BALAS CINTAKU, GO!
Oleh Rini Giri
Hari ini aku seneng banget. Soalnya begitu keluar dari gerbang sekolah, sebuah lambaian tangan dan senyum hangat menyambutku. Dia di seberang jalan dan tampak berkeringat. Pasti udah lama nunggu. Aku menyeberang dan mendekatinya.
“Mau makan bakso atau siomai?” Sambutnya.“Cerpenku dimuat lagi.”
“O ya?” Mataku terbelalak gembira. “Hebat! Hebat! Yang mana?”
“Yang kamu posin sebulan lalu.”
“Selamat ya…” Tangannya kujabat erat. Dia meringis. “Bakso plus es teler. Boleh ya?”
Dia mengangguk dan ngebetulin letak tongkat yang hampir sepuluh tahun menyangga tubuh kanannya. Kami berjalan menuju kedai bakso di ujung jalan.
Golan temanku sejak kecil. Hari pertama masuk kelas satu SD, dia yang nolong aku. Aku lupa bawa buku dan cuma mengisi tas dengan kotak bekal. Golan yang baru kukenal kasihan ngelihat aku menangis. Tanpa ngomong, sebuah buku tulis baru diulurkan padaku. Dia punya dua. Aku diam lantas terbahak-bahak melihat gigi ompongnya. Sejak saat itu kami berteman.
Tapi waktu kelas tiga, tiba-tiba Golan menghilang. Dia nggak masuk sekolah hampir tiga bulan. Bu guru cuma bilang kalau Golan sedang sakit keras. Selama itu hari-hariku sepi. Kalau ada anak yang usil nggak ada lagi yang ngebelain. Bekal yang kubawa nggak ada lagi yang minta. Aku kesepian.
Akhirnya, tibalah hari itu. Saat yang kutunggu-tunggu. Yaitu kembalinya Golan ke sekolah. Ibunya menggendongnya di punggung. Tubuh Golan tampak pucat dan sangat kurus. Tapi aku nggak peduli. Yang penting sahabat terbaikku kembali. Aku berlari menyambut dia dan memanggil-manggil namanya. Aku ingin Golan tahu kalau aku kangen banget padanya. Tapi kawanku itu malah sembunyi di punggung ibunya.
“Go! Turun Go! Ayo, ajari aku main gundu lagi!” Teriakku. Tanganku menarik-narik kakinya yang terjuntai lemas. Aku melihat kaki Golan mengecil sebelah. Apa yang telah terjadi dengannya? “Go, kamu kenapa?” Aku berhenti, berjongkok dan menangis. Ibu Golan mendekatiku.
“Kamu pasti yang bernama Alisa. Golan baru sembuh dari sakit. Tante boleh minta tolong padamu?” Aku menyeka air mata. Tentu saja boleh. Hatiku sangat senang dimintai bantuan sama ibu Golan. “Golan habis kena panas tinggi. Sekarang ini dia kesulitan untuk berjalan. Boleh tante minta tolong sama kamu untuk membantu dia di kelas? Tante akan menunggu di dekat kantin sekolah sampai pelajaran selesai.” Aku berusaha kasih senyum semanis mungkin dan menganggukkan kepala. “Terimakasih ya, Sa. Kamu anak yang sangat baik.”
Aku minta Ita pindah tempat, biar Golan bisa sebangku sama aku. Golan jadi pendiam banget. Tak apalah, yang penting dia masih mau ngedengerin aku. Dia nggak protes saat aku ngomong terus. Paling dia senyum dikit. Selama seminggu ibunya nungguin di dekat kantin. Tapi setelah itu cuma nganterin dan ngejemput aja. Aku yakin Golan akan aman bersamaku.
Setiap jam istirahat aku nemenin dia di kelas. Kubuka tempat bekalku dan dia ambil satu. Tapi dia nggak rakus lagi kayak dulu. Bahkan sepotong roti aja nggak habis.”Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Nggak lama kok.” Aku kebelet pipis. Golan mengangguk. Saat aku kembali, bangku kami dikerumuni banyak anak. Akupun menembus masuk dan melihat Golan tersungkur di lantai.
“Awas! Minggir! Minggir! Bini Golan datang!” Ledek salah satu temanku. Aku kesal pada mereka. Bukannya menolong, tapi malah nonton. Golan cuma pengin meraih pensil yang jatuh ke lantai, tapi kursinya roboh dan dia terjungkal. Tubuh Golan berat. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Akupun lari ke ruang guru cari bantuan. Sejak saat itu Golan nggak mau masuk sekolah lagi. Aku nyesel udah ninggalin Golan sendirian.
“Sa, ini bukan salahmu. Golan hanya belum siap untuk bertemu teman-temannya lagi. Nanti kalau sudah baik keadaannya, Golan pasti masuk sekolah lagi.” Ibu Golan menghibur. Tapi nyatanya hingga aku hampir lulus SMU, Golan nggak pernah masuk sekolah. Dia belajar sendiri di rumah. Hebatnya, dia malah lebih pintar dibanding aku yang nggak pernah bolos. Kalau ada PR atau soal latihan yang sulit, aku akan tanya padanya. Materi-materi yang susah dipahami pun jadi mudah setelah dia yang ngasih penjelasan. Kemampuannya menulis juga makin hebat. Dia suka nunjukin hasil karyanya untuk kukomentari. Lalu minta tolong buat ngeposin naskah-naskah itu. Tentu dia bakal kesulitan kalau harus naik turun kendaraan umum ke kantor pos. Setiap cerpennya dimuat, aku ditraktir.
“Dewo titip salam.” Ujar Golan sambil menggulung mie dengan garpu. Dewo itu sepupu Golan. Kata Golan, cowok itu ingin mendekatiku, tapi gimana ya, aku kan udah nyediain hatiku buat orang lain.
“Nggak usah ngomongin dia.”
“Sa, kamu udah tujuhbelas tahun. Udah waktunya pacaran. Nanti dikira nggak normal lho. Dewo kan anak baik. Kenapa kamu nggak kasih kesempatan?”
“Aku normal kok. Cuma, hatiku udah tertutup bagi cowok lain.”
“Berarti udah ada cowok yang nempatin hati kamu dong? Siapa?” Huh, sebel. Wajahnya sok polos. Siapa lagi kalau bukan kamu, Go! Apa kamu mati rasa sampai nggak bisa ngerasain kegembiraanku tiap kali dekat sama kamu? Apa kamu nggak punya hati sehingga nggak bisa ngerti arti binar mataku saat bicara padamu? Atau pura-pura nggak tau? Dasar bodoh! Kamu memang pintar soal fisika, kimia dan matematika, tapi tulalit soal cinta.
“Go, menurutmu cewek boleh nggak nembak duluan?”
“Boleh aja. Pikiran dan perasaan cewek kan juga harus dihargai.” Dia terus makan, sampai keringetan. Aku gelisah. Mungkin ini saat yang tepat.
“Go, cowok itu kamu.” Golan tersedak. Buru-buru dia minum dan menenangkan diri. “Aku sungguh-sungguh.” Kepalanya menggeleng. Sendok dan garpu dirapikan, padahal masih ada tiga butir bakso di mangkuk. Dia menatapku. Matanya kuning.
“Kamu memang bodoh, Sa.” Golan bangkit dengan bantuan tongkat, lalu membayar. Akupun menyudahi makanku dan mengikuti dia. Langkahnya tergesa-gesa.
“Go, maumu apa?” Aku menyejajari langkahnya.
“Lihat dirimu, lantas lihat aku! Kamu mau bikin masalah?”
“Semua orang punya hak sama dalam cinta kan, Go?”
“Pintarlah sedikit, Sa!”
“Maksudmu apa? Kamu takut bikin repot aku? Kamu ngerasa nggak pantes? Kurangmu maupun lebihmu udah jadi bagian hidupku, Go. Apa lagi?”
“Kamu salah! Sadarlah bahwa aku cuma memanfaatkan kedekatan kita!”
“Go!” Aku nggak percaya mendengar perkataan kasar itu. “Kamu bohong kan, Go?”
“Sa, aku udah pasang modem internet di rumah. Jadi mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi bantuin aku ngeposin naskah atau nemenin aku ke warnet. Aku serius.” Aku mundur beberapa langkah, lantas berlari dengan hati hancur.
Hari-hariku sepi lagi, bahkan lebih parah dibanding sepuluh tahun lalu saat Golan sakit. Kayaknya Golan bisa bertahan dengan perpisahan itu, tapi aku nggak bisa. Aku sempat punya niat buat baikan ke rumahnya, tapi dia terus menghindar. Yang selalu menemuiku cuma Dewo. Sampai akhirnya kudengar kabar kalau Golan pergi dan kerja di sebuah panti rehabilitasi penyandang tuna daksa.
“Kenapa dia pergi?” Tanyaku pada Dewo.
“Setahuku dia ingin hidupnya lebih berarti.”
Jadi meninggalkanku lebih berarti baginya. Sejak saat itu aku nggak pernah mencari Golan lagi. Aku benci dia. Dia egois, cuma mikirin kepentingan sendiri. Pengecut, lari dari cinta yang sebenarnya kami miliki. Apa benar dia takut jadi bebanku? Atau jangan-jangan mengalah bagi Dewo? Keterlaluan! Meski kadang merasa kangen dan kehilangan, tapi rasa itu segera kutebas. Tapi tunas cintaku selalu tumbuh lagi. Aku sangat tersiksa. Nggak mudah ngilangin seseorang dari hidup ini, meski dia udah nyakitin perasaanku.
“Sebenarnya Golan minta aku buat ngerahasiain semua ini, Sa. Tapi aku nggak tega sama kamu. Dia sakit parah. Kalau kamu mau, kuantar ketemu dia.” Tutur Dewo suatu petang. Golan tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Virus Hepatitis B membuat levernya keras dan bengkak, sehingga metabolisme tubuhnya terganggu. Dia udah nggak punya tenaga buat merespon kedatanganku. Nafsu makannya hilang dan sering muntah. Yang kulihat hanya tatapan mata yang melelehkan air mata. Sekujur tubuhnya jadi kuning. Virus itu sudah merusak dan bergabung dengan DNA-nya sehingga nggak bisa disembuhin. Obat-obatan hanya bisa mengurangi sedikit deritanya.
“Go, kenapa kamu keterlaluan banget? Ninggalin aku gitu aja. Padahal persahabatan bisa diperbaiki. Aku menghormati sikapmu kok.” Kuraih jari-jari Golan dan kuusap lembut. “Kamu setuju kan kalau kita baikan?” Lelehan di sudut mata kuning itu kian deras dan kuhapus dengan ujung jariku.
Tiap sore aku datang ke rumah sakit buat nemenin Golan. Aku bahagia melihat senyum tipisnya. “Aku tahu kamu udah ngebalas cintaku, Go.” Bisik hatiku. Hari-hariku kembali berharga karena Golan ada lagi dalam hidupku. Dia mulai mau makan, bisa bicara, mencoba duduk bersandar bantal, sedikit menulis, bahkan menggodaku. Aku senang dia mulai nunjukin emosinya. Kepalaku pun penuh harapan. Golan pasti akan pulih dan aku berjanji akan menjaganya.
“Sa, tadi malam, begitu kamu pulang. Golan sesak nafas. Dokter sudah berusaha keras. Daya tahan tubuhnya lemah, dia tidak sanggup bertahan. Dia pulang ke pangkuan Tuhan dengan senyum. Aku yakin di hari-hari terakhirnya dia amat bahagia, karena ada kamu di dekatnya.” Dewo menemuiku usai pemakaman itu. “Flashdisk ini tolong kausimpan. Ibunya bilang, kamu yang paling tau buat mengurus semuanya. ” Kuterima kotak berisi karya-karya berharga itu. Akan kukirim ke media.”Golan sangat sayang padamu, kau tau itu. Dia takut hepatitis-nya menulari kamu jika sudah menikah nanti, makanya dia menolak cintamu. Menjadi teman terdekatmu adalah hal paling indah baginya. Dia tertular secara menurun dari ibunya. Ibunya tertular dari ayahnya yang pecandu narkoba. Ayahnya sering gantian pakai alat suntik. Golan hanya ingin memutus rantai penyakit itu. Perlu kamu tau, aku nggak mungkin merebutmu dari dia. Itu cuma akal-akalan Golan supaya kau bisa menjauhinya pelan-pelan.”
“Golan nggak pernah cerita kalau dia sakit.”
“Mungkin dia ingin kau tetap gembira.”
“Keterlaluan. Beginikah cara dia membalas cintaku?”
“Yang bisa kita lakukan hanyalah menghargainya, Sa.” Aku menunduk pilu.
Kamis, 25 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

wah...sampai menitikkan air mata setelah usai membacanya mbak....love it so much
BalasHapus