Jumat, 26 Maret 2010

AYAH DANIA

AYAH DANIA
Oleh Rini Giri



Senja terasa penat dalam kemacetan lalu-lintas kota. Ruas jalan tak bergerak hampir satu jam. Tak ada satupun pengemudi yang mau sabar. Semua ingin saling mendahului. Berhasrat lekas sampai di rumah, mencium istri, memeluk anak-anak, mandi air hangat, makan hidangan malam istimewa, lantas bercinta semalaman.
Kerja seharian cukup meremukkan otak dan tulang. Hanya rumah yang bisa memulihkan kerusakan-kerusakan batin dan raga yang telah tersedot sekian jam di meja-meja komputer dan ruangan meeting ber-AC gedung-gedung pencakar langit. Ya, hanya rumah mereka, bukan rumahku. Mungkin hanya aku yang suka dengan kemacetan ini. Aku sangat menikmati. Pulang terlambat telah banyak menyelamatkan harga diriku. Aku terhindar dari suatu kewajiban.
Ponselku berbunyi, melantunkan lagu. Di layar terbaca sederet nomor yang tidak aku kenal, mungkin calon klien. Jantungku tersentak saat mengenali suara, yang duapuluh tahun silam pernah menjadi parau karena kucekik dan kuhajar.
“Danto, aku hanya ingin melihat dia. Sekali ini saja. Tolonglah aku, Danto. Aku tahu kau begitu benci dan muak padaku. Mungkin kau masih dendam padaku. Kau pasti masih ingin menonjok dan menendangku. Atau kau masih punya ambisi untuk membunuhku. Aku tidak peduli. Aku rela jadi sasaran kemarahanmu. Asalkan, ijinkan aku melihatnya, Danto. Sekali saja.” Suara itu merendah memohon. Seperti yang sudah-sudah. Keinginan, permintaan, dan nada putus asanyapun masih sama.
“Tidak!” jawabku datar dengan nada pongah. Biarlah dia kelabakan menanggung dosa dan penyesalan. Aku tidak peduli. Itu hukuman yang pantas dia terima. Semua sudah menjadi milikku. Hanya aku yang boleh menguasai. Dia hanya sedikit bagian di masa lalu, jadi tidak punya hak secuilpun.
“Dan, tolonglah aku. Apa kau tega membiarkan aku mati tanpa jawaban? Aku sedang sekarat. Tubuhku sedang digerogoti penyakit maut. Umurku tidak lama lagi. Apa kau tega, Danto?” Suara itu semakin memelas, sama persis duapuluh tahun lalu ketika dia minta ampun dan meronta-ronta agar aku melepaskan cengkeraman tangan kalapku di lehernya. Minta hidup. Memohon untuk bernafas.
“Alasan!” Jawabku, lantas kumatikan ponsel. Di depan sana deretan mobil belum juga bergerak dan di belakangku bunyi klakson ketidaksabaran silih berganti menusuk gendang telinga. Aku jadi geram. Baru kali ini aku memaki-maki dalam kemacetan lalu-lintas. Darimana keparat itu tahu nomor ponselku!
Di luar sana, penjaja asongan semakin agresif menawarkan barang dagangan, pengamen-pengamen kecil dengan alat musik dari tutup botol soft drink mengetuk-ngetuk kaca mobil, dan para gelandangan terus saja mengulurkan gelas bekas air mineral untuk meminta derma. Siapa yang sudi buka kaca jendela di kemacetan kota seperti ini? Setiap warga kota sudah menjadi paranoid dan curiga pada setiap orang.
Waktuku habis di jalan. Sudut-sudut segala penjuru jalanan kota aku kenal dengan baik. Jauh lebih baik dibanding aku mengenali lekuk-lekuk tubuh istriku sendiri. Aku nyaris tak pernah menyentuhnya. Aku jadi impoten sejak menikahinya. Seringai wajah yang kucekik itu terus menghantuiku.
Anak perempuan kami sudah berumur sembilan belas tahun. Kadang aku keliru menyimpan dokumen-dokumen kantor di laci miliknya, karena sudut-sudut kota lebih kukenal dibanding ruangan rumahku sendiri. Saat aku kelabakan mencari, dengan enteng gadis itu nyeletuk, “Papa tuh masih seumuran pacar Dania, tapi udah pikun.” Map-map yang aku butuhkan itu sudah terulur di tangannya. Eh, apa? Pacarnya seumuran denganku? Gila! Sungguh gila dan tidak boleh dibiarkan! Jangan-jangan pacarnya itu om-om senang, hidung belang, yang suka memanfaatkan kepolosan para gadis muda! Atau jangan-jangan anak gadisku sedang mengganggu keutuhan rumah tangga orang! Tidak boleh! Tapi dia hanya menyeringai sambil berlari menuju tangga untuk bersembunyi di kamarnya.
“Kau tahu kalau Dania sudah punya pacar?” Kutanya istriku. Perempuan itu hanya menggeleng tanpa mencoba memandangku. “Dia tidak pernah cerita sama kamu?” Dia menggeleng lagi. “Jadi kamu tidak tahu kalau dia itu pacaran sama om-om?” Kali ini dia baru mau menoleh. Senyumnya dingin.
“Dia hanya bercanda,” jawabnya ringan sambil terus sibuk melipat-lipat baju dari almari yang sebenarnya sudah rapi tersimpan di situ. Istriku selalu sibuk. Pekerjaannya seolah tak pernah selesai. Bahkan kadang setelah semua beres, dia sengaja menciptakan pekerjaan baru. Mungkin dia ingin menyalurkan energinya yang berlebih, atau mungkin memang ingin kelihatan sibuk sehingga tidak perlu kudekati. Aku tidak peduli. Satu-satunya rasa peduliku sudah kuberikan padanya duapuluh tahun silam dan kutanggung konsekuensinya hingga kini. Menjadi lelaki yang tidak utuh. Selama ini dia memang memasak dan berdandan untukku, tapi aku tidak pernah yakin apakah cintanya hanya untukku atau terbagi pada orang lain di masa lalu.
Niarti, dara paling memukau di kampus. Mungkin karena senyumnya merekah sexy oleh lip gloss bening dan tubuhnya padat dengan lekuk-liku yang mempesona. Aku jatuh hati pada keramahannya. Temannya banyak. Bahkan teman-teman kostkupun langsung akrab dengannya. Cowok sekaku batu sepertiku, sangat beruntung bisa menggaet cewek sesupel Niarti.
Hanya satu yang membuatku ketakutan. Dia terlalu bersemangat dan bergairah. Dada busungnya menempel erat di punggungku ketika kami melintasi malam-malam biru di atas sepeda motor sepanjang jalan raya. Suaranya berbisik manja penuh desahan di telingaku dan bibir basahnya sengaja mengenai belakang telinga. Udara malam yang dingin semakin membuatku bergidik. Tapi aku selalu bisa menyelamatkan diri. Jangankan menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang paling inti, mengecup bibirnyapun aku tidak berani, meskipun dia dengan suka rela menawarkan. Aku bukannya munafik, tapi hanya tidak ingin merusak anak orang. Aku mencintainya, maka akan kujaga dia agar tetap utuh dan tidak membuat keluarganya kecewa. Empat adikku perempuan, sehingga akupun tidak ingin ada lelaki yang kurang ajar memperlakukan mereka.
Aku selalu bisa menyelamatkan diriku. Tapi tidak bisa menyelamatkan dirinya. Suatu malam, sepulang dari rapat senat di kampus, lampu sepeda motorku menangkap sepasang muda-mudi yang berboncengan di depanku. Mereka begitu mesra dan membuatku hampir terjungkal ke selokan. Itu Niarti dan Asman, teman satu kostku. Keesokan harinya, kutanya gadisku, pergi kemana dia semalam. Bibir penuh lip gloss-nya hanya bungkam. Kutanya Asman. Kawanku itu menyeringai, persis raut muka Dania ketika menyerahkan map-map yang kucari.
“Kau jadi lelaki terlalu kaku, Danto. Gadismu punya gelora seperti ombak lautan selatan, sedangkan dirimu tidak bisa mengatasinya karena bersikap seperti karang-karang keras kepala. Aku hanya mencoba membantu mengatasinya saja. Dan nyatanya, ombak-ombak ganas itu bisa aku jinakkan agar mengalir ke teluk-teluk yang tenang,” jawab Asman sambil menyunggingkan senyum sinis yang membuatku menggigil.
“Kauapakan dia, Asman?” Tanyaku geram. Tanganku terkepal keras oleh amarah.
“Tanyakan sendiri pada gadismu itu, dia minta apa dariku? Aku hanya menurutinya saja. Aku hanya melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan padanya.” Darahku mendidih mendengar ucapannya. Sebuah bogem mentah mendarat dimukanya dan membuat hidungnya berdarah. Keributan itu membuat seluruh penghuni kost keluar dan melerai kami. Itu adalah hari terakhir Niarti menjadi pacarku. Aku sudah berusaha menjaga dirinya, namun ternyata dia sendiri tidak mau kujaga. Aku kalah.
Setengah tahun belum bisa membuatku sembuh dari luka batin itu. Sakit hati memang serupa dengan goresan luka di tubuh. Meskipun perihnya telah hilang, namun bopeng bekas luka tetap saja menempel dan tidak mau pergi. Seorang kawan dekat Niarti datang ke kost baruku. Sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai karena sayatan luka yang mulai mengering itu sudah pasti akan berdarah kembali.
“Dan, datanglah ke rumah sakit barang sebentar. Semalam Niarti mencoba bunuh diri dengan memutus nadinya. Dia sedang depresi. Kandungannya sudah hampir empat bulan dan Asman menghilang begitu saja,” ujar gadis itu memohon. Sebenarnya aku sudah tidak ada sangkut-pautnya dengan kekotoran itu meskipun masih terus mengingat dia. Waktu enam bulan tak mampu melenyapkan Niarti dari hidupku. Gadis itu bak bayang-bayang yang menempel pada tubuhku dan mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia hanya lenyap kala aku sembunyi dalam kegelapan, tapi langsung muncul lagi ketika aku menginjak tanah yang diterpa cahaya. Aku bukan hanya kasihan mendengar kabar buruknya. Aku terpukul. Aku seperti dihantam benda keras untuk kedua kalinya. Aku tidak rela dia diperlakukan secara tidak bertanggungjawab seperti itu. Sama seperti aku tidak akan rela jika kewanitaan adik-adikku dilecehkan serendah itu.
“Apa maumu?”
“Tolong, cari dimana Asman. Suruh dia kembali dan mempertanggungjawabkan semua ini. Tentunya kamu tidak ingin melihat Niarti mati dengan cara hina seperti itu kan?” Aku hanya diam, tapi rupanya kawan baik Niarti itu sudah cukup puas dan mendapatkan jawaban yang dia cari. Dia pun pergi.
Aku hanya melihat Niarti dari kaca jendela kamar kelas tiga itu. Dia tidur nyenyak dalam kekuasaan obat penenang. Wajahnya pucat. Bibir basahnya mengering dan membiru. Rambut ikal wanginya kini kusut masai. Tubuhnya yang padat tampak rapuh dan sengsara. Tidak ada lagi gairah yang kutakuti dulu. Aku harus mencari Asman, dimanapun dia. Akhirnya kutemukan dia di rumah salah satu kerabat dan dia mencoba berkelit. Saat itulah aku hilang kendali dan hampir saja membunuhnya. Dia baru kulepas ketika suaranya yang parau tercekik berjanji mau menikahi Niarti. Segera kuberitahu kawan dekat Niarti, bahwa Asman akan datang menjemput akhir minggu nanti.
“Sudah tiga minggu aku menunggu Asman. Dia tidak datang juga,” keluh Niarti kala datang ke tempat kostku.
“Maafkan aku. Aku sudah berusaha.”
“Tak apa. Terimakasih kamu sudah mau membantu aku.”
“Lantas apa rencanamu?”
“Aku akan menggugurkan kandungan ini. Aku terlalu muda untuk menjadi ibu tanpa suami.” Aku terhenyak dengan keputusanya itu. Tidak. Dia tidak boleh menjadi pembunuh. Dan bukankah seseorang yang mengetahui rencana pembunuhan dan hanya diam saja, itu jauh lebih kejam dan berbahaya?
“Aku akan menikahimu, Niar. Jangan pernah menjadi pembunuh. Kau bisa terhukum seumur hidupmu dan hukuman dunia tidak bisa menghilangkan hukuman akhirat.”
Dania sudah jadi perawan dan mengaku punya pacar seumur diriku. Minggu pagi dia pamit untuk belajar melukis dan pulang cepat dengan muka muram. Guru melukisnya masuk rumah sakit karena kanker prostat ganas.
“Pa, aku sangat mengidolakannya. Dia itu seumur Papa dan entah kenapa aku sangat menyayangi dan menghormatinya. Bahkan kadang aku ingin jadi pacarnya. Mungkin aku juga sudah jatuh cinta padanya. Tapi itu ide gila kan, Pa? Pasti Papa akan menentangku habis-habisan. Nah, biar Papa tidak khawatir dan tidak menuduhku pacaran sama om-om, antar aku pergi menjenguknya ya, Pa.” Dania tidak pernah meminta apa-apa dariku, maka kuturuti saja permintaannya itu. Aku mengasihinya seperti milikku sendiri, karena dia lahir dan tumbuh di pangkuanku. Di rumah sakit, lelaki itu terbaring tak berdaya dan hampir mati.
“Terimakasih, Danto. Kaubawa dia kemari untukku,” bisik lelaki itu terbata-bata. Dania tidak mendengarnya. “Maafkan aku, Danto. Sampaikan juga maafku pada istrimu.” Aku hanya diam. “Aku tahu nomor teleponmu dari daftar riwayat hidup Dania.” Jadi sebenarnya selama ini dia sudah tahu bahwa Dania itu anaknya dan menelponku hanya untuk meneror dan menguak luka lama. Andai dia masih sehat, mungkin aku masih bernafsu untuk meninjunya. Tapi sekarang dia sudah tak berdaya dan hanya ingin aku melihat bagaimana anaknya begitu sayang padanya. Ya sudah, kebetulan. Lihatlah anakmu ini, mirip sekali denganmu bukan? Kasihan Dania, murid kesayangannya itu tidak tahu siapa sebenarnya guru idolanya itu. Asman mengatupkan mata dengan senyum getir di pelukan anak gadisnya.
“Asman meninggal dunia, Niar.” Kusampaikan kabar duka itu pada istriku.
“Bukankah dia sudah mati duapuluh tahun silam? Kuburannyapun sudah hancur. Kenapa kau masih saja ketakutan ?” (Bekasi Utara, Februari 2008)

1 komentar: