Rabu, 24 Februari 2010

NEGERI TANPA TAPAL BATAS

NEGERI TANPA TAPAL BATAS
Oleh Rini Giri


Hari itu tepat setahun wafatnya Kakek Yus. Sungguh beruntung, karena keesokan harinya Tri Hari Suci dimulai dan pemilu legislatif digelar. Keluarga tampak bahagia bisa menyelenggarakan misa arwah bagi almarhum. Andre duduk bersandar dekat pintu setelah selesai memunguti gelas air mineral sisa para tamu. Tikar yang tadi dipakai belum digulung. Dia lelah. Seharian sibuk mempersiapkan acara itu. Pinjam tikar ke pos RT, mengambil pesanan kue, mengatur altar, dan menjemput Romo di pasturan. Sementara para sepupu hanya haha-hihi sambil duduk-duduk main HP.
Andre tidak iri. Kakek Yus menghabiskan masa tua dan meninggal di rumah itu bersama keluarganya. Dia adalah cucu terdekat secara fisik dan emosional. Jadi dirinya paham jika sepupu yang lain kurang antusias terlibat dalam perhelatan itu, karena mereka tidak memiliki ikatan batin pada Kakek Yus sedalam yang ia miliki.
Angin malam berhembus melalui pintu dan kusen jendela. Ibunya sibuk membersihkan remah-remah makanan yang mengotori tikar. “Kalau capek, istirahat saja di kamar. Biar ibu yang membereskan tikar.” Andre mengangguk. Di luar sana cahaya bulan keemasan menimpa pohon-pohon buah yang dulu ditanam kakeknya. Tiba-tiba terselip rindu pada sosok yang sering mengajaknya duduk-duduk di teras sambil main catur dan menyeruput wedang jahe itu.
Andre terhenyak. Seseorang yang baru datang menegurnya. “Kenapa mendung, Ndre? Kamu kelelahan ya?” Dia merasa mengenal wajah itu. Mirip bapaknya. Tapi bukan. “Bapak siapa?” Tanya Andre terbata. Wajah itu tersenyum, seteduh malam dengan sinar bulan yang tertahan barisan awan. Bajunya bercahaya seperti pagi. Angin dingin menyibak tirai. Andre panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada orang lain. Ibunya sudah pergi. Para sepupu sudah berhenti bercanda. Hanya dia dan lelaki itu. Andre bengong. “Aku rakyat negeri yang terjanji. Rajanya adil dan benar serta diliputi belas kasih. Para pelayan hidup dalam kekudusan.” Lelaki itu mengulurkan tangan membantu Andre berdiri. Dalam diam mereka berjalan melampaui pohon dan sinar bulan.
“Segala bangsa, suku, golongan, dan agama yang baik dan benar boleh masuk ke negeri itu. Tak pernah Sang Raja melakukan ekspansi untuk memperluas kekuasaan. Negeri itu menjadi luas dengan sendirinya, segala bangsa dengan suka-rela menggabungkan diri sebagai sekutu. Raja memberlakukan bahasa cinta sebagai bahasa persatuan, semua sekutu dari segala ujung bumi bisa memahaminya. Hukum yang diterapkan adalah kasih yang mengatasi segala hukum buatan manusia, sehingga beribu-ribu suku tidak mungkin buta hukum. Semua orang punya dua mata, tapi hanya melihat kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kedamaian.
Kebohongan, kesewenang-wenangan, hawa nafsu, dan huru-hara sudah lenyap. Tak ada lagi kematian, tangis dan duka. Tak ada lagi sakit dan kelaparan. Kecacatan berubah menjadi kesempurnaan. Yang ada hanya damai dan sukacita. Di sini masih ada perang, di sana hanya ada persahabatan abadi. Di sini ada demonstrasi, di sana ada saling mendengar. Di sini masih ada korupsi, di sana yang ada saling peduli. Di sini orang harus antri berdesakan lantas rusuh hanya karena menunggu BLT atau pembagian sembako, di sana kami mengantri untuk diberkati.” Andre sangat antusias mendengar.
“Negeri itu tak berpengawal, tak berserdadu dan algojo. Yang ada hanyalah para pelayan kudus. Mereka hidup suci. Kami tak butuh polisi, hansip, satpam, apalagi satpol PP untuk menertibkan lingkungan. Kami saling mengasihi, mengerti, menghormati, membantu dan melayani sehingga kehidupan berjalan tertib dengan sendirinya.
Tak ada ranjau di perbatasan, tak ada tentara di garis depan, sebab negeri itu tanpa tapal batas. Ia mengundang siapa saja yang baik dan benar untuk menjadi warga negara istimewanya. Semua suku bangsa bisa menjadi satu saudara. Tak ada lagi kotak dan sekat yang menimbulkan perpecahan antar golongan. Semua sama istimewanya di hadapan Raja. Negeri itu telah dibangun sejak semula, tidak akan lekang oleh masa, tak roboh oleh musuh, dan tak terbatasi waktu. Ada selamanya.” Mereka sampai di jalan raya. Bulan tersenyum.
“Jadi rakyat negeri bapak tak perlu pusing dengan gambar-gambar orang, nomor-nomor urut, dan simbol-simbol golongan yang bergelantungan di pohon-pohon seperti itu?” Tanya Andre. Lelaki yang kian berkilau itu tersenyum. Menggeleng.
“Pelayan-pelayan kudus yang berdedikasi tinggi, jujur, dan setia akan senang hati menyampaikan aspirasi kami. Bahkan ketika mulut belum terucap, mereka sudah paham apa yang ingin kita sampaikan. Meski pemimpin, tapi yang tinggi itu justru melayani dan melindungi kami.”
“Negeri itu tanpa batas dan tanpa serdadu, apa tidak khawatir akan adanya penyusup, bahaya laten, atau tindakan makar?”
“Negeri itu seperti obat bagi yang sakit, hiburan bagi yang duka, makanan bagi yang lapar, dan air sejuk bagi yang dahaga. Bukankah kamu akan menjual apapun yang kaupunya hanya untuk membeli obat? Semua merasa terpilih dan memiliki, sehingga menjaga negeri itu dengan setia. Bodoh bukan membuang roti saat perut lapar?”
“Mungkinkah negeri itu akan meluas sampai kemari?” Harap Andre.
“Negeri itu dijanjikan bagi yang baik dan benar.” Oh alangkah indahnya menikmati keadilan negeri itu. Tak ada kejahatan, kerakusan, dendam, kebencian, dan mementingkan diri sendiri. Bumi menjadi hancur karena semua nafsu jelek itu. Manusia menjadi teraniaya, tertindas, dan tak berharga karena segala sifat jahanam itu. Oh negeri yang damai, harapan bagi seluruh penduduk bumi. Tanpa perang, kehancuran, tangisan anak-anak, jeritan pilu para ibu, dan bau mesiu. Andre masih ingin bersama, tapi lelaki dan cahaya bulan beringsut pergi, ufuk timur mulai memerah.
“Ndre, bangun! Hari ini kamu harus nyontreng! TPS buka jam tujuh!” Andre tergagap. Dia membuka mata dan merasakan silau pagi. Semalam dia tertidur di atas tikar. Samar-samar matanya menangkap wajah lelaki yang bersinar itu pada foto keluarga di dinding. Wajah kakeknya kala muda. “Aku mimpi ketemu kakek, Bu.” Ibunya tersenyum. “Sepertinya sudah damai dan bahagia.”
“Amin.” Ucap ibunya. Andre menggeliat bangun. Para tetangga lewat dengan baju necis menuju TPS. Wajah mereka berkilau. Oh kenapa negeri itu hanya lewat dalam mimpi dan hanya menjadi milik mereka yang sudah almarhum? Apa yang masih hidup tak berdaya mewujudkannya? Yah semoga saja dengan mencontreng hari itu, yang hidup bisa mendapatkan pelayan-pelayan kudus yang rendah hati, jujur, dan setia sehingga kemakmuran dan keadilan bangsa ini tak sebatas impian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar