TAK HARAP KEMBALI
Oleh Rini Giri
Sepagi itu, ketika belum ada cahaya secercahpun, Bapak sudah berangkat ke gedogan (tempat potong hewan). Pasti mau beli daging untuk pesta selapanan (satu bulan kelahiran) cucunya, karena kulihat Bapak membawa gluthuk (alat angkut pertanian dari kayu dengan dua gagang pendorong di belakang dan satu ban depan) dan beberapa ember besar. Pastilah daging sapi yang akan dibelinya dalam jumlah banyak.
Biasanya para jagal hewan menangani sapi-sapi yang baru saja dibeli dari para blantik (makelar sapi) di malam hari. Sehingga subuh begini, gedogan sudah dipenuhi daging segar dan para pembeli dalam partai besar. Jika matahari sudah mengintip sedikit saja, daging-daging merah segar itu sudah lenyap berpindah tempat ke kios-kios daging pasar tradisional, pabrik abon, dan restoran-restoran sambel tumpang (masakan khas daerah Ampel Boyolali).
Semoga daging yang dibeli Bapak bukan hasil glonggongan (sapi dicekoki air sampai kembung sebelum disembelih untuk menambah berat timbangan). Akhir-akhir ini, daerahku di pedalaman Jawa Tengah itu memang jadi sedikit terkenal gara-gara ditemukannya kasus daging haram dan tidak sehat itu. Semua stasiun televisi menyiarkannya dalam berita kriminal. Tapi aku yakin, ayahku pasti sudah memesan daging yang bagus dengan harga yang realistis.
Tapi sampai matahari memunculkan bayangan awan di lereng Gunung Merbabu dan anak-anak berseragam putih merah berlarian di jalan depan rumah karena takut terlambat masuk, ayahku belum pulang. Kemana dia? Dan daging segar sebanyak itu dibawa kemana? Padahal belum alih profesi sebagai pedagang daging di Pasar Ampel.
“Bapakmu mengantar daging ke rumah Bu Lurah. Dulu, waktu Mbakyumu menikah, Bu Lurah itu menyumbang kita duapuluh kilo daging sapi. Anak bungsu Bu Lurah yang kuliah di Solo itu kan sudah lulus dan kerja. Nyatanya di tempat kerja ketemu jodoh. Ya sudah, wong sudah cocok, ya dinikahkan saja. Akad nikah dan resepsinya besok siang. Nah, giliran bapak dan ibumu ini yang harus mengembalikan sumbangan Bu Lurah dulu.” Tutur ibuku ketika aku menanyakan perihal Bapak.
Aku jadi kecewa. Berarti selapanan anak Mbak Ning cuma akan dibancaki (syukuran kecil dengan tumpeng) pakai urap daun adas, peyek teri, dan telur rebus. Kebetulan kakak perempuanku itu pulang untuk melahirkan. Cuti tiga bulan akan dihabiskannya di tempat sejuk ini. Maklum, bayi itu anak pertamanya dan dia sangat mengandalkan Ibu. Apalagi suaminya juga kerja. Di sini, dia lebih aman. Banyak yang siaga.
“Maksud Ibu, Bapak dan Ibu juga harus ganti menyumbang duapuluh kilo daging sapi ke rumah Bu Lurah?” Aku tak habis mengerti. Menyumbang bukankah suatu urusan suka rela, tapi kenapa yang disumbang dibebani kewajiban untuk mengembalikan dalam jumlah yang sama?
“Ya itulah yang namanya pirukun (hidup layak bermasyarakat), Dar. Kamu juga harus tahu. Kamu kan juga akan hidup bermasyarakat. Harus mengenali gotong-royong cara orang ndeso. Kalau kamu mau dibantu orang ya harus mbantu orang lain terlebih dahulu. Kalau di desa tidak mau srawung (bergaul) ya kamu sakitpun tidak ada yang njenguk. Di desa itu harus saling, balas-membalas budi, tepa slira (tenggang rasa). Tuh, Mbakyumu, saat remaja lebih banyak sekolah di luar kota, ndak guyup dengan karang taruna di sini. Akibatnya, saat nikah, karang taruna juga tidak ada yang mau laden (jadi pramusaji pesta).”
Di dusun memang serba rumit. Di kota, kebaikan seseorang bisa saja dibeli dengan uang. Kebaikan tulus cukup dibalas dengan terimakasih. Praktis dan tidak perlu merasa berhutang budi. Tapi di sini, sumbangan barang harus diganti barang, uang dengan uang, tenaga dengan tenaga, sikap baik dengan sikap baik. Dulu, waktu aku kecil, pernah sakit gara-gara Ibu rewang (membantu memasak) di tempat tetangga yang hajatan tujuh hari tujuh malam. Aku sampai tak terurus. Gara-garanya, dulu waktu kakak laki-lakiku Mas Haryo disunat, tetangga itu juga rewang sampai pesta selesai. Ampun!
“Kalau ternyata Ibu tidak bisa mengembalikan sebanyak yang pernah Ibu terima bagaimana?” Bukankah memberi, menyumbang, menderma, atau apapun namanya itu harus iklas dan tidak menjadi beban, baik bagi pemberi maupun penerima?
“Ini sudah tradisi, Tole Darto. Penerima sumbangan sudah menyadari bahwa sebenarnya pemberian itu adalah hutang yang harus dikembalikan suatu saat nanti, mau tak mau. Kalau tidak, hubungan baik bisa runyam. Kalau perlu, sumbangan yang diterima itu dicatat supaya tidak lupa.” Tandas Ibu. Waduh, ternyata sistem ini sama saja dengan kartu kredit. Puyeng-puyeng! “Kita juga harus melihat pada siapa yang akan kita sumbang. Kalau terpandang ya kita sumbang banyak biar nanti kembalinya juga banyak. Kalau yang nyumbang orang kebanyakan atau malah di bawahnya ya sumbangannya rata-rata saja, jadi mereka tidak kelabakan saat mengembalikannya nanti.” Busyet!Bukankah seharusnya yang miskin disumbang lebih banyak?
Waktu melahirkan, Mbak Ning dijenguk kawan-kawan Ibu. Maklumlah sepak terjang Ibu dalam bersosial sangat lincah. Mereka membawakan kado dan memberi amplop. Dengan ucapan terimakasih yang mendalam Mbak Ning menerima hadiah-hadiah itu. Tapi Ibu sangat marah ketika tahu.
“Ning, kita kan tidak nompo (menerima sumbangan). Kalau ada orang yang ngasih harus kamu tolak dengan tegas. Kalau nompo, berarti kita juga harus menggelar pesta. Kalau tidak, bisa habis kita jadi omongan tetangga!” Mbak Ning sampai menangis waktu itu. Masakan menolak kado-kado yang sudah terbeli dan uang yang sudah dipersiapkan oleh para tamu tadi? Bukankah seharusnya menolak bisa menyinggung perasaan mereka? Tapi apalah daya, itulah sistem! Terpaksa paginya aku mengembalikan tumpukan kado dan amplop itu ke alamat pemberi dengan ucapan beribu maaf.
Bukankah kita selalu diajari untuk bermurah hati seperti Bapa di Sorga yang murah hati pada orang baik maupun orang jahat? Di mana lagi ada tempat untuk memberi tanpa harapan dikembalikan seperti itu? Memberi ya memberi saja. Kutengok kamar Mbak Ning. Dia sedang bercanda dengan bayinya. Mungkin hanya kasih seperti itulah yang tak mengharap balasan. Seperti Ibu mengasihiku. Puji Tuhan, di dunia ini masih ada relasi seindah itu.
“Mau kemana, Dar?” tanya Ibu suatu pagi.
“Mau ikut sambatan (gotong-royong membangun rumah) di rumah Lik Sardi.”
“Kurang kerjaan saja! Dulu waktu kita membetulkan kandang sapi di belakang itu, dia tidak membantu kok!”
“Ah, tak apa, Bu. Membantu ya membantu saja, bukan karena pernah dibantu atau mengharap bantuan.” Dengan semangat kutenteng peralatan tukang ke rumah Lik Sardi. (Okt’08)
Rabu, 24 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar