Rabu, 24 Februari 2010

NATAL INI KAMI TIDAK PULANG

NATAL INI KAMI TAK PULANG
Oleh Rini Giri


Untuk ongkos pulang-pergi berlima dengan bus butuh dua juta, untuk oleh-oleh sekitar limaratus ribu, untuk salam tempel pada para kemenakan di kampung limaratus ribu, untuk ngajak jalan-jalan orangtua usai Misa Malam Natal tigaratus ribu cukup, untuk memberi tinggalan pada orangtuaku dan mertua masing-masing limaratus ribu bolehlah, dan untuk biaya jajan anak-anak selama seminggu duaratus ribu tidaklah terlalu sedikit. Lantas untuk biaya tak terduga? Untuk beli oleh-oleh di kampung untuk dibawa balik ke Jakarta? Saat mudik Lebaran kemarin saja, para tetangga memberi begitu banyak oleh-oleh. Masakan kali ini saat kami yang kebagian mudik Natal tidak bawa oleh-oleh? Belum lagi untuk sewa kendaraan di kampung nanti jika ingin berpariwisata? Aduh, kepalaku pusing! Pulang butuh uang minimal sepuluh juta!
Kubuka buku tabungan kami. Pas ada sepuluh juta! Itu hasil menyisihkan sepuluh ribu demi sepuluh ribu setiap bulan selama sebelas tahun kami menikah. Gaji suamiku bulan ini pastilah habis untuk biaya hidup sebulan. Gajinya sebagai reporter berita di sebuah stasiun televisi swasta sebenarnya hanya cukup untuk menghidupi dirinya-sendiri, tapi karena aku bisa hemat dalam mengelolanya, maka cukup untuk hidup kami berdua bersama ketiga anak kami. Tunjangan Hari Raya dan bonus akhir tahun harus disisihkan untuk angsuran rumah, angsuran sepeda motor, uang pangkal si bungsu yang mau masuk SD, dan biaya daftar ulang kedua kakaknya. Haruskah uang tabungan itu aku kuras agar bisa pulang ke Wonogiri untuk merayakan natal bersama keluarga besar kami?
Sudah tiga tahun kami tidak pulang. Aku rindu pada bapak, ibu dan kakak-adikku. Suamiku pasti juga kangen pada orangtuanya. Anak-anak pasti juga sudah ingin ketemu para sepupunya. Aku sungguh tidak tega untuk mengatakan “tidak pulang lagi” pada anak-anak. Mereka pasti akan sangat kecewa. Apalagi dua minggu lalu ada surat dari anak kakakku tertua untuk mereka. Keponakanku itu menanyakan apakah saudara-saudara sepupunya di Ibukota akan pulang Natal tahun ini?
“Ma, kata Mbak Ajeng, nanti kalau pulang, kita akan diajak jalan-jalan ke Waduk Gajah Mungkur. Katanya di sana sekarang ada taman bermainnya.” Ujar Desti, anak sulung kami.
“Iya, Ma. Kata Mbak Ajeng, Pakdhe Herman juga akan mengajak kita ziarah ke Gua Maria Sendang Ratu Kenyo. Katanya tempatnya sudah diperbaiki jadi bagus banget. Kita kan sudah lama tidak ke sana, Ma.” Danti, adiknya menyambung.
“Ma, lihat! Ini gambar Eyang Kung sama Eyang Uti Pracimantoro, ini gambar Mbah Uti Selo Giri, ini gambar Pakdhe Herman, ini gambar Budhe Rati, ini Pakdhe Danang, ini Om Jati, ini Bulik Tuti, ini Mas Agung, ini Mas Adi, dan ini Mbak Ajeng. Siapa lagi ya yang belum digambar? Oh, iya…Watu Plintheng Semar!” Damar, anak lelaki bungsu, tertawa girang sambil menunjukkan gambarnya. Aku tahu, begitu besar keinginan anak-anak untuk pulang. Bahkan tawa girang Damar nyaris membuatku menangis.
“Lalu apa yang harus aku katakan pada Mbak Ajeng, Ma? Kita mau pulang atau tidak?” Pertanyaan Desti membuatku tersentak. Aku hanya tersenyum menutupi kepahitan dalam hatiku.
“Surat Mbak Ajeng tidak harus dibalas sekarang kan? Nanti tunggu Papa dulu ya? Kita musti tanya pada Papa, Natal nanti mendapat cuti atau tidak. Jangan-jangan Papa musti liputan seperti biasanya.”
“Yaaah.” Kedua mulut gadisku itu mengeluh kecewa, sementara si bungsu tetap semangat menggambar sebuah batu besar di lereng bukit, dekat Pasar Wonogiri, yang nyaris menggelinding ke jalan raya jika tidak disangga sebatang pohon kekar berbentuk huruf Y.
“Alasan apa lagi yang harus kukatakan pada anak-anak, Mas?” tanyaku pada suami saat menemaninya makan di meja dapur. Ini hampir tengah malam dan dia baru pulang. Anak-anak sudah tidur.
“Bilang saja kali ini aku ada tugas meliput acara Malam Natal di Katedral.” Jawabnya ringan seolah tanpa beban.
“Sudah tiga tahun berturut-turut alasan itu aku pakai, Mas. Anak-anak udah tambah besar dan kritis. Kalau mereka minta pulang tanpa kamu gimana?”
“Terserah kamu sajalah. Cari apa saja alasannya. Biasanya kan kamu cukup ahli menghadapi mereka.” Huh, beginilah nasib istri yang ditinggal kerja suami tanpa kenal waktu. Segala urusan yang menyangkut anak dilimpahkan kepadaku semua. Bahkan dia sendiri sampai tak punya waktu untuk mereka. “Atau kalau kamu rela, kita pakai saja uang tabungan kita.” Nada bicaranya enteng sekali. Ha? Lantas usai pulang kampung, keluarga ini hidup tanpa uang tabungan sama sekali? Tidak! Tidak! Ini di Jakarta, bo! Kalau ada apa-apa, anak sakit, atau apa, siapa yang nanggung?
Suatu malam seorang pengurus lingkungan datang ke rumah mengedarkan proposal perayaan Natal. Aduh, lagi-lagi ada orang minta sumbangan! Mereka tidak tahu ya kalau aku sedang pusing! Nambah pusing aja! Kulihat daftar donatur, rata-rata menyumbang seratus ribu. Gila!
“Serelanya saja kok, Bu.” Pengurus lingkungan itu tersenyum maklum ketika mataku terbelalak melihat draft yang disodorkannya. Aku sedang tidak punya gengsi, jadi kuberikan saja uang sisa belanja hari ini. “Oya, Bu. Anak-anak mau dilatih main drama, menari, dan vocal group untuk mengisi acara. Kami mohon kesediaan Ibu untuk melibatkan mereka. Minggu depan mulai latihan di rumah saya.” Aku hanya mengangguk-angguk. Rupanya anak-anak bersedia ikut latihan bahkan mereka sangat antusias. Dalam latihan hari pertama Desti ditunjuk untuk memerankan tokoh Maria, Danti ikut menari, dan Damar kebagian peran sebagai penggembala domba.
“Mbeek! Mbeek!” Seru Damar ketika aku datang menjemputnya di tempat latihan. Desti dan Dantipun mulai sibuk menghafal dialog dan gerakan tari di rumah. Mereka senang sekali bisa ikut kegiatan anak-anak untuk mengisi acara perayaan Natal di lingkungan nanti.
“Ma, berarti Natal nanti kita nggak bisa pulang dong. Aku kan harus jadi Maria. Itu tokoh utama lho, Ma. Berarti aku harus segera membalas surat Mbak Ajeng, Ma. Biar Mbak Ajeng nggak nunggu-nungguin dan keluarga Eyang tidak kecewa.” Ujar Desti. “Nanti aku mau kirim kartu Natal buat Eyang, Simbah, Pakdhe, Budhe, Om, Bulik, dan semua sepupu kita. Satu orang satu kartu. Kita bikin sendiri seperti biasanya ya, Ma.” Usul Danti. Aku mengangguk dan keharuan merayapi dadaku. Oh, terimakasih banyak Tuhan. Terimakasih. Aku tak bingung soal mudik Natal lagi. Aku jadi menyesal kenapa selama ini kurang peduli pada kegiatan-kegiatan di lingkungan dan tidak pernah menyertakan anak-anak dalam pembinaan iman di lingkungan. Bukankah warga lingkungan adalah saudara terdekat kami?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar