BOCAH DI BAWAH POHON
Oleh Rini Giri
Bocah laki-laki itu duduk di bawah pohon mangga depan rumah. Persis di sebelah bak sampah yang baru saja dikorek-koreknya dengan tongkatnya. Dia sedang memandang ke atas, ke arah mangga-mangga muda yang bergelantungan. Seonggok karung bekas berisikan sampah-sampah pagi menemaninya. Cuaca cerah dan menjanjikan banyak sinar matahari di siang nanti, sehingga aku buru-buru menjemur cucianku. Bocah itu sesekali menoleh ke arahku. Entah takut, entah malu. Aroma telur dadar yang baru saja aku bikin menyeruak keluar lewat celah teralis jendela. Anak-anakku ribut dengan persiapan mereka menuju sekolah.
“Bu, boleh minta mangganya?” Aku menoleh. Anak itu sudah berdiri di pintu garasi dengan sikap salah tingkah. Mataku melongok ke dahan-dahan yang baru membuahkan mangga kecil-kecil. Jangankan dimakan begitu saja, dirujakpun pasti belum enak.
“Buahnya masih kecil-kecil. Mana enak dimakan.” Sahutku sambil mengibaskan baju basah. Anak itu semakin salah tingkah karena mendengar pertanda bahwa permintaannya akan ditolak. Aroma telur dadar kembali tercium menyengat dan membuat lapar. Anak-anakku mulai berebut tempat duduk untuk sarapan. Pastilah bocah dekil itu juga lapar. Sepagi ini sudah harus memulung sampah, pastilah belum makan. Bahkan mungkin tidak punya apa-apa untuk dimakan, sampai-sampai nekat meminta mangga kruntil untuk mengganjal perut. “Kamu lapar? Kuberi nasi saja ya? Pagi-pagi jangan makan kruntil, nanti sakit perut. Tunggu dulu di situ.” Ujarku sambil mengangkat ember yang sudah kosong dan bergegas masuk rumah.
“Buat siapa, Ma?” tanya anakku ketika aku mencendok nasi, telur dadar, dan oseng-oseng buncis lantas membungkusnya dengan kertas makan.
“Di depan ada pemulung. Kasihan dia belum makan.”
“Kenapa Mama yang ngasih makan? Kenapa bukan mamanya sendiri saja?” “Mungkin mamanya tidak punya makanan. Tuhan kan sudah begitu baik pada kita. Pagi-pagi kita sudah bisa sarapan enak. Pergi ke sekolah bisa bawa bekal. Pulang sekolah kalian juga sudah bisa makan lagi. Jadi kita juga harus baik sama orang lain. Apalagi kalau dia tidak seberuntung kita. Kalian lihat kan, seharusnya pagi begini dia bersiap ke sekolah seperti kalian, tapi terpaksa cari uang dengan memulung barang bekas. Kasihan kan?” Jawabku. Kedua jagoan kecilku itu hanya manggut-manggut sembari melahap sarapan mereka.
“Ini ada nasi. Makanlah. Juga koran bekas sedikit siapa tahu bisa dijual.” Bocah itu malu-malu menerima pemberianku. Dia mengucapkan terimakasih lantas buru-buru kembali ke bawah pohon. Dia duduk dan makan dengan lahapnya.
Keesokan harinya anak itu kembali duduk di bawah pohon mangga. Dia menunggu aku keluar. Sesekali dia menoleh ke arah rumah. Melihat anak-anakku makan dengan lahap di meja makan, aku jadi merasa tidak tega pada bocah dekil itu. Kubungkuskan lagi seporsi sarapan dan kuberikan padanya. Akhirnya menjadi kebiasaan, setiap pagi pemulung kecil itu makan di bawah pohon mangga. Namanya Joni. Umurnya duabelas tahun. Ayah dan ibunya entah dimana dan dia tinggal di bedeng pinggir kota dengan bibinya yang hanya menyuruhnya bekerja, bekerja, dan terus bekerja tanpa diurus kebutuhannya. Ya sudah, sebungkus nasi setiap pagi mungkin bisa membantunya. Aku juga tidak akan bangkrut. Seorang anak kecil saja rela memberikan dua ikan dan lima rotinya pada Yesus dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sengaja kutambah takaran beras yang kutanak dan beberapa kali kubekali dia sebungkus lagi untuk dimakan di siang hari.
Suamiku senewen ketika belum akhir bulan aku sudah minta uang lagi. Kubilang padanya, harga-harga kebutuhan pokok naik semua. Sudah saatnya dia menambah uang belanjaku.
“Dihemat dong, Ma!” keluhnya.
“Sudah, Pa. Tapi semua meroket harganya. Dulu belanja lima ribu perak udah bisa nyayur asem dan goreng tempe. Sekarang uang segitu cuma buat goreng tempenya aja. Tempe dulu seribu sekarang dua ribu selonjor. Minyak goreng dulu seperempat kilo hanya seribu limaratus, sekarang tigaribu.” Aku meyakinkannya. Suamiku mengalah.
Pada suatu pagi, suamiku melihat apa yang kulakukan di bawah pohon mangga itu. Dia marah besar padaku. Menurutnya, dirinya sudah bekerja banting tulang dari pagi hingga petang, namun tidak kuimbangi dengan sifat hemat.
“Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Sok kaya! Bergaya sok dermawan! Hidup kita udah pas-pasan! Ngapain ngasih santunan pada orang lain segala?” “Aku cuma kasihan sama anak itu, Pa.”
“Kamu tidak kasihan sama suamimu yang pontang-panting cari duit? Lagipula, anak itu nanti berkebiasaan buruk. Maunya minta-minta terus pada orang.”
“Pa, aku cuma…”
“Sudah! Aku nggak peduli! Pokoknya aku nggak suka dengan caramu itu!” Suamiku menghardik dan buru-buru memacu sepeda motornya. Aku hanya diam. Sebenarnya pengeluaran yang meningkat di keluarga ini bukan karena anak yang numpang makan setiap pagi itu. Toh porsinya tak seberapa. Tapi harga-harga memang sedang membubung dengan congkaknya. Suamiku tidak mau mengerti.
Pagi itu ketika bocah itu kembali ke bawah pohon mangga, aku tidak keluar. Dia menunggu begitu lama. Beberapa kali menoleh ke arah pintu dengan gelisah. Aku tahu dia lapar dan tergoda dengan aroma nasi goreng yang baru kuangkat dari wajan. Tapi aku tidak membungkuskannya lagi. Sebenarnya aku merasa bersalah padanya karena lebih memilih untuk tidak cekcok dengan suami ketimbang membelanya. Aku seakan mendengar suara perut kosongnya tapi hanya diam. Meskipun aku tahu, siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban kalau dirinya sendiri berseru-seru. Tiga hari berturut-turut anak itu menunggu, tapi aku tidak membuka pintu. Akhirnya dia tidak pernah duduk lagi di bawah pohon itu. Mungkin bosan menunggu. Di satu sisi aku merasa bebas karena tidak harus melihat dia menunggu dengan gelisah lagi. Tapi di sisi lain, aku merasa menyesal karena menutup hatiku padanya.
Siang itu anak bungsuku pulang sekolah sambil menangis. Siku dan lututnya berdarah karena jatuh dari sepeda. Di belakangnya kulihat Joni menuntun sepeda itu dan menyandarkannya di pintu garasi.
“Dia nolongin Andre, Ma.” Ujar anakku terbata-bata. Aku segera mengambil uang ke dalam dan memberikan pada Joni.
“Makasih ya Jon. Terimalah ini sebagai ucapan terimakasih.” Tapi dia menggeleng.
“Nggak usah, Bu. Ibu sudah banyak menolong saya.” Joni segera berpaling hendak pergi.
“Besok pagi datanglah lagi ke sini.” Pintaku.
“Nggak usah, Bu. Sekarang saya bisa sarapan di rumah singgah.” Jonipun berlalu. Dia anak yang tahu balas budi. Aku terpaku dan malu. Makasih, Jon. Maafkan aku. (Bekasi Utara, Mei 2008)
Selasa, 30 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

haaah...sedihnya.
BalasHapusniat baik untuk menolong selalu dipersepsikan di 2 sisi. bisa benar2 baik & disetujui atau ditolak & dianggap salah.
semua kembali ke si pemilik niat.
Terimakasih ya udah membacanya. Kadang saat kita mau nolong orang lain, justru orang terdekat kitalah yang jadi penghalang tidak setuju karena pandangan yang beda....tapi jika mau menolong, lakukan saja sesuai kata hati bukan kata orang lain...daripada kita menyesal belakangan....
BalasHapus