BACK STREET LOVE
Oleh Rini Giri
Rengekan serangga senja mengantar langkah Lastri ke bawah pohon kamboja itu. Diapun duduk terpuruk di sana. Satu persatu bunga putih jatuh ke pusara ayahnya. Perempuan itu menengadah, melihat langit yang semburat merah. Pekuburan mulai sepi.
Dirabanya gundukan tanah bertabur mawar itu. Ayahnya tenang dalam alam penantian dan akan dibangkitkan untuk bersatu dengan Kristus dalam kerajaan kekal-Nya. Lelaki itu mengikuti Yesus dengan setia sepanjang hidup. Dia yang selalu membimbing Lastri membaca kitab suci, berdevosi, dan aktif dalam kegiatan gereja. Pastilah ayahnya akan marah besar jika tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Mungkinkah dia juga akan menikmati hidup kekal kelak jika telah mengingkari Yesus?
Oh, seandainya saja ayahnya tidak mengalami kecelakaan itu, pastilah hidupnya tidak akan sesulit ini. Ayahnya pergi hanya meninggalkan nama baik dan kehormatan di tengah masyarakat, tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Apalagi keempat adiknya masih sekolah semua. Ijasah SMK hanya bisa mengantar Lastri bekerja di toko kue dengan penghasilan rendah. Ibunya pun banting tulang menjual baju-baju batik dari rumah ke rumah. Sampai akhirnya seorang kawan baik ayahnya datang melamar.
“Maksud Pak Darno itu baik, Las. Dia ingin balas budi pada bapakmu. Ranto itu sudah bekerja mapan di kota. Dia juga pemuda yang baik.” Ibunya terus membujuk Lastri agar menerima pinangan itu. Apalagi, Pak Darno juga berjanji akan membantu membiayai Lilis, Lardi, Lasmi, dan Lesmana sampai lulus kuliah.
“Tapi kami tidak seiman, Bu. Lastri tidak mau meninggalkan Yesus.” Lastri mendengar sendiri bagaimana Pak Darno menggarisbawahi persyaratan utama dari perjodohan itu. Calon mempelai wanita harus mengikuti adat kebiasaan dan tradisi keluarga mempelai pria.
“Las, semua agama dan aliran kepercayaan di dunia ini baik adanya. Semua mengajarkan kebaikan, Las.” Ibunya berdalih.
“Tapi tidak ada yang menimbulkan cinta mendalam seperti aku mencintai Yesus, Bu.” Jawab Lastri mempertahankan diri.
“Apa kamu tega melihat adik-adikmu putus sekolah? Sebesar apapun usaha kita mencari nafkah, tidak akan sanggup membiayai mereka kuliah, Las.” Lastri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis. Teriris-iris dan perih. Haruskah dia meninggalkan imannya demi menyelamatkan kehidupan keluarganya? Siang malam Lastri berdoa memohon petunjuk. Tapi sampai tenggang waktu yang diberikan Pak Darno, petunjuk itu tidak tampak. Hanya wajah-wajah lugu adiknya yang terus mengusik pikirannya. Keempat remaja itu harus memiliki kehidupan yang lebih baik, sehingga tidak perlu menggadaikan iman untuk melanjutkan hidup seperti dirinya. Hanya melalui tangan Lastri lah kehidupan yang lebih baik itu bisa terwujud.
“Maafkan saya, Pak. Saya terpaksa melakukan ini.” Dipeluknya pusara itu. Ayahnya pasti sangat kecewa. Dulu ayahnya selalu berpesan, jika memilih pasangan hidup harus yang seiman. Seiman saja belum cukup. Harus yang punya kualitas diri, punya perhatian pada kehidupan rohani, mencintai apa adanya, dan mau bekerja. Suaminya punya segala kualitas itu, hanya saja tidak mengenal Yesus.
“Pak, adik-adik sekarang bisa tenang dalam belajar. Bahkan Lilis sebentar lagi akan wisuda. Beban Ibu juga tidak seberat dulu lagi. Mas Ranto juga baik dan sayang pada saya dan keluarga kita. Semoga Bunda Maria dan Yesus tidak marah pada saya. Saya tahu, teladan dan guru saya itu pasti sangat kecewa karena sudah saya khianati. Tapi sungguh, Pak, semua itu bukan kehendak saya. Saya tidak kuasa, Pak. Saya terlalu lemah. Tapi di dalam lubuk hati saya yang terdalam, Maria tetap menjadi Bunda panutan. Teladan Yesus selalu hidup dalam jiwa saya.” Serangga pohon semakin merengek-rengek di dahan-dahan kemuning. Batang-batang kemboja dan pusara-pusara di sekitar tampak menghitam karena cahaya matahari kian tipis.
“Pak, di dekat rumah kami di kota, terdapat sebuah kapel kecil. Betapa pilu hati saya setiap kali ada misa dan mendengar lantunan lagu-lagu dari Puji Syukur. Saya meratap ketika sayup-sayup terdengar untaian doa rosario didaraskan. Saya sangat tersiksa, Pak. Saya merindukan semua itu. Ingin rasanya saya berlari ke sana dan rebah di depan Bunda Kudus untuk mencurahkan segala penat ini. Ingin sekali saya bersimpuh di depan Sakramen Maha Kudus supaya beban dosa saya ini diringankan. Tapi apa daya saya, Pak. Hidup keluarga kita sekarang ada di genggaman tangan saya. Jika genggaman ini saya lepas, mereka yang akan menanggung penderitaan. Sungguh, saya tidak ingin Lilis dan Lardi gagal kuliah. Saya juga tidak mau Lasmi dan Lesmana putus sekolah. Apalagi melihat Ibu sengsara seperti dulu, sungguh tidak saya harapkan.” Lastri meraba salib yang terukir di relung batu nisan itu. Matanya kian deras melelehkan kepedihan.
“Pernah saya tidak bisa menahan diri, Pak. Saat Mas Ranto sudah pergi kerja, saya datang ke kapel itu diam-diam. Saya harus menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Mas Ranto cukup dikenal dan disegani warga kota karena kiprah politiknya. Jadi apapun yang saya lakukan, pastilah mengundang perhatian masyarakat dan cepat menjadi gosip. Saya hanya sampai di pintu kapel itu. Meskipun seorang koster sudah membukakan pintu lebar-lebar, saya tidak sanggup untuk masuk. Lega rasanya bisa melihat altar, salib, dan tabernakel dari kejauhan. Sejenak saya memandangi Yesus. Dia tetap tersenyum, matanya tetap memandang saya penuh cinta, dan tangan kanannya yang sedikit terangkat memberi salam kedamaian. Dia tidak marah. Bahkan tampak semakin merindukan kedatangan saya. Bunda Mariapun masih tetap ramah seperti dulu. Kedua tangannya yang terbuka seolah mengundang saya untuk dipeluknya. Sungguh mati, Pak, saya tidak tahan dengan semua itu. Sayapun berlari sekencang-kencangnya dan meraung-raung dalam tangis karena tersiksa. Sebenarnya ingin saya mengaku dosa, tapi kaki ini tersendat karena saya tidak mungkin untuk kembali. Saya tidak sanggup melihat kebahagiaan keluarga kita terenggut. Biarlah saya datang ke pintu kapel itu setiap kali rindu. Oh, mungkinkah Yesus menerima cinta ini? Hanya back street love yang bisa saya berikan pada-Nya. Entah sampai kapan. Saya sudah menyangkal-Nya di dunia ini, apakah Diapun akan menyangkal saya kelak?” Sebuah tangan menyentuh bahu Lastri dan perempuan itu terhenyak. Buru-buru air mata dihapusnya.
“Bu, sudah malam.” Lastri berdiri, lantas mengambil beberapa lembar uang dari dalam tas dan memberikan kepada penjaga makam itu. Diapun melangkah pergi. (Bekasi Utara 2008)
Oleh Rini Giri
Rengekan serangga senja mengantar langkah Lastri ke bawah pohon kamboja itu. Diapun duduk terpuruk di sana. Satu persatu bunga putih jatuh ke pusara ayahnya. Perempuan itu menengadah, melihat langit yang semburat merah. Pekuburan mulai sepi.
Dirabanya gundukan tanah bertabur mawar itu. Ayahnya tenang dalam alam penantian dan akan dibangkitkan untuk bersatu dengan Kristus dalam kerajaan kekal-Nya. Lelaki itu mengikuti Yesus dengan setia sepanjang hidup. Dia yang selalu membimbing Lastri membaca kitab suci, berdevosi, dan aktif dalam kegiatan gereja. Pastilah ayahnya akan marah besar jika tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Mungkinkah dia juga akan menikmati hidup kekal kelak jika telah mengingkari Yesus?
Oh, seandainya saja ayahnya tidak mengalami kecelakaan itu, pastilah hidupnya tidak akan sesulit ini. Ayahnya pergi hanya meninggalkan nama baik dan kehormatan di tengah masyarakat, tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Apalagi keempat adiknya masih sekolah semua. Ijasah SMK hanya bisa mengantar Lastri bekerja di toko kue dengan penghasilan rendah. Ibunya pun banting tulang menjual baju-baju batik dari rumah ke rumah. Sampai akhirnya seorang kawan baik ayahnya datang melamar.
“Maksud Pak Darno itu baik, Las. Dia ingin balas budi pada bapakmu. Ranto itu sudah bekerja mapan di kota. Dia juga pemuda yang baik.” Ibunya terus membujuk Lastri agar menerima pinangan itu. Apalagi, Pak Darno juga berjanji akan membantu membiayai Lilis, Lardi, Lasmi, dan Lesmana sampai lulus kuliah.
“Tapi kami tidak seiman, Bu. Lastri tidak mau meninggalkan Yesus.” Lastri mendengar sendiri bagaimana Pak Darno menggarisbawahi persyaratan utama dari perjodohan itu. Calon mempelai wanita harus mengikuti adat kebiasaan dan tradisi keluarga mempelai pria.
“Las, semua agama dan aliran kepercayaan di dunia ini baik adanya. Semua mengajarkan kebaikan, Las.” Ibunya berdalih.
“Tapi tidak ada yang menimbulkan cinta mendalam seperti aku mencintai Yesus, Bu.” Jawab Lastri mempertahankan diri.
“Apa kamu tega melihat adik-adikmu putus sekolah? Sebesar apapun usaha kita mencari nafkah, tidak akan sanggup membiayai mereka kuliah, Las.” Lastri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis. Teriris-iris dan perih. Haruskah dia meninggalkan imannya demi menyelamatkan kehidupan keluarganya? Siang malam Lastri berdoa memohon petunjuk. Tapi sampai tenggang waktu yang diberikan Pak Darno, petunjuk itu tidak tampak. Hanya wajah-wajah lugu adiknya yang terus mengusik pikirannya. Keempat remaja itu harus memiliki kehidupan yang lebih baik, sehingga tidak perlu menggadaikan iman untuk melanjutkan hidup seperti dirinya. Hanya melalui tangan Lastri lah kehidupan yang lebih baik itu bisa terwujud.
“Maafkan saya, Pak. Saya terpaksa melakukan ini.” Dipeluknya pusara itu. Ayahnya pasti sangat kecewa. Dulu ayahnya selalu berpesan, jika memilih pasangan hidup harus yang seiman. Seiman saja belum cukup. Harus yang punya kualitas diri, punya perhatian pada kehidupan rohani, mencintai apa adanya, dan mau bekerja. Suaminya punya segala kualitas itu, hanya saja tidak mengenal Yesus.
“Pak, adik-adik sekarang bisa tenang dalam belajar. Bahkan Lilis sebentar lagi akan wisuda. Beban Ibu juga tidak seberat dulu lagi. Mas Ranto juga baik dan sayang pada saya dan keluarga kita. Semoga Bunda Maria dan Yesus tidak marah pada saya. Saya tahu, teladan dan guru saya itu pasti sangat kecewa karena sudah saya khianati. Tapi sungguh, Pak, semua itu bukan kehendak saya. Saya tidak kuasa, Pak. Saya terlalu lemah. Tapi di dalam lubuk hati saya yang terdalam, Maria tetap menjadi Bunda panutan. Teladan Yesus selalu hidup dalam jiwa saya.” Serangga pohon semakin merengek-rengek di dahan-dahan kemuning. Batang-batang kemboja dan pusara-pusara di sekitar tampak menghitam karena cahaya matahari kian tipis.
“Pak, di dekat rumah kami di kota, terdapat sebuah kapel kecil. Betapa pilu hati saya setiap kali ada misa dan mendengar lantunan lagu-lagu dari Puji Syukur. Saya meratap ketika sayup-sayup terdengar untaian doa rosario didaraskan. Saya sangat tersiksa, Pak. Saya merindukan semua itu. Ingin rasanya saya berlari ke sana dan rebah di depan Bunda Kudus untuk mencurahkan segala penat ini. Ingin sekali saya bersimpuh di depan Sakramen Maha Kudus supaya beban dosa saya ini diringankan. Tapi apa daya saya, Pak. Hidup keluarga kita sekarang ada di genggaman tangan saya. Jika genggaman ini saya lepas, mereka yang akan menanggung penderitaan. Sungguh, saya tidak ingin Lilis dan Lardi gagal kuliah. Saya juga tidak mau Lasmi dan Lesmana putus sekolah. Apalagi melihat Ibu sengsara seperti dulu, sungguh tidak saya harapkan.” Lastri meraba salib yang terukir di relung batu nisan itu. Matanya kian deras melelehkan kepedihan.
“Pernah saya tidak bisa menahan diri, Pak. Saat Mas Ranto sudah pergi kerja, saya datang ke kapel itu diam-diam. Saya harus menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Mas Ranto cukup dikenal dan disegani warga kota karena kiprah politiknya. Jadi apapun yang saya lakukan, pastilah mengundang perhatian masyarakat dan cepat menjadi gosip. Saya hanya sampai di pintu kapel itu. Meskipun seorang koster sudah membukakan pintu lebar-lebar, saya tidak sanggup untuk masuk. Lega rasanya bisa melihat altar, salib, dan tabernakel dari kejauhan. Sejenak saya memandangi Yesus. Dia tetap tersenyum, matanya tetap memandang saya penuh cinta, dan tangan kanannya yang sedikit terangkat memberi salam kedamaian. Dia tidak marah. Bahkan tampak semakin merindukan kedatangan saya. Bunda Mariapun masih tetap ramah seperti dulu. Kedua tangannya yang terbuka seolah mengundang saya untuk dipeluknya. Sungguh mati, Pak, saya tidak tahan dengan semua itu. Sayapun berlari sekencang-kencangnya dan meraung-raung dalam tangis karena tersiksa. Sebenarnya ingin saya mengaku dosa, tapi kaki ini tersendat karena saya tidak mungkin untuk kembali. Saya tidak sanggup melihat kebahagiaan keluarga kita terenggut. Biarlah saya datang ke pintu kapel itu setiap kali rindu. Oh, mungkinkah Yesus menerima cinta ini? Hanya back street love yang bisa saya berikan pada-Nya. Entah sampai kapan. Saya sudah menyangkal-Nya di dunia ini, apakah Diapun akan menyangkal saya kelak?” Sebuah tangan menyentuh bahu Lastri dan perempuan itu terhenyak. Buru-buru air mata dihapusnya.
“Bu, sudah malam.” Lastri berdiri, lantas mengambil beberapa lembar uang dari dalam tas dan memberikan kepada penjaga makam itu. Diapun melangkah pergi. (Bekasi Utara 2008)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar