuai dengan warna yang sesungguhnya. Gunung, laut, sungai dan langit tentu dengan crayon biru bersih. Pohon dan rerimbunan daun tentulah dengan crayon hijau cerah. Tanah dan batang pohon pastilah crayon cokelat terang. Begitu pula ketika dia mengajari menggambar baik pada murid-muridnya di Timika dulu maupun sekarang di tepi Ciliwung. Tapi ada apa dengan lukisan yang dipegangnya itu? Mungkinkah Nikolas salah memberi arahan pada para muridnya? Sehingga sungaipun airnya dipoles dengan crayon putih kekuningan, pohon-pohon tanpa daun bahkan tinggal tonggaknya yang menghitam, serta tanah sekeliling yang berwarna abu-abu.
Setamat SPG, Arum pergi ke Timika. Dia mendaftar sebagai guru sekolah dasar yang didirikan para misionaris di tepi Sungai Ajkwa yang tenang mengalir. Kala itu, 1971, tekad dan kemauannya sangat berarti untuk diterjunkan di belantara Irian Jaya.
Murid-muridnya adalah anak-anak suku Amungme yang datang dari beberapa kampung. Puncak gunung Nemangkawi Nenggok yang lamat-lamat terlihat di sebelah utara sungai, membuatnya terpukau. Juga gunung-gunung berkadar tembaga dan emas yang berwarna kuning, merah, dan cokelat kala senja itu. Hutan tropis perawan yang hijau di sepanjang sungai, membuatnya betah.
Kala itu bolduser mulai berdatangan untuk mengeruk Gunung Bijih yang terkenal dengan nama Estberg. Mungkin sampai menjadi ceruk. Alhasil orang-orang Amungme ini terpaksa hengkang dari tanahnya dan tinggal di kaki pegunungan.
Arum sempat bertanya, kenapa anak-anak bangsa ini harus pergi dari tanah leluhurnya demi kepentingan orang lain? Jawabannya, lagi-lagi untuk pembangunan. Supaya jalan-jalan bisa dibangun, sekolah didirikan, dan suku-suku pedalaman itu belajar modernisasi. Biar mereka pakai baju dan bukan koteka lagi. Tapi jauh di lubuk hatinya, Arum punya jawaban. Bukan. Bukan untuk pembangunan. Tapi untuk memperkaya orang-orang yang sudah kaya. Nyatanya suku Amungme justru harus pergi dari tanahnya sendiri. Padahal di kalangan mereka, tinggal di tanah orang berarti kehilangan martabat. Warga suku satu belum tentu bisa berdampingan dengan suku lain dalam satu wilayah, sebab mereka mempunyai sejarah nenek moyang sendiri-sendiri.
Dalam sebuah perjalanan, Arum bertanya pada muridnya yang selalu tampak geram setiap kali melemparkan pandangan ke puncak gunung itu. “Ada apa denganmu, Nikolas?” Orang Amungme adalah pejalan kaki yang tangguh. Naik turun gunung menyusur jalan setapak yang dirintis nenek moyang adalah hal biasa. Kini mereka tak bisa lagi melintasi jalur-jalur gunung yang masuk areal pertambangan.
“Seandainya saya jadi Ibu Guru, Ibu juga akan marah toch? Ibu guru pasti marah lihat orang lain bikin kebun di halaman kita. Pasti ingin usir itu orang toch?” Arum hanya melongo mendengar pengakuan sedalam itu keluar dari mulut anak belasan tahun.
Dia tidak pernah menyesal telah dikirim ke tempat itu. Murid-muridnya semua berlian. Mereka juga punya hak untuk belajar. Tidak ada yang bodoh dalam kamus Arum. Yang ada hanyalah belum tahu atau terlambat tahu. Kewajiban bagi yang tahu untuk memberi tahu. Tak ada yang bodoh lagi jika semua sudah tahu. Dia bercita-cita, anak-anak didiknya menjadi orang yang lebih baik. Kaya akan kasih pada sesama dan kaya akan rasa cinta pada alam semesta. Bukan kaya harta tapi tetap kemaruk.
Arum mengajar di daerah yang setelah proses pemekaran masuk dalam wilayah Kabupaten Paniai itu selama limabelas tahun lantas pulang ke Jakarta. Kondisi kesehatannya tak memungkinkan untuk bertahan di Timika. Nikolas, muridnya yang paling cerdas, kini telah menjadi guru di sekolah misi itu.
“Anak-anak itu jujur, Ibu. Tak ada murid Ibu yang pembohong toch? Mereka gambar apa yang mereka lihat, Ibu. Sungai Atjwa memang sudah begitu. Rusak sudah semua yang Ibu pernah lihat dulu.” Tutur Nikolas ketika Arum menghubunginya lewat sambungan interlokal.
Sejak Arum pergi, areal pertambangan meluas ke Grasberg. Bahkan Timika telah berubah menjadi kota yang lengkap bagi para pendatang. Aliran limbah bermuara ke sungai-sungai dan membunuh biotanya. Penambang tradisional pengais sisa-sisa limbah tambang yang digelontorkan ke batang Sungai Ajkwa semakin banyak. Kini mencapai tigabelas ribu orang. Pribumi maupun pendatang. Meskipun sampah, toh namanya tetap emas. Jadi semakin hari semakin banyak saja orang yang datang untuk mendulang tailing yang menyebabkan sungai itu berwarna seperti kopi susu. Mereka tinggal di bivak-bivak sepanjang bantaran sungai, dan akan turun ke Timika jika pasir emas telah terkumpul banyak. Di kota itu, para pedagang emas yang kebanyakan orang Bugis, sudah menanti untuk membeli hasil keringat para pendulang. Sehari seorang pendulang yang bermodal sekop, ayakan, papan kayu miring, dan wajan mampu menghasilkan dua hingga lima gram pasir emas.
Nikolas bercerita, sebenarnya menjadi pendulang emas dari tailing pertambangan bukanlah cita-cita warga kampungnya. Cita-cita mereka yang sesungguhnya hanyalah ingin diakui martabat dan haknya sebagai manusia. Mereka ingin menikmati tata hidup yang adil dan aman. Pengakuan orang lain atas sejarah perjalanan hidup suku-suku di sepanjang ungai Ajkwa amat mereka dambakan. Mereka ingin tetap melestarikan nilai-nilai agung warisan leluhur. Dulu orang-orang Amungme merupakan penguasa-penguasa tanah di Tembagapura. Tapi, kini kebun mereka di Timika jadi sempit, bahkan untuk beternak babipun tidak cukup. Tata hidup harmonis mereka telah rusak.
Nikolas kembali berkisah, menjadi pendulang sisa limbah tambang pun kini tak nyaman lagi. Aparat keamanan sering melakukan pengusiran dengan kekerasan. Para pendulang dianggap mengganggu stabilitas keamanan di sekitar areal pertambangan. Mereka yang merasa diusik mata pencahariannya tentu saja mengamuk. Kata-kata Nikolas kala remaja terngiang kembali,“Siapa yang tidak akan marah jika ada orang asing bercocok tanam di pekarangannya.”
Arum hanya bisa menitikkan air mata masa tuanya. “Bagaimana aku harus menghiburmu, Nikolas? Sementara anak-anakku di Ciliwung yang dihimpit kota besar ini juga sudah tidak pernah melihat sungai-sungai bening lagi. Mungkinkah sungai jernih dengan kerimbunan pohon hijau akan tinggal cerita? Padahal tanah ini milik angkatan yang akan datang. Tetaplah kaya akan kasih dan cinta, Nikolas.”
PINTU EDEN
PINTU EDEN
Oleh Rini Giri
Hujan turun dalam rintik. Pohon raksasa di tengah taman itu menjadi naungan banyak makhluk. Induk rusa menggiring anaknya untuk berteduh, burung-burung kembali ke sarang di pangkal dahan, dan monyet-monyet bersembunyi di rerimbunan daun. Dua manusia, lelaki datang dari utara dan perempuan dari arah berlawanan, juga mencari perlindungan di situ. Mall-mall yang mengepung taman itu menjanjikan surga baru bagi sebagian orang.
“Sebenarnya Eden tidak pernah rusak ataupun sirna. Secara fisik dia masih utuh seperti sedia kala. Hanya saja kita tidak tahu ada di mana. Kesalahan besar masa lalu sudah membuat pintu taman itu tertutup rapat dan kita tidak bisa memasukinya lagi. Satu-satunya kerusakan Eden adalah noda dosa yang turut terbawa ke bumi dan merusak pula di sini. Beberapa penjaga dengan pedang terhunus ditempatkan di sebelah timur untuk menghalangi kita. Seharusnya kini taman itu menjadi tempat tinggal kita andaikan bapakku tidak terbujuk rayuan ibumu untuk mencicipi buah pohon yang baik dan yang jahat. Lihatlah! Sekarang kita harus mati-matian banting-tulang untuk mendapatkan makanan dari bumi.” Ujar lelaki itu sambil memandangi langit yang kelam oleh awan-awan yang menggelantung.
“Itu bukan kesalahan ibuku. Ular yang telah menyebabkan semuanya terjadi!” Jawab perempuan itu sengit.
“Tapi ibumu termakan rayuannya! Perempuan selalu cari kambing hitam!”
“Salah bapakmu juga! Kenapa dia mau mendengarkan rajukan ibuku! Lelaki sering lupa pada kesalahannya sendiri dan menuduh orang lain sebagai penyebab!” Lalu keduanya terdiam dengan amarah di ubun masing-masing. Air terus menetes dari langit, tapi tanah di bawah bayang-bayang pohon itu tetap kering. Perempuan itu merapatkan tangannya di dada bertahan dari rasa dingin.
“Apakah taman itu akan dikembalikan kepada kita suatu saat nanti?” Tanya perempuan lirih. Ah, seandainya dia punya kesempatan untuk melihat Eden barang sejenak. Segala satwa dan manusia hidup rukun tanpa menakuti ataupun ditakuti, tanpa memburu ataupun diburu, tanpa memangsa ataupun dimangsa. Sebab semua makhluk hanya makan tumbuhan dan buah-buahan. Bahkan mulut harimau, cakar srigala, ataupun moncong buaya tidak akan membahayakan seorang bayi merangkak yang sedang bermain di hamparan rumput. Di sana tidak ada permusuhan, tidak ada iri dengki, tidak ada persaingan dan sengketa, tidak ada penindasan dan pelecehan, tidak ada peperangan. Dirinya, dan pastilah semua orang, teramat merindukan tempat itu. Warga kota dengan sengaja membangun taman ini agar bisa bernostalgia pada ketentraman taman masa lalu itu. Alangkah damainya. Apalagi kedamaian sudah menjadi barang langka di zaman ini. Kedamaian sulit diwujudkan untuk hal-hal yang baik, tapi begitu mudah dibeli untuk hal-hal yang curang. Damai hanya dipakai manusia untuk melarikan diri saat menghadapi masalah.
“Taman itu diciptakan untuk kita. Tentunya akan dikembalikan pada kita. Mungkin butuh usaha untuk mendapatkannya kembali.” Jawab lelaki kurang yakin.
“Usaha apa?” Tanya perempuan itu penasaran. “Tidak dengan membuat imitasinya kan?” Nyatanya taman kota ini tidak mengobati kerinduan. Hanya menjadi penanda kota, tempat kencan muda-mudi dan menambah jumlah sampah yang dibuang sembarangan.
“Mungkin kita bisa menanam pohon-pohonnya kembali. Dalam hidup setiap hari. Bukankah esensi taman itu adalah kedamaian? Kita tinggal menyemai bibit-bibitnya agar tumbuh di segala lorong dan sudut bumi.” Lelaki berusaha menduga.
“Ingatlah, yang terbawa ke bumi ini hanyalah akibat dosa. Tak ada sebiji kedamaianpun yang turut terbawa ketika bapak dan ibu kita diusir dari taman itu. Lantas kemana kita harus mencari bibitnya?” Perempuan tampak ragu.
“Bukankah esensi dari setiap ciptaan di taman itu kedamaian? Pastilah leluhur kita juga punya esensi itu dan kita menuruni bakatnya. Hanya saja masih tersembunyi. Kita harus menemukannya. Mulai dari kita.”
“Ya, mungkin harus dimulai dari diri kita. Kita berdua harus berdamai. Jangan saling menyalahkan lagi. Bukankah di taman itu bapak dan ibu kita tidak pernah bertengkar, tidak saling tuding, tidak saling mengungguli, tidak saling menindas, tidak saling merendahkan, dan tidak saling memeras? Mereka rukun, saling menolong, saling mengisi, dan melengkapi. Sebab mereka memang diciptakan untuk begitu.” Kenang sang perempuan.
“Mereka mulai saling tuding ketika ketahuan melanggar perintah untuk tidak memakan buah dari pohon kebajikan itu. Bapak kita menyalahkan ibu kita, dan ibu kita menuduh si ular licik sebagai biang kerok. Siapa sebenarnya yang telah bersalah? Bukankah ketiganya salah? Bukan cuma si ular, atau si perempuan, atau si lelaki. Tapi ketiganya.”
“Ya. Sejak saat itu mereka diusir ke tempat ini dan keturunannya menjadi sengsara. Berjuang untuk makan, menderita sakit bersalin, sengsara karena sakit, mengalami ketuaan, lantas menghadapi kematian. Seandainya kesalahan besar itu tidak terjadi, atau seandainya taman itu bisa kembali kita miliki, tentulah segala kengerian itu akan sirna. Tidak ada derita lagi. Alangkah indahnya. Alangkah damainya. Alangkah nikmatnya.” Mata perempuan menerawang jauh ke gugusan awan-awan yang masih menggelantung dan tak tertahankan ingin melahirkan gerimis. Senyumnya merekah mengikuti pengembaraan pikiranya yang jauh. Tangannyapun melambai-lambai menari dan meliuk di angkasa oleh imajinasi.
“Kau terlalu tinggi berkhayal!” Hardik si lelaki kurang suka. Perempuan cemberut. Sepasang rusa dewasa sedang berkasih-kasihan di dekat onggokan batu.
“Bukankah seharusnya kita saling tertarik dan mencinta? Meninggalkan keluarga kita masing-masing dan menjadi satu daging dan tujuan untuk menguasai bumi dan seisinya? Tapi kenapa kita justru saling menjadi duri dalam daging? Tercipta kelas dan kasta. Terjadi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi di antara kita. Tugas dan peran kita jelas beda, tapi masih saja ada ambisi untuk saling menguasai. Sejak kapan itu terjadi?” Si lelaki tertawa geli. Si perempuan jadi kesal.
“Bukankah sejak dilahirkan kitapun sudah dibekali senjata untuk bermusuhan? Aku memiliki alat tajam untuk menusuk dan melukai, sedangkan kau punya jebakan licik untuk menerkam. Dan waktu kau tumbuh menjadi gadis kecil, aku sudah tertarik untuk menggoda dan menakut-nakutimu sampai menjerit. Ada kesenangan setiap kali membuat dirimu menangis.”
“Dasar! Akupun benci melihatmu yang hanya memakai cawat berlarian di jalanan mengejar layang-layang putus, sementara aku harus belajar mengerjakan banyak hal di rumah. Aku menjadi dua tahun lebih tua padahal usia kita sama.”
“Sudahlah, itu sudah masa lalu. Tahukah ketika mulai ada kuntum-kuntum di dadamu dan tubuhmu meliuk-liuk membentuk barisan perbukitan, adalah masa paling menyiksa bagiku? Ada perasaan ingin menyayangi dan melindungimu, tapi juga perasaan gengsi untuk mengutarakannya. Aku takut mendapat penolakan. Kau lebih suka dikejar-kejar daripada dimiliki.”
“Kau harus maklum. Bukankah setangkai bunga justru indah ketika mekar liar di rumpun-rumpun perdu? Dia akan segera layu jika dipetik. Oya, tahukah kau pendapatku tentang dirimu saat itu? Kau tak ubahnya seperti adik laki-lakiku yang belum bisa mengambil nasi sendiri ketika perutnya lapar. Huh! Makhluk manja!”
“Bukankah sudah seharusnya insan yang terlahir sebagai raja mendapatkan pelayanan kelas satu? Apa gunanya dilahirkan pelayan-pelayan setia?” “Aku bukan pelayan! Enak saja!” Si perempuan tidak terima.
“Dulu memang pernah ada rasa suka dan cinta padamu. Kubilang, kaulah darahku, kaulah jantungku, kaulah nadiku, kaulah pelengkap diriku. Tapi lama-kelamaan ada keinginan kuatku untuk menguasaimu. Kaulah pembantuku yang setia. Dan bukankah kau sendiri yang inginkan itu? Sebenarnya aku bisa mengambil baju dan sarapanku sendiri, tapi kau yang memaksakan diri untuk melayani agar dianggap baik dan setia. Bih!”
“Kaupikir akupun tidak memanfaatkanmu? Dulu kukatakan, kaulah pahlawanku, kaulah ksatriaku, kaulah dambaan hati. Tapi kini dengan jujur kuakui, kaulah sumber penghasilanku. Tidak lebih.”
“Dasar licik!” Gerutu lelaki sambil mengeratkan kepalan tangannya.
“Dasar bodoh!” Ejek si perempuan.
Rintik hujan mulai berhenti. Secercah sinar kuning menyapu angkasa dan menerangi taman itu. Binatang-binatang segera bangkit dan berjalan menjauh ke rerumputan untuk menikmati cahaya hangat yang baru saja sampai. Kedua insan terdiam. Kenapa mereka kembali saling menyalahkan? Bukankah seharusnya mereka mulai mengumpulkan kembali biji-biji kedamaian untuk ditanam agar menjadi Eden bisa kembali?
“Sudah reda. Ayo kita pulang!” Ajak si lelaki sambil meraih tangan perempuan.
“Kita belum selesai bicara.” Sang perempuan mengelak, menepis tangan kekar itu agar tidak menyentuh dirinya.
“Tak perlu kita bicara lagi. Semakin banyak bicara, semakin suramlah keadaannya. Jauh dari kedamaian. Yang kita cari jawaban atas pertanyaan, bukan pernyataan-pernyataan.” Perempuan menghela nafas panjang, menghirup udara kesabaran dan kekuatan. Diapun beranjak dari bayangan pohon itu. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang masih basah menuju sebuah pemukiman di sebelah barat taman.
“Yang mana rumah kita?” Tanya si lelaki.
“Ketuk saja pintunya satu persatu. Maka kita akan tahu mana rumah yang ingin kita tinggali.” Jawab perempuan.
Merekapun mulai mengetuk pintu rumah pertama. Seorang wanita seksi dengan baju transparan membukakan pintu. Mulutnya berbau alkohol. Dari dalam terdengar orang-orang berteriak-teriak girang sambil berjingkrak dalam pesta-pora. Lelaki menelan ludah, tapi perempuan segera menarik tangannya sambil menggelengkan kepala kepada penerima tamu itu.
“Bukan. Bukan ini rumah kita.” Merekapun pergi dan bergegas menuju rumah kedua. Rumah itu tampak kotor karena kurang terawat. Seorang anak kecil duduk tertunduk di beranda. Wajahnya pucat, bibirnya menggigil, dan lengannya memar-memar. Tiba-tiba terdengar barang pecah di dalam rumah. Seseorang sedang memaki-maki, mengumpat, dan melempar segala sesuatu yang terpegang oleh tangannya. Tak lama terdengar lolongan tangis yang meratap seperti menahan sakit hati. Si anak kecil semakin menggigil dan ketakutan.
“Bukan. Ini juga bukan rumah kita. Ayo lekas pergi dari sini!” Si perempuan tidak tahan melihat pemandangan memilukan itu. Si lelakipun segera menutupi matanya dengan tangan agar terhindar dari adegan-adegan kekerasan yang sangat tidak manusiawi itu.
Merekapun segera sampai di depan pintu rumah ketiga. Rumah tertutup rapat, bahkan tirai-tiraipun diturunkan. Dari balik jendela terdengar dua raga sedang memadu kasih. “Kau harus menceraikan istrimu sekarang juga. Aku tidak mau terus-menerus kauduakan. Apa sih yang membuatmu bertahan pada istrimu itu? Bukankah dia gendut dan tidak punya otak?” Suara wanita itu begitu menuntut. “Sabarlah, sayang. Aku tidak mungkin menceraikan dia. Limapuluh persen saham di perusahaanku itu milik dia. Sudahlah. Yang penting kita bisa menikmati keindahan hidup kita berdua. Tidak usah pedulikan dia. Sudahlah…” Suara pria merayu. Lelaki dan perempuan saling berpandangan, memicingkan mata, lantas menggelengkan kepala. Bukan rumah itu yang mereka inginkan.
Akhirnya mereka berjalan lunglai ke arah rumah terakhir. Seolah kehilangan pengharapan. Rumah itu sangat sederhana. Bercat hijau apel yang memantulkan kesejukan. Jendelanya terbuka lebar sehingga udara segar dan cahaya matahari masuk leluasa. Di beranda terdapat sepasang kursi dengan meja kecil berhias rangkaian bunga dalam vas. Tanaman bunga tampak segar dan menebarkan wewangian. Kupu-kupu bercengkerama di atas mahkota warna-warni. Di depan pintu terdapat sebuah keset berwarna dasar biru muda dengan tulisan “WELCOME” berwarna biru tua. Dan di pintu terdapat sebuah stiker bertuliskan “Akulah Pintu Itu.” Seorang pelayan membukanya dan dengan hormat memberikan petunjuk.
“Silakan anda berdua mengebaskan debu kedengkian di keset biru itu. Tinggalkan segala pertikaian di rak sepatu itu. Gantungkan segala dendam di hanger itu. Silakan masuk. Ini rumah damai. Hanya yang benar-benar manusiawi saja yang bisa menjadi kedamaian.” (Bekasi Utara, April 2008)
Oleh Rini Giri
Hujan turun dalam rintik. Pohon raksasa di tengah taman itu menjadi naungan banyak makhluk. Induk rusa menggiring anaknya untuk berteduh, burung-burung kembali ke sarang di pangkal dahan, dan monyet-monyet bersembunyi di rerimbunan daun. Dua manusia, lelaki datang dari utara dan perempuan dari arah berlawanan, juga mencari perlindungan di situ. Mall-mall yang mengepung taman itu menjanjikan surga baru bagi sebagian orang.
“Sebenarnya Eden tidak pernah rusak ataupun sirna. Secara fisik dia masih utuh seperti sedia kala. Hanya saja kita tidak tahu ada di mana. Kesalahan besar masa lalu sudah membuat pintu taman itu tertutup rapat dan kita tidak bisa memasukinya lagi. Satu-satunya kerusakan Eden adalah noda dosa yang turut terbawa ke bumi dan merusak pula di sini. Beberapa penjaga dengan pedang terhunus ditempatkan di sebelah timur untuk menghalangi kita. Seharusnya kini taman itu menjadi tempat tinggal kita andaikan bapakku tidak terbujuk rayuan ibumu untuk mencicipi buah pohon yang baik dan yang jahat. Lihatlah! Sekarang kita harus mati-matian banting-tulang untuk mendapatkan makanan dari bumi.” Ujar lelaki itu sambil memandangi langit yang kelam oleh awan-awan yang menggelantung.
“Itu bukan kesalahan ibuku. Ular yang telah menyebabkan semuanya terjadi!” Jawab perempuan itu sengit.
“Tapi ibumu termakan rayuannya! Perempuan selalu cari kambing hitam!”
“Salah bapakmu juga! Kenapa dia mau mendengarkan rajukan ibuku! Lelaki sering lupa pada kesalahannya sendiri dan menuduh orang lain sebagai penyebab!” Lalu keduanya terdiam dengan amarah di ubun masing-masing. Air terus menetes dari langit, tapi tanah di bawah bayang-bayang pohon itu tetap kering. Perempuan itu merapatkan tangannya di dada bertahan dari rasa dingin.
“Apakah taman itu akan dikembalikan kepada kita suatu saat nanti?” Tanya perempuan lirih. Ah, seandainya dia punya kesempatan untuk melihat Eden barang sejenak. Segala satwa dan manusia hidup rukun tanpa menakuti ataupun ditakuti, tanpa memburu ataupun diburu, tanpa memangsa ataupun dimangsa. Sebab semua makhluk hanya makan tumbuhan dan buah-buahan. Bahkan mulut harimau, cakar srigala, ataupun moncong buaya tidak akan membahayakan seorang bayi merangkak yang sedang bermain di hamparan rumput. Di sana tidak ada permusuhan, tidak ada iri dengki, tidak ada persaingan dan sengketa, tidak ada penindasan dan pelecehan, tidak ada peperangan. Dirinya, dan pastilah semua orang, teramat merindukan tempat itu. Warga kota dengan sengaja membangun taman ini agar bisa bernostalgia pada ketentraman taman masa lalu itu. Alangkah damainya. Apalagi kedamaian sudah menjadi barang langka di zaman ini. Kedamaian sulit diwujudkan untuk hal-hal yang baik, tapi begitu mudah dibeli untuk hal-hal yang curang. Damai hanya dipakai manusia untuk melarikan diri saat menghadapi masalah.
“Taman itu diciptakan untuk kita. Tentunya akan dikembalikan pada kita. Mungkin butuh usaha untuk mendapatkannya kembali.” Jawab lelaki kurang yakin.
“Usaha apa?” Tanya perempuan itu penasaran. “Tidak dengan membuat imitasinya kan?” Nyatanya taman kota ini tidak mengobati kerinduan. Hanya menjadi penanda kota, tempat kencan muda-mudi dan menambah jumlah sampah yang dibuang sembarangan.
“Mungkin kita bisa menanam pohon-pohonnya kembali. Dalam hidup setiap hari. Bukankah esensi taman itu adalah kedamaian? Kita tinggal menyemai bibit-bibitnya agar tumbuh di segala lorong dan sudut bumi.” Lelaki berusaha menduga.
“Ingatlah, yang terbawa ke bumi ini hanyalah akibat dosa. Tak ada sebiji kedamaianpun yang turut terbawa ketika bapak dan ibu kita diusir dari taman itu. Lantas kemana kita harus mencari bibitnya?” Perempuan tampak ragu.
“Bukankah esensi dari setiap ciptaan di taman itu kedamaian? Pastilah leluhur kita juga punya esensi itu dan kita menuruni bakatnya. Hanya saja masih tersembunyi. Kita harus menemukannya. Mulai dari kita.”
“Ya, mungkin harus dimulai dari diri kita. Kita berdua harus berdamai. Jangan saling menyalahkan lagi. Bukankah di taman itu bapak dan ibu kita tidak pernah bertengkar, tidak saling tuding, tidak saling mengungguli, tidak saling menindas, tidak saling merendahkan, dan tidak saling memeras? Mereka rukun, saling menolong, saling mengisi, dan melengkapi. Sebab mereka memang diciptakan untuk begitu.” Kenang sang perempuan.
“Mereka mulai saling tuding ketika ketahuan melanggar perintah untuk tidak memakan buah dari pohon kebajikan itu. Bapak kita menyalahkan ibu kita, dan ibu kita menuduh si ular licik sebagai biang kerok. Siapa sebenarnya yang telah bersalah? Bukankah ketiganya salah? Bukan cuma si ular, atau si perempuan, atau si lelaki. Tapi ketiganya.”
“Ya. Sejak saat itu mereka diusir ke tempat ini dan keturunannya menjadi sengsara. Berjuang untuk makan, menderita sakit bersalin, sengsara karena sakit, mengalami ketuaan, lantas menghadapi kematian. Seandainya kesalahan besar itu tidak terjadi, atau seandainya taman itu bisa kembali kita miliki, tentulah segala kengerian itu akan sirna. Tidak ada derita lagi. Alangkah indahnya. Alangkah damainya. Alangkah nikmatnya.” Mata perempuan menerawang jauh ke gugusan awan-awan yang masih menggelantung dan tak tertahankan ingin melahirkan gerimis. Senyumnya merekah mengikuti pengembaraan pikiranya yang jauh. Tangannyapun melambai-lambai menari dan meliuk di angkasa oleh imajinasi.
“Kau terlalu tinggi berkhayal!” Hardik si lelaki kurang suka. Perempuan cemberut. Sepasang rusa dewasa sedang berkasih-kasihan di dekat onggokan batu.
“Bukankah seharusnya kita saling tertarik dan mencinta? Meninggalkan keluarga kita masing-masing dan menjadi satu daging dan tujuan untuk menguasai bumi dan seisinya? Tapi kenapa kita justru saling menjadi duri dalam daging? Tercipta kelas dan kasta. Terjadi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi di antara kita. Tugas dan peran kita jelas beda, tapi masih saja ada ambisi untuk saling menguasai. Sejak kapan itu terjadi?” Si lelaki tertawa geli. Si perempuan jadi kesal.
“Bukankah sejak dilahirkan kitapun sudah dibekali senjata untuk bermusuhan? Aku memiliki alat tajam untuk menusuk dan melukai, sedangkan kau punya jebakan licik untuk menerkam. Dan waktu kau tumbuh menjadi gadis kecil, aku sudah tertarik untuk menggoda dan menakut-nakutimu sampai menjerit. Ada kesenangan setiap kali membuat dirimu menangis.”
“Dasar! Akupun benci melihatmu yang hanya memakai cawat berlarian di jalanan mengejar layang-layang putus, sementara aku harus belajar mengerjakan banyak hal di rumah. Aku menjadi dua tahun lebih tua padahal usia kita sama.”
“Sudahlah, itu sudah masa lalu. Tahukah ketika mulai ada kuntum-kuntum di dadamu dan tubuhmu meliuk-liuk membentuk barisan perbukitan, adalah masa paling menyiksa bagiku? Ada perasaan ingin menyayangi dan melindungimu, tapi juga perasaan gengsi untuk mengutarakannya. Aku takut mendapat penolakan. Kau lebih suka dikejar-kejar daripada dimiliki.”
“Kau harus maklum. Bukankah setangkai bunga justru indah ketika mekar liar di rumpun-rumpun perdu? Dia akan segera layu jika dipetik. Oya, tahukah kau pendapatku tentang dirimu saat itu? Kau tak ubahnya seperti adik laki-lakiku yang belum bisa mengambil nasi sendiri ketika perutnya lapar. Huh! Makhluk manja!”
“Bukankah sudah seharusnya insan yang terlahir sebagai raja mendapatkan pelayanan kelas satu? Apa gunanya dilahirkan pelayan-pelayan setia?” “Aku bukan pelayan! Enak saja!” Si perempuan tidak terima.
“Dulu memang pernah ada rasa suka dan cinta padamu. Kubilang, kaulah darahku, kaulah jantungku, kaulah nadiku, kaulah pelengkap diriku. Tapi lama-kelamaan ada keinginan kuatku untuk menguasaimu. Kaulah pembantuku yang setia. Dan bukankah kau sendiri yang inginkan itu? Sebenarnya aku bisa mengambil baju dan sarapanku sendiri, tapi kau yang memaksakan diri untuk melayani agar dianggap baik dan setia. Bih!”
“Kaupikir akupun tidak memanfaatkanmu? Dulu kukatakan, kaulah pahlawanku, kaulah ksatriaku, kaulah dambaan hati. Tapi kini dengan jujur kuakui, kaulah sumber penghasilanku. Tidak lebih.”
“Dasar licik!” Gerutu lelaki sambil mengeratkan kepalan tangannya.
“Dasar bodoh!” Ejek si perempuan.
Rintik hujan mulai berhenti. Secercah sinar kuning menyapu angkasa dan menerangi taman itu. Binatang-binatang segera bangkit dan berjalan menjauh ke rerumputan untuk menikmati cahaya hangat yang baru saja sampai. Kedua insan terdiam. Kenapa mereka kembali saling menyalahkan? Bukankah seharusnya mereka mulai mengumpulkan kembali biji-biji kedamaian untuk ditanam agar menjadi Eden bisa kembali?
“Sudah reda. Ayo kita pulang!” Ajak si lelaki sambil meraih tangan perempuan.
“Kita belum selesai bicara.” Sang perempuan mengelak, menepis tangan kekar itu agar tidak menyentuh dirinya.
“Tak perlu kita bicara lagi. Semakin banyak bicara, semakin suramlah keadaannya. Jauh dari kedamaian. Yang kita cari jawaban atas pertanyaan, bukan pernyataan-pernyataan.” Perempuan menghela nafas panjang, menghirup udara kesabaran dan kekuatan. Diapun beranjak dari bayangan pohon itu. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang masih basah menuju sebuah pemukiman di sebelah barat taman.
“Yang mana rumah kita?” Tanya si lelaki.
“Ketuk saja pintunya satu persatu. Maka kita akan tahu mana rumah yang ingin kita tinggali.” Jawab perempuan.
Merekapun mulai mengetuk pintu rumah pertama. Seorang wanita seksi dengan baju transparan membukakan pintu. Mulutnya berbau alkohol. Dari dalam terdengar orang-orang berteriak-teriak girang sambil berjingkrak dalam pesta-pora. Lelaki menelan ludah, tapi perempuan segera menarik tangannya sambil menggelengkan kepala kepada penerima tamu itu.
“Bukan. Bukan ini rumah kita.” Merekapun pergi dan bergegas menuju rumah kedua. Rumah itu tampak kotor karena kurang terawat. Seorang anak kecil duduk tertunduk di beranda. Wajahnya pucat, bibirnya menggigil, dan lengannya memar-memar. Tiba-tiba terdengar barang pecah di dalam rumah. Seseorang sedang memaki-maki, mengumpat, dan melempar segala sesuatu yang terpegang oleh tangannya. Tak lama terdengar lolongan tangis yang meratap seperti menahan sakit hati. Si anak kecil semakin menggigil dan ketakutan.
“Bukan. Ini juga bukan rumah kita. Ayo lekas pergi dari sini!” Si perempuan tidak tahan melihat pemandangan memilukan itu. Si lelakipun segera menutupi matanya dengan tangan agar terhindar dari adegan-adegan kekerasan yang sangat tidak manusiawi itu.
Merekapun segera sampai di depan pintu rumah ketiga. Rumah tertutup rapat, bahkan tirai-tiraipun diturunkan. Dari balik jendela terdengar dua raga sedang memadu kasih. “Kau harus menceraikan istrimu sekarang juga. Aku tidak mau terus-menerus kauduakan. Apa sih yang membuatmu bertahan pada istrimu itu? Bukankah dia gendut dan tidak punya otak?” Suara wanita itu begitu menuntut. “Sabarlah, sayang. Aku tidak mungkin menceraikan dia. Limapuluh persen saham di perusahaanku itu milik dia. Sudahlah. Yang penting kita bisa menikmati keindahan hidup kita berdua. Tidak usah pedulikan dia. Sudahlah…” Suara pria merayu. Lelaki dan perempuan saling berpandangan, memicingkan mata, lantas menggelengkan kepala. Bukan rumah itu yang mereka inginkan.
Akhirnya mereka berjalan lunglai ke arah rumah terakhir. Seolah kehilangan pengharapan. Rumah itu sangat sederhana. Bercat hijau apel yang memantulkan kesejukan. Jendelanya terbuka lebar sehingga udara segar dan cahaya matahari masuk leluasa. Di beranda terdapat sepasang kursi dengan meja kecil berhias rangkaian bunga dalam vas. Tanaman bunga tampak segar dan menebarkan wewangian. Kupu-kupu bercengkerama di atas mahkota warna-warni. Di depan pintu terdapat sebuah keset berwarna dasar biru muda dengan tulisan “WELCOME” berwarna biru tua. Dan di pintu terdapat sebuah stiker bertuliskan “Akulah Pintu Itu.” Seorang pelayan membukanya dan dengan hormat memberikan petunjuk.
“Silakan anda berdua mengebaskan debu kedengkian di keset biru itu. Tinggalkan segala pertikaian di rak sepatu itu. Gantungkan segala dendam di hanger itu. Silakan masuk. Ini rumah damai. Hanya yang benar-benar manusiawi saja yang bisa menjadi kedamaian.” (Bekasi Utara, April 2008)
PERSIAPAN MENYONGSONG NATAL
PERSIAPAN MENYONGSONG NATAL
Oleh Rini Giri
Malam Minggu di kota besar seperti Jakarta ini selalu diwarnai dengan pesta-pora, cuci mata, belanja, dan kencan berdua-dua. Lihat saja suasana mall besar yang aku kunjungi ini. Di sana-sini pasangan muda-mudi bergandengan mesra sambil naik-turun eskalator, keluarga-keluarga berduit duduk di restorant fast food, ibu-ibu tampak kerepotan dengan kereta belanja yang menggunung, baby sister sibuk mengejar-ngejar anak majikannya di arena bermain, dan toko pakaianpun penuh dengan orang. Apalagi ini menjelang Natal Dan Tahun Baru. Moment tahunan yang laku keras untuk dijual kepada konsumen. Mall-mall berhias diri dengan lampu-lampu aneka warna, pohon-pohon natal meriah, lampion-lampion kerlap-kerlip, gambar-gambar lonceng, patung Sinter Klas, dan spanduk-spanduk besar bertulis Merry Christmas And Happy New Year.
Aku sedang berada di sebuah counter pakaian anak. Kami harus pakai baju baru di acara Misa Malam Natal Nanti. Natal harus dipersiapkan sebaik mungkin. Pergi ke Misa Natal dengan baju lama tentulah tidak bikin bangga, tidak menumbuhkan semangat baru, tidak memberikan kesan, dan Natal berlalu tanpa makna. Empat setel pakaian untuk keluargaku akhirnya kudapat. Aku merasa puas dan merasa semakin siap menyongsong Hari Kelahiran Yesus Kristus yang dirayakan cuma setahun sekali dan disambut dengan gegap gempita oleh sebagian besar penduduk dunia.
Dari counter baju, aku langsung pindah ke counter kue. Natal tanpa penganan dan camilan tentu tidak meriah. Meskipun tidak ada tamu, paling tidak untuk menyenangkan diri dan keluarga. Suasana harus lain dari biasanya supaya anak-anak tahu bedanya antara hari-hari biasa dengan satu hari yang luar biasa di penghujung tahun itu. Kuborong beberapa toples kue kering dan kupesan seloyang black forest. Aku semakin puas. Rasa-rasanya tidak ada orang lain yang mempersiapkan Natal dengan sebegitu baiknya seperti diriku. Kutinggalkan mall dengan perasaan lega dan bahagia meskipun isi kartu ATM-ku cukup terkuras.
Ruang tamu aku hias dengan sempurna. Kertas-kertas krep warna hijau dan merah yang terlilit rapi menghiasi plafon, tulisan Selamat Natal dan Tahun Baru pada sebuah kertas emas yang berumbai-rumbai aku pasang di atas pintu, lingkaran adven lengkap dengan keempat lilinnya menghias meja tamu, di sudut ruangan terdapat miniatur kandang domba dari ranting-ranting kering berikut Keluarga Kudus dan para Majus. Anak-anakpun aku libatkan untuk menghias pohon terang dan membungkus kado. Lengkap sudah persiapanku menyongsong Natal yang cerah. Doaku, semoga Malam Natal nanti Jakarta tidak diguyur hujan dan digenangi banjir. Semoga aman.
“Ma, ada undangan!” Teriak anak sulungku sambil menyerahkan selembar foto copy undangan dari Ketua Lingkungan. Undangan untuk menghadiri Pembukaan Masa Adven. OK, baiklah, aku akan datang. Apa ruginya sih menghadiri acara lingkungan? Toh di sana nanti aku cuma butuh kesabaran untuk duduk tenang berdoa, lantas bisa ketemuan dengan ibu-ibu lainnya, bisa curhat dan tahu berita-berita terbaru tentang si itu atau si ini, dan ujung-ujungnya dapat suguhan lezat dari tuan rumah. Anak-anak mau ikut? Boleh saja, asal jangan ribut dan bikin ulah selama doa berlangsung! Bikin malu! Dikira aku tidak bisa mengajari tata krama dalam berdoa! Suamiku? Jangan harap dia mau datang. Dia paling tidak betah duduk manis dan diam berlama-lama, kakinya bisa kram. Dia lebih suka lembur di kantor untuk menambah penghasilan. Nah, kalau soal ini, meskipun duduk setengah hari di depan komputer juga tidak bakalan kram! Sudahlah!
“Bapak-Ibu sekalian, Adven adalah masa yang sangat penting sebagai persiapan kita untuk menyambut kedatangan Tuhan Kita Yesus kristus. Dalam masa ini kita diminta untuk berjaga-jaga, untuk bersiap-siap, terutama mempersiapkan hati kita agar layak menyambut kehadiran Allah. Berjaga-jaga bukan berarti kita harus tegang dan serba was-was, tapi tetap bekerja sambil melakukan kehendak Allah setiap hari dengan tekun, setia, dan sabar.” Pro Diakon yang memimpin doa mulai memberikan renungan, namun kata-katanya seolah hanya lewat saja di telingaku karena aku merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa akupun sudah bersiap-siap dan berjaga-jaga.
“Mungkin Bapak dan Ibu sekalian bisa mensyaringkan pengalaman imannya. Apa yang telah dilakukan untuk menyongsong Natal kali ini?” Tanya Pro Diakon. Buru-buru kuangkat tanganku. “Silakan Ibu Berta mengawali sharing kita.” Akupun segera berdiri dan tanpa ragu-ragu, bahkan dengan bangga, kuceritakan apa yang telah kulakukan bersama keluargaku untuk menyambut Natal kali ini. Seluruh umatpun mengangguk-angguk. Aku sangat senang.
Setelah aku selesai bicara, seorang bapak mengangkat tangan dan mulai bersharing bahwa dirinya dan keluarganya telah turut ambil bagian dalam regu koor untuk perayaan Misa Malam Natal nanti. Seluruh hadirinpun mengangguk-angguk. Tak lama seorang pemuda anggota Mudika berdiri dan menceritakan tentang keterlibatannya dalam acara bakti sosial pada masyarakat dan kerja bakti di lingkungan gereja menjelang Natal. Lantas seorang remaja putri berdiri dan bercerita bahwa menjelang Natal ini, dia dan kawan-kawan sekolahnya mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke panti asuhan agar anak-anak yatim-piatu pun bisa merasakan kebahagiaan Natal seperti yang selalu mereka rasakan. Seluruh umat bahkan bertepuk tangan karena bangga.
“Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudari sekalian. Semua yang disharingkan tadi merupakan wujud dari sikap berjaga-jaga kita. Kita mempersiapkan diri kita baik secara rohani maupun jasmani untuk menyambut Kristus. Mungkin masih ada yang ingin bersharing?” Pro Diakon memberi kesempatan lagi. Seorang laki-laki berdiri dan kepalanya terus menunduk. Umat memandanginya dengan perasaan tidak suka. Merekapun saling berbisik, kenapa laki-laki itu datang, mau ngomong apa dia? Sudah dua tahun ini dia jadi pemabuk, pejudi, dan keluarganya terlantar.
“Maafkan saya. Saya merasa belum melakukan apapun untuk menyambut Hari Natal. Saya penuh dosa dan merasa tidak pantas menyambut Natal. Saya malu pada Bapak Ibu sekalian yang telah mempersiapkan diri dengan baik. Pertanyaan Bapak Pro Diakon tadi benar-benar menyentak hati saya. Saya hanya ingin bertanya, kapan Pastur Paroki akan memberi waktu untuk pengakuan dosa?” Seluruh umat terdiam. Terutama aku. Aku jadi sangat malu. Ternyata lelaki itu jauh lebih baik dalam berjaga-jaga mempersiapkan diri. Dia ingin mempersiapkan hatinya. Sementara aku? Yang telah kupersiapkan hanyalah barang-barang duniawi belaka.
Oleh Rini Giri
Malam Minggu di kota besar seperti Jakarta ini selalu diwarnai dengan pesta-pora, cuci mata, belanja, dan kencan berdua-dua. Lihat saja suasana mall besar yang aku kunjungi ini. Di sana-sini pasangan muda-mudi bergandengan mesra sambil naik-turun eskalator, keluarga-keluarga berduit duduk di restorant fast food, ibu-ibu tampak kerepotan dengan kereta belanja yang menggunung, baby sister sibuk mengejar-ngejar anak majikannya di arena bermain, dan toko pakaianpun penuh dengan orang. Apalagi ini menjelang Natal Dan Tahun Baru. Moment tahunan yang laku keras untuk dijual kepada konsumen. Mall-mall berhias diri dengan lampu-lampu aneka warna, pohon-pohon natal meriah, lampion-lampion kerlap-kerlip, gambar-gambar lonceng, patung Sinter Klas, dan spanduk-spanduk besar bertulis Merry Christmas And Happy New Year.
Aku sedang berada di sebuah counter pakaian anak. Kami harus pakai baju baru di acara Misa Malam Natal Nanti. Natal harus dipersiapkan sebaik mungkin. Pergi ke Misa Natal dengan baju lama tentulah tidak bikin bangga, tidak menumbuhkan semangat baru, tidak memberikan kesan, dan Natal berlalu tanpa makna. Empat setel pakaian untuk keluargaku akhirnya kudapat. Aku merasa puas dan merasa semakin siap menyongsong Hari Kelahiran Yesus Kristus yang dirayakan cuma setahun sekali dan disambut dengan gegap gempita oleh sebagian besar penduduk dunia.
Dari counter baju, aku langsung pindah ke counter kue. Natal tanpa penganan dan camilan tentu tidak meriah. Meskipun tidak ada tamu, paling tidak untuk menyenangkan diri dan keluarga. Suasana harus lain dari biasanya supaya anak-anak tahu bedanya antara hari-hari biasa dengan satu hari yang luar biasa di penghujung tahun itu. Kuborong beberapa toples kue kering dan kupesan seloyang black forest. Aku semakin puas. Rasa-rasanya tidak ada orang lain yang mempersiapkan Natal dengan sebegitu baiknya seperti diriku. Kutinggalkan mall dengan perasaan lega dan bahagia meskipun isi kartu ATM-ku cukup terkuras.
Ruang tamu aku hias dengan sempurna. Kertas-kertas krep warna hijau dan merah yang terlilit rapi menghiasi plafon, tulisan Selamat Natal dan Tahun Baru pada sebuah kertas emas yang berumbai-rumbai aku pasang di atas pintu, lingkaran adven lengkap dengan keempat lilinnya menghias meja tamu, di sudut ruangan terdapat miniatur kandang domba dari ranting-ranting kering berikut Keluarga Kudus dan para Majus. Anak-anakpun aku libatkan untuk menghias pohon terang dan membungkus kado. Lengkap sudah persiapanku menyongsong Natal yang cerah. Doaku, semoga Malam Natal nanti Jakarta tidak diguyur hujan dan digenangi banjir. Semoga aman.
“Ma, ada undangan!” Teriak anak sulungku sambil menyerahkan selembar foto copy undangan dari Ketua Lingkungan. Undangan untuk menghadiri Pembukaan Masa Adven. OK, baiklah, aku akan datang. Apa ruginya sih menghadiri acara lingkungan? Toh di sana nanti aku cuma butuh kesabaran untuk duduk tenang berdoa, lantas bisa ketemuan dengan ibu-ibu lainnya, bisa curhat dan tahu berita-berita terbaru tentang si itu atau si ini, dan ujung-ujungnya dapat suguhan lezat dari tuan rumah. Anak-anak mau ikut? Boleh saja, asal jangan ribut dan bikin ulah selama doa berlangsung! Bikin malu! Dikira aku tidak bisa mengajari tata krama dalam berdoa! Suamiku? Jangan harap dia mau datang. Dia paling tidak betah duduk manis dan diam berlama-lama, kakinya bisa kram. Dia lebih suka lembur di kantor untuk menambah penghasilan. Nah, kalau soal ini, meskipun duduk setengah hari di depan komputer juga tidak bakalan kram! Sudahlah!
“Bapak-Ibu sekalian, Adven adalah masa yang sangat penting sebagai persiapan kita untuk menyambut kedatangan Tuhan Kita Yesus kristus. Dalam masa ini kita diminta untuk berjaga-jaga, untuk bersiap-siap, terutama mempersiapkan hati kita agar layak menyambut kehadiran Allah. Berjaga-jaga bukan berarti kita harus tegang dan serba was-was, tapi tetap bekerja sambil melakukan kehendak Allah setiap hari dengan tekun, setia, dan sabar.” Pro Diakon yang memimpin doa mulai memberikan renungan, namun kata-katanya seolah hanya lewat saja di telingaku karena aku merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa akupun sudah bersiap-siap dan berjaga-jaga.
“Mungkin Bapak dan Ibu sekalian bisa mensyaringkan pengalaman imannya. Apa yang telah dilakukan untuk menyongsong Natal kali ini?” Tanya Pro Diakon. Buru-buru kuangkat tanganku. “Silakan Ibu Berta mengawali sharing kita.” Akupun segera berdiri dan tanpa ragu-ragu, bahkan dengan bangga, kuceritakan apa yang telah kulakukan bersama keluargaku untuk menyambut Natal kali ini. Seluruh umatpun mengangguk-angguk. Aku sangat senang.
Setelah aku selesai bicara, seorang bapak mengangkat tangan dan mulai bersharing bahwa dirinya dan keluarganya telah turut ambil bagian dalam regu koor untuk perayaan Misa Malam Natal nanti. Seluruh hadirinpun mengangguk-angguk. Tak lama seorang pemuda anggota Mudika berdiri dan menceritakan tentang keterlibatannya dalam acara bakti sosial pada masyarakat dan kerja bakti di lingkungan gereja menjelang Natal. Lantas seorang remaja putri berdiri dan bercerita bahwa menjelang Natal ini, dia dan kawan-kawan sekolahnya mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke panti asuhan agar anak-anak yatim-piatu pun bisa merasakan kebahagiaan Natal seperti yang selalu mereka rasakan. Seluruh umat bahkan bertepuk tangan karena bangga.
“Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudari sekalian. Semua yang disharingkan tadi merupakan wujud dari sikap berjaga-jaga kita. Kita mempersiapkan diri kita baik secara rohani maupun jasmani untuk menyambut Kristus. Mungkin masih ada yang ingin bersharing?” Pro Diakon memberi kesempatan lagi. Seorang laki-laki berdiri dan kepalanya terus menunduk. Umat memandanginya dengan perasaan tidak suka. Merekapun saling berbisik, kenapa laki-laki itu datang, mau ngomong apa dia? Sudah dua tahun ini dia jadi pemabuk, pejudi, dan keluarganya terlantar.
“Maafkan saya. Saya merasa belum melakukan apapun untuk menyambut Hari Natal. Saya penuh dosa dan merasa tidak pantas menyambut Natal. Saya malu pada Bapak Ibu sekalian yang telah mempersiapkan diri dengan baik. Pertanyaan Bapak Pro Diakon tadi benar-benar menyentak hati saya. Saya hanya ingin bertanya, kapan Pastur Paroki akan memberi waktu untuk pengakuan dosa?” Seluruh umat terdiam. Terutama aku. Aku jadi sangat malu. Ternyata lelaki itu jauh lebih baik dalam berjaga-jaga mempersiapkan diri. Dia ingin mempersiapkan hatinya. Sementara aku? Yang telah kupersiapkan hanyalah barang-barang duniawi belaka.
NATAL INI KAMI TIDAK PULANG
NATAL INI KAMI TAK PULANG
Oleh Rini Giri
Untuk ongkos pulang-pergi berlima dengan bus butuh dua juta, untuk oleh-oleh sekitar limaratus ribu, untuk salam tempel pada para kemenakan di kampung limaratus ribu, untuk ngajak jalan-jalan orangtua usai Misa Malam Natal tigaratus ribu cukup, untuk memberi tinggalan pada orangtuaku dan mertua masing-masing limaratus ribu bolehlah, dan untuk biaya jajan anak-anak selama seminggu duaratus ribu tidaklah terlalu sedikit. Lantas untuk biaya tak terduga? Untuk beli oleh-oleh di kampung untuk dibawa balik ke Jakarta? Saat mudik Lebaran kemarin saja, para tetangga memberi begitu banyak oleh-oleh. Masakan kali ini saat kami yang kebagian mudik Natal tidak bawa oleh-oleh? Belum lagi untuk sewa kendaraan di kampung nanti jika ingin berpariwisata? Aduh, kepalaku pusing! Pulang butuh uang minimal sepuluh juta!
Kubuka buku tabungan kami. Pas ada sepuluh juta! Itu hasil menyisihkan sepuluh ribu demi sepuluh ribu setiap bulan selama sebelas tahun kami menikah. Gaji suamiku bulan ini pastilah habis untuk biaya hidup sebulan. Gajinya sebagai reporter berita di sebuah stasiun televisi swasta sebenarnya hanya cukup untuk menghidupi dirinya-sendiri, tapi karena aku bisa hemat dalam mengelolanya, maka cukup untuk hidup kami berdua bersama ketiga anak kami. Tunjangan Hari Raya dan bonus akhir tahun harus disisihkan untuk angsuran rumah, angsuran sepeda motor, uang pangkal si bungsu yang mau masuk SD, dan biaya daftar ulang kedua kakaknya. Haruskah uang tabungan itu aku kuras agar bisa pulang ke Wonogiri untuk merayakan natal bersama keluarga besar kami?
Sudah tiga tahun kami tidak pulang. Aku rindu pada bapak, ibu dan kakak-adikku. Suamiku pasti juga kangen pada orangtuanya. Anak-anak pasti juga sudah ingin ketemu para sepupunya. Aku sungguh tidak tega untuk mengatakan “tidak pulang lagi” pada anak-anak. Mereka pasti akan sangat kecewa. Apalagi dua minggu lalu ada surat dari anak kakakku tertua untuk mereka. Keponakanku itu menanyakan apakah saudara-saudara sepupunya di Ibukota akan pulang Natal tahun ini?
“Ma, kata Mbak Ajeng, nanti kalau pulang, kita akan diajak jalan-jalan ke Waduk Gajah Mungkur. Katanya di sana sekarang ada taman bermainnya.” Ujar Desti, anak sulung kami.
“Iya, Ma. Kata Mbak Ajeng, Pakdhe Herman juga akan mengajak kita ziarah ke Gua Maria Sendang Ratu Kenyo. Katanya tempatnya sudah diperbaiki jadi bagus banget. Kita kan sudah lama tidak ke sana, Ma.” Danti, adiknya menyambung.
“Ma, lihat! Ini gambar Eyang Kung sama Eyang Uti Pracimantoro, ini gambar Mbah Uti Selo Giri, ini gambar Pakdhe Herman, ini gambar Budhe Rati, ini Pakdhe Danang, ini Om Jati, ini Bulik Tuti, ini Mas Agung, ini Mas Adi, dan ini Mbak Ajeng. Siapa lagi ya yang belum digambar? Oh, iya…Watu Plintheng Semar!” Damar, anak lelaki bungsu, tertawa girang sambil menunjukkan gambarnya. Aku tahu, begitu besar keinginan anak-anak untuk pulang. Bahkan tawa girang Damar nyaris membuatku menangis.
“Lalu apa yang harus aku katakan pada Mbak Ajeng, Ma? Kita mau pulang atau tidak?” Pertanyaan Desti membuatku tersentak. Aku hanya tersenyum menutupi kepahitan dalam hatiku.
“Surat Mbak Ajeng tidak harus dibalas sekarang kan? Nanti tunggu Papa dulu ya? Kita musti tanya pada Papa, Natal nanti mendapat cuti atau tidak. Jangan-jangan Papa musti liputan seperti biasanya.”
“Yaaah.” Kedua mulut gadisku itu mengeluh kecewa, sementara si bungsu tetap semangat menggambar sebuah batu besar di lereng bukit, dekat Pasar Wonogiri, yang nyaris menggelinding ke jalan raya jika tidak disangga sebatang pohon kekar berbentuk huruf Y.
“Alasan apa lagi yang harus kukatakan pada anak-anak, Mas?” tanyaku pada suami saat menemaninya makan di meja dapur. Ini hampir tengah malam dan dia baru pulang. Anak-anak sudah tidur.
“Bilang saja kali ini aku ada tugas meliput acara Malam Natal di Katedral.” Jawabnya ringan seolah tanpa beban.
“Sudah tiga tahun berturut-turut alasan itu aku pakai, Mas. Anak-anak udah tambah besar dan kritis. Kalau mereka minta pulang tanpa kamu gimana?”
“Terserah kamu sajalah. Cari apa saja alasannya. Biasanya kan kamu cukup ahli menghadapi mereka.” Huh, beginilah nasib istri yang ditinggal kerja suami tanpa kenal waktu. Segala urusan yang menyangkut anak dilimpahkan kepadaku semua. Bahkan dia sendiri sampai tak punya waktu untuk mereka. “Atau kalau kamu rela, kita pakai saja uang tabungan kita.” Nada bicaranya enteng sekali. Ha? Lantas usai pulang kampung, keluarga ini hidup tanpa uang tabungan sama sekali? Tidak! Tidak! Ini di Jakarta, bo! Kalau ada apa-apa, anak sakit, atau apa, siapa yang nanggung?
Suatu malam seorang pengurus lingkungan datang ke rumah mengedarkan proposal perayaan Natal. Aduh, lagi-lagi ada orang minta sumbangan! Mereka tidak tahu ya kalau aku sedang pusing! Nambah pusing aja! Kulihat daftar donatur, rata-rata menyumbang seratus ribu. Gila!
“Serelanya saja kok, Bu.” Pengurus lingkungan itu tersenyum maklum ketika mataku terbelalak melihat draft yang disodorkannya. Aku sedang tidak punya gengsi, jadi kuberikan saja uang sisa belanja hari ini. “Oya, Bu. Anak-anak mau dilatih main drama, menari, dan vocal group untuk mengisi acara. Kami mohon kesediaan Ibu untuk melibatkan mereka. Minggu depan mulai latihan di rumah saya.” Aku hanya mengangguk-angguk. Rupanya anak-anak bersedia ikut latihan bahkan mereka sangat antusias. Dalam latihan hari pertama Desti ditunjuk untuk memerankan tokoh Maria, Danti ikut menari, dan Damar kebagian peran sebagai penggembala domba.
“Mbeek! Mbeek!” Seru Damar ketika aku datang menjemputnya di tempat latihan. Desti dan Dantipun mulai sibuk menghafal dialog dan gerakan tari di rumah. Mereka senang sekali bisa ikut kegiatan anak-anak untuk mengisi acara perayaan Natal di lingkungan nanti.
“Ma, berarti Natal nanti kita nggak bisa pulang dong. Aku kan harus jadi Maria. Itu tokoh utama lho, Ma. Berarti aku harus segera membalas surat Mbak Ajeng, Ma. Biar Mbak Ajeng nggak nunggu-nungguin dan keluarga Eyang tidak kecewa.” Ujar Desti. “Nanti aku mau kirim kartu Natal buat Eyang, Simbah, Pakdhe, Budhe, Om, Bulik, dan semua sepupu kita. Satu orang satu kartu. Kita bikin sendiri seperti biasanya ya, Ma.” Usul Danti. Aku mengangguk dan keharuan merayapi dadaku. Oh, terimakasih banyak Tuhan. Terimakasih. Aku tak bingung soal mudik Natal lagi. Aku jadi menyesal kenapa selama ini kurang peduli pada kegiatan-kegiatan di lingkungan dan tidak pernah menyertakan anak-anak dalam pembinaan iman di lingkungan. Bukankah warga lingkungan adalah saudara terdekat kami?
Oleh Rini Giri
Untuk ongkos pulang-pergi berlima dengan bus butuh dua juta, untuk oleh-oleh sekitar limaratus ribu, untuk salam tempel pada para kemenakan di kampung limaratus ribu, untuk ngajak jalan-jalan orangtua usai Misa Malam Natal tigaratus ribu cukup, untuk memberi tinggalan pada orangtuaku dan mertua masing-masing limaratus ribu bolehlah, dan untuk biaya jajan anak-anak selama seminggu duaratus ribu tidaklah terlalu sedikit. Lantas untuk biaya tak terduga? Untuk beli oleh-oleh di kampung untuk dibawa balik ke Jakarta? Saat mudik Lebaran kemarin saja, para tetangga memberi begitu banyak oleh-oleh. Masakan kali ini saat kami yang kebagian mudik Natal tidak bawa oleh-oleh? Belum lagi untuk sewa kendaraan di kampung nanti jika ingin berpariwisata? Aduh, kepalaku pusing! Pulang butuh uang minimal sepuluh juta!
Kubuka buku tabungan kami. Pas ada sepuluh juta! Itu hasil menyisihkan sepuluh ribu demi sepuluh ribu setiap bulan selama sebelas tahun kami menikah. Gaji suamiku bulan ini pastilah habis untuk biaya hidup sebulan. Gajinya sebagai reporter berita di sebuah stasiun televisi swasta sebenarnya hanya cukup untuk menghidupi dirinya-sendiri, tapi karena aku bisa hemat dalam mengelolanya, maka cukup untuk hidup kami berdua bersama ketiga anak kami. Tunjangan Hari Raya dan bonus akhir tahun harus disisihkan untuk angsuran rumah, angsuran sepeda motor, uang pangkal si bungsu yang mau masuk SD, dan biaya daftar ulang kedua kakaknya. Haruskah uang tabungan itu aku kuras agar bisa pulang ke Wonogiri untuk merayakan natal bersama keluarga besar kami?
Sudah tiga tahun kami tidak pulang. Aku rindu pada bapak, ibu dan kakak-adikku. Suamiku pasti juga kangen pada orangtuanya. Anak-anak pasti juga sudah ingin ketemu para sepupunya. Aku sungguh tidak tega untuk mengatakan “tidak pulang lagi” pada anak-anak. Mereka pasti akan sangat kecewa. Apalagi dua minggu lalu ada surat dari anak kakakku tertua untuk mereka. Keponakanku itu menanyakan apakah saudara-saudara sepupunya di Ibukota akan pulang Natal tahun ini?
“Ma, kata Mbak Ajeng, nanti kalau pulang, kita akan diajak jalan-jalan ke Waduk Gajah Mungkur. Katanya di sana sekarang ada taman bermainnya.” Ujar Desti, anak sulung kami.
“Iya, Ma. Kata Mbak Ajeng, Pakdhe Herman juga akan mengajak kita ziarah ke Gua Maria Sendang Ratu Kenyo. Katanya tempatnya sudah diperbaiki jadi bagus banget. Kita kan sudah lama tidak ke sana, Ma.” Danti, adiknya menyambung.
“Ma, lihat! Ini gambar Eyang Kung sama Eyang Uti Pracimantoro, ini gambar Mbah Uti Selo Giri, ini gambar Pakdhe Herman, ini gambar Budhe Rati, ini Pakdhe Danang, ini Om Jati, ini Bulik Tuti, ini Mas Agung, ini Mas Adi, dan ini Mbak Ajeng. Siapa lagi ya yang belum digambar? Oh, iya…Watu Plintheng Semar!” Damar, anak lelaki bungsu, tertawa girang sambil menunjukkan gambarnya. Aku tahu, begitu besar keinginan anak-anak untuk pulang. Bahkan tawa girang Damar nyaris membuatku menangis.
“Lalu apa yang harus aku katakan pada Mbak Ajeng, Ma? Kita mau pulang atau tidak?” Pertanyaan Desti membuatku tersentak. Aku hanya tersenyum menutupi kepahitan dalam hatiku.
“Surat Mbak Ajeng tidak harus dibalas sekarang kan? Nanti tunggu Papa dulu ya? Kita musti tanya pada Papa, Natal nanti mendapat cuti atau tidak. Jangan-jangan Papa musti liputan seperti biasanya.”
“Yaaah.” Kedua mulut gadisku itu mengeluh kecewa, sementara si bungsu tetap semangat menggambar sebuah batu besar di lereng bukit, dekat Pasar Wonogiri, yang nyaris menggelinding ke jalan raya jika tidak disangga sebatang pohon kekar berbentuk huruf Y.
“Alasan apa lagi yang harus kukatakan pada anak-anak, Mas?” tanyaku pada suami saat menemaninya makan di meja dapur. Ini hampir tengah malam dan dia baru pulang. Anak-anak sudah tidur.
“Bilang saja kali ini aku ada tugas meliput acara Malam Natal di Katedral.” Jawabnya ringan seolah tanpa beban.
“Sudah tiga tahun berturut-turut alasan itu aku pakai, Mas. Anak-anak udah tambah besar dan kritis. Kalau mereka minta pulang tanpa kamu gimana?”
“Terserah kamu sajalah. Cari apa saja alasannya. Biasanya kan kamu cukup ahli menghadapi mereka.” Huh, beginilah nasib istri yang ditinggal kerja suami tanpa kenal waktu. Segala urusan yang menyangkut anak dilimpahkan kepadaku semua. Bahkan dia sendiri sampai tak punya waktu untuk mereka. “Atau kalau kamu rela, kita pakai saja uang tabungan kita.” Nada bicaranya enteng sekali. Ha? Lantas usai pulang kampung, keluarga ini hidup tanpa uang tabungan sama sekali? Tidak! Tidak! Ini di Jakarta, bo! Kalau ada apa-apa, anak sakit, atau apa, siapa yang nanggung?
Suatu malam seorang pengurus lingkungan datang ke rumah mengedarkan proposal perayaan Natal. Aduh, lagi-lagi ada orang minta sumbangan! Mereka tidak tahu ya kalau aku sedang pusing! Nambah pusing aja! Kulihat daftar donatur, rata-rata menyumbang seratus ribu. Gila!
“Serelanya saja kok, Bu.” Pengurus lingkungan itu tersenyum maklum ketika mataku terbelalak melihat draft yang disodorkannya. Aku sedang tidak punya gengsi, jadi kuberikan saja uang sisa belanja hari ini. “Oya, Bu. Anak-anak mau dilatih main drama, menari, dan vocal group untuk mengisi acara. Kami mohon kesediaan Ibu untuk melibatkan mereka. Minggu depan mulai latihan di rumah saya.” Aku hanya mengangguk-angguk. Rupanya anak-anak bersedia ikut latihan bahkan mereka sangat antusias. Dalam latihan hari pertama Desti ditunjuk untuk memerankan tokoh Maria, Danti ikut menari, dan Damar kebagian peran sebagai penggembala domba.
“Mbeek! Mbeek!” Seru Damar ketika aku datang menjemputnya di tempat latihan. Desti dan Dantipun mulai sibuk menghafal dialog dan gerakan tari di rumah. Mereka senang sekali bisa ikut kegiatan anak-anak untuk mengisi acara perayaan Natal di lingkungan nanti.
“Ma, berarti Natal nanti kita nggak bisa pulang dong. Aku kan harus jadi Maria. Itu tokoh utama lho, Ma. Berarti aku harus segera membalas surat Mbak Ajeng, Ma. Biar Mbak Ajeng nggak nunggu-nungguin dan keluarga Eyang tidak kecewa.” Ujar Desti. “Nanti aku mau kirim kartu Natal buat Eyang, Simbah, Pakdhe, Budhe, Om, Bulik, dan semua sepupu kita. Satu orang satu kartu. Kita bikin sendiri seperti biasanya ya, Ma.” Usul Danti. Aku mengangguk dan keharuan merayapi dadaku. Oh, terimakasih banyak Tuhan. Terimakasih. Aku tak bingung soal mudik Natal lagi. Aku jadi menyesal kenapa selama ini kurang peduli pada kegiatan-kegiatan di lingkungan dan tidak pernah menyertakan anak-anak dalam pembinaan iman di lingkungan. Bukankah warga lingkungan adalah saudara terdekat kami?
ANAK-ANAK URBAN
ANAK-ANAK URBAN
Oleh Rini Giri
Sudah limabelas tahun Narni ikut Jarwo ke Jakarta. Kampung mereka tidak menyediakan lapangan pekerjaan untuk suaminya. Orang-orang tanpa modal seperti mereka, paling banter jadi penangkap ikan di waduk atau menjadi kru bus malam agar berpenghasilan. Tanah berbatu-batu tandus tidak bisa menghasilkan palawija sebagai sumber hidup.
Sejak lama masyarakat di daerah itu terkenal suka merantau ke kota ini. Di sini mereka bisa menjual bakso, jamu, gorengan, pecel lele, ayam panggang, ikan bakar, atau apapun yang bisa menghasilkan uang. Orang kota suka jajan. Itu yang dimanfaatkan orang dari daerah asal Narni dan Jarwo sebagai peluang kerja. Mereka cukup kompak di perantauan, bahkan membentuk sebuah paguyuban. Barangsiapa telah sukses, pasti mengajak teman atau sanak saudaranya yang masih di dusun untuk ikut bekerja di kota.
Jarwo termasuk beruntung. Dia tidak perlu jual ini-jual itu untuk hidup. Dia cukup menjual ijasah politehniknya ke sebuah perusahaan textile tempat kakaknya bekerja. Pengalaman kerja selama hampir limabelas tahun sudah mengantarnya menjadi seorang kepala bagian mesin. Kini, setelah merasa berpenghasilan lumayan, Jarwo ingin membahagiakan ibunya dengan jalan-jalan di kota ini. Setahun lalu kakaknya sudah melakukan hal yang sama, kini tiba gilirannya.
Udara kota besar memang selalu bikin gerah. Siang hari, terasa panas sampai ke ubun-ubun dan membuat keringat meleleh di sekujur tubuh. Malam pun tak ada bedanya. Malah tambah parah. Kamar-kamar menjadi pengap karena minim ventilasi dan nyamuk-nyamuk mulai bergerilya mencari darah segar.
Mungkin itu yang membuat mertua Narni tidak betah tinggal di rumah tipe tiga enam yang baru lunas cicilannya itu. Baru tiga hari yang lalu datang dari Wonogiri, susah-payah naik bus ekonomi karena tidak tahan AC, kini sudah minta pulang. Padahal janjinya mau tinggal di Jakarta paling sedikit satu bulan.
Narni menyusul Jarwo ke kamar. Malam telah membuat ketiga anak mereka terlelap di depan televisi sambil dihembusi putaran-putaran kipas angin yang lembut membuai. Ibu mertuanyapun sudah terbaring di kamar sebelah. Entah benar-benar tidur nyeyak atau pura-pura tidur saja. Mungkin lelah juga seharian merengek-rengek pada anaknya supaya besok pagi dicarikan tiket bus malam menuju kampung halaman. Usai menggeser letak obat nyamuk agar tidak terlalu dekat dengan gordin, perempuan itupun naik ke ranjang. Suaminya belum lelap benar.
“Mas, apa aku salah ngomong sama ibu ya?” tanya Narni mengoreksi diri. Selama tiga hari tiga malam, dia merasa telah menyambut ibu suaminya sebaik dan selayak mungkin. Ucapan-ucapannyapun diusahakan sesopan dan sehormat mungkin. Lantas kenapa mertuanya itu nekat mau pulang sebelum mereka sempat jalan-jalan ke Ancol atau Taman Mini. Padahal ini adalah kesempatan pertama bagi mertuanya untuk mengunjungi keluarga mereka.
Dulu saat pulang kampung anak-anak masih balita, kini sudah tumbuh sehat menjadi anak-anak sekolah dasar. Bukankah seharusnya mertuanya senang bisa berkumpul dan bercengkerama dengan ketiga cucunya? Suaminya hanya geleng kepala, tanda tak habis mengerti juga.
Tahun lalu ibu mertuanya datang ke Jakarta dan menginap di rumah kontrakan kakak iparnya. Rumah abangnya itu hanya rumah petak dengan satu kamar dan berdempet-dempetan dengan tetangga. Istri abangnya jauh lebih cerewet dibanding dirinya. Dia merasa lebih kalem dan bertata krama. Anehnya ibu suaminya itu justru bisa kerasan di rumah sempit abangnya. Jadi bukan kondisi rumah mereka yang membuat mertuanya tidak betah, karena rumah mereka jelas lebih besar dan lebih bagus. Juga bukan akibat ketidakbecusannya dalam menjalin komunikasi dengan mertuanya, soalnya dengan menantu banyak omong saja bisa nyambung apalagi dengan menantu penuh perhatian semacam dirinya.
Jarwo menggeleng lagi, pertanda tidak tahu dan tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti malah susah tidur. Ibunya memang sudah semakin tua, pastilah semakin aneh-aneh keinginan dan tabiatnya. Lelaki itupun segera memiringkan badan, menekuk kaki dan mulai mendesis dalam kenyenyakan.
Mata Narni sulit terpejam. Suara dengkuran suaminya membuat matanya semakin nyala terjaga. Dingat-ingatnya hari pertama ketika mertuanya datang. Biasa saja. Mereka sekeluarga menyambut perempuan tua itu di terminal. Anak-anak menyalami nenek mereka sambil mencium tangan renta itu dengan sopan, demikian pula dengan dirinya dan suami. Lantas mereka pulang dengan taxi. Saat tiba acara makan siang, karena terlalu sibuk membereskan dapur, dirinya menyuruh anak tertua untuk mengajak neneknya makan.
“Mbahe, makan yuk! Tuh udah disiapin Ibu. Nanti keburu dingin lho!” ajak Satrio lantas duduk di meja makan terlebih dulu. Adik-adiknyapun segera berebut memilih tempat duduk. Saat makan, mertuanya hanya mengambil sedikit seperti tak berselera. Padahal masakannya cukup enak dan anggota keluarga yang lain makan dengan lahap.
Hari kedua, anak perempuannya mendapat PR untuk menggambar gedung-gedung pencakar langit. Tapi mulutnya tidak berhenti mengeluh karena tidak bisa menggunakan penggaris secara tepat. Narni sedang sibuk mengajari anak bungsunya menulis huruf sambung, maka dia meminta anak kedua itu supaya lebih sabar dan terus berusaha sendiri. Ibu mertuanyapun mendekati sang cucu sambil memberi nasihat.
“Kalau mau membuat garis lurus sebaiknya dimulai dengan menggambar dua titik, Nduk. Baru kemudian ditarik garis dengan menggunakan penggaris itu. Pasti garisnya akan lurus dan rapi.” Sang nenek memberi petunjuk, namun buru-buru dibantah oleh sang cucu.
“Putri itu sudah tahu caranya, Mbahe. Bu Guru juga sudah ngasih tahu. Tapi tetap saja garisnya nggak lempeng.” Tiba-tiba sang nenek terdiam dan tidak berminat lagi membantu cucunya, lantas menyibukkan diri dengan membaca koran yang sudah basi.
Dan tadi siang, saat anak-anak pulang sekolah, ibu mertuanya sedang tertidur di kursi ruang tamu, sementara televisi menyala tanpa ditonton. Buru-buru si bungsu membangunkan neneknya.
“Mbahe, kalau tidur pindah ke kamar saja! Nanti kalau ada tamu loh! Tuh, tivinya nyala terus. Ntar Bapak bayar listriknya mahal.” Ujar si bungsu sambil mengangkat remote dan mematikan layar kaca itu. Sang nenek tampak kaget dan dengan muka masam berjalan menuju kamarnya. Narni jadi berpikir, apa mungkin ketidakkerasanan mertuanya disebabkan oleh ulah anak-anak? Mungkin saja. Bukankah anak kakak iparnya masih balita dan belum bisa ngomong, sehingga mertuanya justru betah? Besok pagi dia harus bicara pada mertuanya.
Ibu mertuanya segera mengeluarkan isi hati begitu dipancing oleh Narni. Benar saja. Anak-anak Narni dianggap tidak sopan dan tidak tahu tata krama. Masa sih mengajak makan neneknya seperti mengajak makan teman main?
“Ajari anakmu itu sopan santun. Kalau pada orang tua, pakai kata-kata yang halus. Tuh, anaknya Trisno, kakakmu yang di Wonogiri itu, baru empat tahun umurnya, tapi sudah pintar. Kamu dan suamimu itu meskipun sudah lama di Jakarta, tetap orang Wonogiri, Ni. Anak-anakmu itu juga berdarah Wonogiri. Jadi jangan sok kekota-kotaan. Sopan-santun yang diajarkan para leluhur kita harus tetap kamu ajarkan pada anak-anakmu.” Ujar Ibu Mertua panjang lebar. Narni hanya mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Inggih, Bu.” Hanya itu yang mampu diucapkan Narni. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa budaya dan tipe tata krama antara desa dan kota itu berbeda, sehingga anak-anaknya yang lahir dan besar di kota otomatis lebih mudah mengikuti nilai-nilai yang ada di lingkungan barunya dibanding nilai-nilai dari daerah asal. Masyarakat di kota besar itu beragam, kadang kita harus menanggalkan kedaerahan kita agar bisa berbaur akrab dengan tetangga dan lebih mengedepankan keindonesiaan kita. Begitu juga anak-anak. Mereka bisa dikucilkan teman sepermainannya jika bersikap kejawa-jawaan. Tapi Narni memilih untuk diam dan mendengar saja. Nanti mertuanya malah menuduhnya berani nyap-nyap.
“Anak-anakmu itu kok bisa jadi kurang ajar begitu? Padahal aku ini mengajari Jarwo sopan-santun. Orangtuamu juga penuh tata krama. Lha kok anak-anakmu itu bisa jadi urakan seperti itu? Apa di sekolah juga tidak diajari unggah-ungguh (sopan-santun” keluh mertuanya lagi.
“Maafkan mereka, Bu. Jangan diambil hati ya. Mereka kan cuma anak-anak.. Nanti biar saya tegur. ” Kata Narni sambil mengelus-elus tangan mertuanya lembut, agar luluh hatinya.
Anak-anak mereka lahir dan dibesarkan di perantauan. Sebuah kota besar dengan beragam budaya. Hanya satu bahasa yang bisa mengatasi segala kemajemukan itu, yaitu Bahasa Indonesia. Suatu bahasa yang tidak mengenal strata, universal berlaku bagi siapa saja. Tidak mengenal bahasa halus dan kasar seperti Bahasa Jawa. Bahkan kosa kata anaknyapun sudah sangat gaul.
Narni sadar, sebenarnya Satrio tidak bermaksud kurang ajar. Dia justru ingin mengajak neneknya makan bersama dengan caranya yang akrab. Hanya saja gaya bahasa yang digunakan terdengar asing dan membuat neneknya tersinggung. Putri juga hanya ingin mengungkapkan pendapatnya secara terbuka, bahkan Narni sendiri yang membiasakan anak-anaknya untuk bebas menyampaikan pikiran. Tapi rupanya, kebiasaan semacam itu dianggap sebagai perilaku kecap demi sekecap (setiap kata dibantah dengan satu kata juga). Kebiasaan disiplin untuk menghemat energi dan melakukan kegiatan pada tempatnya yang ingin ditunjukkan oleh si bungsu justru dianggap sebagai sikap terlampau berani pada orang tua.
Anak-anaknya memang punya darah Wonogiri, tapi Bahasa Jawa Ngoko Kasar yang stratanya paling rendahpun mereka tidak tahu, apalagi Bahasa Jawa Kromo Inggil yang stratanya paling tinggi. Mereka keturunan Wonogiri, tapi sudah kehilangan kewonogiriannya. Mereka tumbuh di Jakarta, tapi juga tidak seratus persen Jakarta. Bahkan pernah salah satu teman Putri mengolok-olok, “Ngomongnya sih pakai Bahasa Indonesia, tapi logatnya …medhok banget!” Dan Putri sempat tertekan karenanya.
Hal-hal yang sebenarnya cukup sopan di Jakarta ternyata dianggap kurang pantas di Wonogiri. Hal-hal yang sopan dan layak di Wonogiri, ternyata terlalu ribet untuk diterapkan di Jakarta. Kebebasan berbicara dan berekspresi ala Jakarta ternyata bisa bikin orang tersinggung di Wonogiri. Sikap menurut dan serba mendengarkan ala pedusunan justru bisa bikin celaka di Jakarta. Serba salah. Dan yang menjadi korban adalah anak-anak berdarah kampung yang lahir dan tumbuh di daerah urban seperti anak-anak Narni itu. Mereka digerundeli neneknya sendiri. Jika dipaksa memakai norma-norma kampung halaman, mereka justru akan tersisih di Ibu Kota. Tapi ketika mereka dibiasakan dengan norma-norma Ibu Kota, keluarga mereka dari kampung akan protes dan menganggap mereka kurang ajar. Kasihan betul.
“Ya sudah. Kita pakai bahasa campuran saja untuk Simbah!” ujar Narni pada suami dan anak-anaknya. Narnipun membisikkan sesuatu ke telinga Satrio saat mereka hendak makan siang. Anak itupun bergegas menuju kamar neneknya.
“Mbahe, silakan dahar (makan) dulu. Setelah dahar baru sare (tidur) lagi.” Ujar Satrio di depan pintu kamar. Sang Nenek tampak senang mendengar ajakan sang cucu yang dinilai lebih sopan.
“Cah Bagus, kamu kok sekarang sudah tambah pintar.” Nenek itupun segera bangkit dari pembaringan dan melenggang menuju meja makan dengan senyum cerah. Diapun lupa menanyakan apakah Jarwo sudah mendapat tiket atau belum. Sepertinya tiket itu sudah tidak penting lagi. (Bekasi Utara, 2008)
Oleh Rini Giri
Sudah limabelas tahun Narni ikut Jarwo ke Jakarta. Kampung mereka tidak menyediakan lapangan pekerjaan untuk suaminya. Orang-orang tanpa modal seperti mereka, paling banter jadi penangkap ikan di waduk atau menjadi kru bus malam agar berpenghasilan. Tanah berbatu-batu tandus tidak bisa menghasilkan palawija sebagai sumber hidup.
Sejak lama masyarakat di daerah itu terkenal suka merantau ke kota ini. Di sini mereka bisa menjual bakso, jamu, gorengan, pecel lele, ayam panggang, ikan bakar, atau apapun yang bisa menghasilkan uang. Orang kota suka jajan. Itu yang dimanfaatkan orang dari daerah asal Narni dan Jarwo sebagai peluang kerja. Mereka cukup kompak di perantauan, bahkan membentuk sebuah paguyuban. Barangsiapa telah sukses, pasti mengajak teman atau sanak saudaranya yang masih di dusun untuk ikut bekerja di kota.
Jarwo termasuk beruntung. Dia tidak perlu jual ini-jual itu untuk hidup. Dia cukup menjual ijasah politehniknya ke sebuah perusahaan textile tempat kakaknya bekerja. Pengalaman kerja selama hampir limabelas tahun sudah mengantarnya menjadi seorang kepala bagian mesin. Kini, setelah merasa berpenghasilan lumayan, Jarwo ingin membahagiakan ibunya dengan jalan-jalan di kota ini. Setahun lalu kakaknya sudah melakukan hal yang sama, kini tiba gilirannya.
Udara kota besar memang selalu bikin gerah. Siang hari, terasa panas sampai ke ubun-ubun dan membuat keringat meleleh di sekujur tubuh. Malam pun tak ada bedanya. Malah tambah parah. Kamar-kamar menjadi pengap karena minim ventilasi dan nyamuk-nyamuk mulai bergerilya mencari darah segar.
Mungkin itu yang membuat mertua Narni tidak betah tinggal di rumah tipe tiga enam yang baru lunas cicilannya itu. Baru tiga hari yang lalu datang dari Wonogiri, susah-payah naik bus ekonomi karena tidak tahan AC, kini sudah minta pulang. Padahal janjinya mau tinggal di Jakarta paling sedikit satu bulan.
Narni menyusul Jarwo ke kamar. Malam telah membuat ketiga anak mereka terlelap di depan televisi sambil dihembusi putaran-putaran kipas angin yang lembut membuai. Ibu mertuanyapun sudah terbaring di kamar sebelah. Entah benar-benar tidur nyeyak atau pura-pura tidur saja. Mungkin lelah juga seharian merengek-rengek pada anaknya supaya besok pagi dicarikan tiket bus malam menuju kampung halaman. Usai menggeser letak obat nyamuk agar tidak terlalu dekat dengan gordin, perempuan itupun naik ke ranjang. Suaminya belum lelap benar.
“Mas, apa aku salah ngomong sama ibu ya?” tanya Narni mengoreksi diri. Selama tiga hari tiga malam, dia merasa telah menyambut ibu suaminya sebaik dan selayak mungkin. Ucapan-ucapannyapun diusahakan sesopan dan sehormat mungkin. Lantas kenapa mertuanya itu nekat mau pulang sebelum mereka sempat jalan-jalan ke Ancol atau Taman Mini. Padahal ini adalah kesempatan pertama bagi mertuanya untuk mengunjungi keluarga mereka.
Dulu saat pulang kampung anak-anak masih balita, kini sudah tumbuh sehat menjadi anak-anak sekolah dasar. Bukankah seharusnya mertuanya senang bisa berkumpul dan bercengkerama dengan ketiga cucunya? Suaminya hanya geleng kepala, tanda tak habis mengerti juga.
Tahun lalu ibu mertuanya datang ke Jakarta dan menginap di rumah kontrakan kakak iparnya. Rumah abangnya itu hanya rumah petak dengan satu kamar dan berdempet-dempetan dengan tetangga. Istri abangnya jauh lebih cerewet dibanding dirinya. Dia merasa lebih kalem dan bertata krama. Anehnya ibu suaminya itu justru bisa kerasan di rumah sempit abangnya. Jadi bukan kondisi rumah mereka yang membuat mertuanya tidak betah, karena rumah mereka jelas lebih besar dan lebih bagus. Juga bukan akibat ketidakbecusannya dalam menjalin komunikasi dengan mertuanya, soalnya dengan menantu banyak omong saja bisa nyambung apalagi dengan menantu penuh perhatian semacam dirinya.
Jarwo menggeleng lagi, pertanda tidak tahu dan tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti malah susah tidur. Ibunya memang sudah semakin tua, pastilah semakin aneh-aneh keinginan dan tabiatnya. Lelaki itupun segera memiringkan badan, menekuk kaki dan mulai mendesis dalam kenyenyakan.
Mata Narni sulit terpejam. Suara dengkuran suaminya membuat matanya semakin nyala terjaga. Dingat-ingatnya hari pertama ketika mertuanya datang. Biasa saja. Mereka sekeluarga menyambut perempuan tua itu di terminal. Anak-anak menyalami nenek mereka sambil mencium tangan renta itu dengan sopan, demikian pula dengan dirinya dan suami. Lantas mereka pulang dengan taxi. Saat tiba acara makan siang, karena terlalu sibuk membereskan dapur, dirinya menyuruh anak tertua untuk mengajak neneknya makan.
“Mbahe, makan yuk! Tuh udah disiapin Ibu. Nanti keburu dingin lho!” ajak Satrio lantas duduk di meja makan terlebih dulu. Adik-adiknyapun segera berebut memilih tempat duduk. Saat makan, mertuanya hanya mengambil sedikit seperti tak berselera. Padahal masakannya cukup enak dan anggota keluarga yang lain makan dengan lahap.
Hari kedua, anak perempuannya mendapat PR untuk menggambar gedung-gedung pencakar langit. Tapi mulutnya tidak berhenti mengeluh karena tidak bisa menggunakan penggaris secara tepat. Narni sedang sibuk mengajari anak bungsunya menulis huruf sambung, maka dia meminta anak kedua itu supaya lebih sabar dan terus berusaha sendiri. Ibu mertuanyapun mendekati sang cucu sambil memberi nasihat.
“Kalau mau membuat garis lurus sebaiknya dimulai dengan menggambar dua titik, Nduk. Baru kemudian ditarik garis dengan menggunakan penggaris itu. Pasti garisnya akan lurus dan rapi.” Sang nenek memberi petunjuk, namun buru-buru dibantah oleh sang cucu.
“Putri itu sudah tahu caranya, Mbahe. Bu Guru juga sudah ngasih tahu. Tapi tetap saja garisnya nggak lempeng.” Tiba-tiba sang nenek terdiam dan tidak berminat lagi membantu cucunya, lantas menyibukkan diri dengan membaca koran yang sudah basi.
Dan tadi siang, saat anak-anak pulang sekolah, ibu mertuanya sedang tertidur di kursi ruang tamu, sementara televisi menyala tanpa ditonton. Buru-buru si bungsu membangunkan neneknya.
“Mbahe, kalau tidur pindah ke kamar saja! Nanti kalau ada tamu loh! Tuh, tivinya nyala terus. Ntar Bapak bayar listriknya mahal.” Ujar si bungsu sambil mengangkat remote dan mematikan layar kaca itu. Sang nenek tampak kaget dan dengan muka masam berjalan menuju kamarnya. Narni jadi berpikir, apa mungkin ketidakkerasanan mertuanya disebabkan oleh ulah anak-anak? Mungkin saja. Bukankah anak kakak iparnya masih balita dan belum bisa ngomong, sehingga mertuanya justru betah? Besok pagi dia harus bicara pada mertuanya.
Ibu mertuanya segera mengeluarkan isi hati begitu dipancing oleh Narni. Benar saja. Anak-anak Narni dianggap tidak sopan dan tidak tahu tata krama. Masa sih mengajak makan neneknya seperti mengajak makan teman main?
“Ajari anakmu itu sopan santun. Kalau pada orang tua, pakai kata-kata yang halus. Tuh, anaknya Trisno, kakakmu yang di Wonogiri itu, baru empat tahun umurnya, tapi sudah pintar. Kamu dan suamimu itu meskipun sudah lama di Jakarta, tetap orang Wonogiri, Ni. Anak-anakmu itu juga berdarah Wonogiri. Jadi jangan sok kekota-kotaan. Sopan-santun yang diajarkan para leluhur kita harus tetap kamu ajarkan pada anak-anakmu.” Ujar Ibu Mertua panjang lebar. Narni hanya mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Inggih, Bu.” Hanya itu yang mampu diucapkan Narni. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa budaya dan tipe tata krama antara desa dan kota itu berbeda, sehingga anak-anaknya yang lahir dan besar di kota otomatis lebih mudah mengikuti nilai-nilai yang ada di lingkungan barunya dibanding nilai-nilai dari daerah asal. Masyarakat di kota besar itu beragam, kadang kita harus menanggalkan kedaerahan kita agar bisa berbaur akrab dengan tetangga dan lebih mengedepankan keindonesiaan kita. Begitu juga anak-anak. Mereka bisa dikucilkan teman sepermainannya jika bersikap kejawa-jawaan. Tapi Narni memilih untuk diam dan mendengar saja. Nanti mertuanya malah menuduhnya berani nyap-nyap.
“Anak-anakmu itu kok bisa jadi kurang ajar begitu? Padahal aku ini mengajari Jarwo sopan-santun. Orangtuamu juga penuh tata krama. Lha kok anak-anakmu itu bisa jadi urakan seperti itu? Apa di sekolah juga tidak diajari unggah-ungguh (sopan-santun” keluh mertuanya lagi.
“Maafkan mereka, Bu. Jangan diambil hati ya. Mereka kan cuma anak-anak.. Nanti biar saya tegur. ” Kata Narni sambil mengelus-elus tangan mertuanya lembut, agar luluh hatinya.
Anak-anak mereka lahir dan dibesarkan di perantauan. Sebuah kota besar dengan beragam budaya. Hanya satu bahasa yang bisa mengatasi segala kemajemukan itu, yaitu Bahasa Indonesia. Suatu bahasa yang tidak mengenal strata, universal berlaku bagi siapa saja. Tidak mengenal bahasa halus dan kasar seperti Bahasa Jawa. Bahkan kosa kata anaknyapun sudah sangat gaul.
Narni sadar, sebenarnya Satrio tidak bermaksud kurang ajar. Dia justru ingin mengajak neneknya makan bersama dengan caranya yang akrab. Hanya saja gaya bahasa yang digunakan terdengar asing dan membuat neneknya tersinggung. Putri juga hanya ingin mengungkapkan pendapatnya secara terbuka, bahkan Narni sendiri yang membiasakan anak-anaknya untuk bebas menyampaikan pikiran. Tapi rupanya, kebiasaan semacam itu dianggap sebagai perilaku kecap demi sekecap (setiap kata dibantah dengan satu kata juga). Kebiasaan disiplin untuk menghemat energi dan melakukan kegiatan pada tempatnya yang ingin ditunjukkan oleh si bungsu justru dianggap sebagai sikap terlampau berani pada orang tua.
Anak-anaknya memang punya darah Wonogiri, tapi Bahasa Jawa Ngoko Kasar yang stratanya paling rendahpun mereka tidak tahu, apalagi Bahasa Jawa Kromo Inggil yang stratanya paling tinggi. Mereka keturunan Wonogiri, tapi sudah kehilangan kewonogiriannya. Mereka tumbuh di Jakarta, tapi juga tidak seratus persen Jakarta. Bahkan pernah salah satu teman Putri mengolok-olok, “Ngomongnya sih pakai Bahasa Indonesia, tapi logatnya …medhok banget!” Dan Putri sempat tertekan karenanya.
Hal-hal yang sebenarnya cukup sopan di Jakarta ternyata dianggap kurang pantas di Wonogiri. Hal-hal yang sopan dan layak di Wonogiri, ternyata terlalu ribet untuk diterapkan di Jakarta. Kebebasan berbicara dan berekspresi ala Jakarta ternyata bisa bikin orang tersinggung di Wonogiri. Sikap menurut dan serba mendengarkan ala pedusunan justru bisa bikin celaka di Jakarta. Serba salah. Dan yang menjadi korban adalah anak-anak berdarah kampung yang lahir dan tumbuh di daerah urban seperti anak-anak Narni itu. Mereka digerundeli neneknya sendiri. Jika dipaksa memakai norma-norma kampung halaman, mereka justru akan tersisih di Ibu Kota. Tapi ketika mereka dibiasakan dengan norma-norma Ibu Kota, keluarga mereka dari kampung akan protes dan menganggap mereka kurang ajar. Kasihan betul.
“Ya sudah. Kita pakai bahasa campuran saja untuk Simbah!” ujar Narni pada suami dan anak-anaknya. Narnipun membisikkan sesuatu ke telinga Satrio saat mereka hendak makan siang. Anak itupun bergegas menuju kamar neneknya.
“Mbahe, silakan dahar (makan) dulu. Setelah dahar baru sare (tidur) lagi.” Ujar Satrio di depan pintu kamar. Sang Nenek tampak senang mendengar ajakan sang cucu yang dinilai lebih sopan.
“Cah Bagus, kamu kok sekarang sudah tambah pintar.” Nenek itupun segera bangkit dari pembaringan dan melenggang menuju meja makan dengan senyum cerah. Diapun lupa menanyakan apakah Jarwo sudah mendapat tiket atau belum. Sepertinya tiket itu sudah tidak penting lagi. (Bekasi Utara, 2008)
Langganan:
Postingan (Atom)
