AKU BERHENTI MEMUKUL
Oleh Rini Giri
Anak itu lahir tanpa ayah. Aku membencinya seperti aku membenci ayahnya. Mereka telah merenggut keindahan masa mudaku. Mereka telah mempermalukanku pada keluarga, teman, dan tetangga. Mereka menghancurkan masa depanku. Hidupku menjadi nelangsa akibat ulah mereka.
Waktu itu umurku baru sembilan belas dan sedang mengawali masa kuliahku di Yogya. Aku bagaikan sekuntum mawar yang sedang separuh merekah, mulai menebarkan aroma wangi dan menampilkan pesona kelopaknya. Begitu mudah aku bergaul. Semudah itu pula aku berjumpa dengan seorang pemuda yang sangat memikat hatiku.
Daya jeratnya membutakan akal sehatku. Perhatiannya menyita lebih dari separuh waktuku. Rayuannya membuatku mengesampingkan iman dan prinsip-prinsip hidup yang pernah diajarkan orangtua. Aku hanyut dalam cintanya. Aku terlena dalam cintaku. Aku mabuk dalam rindunya. Aku kehilangan kesadaran dalam rinduku.
“Pak, saya hamil.” Pengakuanku itu membuat ayahku diterjang kalap. Dia amat marah padaku, sampai-sampai tidak sanggup menanggungnya. Seandainya dia bisa, pastilah aku sudah dipukul. Tapi jantungnya mendadak berhenti dan dia berpulang dengan sorot mata yang masih menyisakan kegeraman. Kata-kataku telah membunuh ayahku.
Duka karena kehilangan suami dan malu menanggung aib karena anak perempuan satu-satunya hamil di luar nikah, membuat ibuku menjadi pemurung. Dia sayang padaku, teramat sayang, sama seperti perasaan ayah padaku. Begitu pula rasa kecewanya padaku, sangat dalam.
“Kuliahlah dengan sungguh-sungguh, Yana. Kau harapan kami. Jika kamu menjadi sarjana, tentulah menjadi kebanggaan keluarga kita. Jangan pikirkan bagaimana Bapak dan Ibu akan membiayaimu. Kami akan berusaha. Jika kamu berhasil, kami tidak mengharap apa-apa darimu. Keberhasilanmu berarti juga keberhasilan kami. Kami sudah cukup puas jika kauberi kebanggaan.” Itu adalah nasihat Bapak ketika aku akan berangkat ke Yogya sepuluh tahun silam. Harapannya padaku begitu besar. Kepercayaan yang diberikan padaku tidak sedikit. Pengorbanannya untukkupun tidak tanggung-tanggung.
Tapi pemuda itu telah menghancurkan semuanya. Apalagi ketika dia tiba-tiba menghilang setelah beberapa kali menyuruhku menggugurkan kandungan. Ayahku telah pergi, tidak ada lagi kewibawaan di rumah, sehingga akupun tidak berdaya untuk mencari pemuda itu. Beban Ibu terlalu berat, sehingga dia jatuh sakit. Lengkap sudah penderitaan jiwa dan ragaku. Apalagi di dalam rahimku tumbuh janin yang tidak aku kehendaki. Aku benar-benar terpuruk.
“Yang harus kita utamakan adalah kehidupan. Yesus mengajari kita untuk pro life, Nak. Dimana-mana Dia menyembuhkan, memberi makan, menyelamatkan orang, dan membangkitkan orang mati. Dia sendiripun rela menderita sengsara demi kehidupan manusia agar lebih baik. Renungkanlah, Nak. Cintailah kehidupan. Jangan membunuh.” Tutur seorang suster CB yang kutemui usai misa di Kapel Bintang Samudra, belakang Rumah Sakit Panti Rapih.
Suster itupun kembali menasihati,”Tahukah kamu, Nak. Janin di dalam rahim itu hidup dan punya naluri. Diapun pasti akan menjerit, meronta dan berteriak jika dipaksa gugur dari dalam rahim ibunya. Apa kamu sanggup membayangkan jeritan yang tak terdengar itu?” Kata-kata suster itulah yang membuatku mempertahankan kandunganku.
Kini anak itu sudah berumur delapan tahun. Wajahnya sama persis dengan pemuda pengecut itu. Dia bisa makan dan sekolah karena akhirnya aku dinikahi oleh seorang laki-laki yang sebenarnya tidak kucintai. Aku tidak punya pilihan lain untuk menutupi aib. Tapi aku sangat menghormatinya, karena dia begitu baik. Dia tahu masa laluku yang kelam, namun dia tetap memperjuangkan diriku agar bisa diterima keluarganya dan membawaku ke dalam sakramen perkawinan.
“Bu Yana! Tuh Si Rani tadi mukulin anak saya sampai biru-biru! Udah tahu itu mainan orang, masih saja direbut! Yang punya marah, eh, malah main pukul! Tolong dong Bu Yana, anaknya dididik yang bener!” Teriak Bu Santi, tetangga sebelah, sore tadi. Aku hanya diam, tapi kemarahan memuncak sampai ubun-ubun. Segera kutarik lengan Rani, kuajak pulang, dan kupukuli pantatnya dengan tangkai kemoceng sampai berteriak-teriak minta ampun.
Anak itu selalu saja bikin masalah. Di sekolah, para guru geleng kepala. Di masyarakat, para tetangga sering melaporkan kenakalannya. Di gereja dan kegiatan lingkungan, aku sampai malu karena dia sering ribut sendiri. Di rumah pun dia tidak bisa dinasihati. Dia baru akan berhenti membuat onar jika pantatnya sudah kupukuli. Itupun tidak membuatnya kapok.
Suamiku baru pulang dan segera mencegahku. Dia segera menarik Rani ke dalam pelukannya dan marah padaku. Belum pernah aku melihat dia semarah ini.
“Rani itu anakmu, Yana. Darah dagingmu sendiri. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya gara-gara kamu pukul sekeras itu? Bagaimana kalau dia sakit? Dia itu anak-anak! Apa kamu tidak mikir?” Ujar suamiku ketika kemarahanku sudah reda dan kami hanya berdua di kamar.
Aku kalah mendengar kata-katanya itu. Dia bukan ayah kandung Rani, tapi mau mencintai Rani seperti anaknya sendiri. Aku malu padanya. “Apa kamu sering memukul dia saat aku tidak ada di rumah?” Aku mengangguk. “Jangan lagi, Yana. Rotan memang bisa mendidik jika diperlukan, tapi rotan justru akan melukai batin anak jika kaugunakan dalam amarahmu. Aku tahu, kamu belum bisa menghilangkan kecewamu atas kelahirannya. Tapi dia itu tidak bersalah, Yana. Dia hanya akibat. Tak heran kalau dia suka main kasar pada teman-temannya, karena yang dia tahu adalah kekerasan yang kamu terapkan padanya. Please, Yana, demi kebaikan Rani.” Tutur suamiku lagi. Aku jadi sadar, sebenarnya yang membuat runyam masa remajaku bukan Rani, juga bukan hanya pemuda itu, tapi akupun turut andil.
Malam itu aku mengintip Rani yang tengah tidur pulas dari balik pintu kamarnya. Matanya terkatup separuh dan mulutnya sedikit terbuka. Wajah polosnya itu membuatku menyesal telah sering kasar padanya hanya karena ingin melampiaskan dendamku pada masa lalu.
“Romo, saya menyesali perbuatan saya itu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Untuk itu saya mohon pengampunan Allah dan penitensi yang berguna bagi saya.” Ucapku di kamar pengakuan. Aku teringat pada kata-kata suster CB itu, “cintailah kehidupan.” Biarlah Rani hidup menjadi anak-anak yang bahagia.
Suamiku telah mengajariku untuk lebih sayang pada Rani. Jadi seandainya aku menjadi lebih sabar pada anakku sendiri, bukankah aku sedang mengajarinya untuk mencintai kehidupan? Sehingga kelakpun dia tidak akan mewariskan kekerasan pada anak-anaknya.
Rabu, 24 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar