Rabu, 24 Februari 2010

Indahnya Mencintai

INDAHNYA MENCINTAI
Oleh Rini Giri



Kata orang, dicintai itu lebih enak daripada mencintai. Kupikir-pikir, benar juga. Dicintai membuat hidup mudah, karena selalu ada yang memperhatikan tanpa harus berkorban. Sedangkan mencintai, kerap kali bikin sakit hati padahal sudah banyak berkorban. Beberapa kali aku mencintai, tapi gagal dan patah hati. Capek! Akhirnya kupilih untuk dicintai lagi saja. Itulah tujuanku datang ke panti asuhan putra di lereng bukit ini.
Seorang bruder menyambut kedatanganku dengan ramah. Dia mengatakan bahwa orang yang kucari sedang mengantar seorang anak berobat ke klinik dan akan segera kembali. Aku menunggu di ruang tamu. Di halaman, anak-anak bermain bola plastik. Para balita bermain di ruang sebelah bersama pengasuh. Seorang anak membawakan album foto untukku.
“Kakak bisa melihat foto-foto Bruder Randi. Dia jagonya main bola.” Ujar anak itu bangga. Aku menerimanya sambil tersenyum. Ya, pemuda jago main bola itulah yang membuatku nekat datang ke sini. Sebulan lalu, Sisil, sahabatku yang kini jadi guru di Jogja, tanpa sengaja bertemu dengannya dan buru-buru menelponku.
“Aduh, De. Aku kaget bukan main. Saat keluar kelas, tiba-tiba kulihat seorang cowok dengan senyum amat manis. Tatanan rambutnya rapi klimis! Kumisnya bercukur bersih. Tidak berantakan kayak dulu. Tatapan matanya santun dan sejuk. Aku bisa pingsan kalau tidak segera menyadari bahwa dia seorang bruder yang sedang dibuntuti lima anak asuhnya yang mau mendaftar masuk sekolah. Celakanya lagi, De, aku kenal betul siapa bruder itu. Aduh, De, kamupun pasti bakalan kesamber geledek kalau lihat dia. Aduh Gusti, saiki kok nggantenge ora mekakat!”
“Siapa?” Tanyaku penasaran.
“Bener lho, De. Kalau kamu sendiri yang melihat, pasti tidak percaya. Aku sampai tidak bisa ngomong, ngerti nggak? Tutur katanya sopan berwibawa, gerak dan tingkahnya penuh kasih dan perhatian. Apalagi pada anak-anak asuhnya. Anak-anak itu juga sangat hormat pada bruder tadi. Namun begitu, mereka juga sangat akrab dan bisa bercanda layaknya berteman. Ngerti ora to kowe, De?”
“Sil, siapa?”
“La yo siapa lagi kalau bukan Mas Randi, eh, Bruder Randi.” Tiba-tiba kerongkonganku tercekat mendengar nama itu disebut. Bengong. “Dea! Kamu masih disitu kan, De? De, kok jadi diam? Harusnya kamu bahagia lho, De. Dia sekarang sudah menjadi lebih baik. Jauh lebih baik malah. Rasa bersalah yang selama ini kamu pelihara ternyata tidak ada gunanya. Lha wong nyatanya dia itu sangat bahagia dengan jalan hidup yang sudah dipilihnya kok. Lak yo bener to, De? De, De, haloo, haloo, Dea…” Aku terduduk lemas di kursi kerja. Saat itu, aku jadi lupa pada artikel yang sedang kuketik, padahal sudah ditagih redakturku.
“Iya, Sil. Aku masih di sini. Apa dia sehat?”
“Ya jelas dong! Sehat jasmani dan rohani. Dia juga titip salam buat kamu. Aku bercerita sedikit tentang kamu padanya. Nggak pa-pa to? Gini aja, aku akan SMS alamat panti asuhan tempat dia berkarya sekarang. Kita bertiga kan teman baik dari kecil. Nggak baik hubungan silaturohmi putus hanya karena masalah cinta ditolak. Eh, sorry ya, De. Kita harus tetap bersahabat. Lak yo bener to, De?”
“Iya, Sil.” Lalu Sisil menyudahi pembicaraan. Mataku meniti huruf-huruf di monitor, seolah itu deretan peristiwa yang selalu menghantuiku. Rasa bersalah.
Dulu, Randi kuanggap seperti kakak. Aku anak perempuan sulung yang mendamba kasih saudara tua, dan aku menemukannya pada Randi. Aku sangat mempercayainya. Rasa iriku pada Sisil yang selalu dimanja kakak-kakaknya terobati oleh perhatian Randi. Dia selalu ada saat kuperlukan, baik kuminta maupun tidak. Bahkan untuk urusan pribadi, dia tempat curhatku. Tapi hubungan indah kakak-adik itu pupus ketika dia menyatakan cinta. Aku memang sayang padanya, aku sangat menghargainya, aku hormat padanya, tapi dari hati seorang adik kepada abangnya bukan dari kalbu seorang kekasih. Randi mengkhianati hubungan indah itu dengan mengartikan lain rasa sayangku. Dia bilang serius, namun jika aku menolak ya sudah. Aku marah dan kecewa pada tindakannya yang membuatku kehilangan sosok kakak. Keegoisan membuatku tidak pernah memikirkan kekecewaannya. Aku hanya memikirkan kepentinganku saja. Sebenarnya dia masih ingin berhubungan baik, karena mencintaiku adalah kebahagiaannya. Tapi aku memilih untuk jaga jarak dan tenggelam dalam kuliahku. Itulah yang membuatku merasa bersalah.
Sisil pernah datang ke kost dan memberitahu kalau Randi akhirnya masuk novisiat. Pemuda itu lebih memilih hidup selibat daripada tidak bisa hidup denganku. Dia ingin aku bahagia dengan orang lain saja. Aku tak peduli! Sisil juga bercerita kalau hubungan Randi dan orangtuanya tegang karena mereka tidak merestui keputusannya itu . Aku juga tak peduli! Aku tidak mau dianggap sebagai penyebab masalah itu.
“Gini ya, Sil. Aku berhak menentukan jalan hidupku. Saat patah hati, aku juga harus menyembuhkan lukaku sendiri. Randi juga berhak mencintai aku, tapi ketika aku tidak mau, bukan tanggung jawabku untuk menyembuhkannya. Kalau masuk novisiat membuatnya sembuh, ya sudah. Bagus kan?”
Aku menyesalinya. Apalagi setelah ibu Randi benar-benar sakit keras. Perempuan itu bukannya tidak bangga punya anak biarawan, tapi alasan Randi lah yang membuatnya berat hati. Masuk novisiat hanya untuk melupakan aku, konyol kan? Surat persetujuan dari orang tua baru ditandatangani ibunya setelah Randi memohon untuk ketiga kalinya. Aku tahu, Randi sudah memaafkanku. Tapi aku tidak dapat memaafkan diriku sendiri. Aku memang bodoh! Hanya Randi yang benar-benar mencintaiku. Aku akan merebut cintanya kembali. Belum terlambat. Aku masih bisa menemukannya dan membawanya pulang. Aku yakin, niatannya menjadi pelayan sesama hanyalah pelarian karena cintanya kutolak.
Di dalam album foto kulihat seorang lelaki dengan jubah putih sedang merangkul anak-anak berseragam sepak bola yang dengan bangga mengangkat piala kemenangan. Senyumnya tepat seperti apa kata Sisil. Penuh kasih. Ada kebahagiaan pada binar matanya. Seumur hidup, belum pernah kulihat wajah Randi secerah itu. Kehidupannya berubah sejak ada di sini. Tiba-tiba aku merasa berdosa jika harus merenggut kebahagiaan itu. Dia sudah mencintai anak-anak ini dan sangat bahagia karenanya. Cintanya bukan untukku lagi, tapi untuk Tuhan dalam wajah polos para bocah itu. Aku iri, dia selalu bahagia saat mencintai. Dicintai memang mudah, tapi mencintai ternyata jauh lebih indah. Selama ini aku mencintai tapi banyak menuntut dan menguasai, makanya jadi pahit. Mencintai memang hanya memberi saja. Seperti cinta-Nya. Maka kuputuskan untuk berpamitan. Dia sudah punya cinta baru di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar