CINTA KAN ADA SELAMANYA
Oleh Rini Giri
Zeta lagi baca di teras. Punggung menyandar santai, kaki menjulur merdeka. Mulutnya mengunyah camilan. Asyik banget. Suara motor yang merapat ke pagarpun sampai nggak kedengeran.
“Hai, Ze! Lagi ngapain?” Sapaan itu nggak digubris. Udah tau lagi baca, masih nanya. “Baca apaan? Yah, udah gede masih baca komik.” Zeta mencibir dan terus baca. Tapi tiba-tiba dia merasa perlu bertindak saat tangan tamu nggak diundang itu mulai mencomot keripiknya.
“Usil banget sih! Balikin nggak!” Zeta menepis tangan yang nggak kenal permisi itu. Buru-buru keripik dibalikin ke toples.
“Pelit! Galak lagi!” Sungut si tamu. Zeta naik pitam. Dia berdiri berkacak pinggang.
“Udah tau aku pelit, galak, ngapain masih datang kemari? Pokoknya aku nggak suka kamu dekat-dekat. Pacarku bisa salah paham gara-gara ulahmu yang nggak jelas ini. Ngerti?”
“Siapa juga yang mau ketemu kamu? Aku ke sini mau ngebetulin mesin cuci. Tabung pengeringnya ngadat. Aku janjian sama ibumu! GR!” Rano nggak kalah sengit. Dia melengos dan segera pergi ke belakang menemui ibu Zeta. Cewek itu jadi tengsin.
“Dasar!” Gengsinya amat tinggi, maka kata itu yang terluncur.
Keluarga Zeta dan Rano bersahabat. Sejak kecil keduanya sering bersama. Sebenarnya Rano sayang sama Zeta. Tapi Zeta kesal padanya. Akhirnya, bahasa yang mereka pakai cuma bahasa saling cerca.
Rano nggak pernah menyatakan rasa cintanya karena udah pasti ditolak. Wah, tamatlah kebersamaan mereka yang sulit didefinisikan itu. Mendingan begini, tanpa status. Zeta akan tetap jadi bagian penting dalam hidupnya. Meski Zeta udah pacaran, nggak jadi soal. Toh dia selalu punya alasan untuk bertandang ke rumah Zeta. Tapi bagi Zeta, kedekatan itu sangat mengganggu. Pacarnya nggak suka pada Rano. Mungkin cemburu.
*
“Ze, aku nggak akan diam aja kalau kamu dipermainkan kayak gini.” Kata Rano suatu sore. Dia punya janji sama ayah Zeta. Mau bikin akun di facebook. Ayah Zeta pengin promosiin usaha barunya lewat internet.
“Maksudmu apa?” Tanya Zeta.
“Beni nggak cuma jalan sama kamu.” Ujar Rano serius. Zeta kaget.
“Dia selingkuh?” Bak disambar petir.”Ran, kamu jangan ngarang cerita deh! Kamu nggak suka sama Beni kan? Kamu ingin ngejauhin aku dari dia kan?”
“Aku nggak bohong soal Beni! Dia nggak suka aku karena aku tahu persis segala borok dia. Ze, lebih baik kamu tahu sekarang daripada nanti-nanti kamu sakit hati!” Hati Zeta serasa tersambar geledek dan menangis. Rano paling nggak tahan melihat situasi seperti itu. Sejak kecil, dimaki-maki dan dipojokin Zeta pun dia rela asal jangan sampai cewek itu menangis.
*
Buat ngebuktiin, Zeta pergi ke tempat Beni main bola. Selama ini dia nggak pernah nemenin pacarnya latihan, soalnya nggak suka bola. Dia melihat dari jauh. Beni sangat bersemangat saat seorang cewek berteriak ngasih dukungan padanya. Itu kan Tia, mantan Beni. Jadi mereka masih berhubungan? Zeta menunggu sampai latihan usai. Beni minum dari botol yang disodorin Tia. Mereka sangat dekat dan mesra. Hati Zeta ngilu.
Dia bergegas ke parkiran dan menunggu di dekat mobil Beni. Masalah ini harus tuntas sekarang juga! Menurut beberapa teman Beni, Tia selalu menemani saat latihan. Randi benar, Beni curang. Dia back street sama cewek yang tidak disukai ibunya itu. Hati Zeta jadi kecut. Jadi untuk mengelabuhi ibunya, Beni pura-pura pacaran sama dirinya. Zeta memang cukup dikenal ibu pacarnya. Ibu Zeta kan teman senam ibu Beni.
Ibu Beni pernah cerita kalau dulu hubungannya dengan Beni tegang lantaran tidak suka sama Tia. Soalnya ayah Tia pernah menipu ibu Beni dalam bisnis mereka. Kunci mobil dan kartu kredit Beni akan ditarik jika nggak mau putus dari cewek itu. Ternyata sampai sekarang mereka masih pacaran. Beni memacari Zeta hanya sebagai tameng dari ancaman ibunya. Zeta benar-benar kecewa. Ketika datang, Beni tercengang. Cowok itu salah tingkah. Tia mengikutinya.
“Ze, kok di sini?”
“Salah ya kalau pengin ketemu?”
“Ze…” Beni mendekat dan suaranya sedikit berbisik. Tia tampak gusar.
“Gini ya caramu mempertahankan mobil ini? Aku lebih mahal dari mobil ini, Ben. Detik ini juga kita putus!”
“Ze!” Zeta berjalan cepat dan tidak menoleh lagi. Di belakang sana keributan dimulai.
*
Putus cinta emang berat. Bikin menderita. Batin terluka. Zeta jadi murung dan pendiam. Nafsu makannya hilang, rambutnya rontok, dan berat badannya susut. Habislah dunia ini di matanya. Beni adalah cinta pertama yang telah menusuk batinnya. Zeta merasa sangat direndahkan dengan status palsu itu.
Akhirnya Rano mengisi hari-hari Zeta. Tentu saja dengan status mereka yang tidak jelas. Rano ingin senyum Si Jutek kembali. Dia kangen pada makian dan celaannya. Cewek itu seperti kehilangan roh. Dia berubah. Menjadi sangat tidak peduli pada apapun. Perubahan Zeta membuat Rano khawatir.
Rano dan Zeta makin dekat. Kemana-mana Rano yang mengawal. Anehnya kali ini Zeta nurut aja. Bahkan nada suaranya saat bicara turun beberapa oktaf. Nggak ada acara berantem lagi. Dua keluarga juga makin dekat. Bahkan Zeta ngerawat ibu Rano waktu sakit keras.
“Ibu ingin kalian tunangan. Sebentar lagi kan Zeta kuliah di kota lain.” Pinta Ibu Rano lemah. Dia ingin kejelasan hubungan keduanya. Rano bingung dengan ide itu.
“Tapi, Bu. Aku dan Zeta kan…”
“Rano, please, dengar kata ibu. Jangan membantah. Ze, kamu bagaimana?” Zeta tersenyum. Dia nggak ingin ngecewain ibu Rano. Cewek itu udah nggak punya ambisi lagi. Hanya Rano yang ada dalam hari-harinya dua tahun terakhir sejak putus dengan Beni. Rano melindunginya dan nggak pernah nyakitin hatinya. Zeta tidak sampai hati menolak.
*
Tak diduga, kehidupan di kampus membuat roh Zeta kembali. Dunia berwarna dan penuh harapan lagi. “Apa aku benar-benar cinta pada Rano? Apa aku hanya kasihan? Kenapa aku nggak bahagia? Meski Beni berkhianat, tapi selagi dengannya hatiku meletup-letup. Tidak seperti ini.” Nggak ada yang hidup dalam jalinan asmaranya.
“Ran, sejak bertunangan, aku kehilangan kakak yang dulu selalu ada dalam duniaku. Aku butuh dia.” Tutur Zeta suatu kali. Rano bisa menebak, sesuatu yang sangat ditakutinya akan terjadi.
“Aku tetap kakakmu, Ze.” Rano memastikan.
“Kamu cinta padaku dan aku hargai itu. Tapi hubungan kita jadi kaku.” Rano sadar, Zeta menerima cintanya karena pertimbangan lain. Kasihan pada ibunya yang sakit dan pada dirinya yang terus-menerus berkorban.
“Kamu udah berusaha sekuat tenaga untuk mencintaiku. Kalau hanya sanggup mencintaiku sebagai kakak, itu bukan salahmu. Pergilah, Ze. Tersenyumlah kembali.” Cinta memang nggak bisa dipaksa.
“Apa kamu nggak marah?” Rano menggeleng lalu memeluk Zeta. Ada kemerdekaan di senyum Zeta. Namun pilu meremas hati Rano. Meski keduanya sepakat untuk tetap jadi kakak-adik, toh luka batin Rano pasti menyisakan bekas.
Rano terpuruk. Semakin ingin melupakan, semakin besar keinginannya untuk mencintai. Semakin ingin menghapus dari ingatan, tapi bayangan Zeta makin nyata. Dalam kondisi jiwa yang nggak seimbang, Rano memilih pergi jauh. Nggak ada yang tahu. Hilang begitu saja.
*
Zeta bertemu kakak-kakak baru. Bahkan ada yang menjalin cinta dengannya. Bayang-bayang Rano kian pudar. Kadang hadir dalam mimpi buruk dan segera dilupain.
Perubahan terus terjadi. Begitu pula cinta Zeta. Patah hati udah jadi hal biasa Terpuruk akibat putus dari Beni, hanya karena dia belum pengalaman. Ah, besok pagi cinta baru pasti datang. Tapi keadaan seperti itu lama-lama bikin bosan. Hubungan yang dijalinnya selalu game over.
Suatu hari adik Rano menghubungi hape-nya dan bertanya apakah si abang pernah menghubungi dirinya. Zeta tercenung. Kemana Rano? Hampir setahun? Berarti sejak mereka putus? Rano pergi karena frustasi? Oh, Tuhan. Zeta merasa bersalah. Teman terbaiknya luka. Bayangan Rano kembali. Sebenarnya hanya Rano yang benar-benar tanpa pamprih mencintainya. Rano setia, tidak pernah menuntut dan macam-macam. Dia cowok yang super baik.
Harapan Zeta untuk menemukan Rano nyaris pupus. Tak ada satupun teman Rano yang tau. E-mail, facebook, blog, dan hape Rano sudah lama tidak aktif. Hingga datanglah kabar itu. Teman Zeta pernah melihat Rano di panti jompo. Ah, jodoh memang nggak bakal lari kemana! Zeta bertekat membawa Rano pulang.
“Saya ingin bertemu Rano. Em, Frater Rano. Saya adiknya.” Ujar Zeta pada penerima tamu. Lelaki itu mengangguk kalem dan dengan sopan mempersilakan Zeta duduk. Keheningan menguasai ruangan itu. Mata Zeta terpejam. Jantungnya deg-deg-plas.
“Selamat siang.” Sebuah suara bikin kaget. Serta-merta Zeta memeluk sosok itu.
“Rano. Jangan pergi lagi.” Bisik Zeta. Air matanya meleleh. “Maafkan aku, Ran.” Rano membalas pelukan itu. Dia juga rindu. Lama mereka terbenam, sampai akhirnya suara lonceng penanda waktu mengingatkan.
“Kita bicara di luar.” Rano melepas Zeta. Mereka berjalan di taman biara yang sangat terawat.
“Semua orang mencarimu. Pulanglah, Ran. Kita bisa memperbaiki semuanya.” Rano tersenyum. Dia mengajak Zeta ke sebuah kompleks bangunan. Panti Jompo. Rano mengunjungi kamar seorang kakek untuk memastikan dia baik-baik saja. Lalu ke kamar lain untuk menyuapi seorang nenek yang sudah lumpuh. Dia memperkenalkan Zeta pada setiap orang di situ dan memintanya membaca cerita buat salah seorang oma. Rano tampak bahagia dengan segala pekerjaannya. Bahkan yang menjijikkan sekalipun.
“Ze, aku senang kamu datang. Ini kejutan. Tapi maaf, aku nggak bisa pulang.”
“Kenapa? Kamu masuk biara karena lari dariku kan? Aku datang, Ran. Apa kamu nggak peduli?”
“Aku peduli. Tapi aku ingin mengabdi di sini.”
“Kamu nggak cinta lagi padaku?”
“Cintaku sangat besar. Biarlah tetap begini. Cinta akan ada selamanya. Kalau kamu lagi sedih, kamu boleh kok datang kemari. Aku kan udah janji mau jadi abangmu.” Reno mengacak rambut Zeta. Zeta merasa disayang.
Lonceng penanda waktu berdentang lagi. Keheningan petang membawa damai. Para calon bruder bergegas menuju ruang doa. Mereka adalah biarawan yang bertugas merawat kaum papa. Zeta pamit. Rano pun bergabung dalam barisan itu. Zeta lega sudah menemukan Rano. Biarlah dia menjalani cinta baru, sebab cinta Zeta mungkin hanya pelarian. Cinta mereka akan ada selamanya justru ketika mereka tak bisa bersatu.
Kamis, 25 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar