Rabu, 24 Februari 2010

PERSIAPAN MENYONGSONG NATAL

PERSIAPAN MENYONGSONG NATAL
Oleh Rini Giri


Malam Minggu di kota besar seperti Jakarta ini selalu diwarnai dengan pesta-pora, cuci mata, belanja, dan kencan berdua-dua. Lihat saja suasana mall besar yang aku kunjungi ini. Di sana-sini pasangan muda-mudi bergandengan mesra sambil naik-turun eskalator, keluarga-keluarga berduit duduk di restorant fast food, ibu-ibu tampak kerepotan dengan kereta belanja yang menggunung, baby sister sibuk mengejar-ngejar anak majikannya di arena bermain, dan toko pakaianpun penuh dengan orang. Apalagi ini menjelang Natal Dan Tahun Baru. Moment tahunan yang laku keras untuk dijual kepada konsumen. Mall-mall berhias diri dengan lampu-lampu aneka warna, pohon-pohon natal meriah, lampion-lampion kerlap-kerlip, gambar-gambar lonceng, patung Sinter Klas, dan spanduk-spanduk besar bertulis Merry Christmas And Happy New Year.
Aku sedang berada di sebuah counter pakaian anak. Kami harus pakai baju baru di acara Misa Malam Natal Nanti. Natal harus dipersiapkan sebaik mungkin. Pergi ke Misa Natal dengan baju lama tentulah tidak bikin bangga, tidak menumbuhkan semangat baru, tidak memberikan kesan, dan Natal berlalu tanpa makna. Empat setel pakaian untuk keluargaku akhirnya kudapat. Aku merasa puas dan merasa semakin siap menyongsong Hari Kelahiran Yesus Kristus yang dirayakan cuma setahun sekali dan disambut dengan gegap gempita oleh sebagian besar penduduk dunia.
Dari counter baju, aku langsung pindah ke counter kue. Natal tanpa penganan dan camilan tentu tidak meriah. Meskipun tidak ada tamu, paling tidak untuk menyenangkan diri dan keluarga. Suasana harus lain dari biasanya supaya anak-anak tahu bedanya antara hari-hari biasa dengan satu hari yang luar biasa di penghujung tahun itu. Kuborong beberapa toples kue kering dan kupesan seloyang black forest. Aku semakin puas. Rasa-rasanya tidak ada orang lain yang mempersiapkan Natal dengan sebegitu baiknya seperti diriku. Kutinggalkan mall dengan perasaan lega dan bahagia meskipun isi kartu ATM-ku cukup terkuras.
Ruang tamu aku hias dengan sempurna. Kertas-kertas krep warna hijau dan merah yang terlilit rapi menghiasi plafon, tulisan Selamat Natal dan Tahun Baru pada sebuah kertas emas yang berumbai-rumbai aku pasang di atas pintu, lingkaran adven lengkap dengan keempat lilinnya menghias meja tamu, di sudut ruangan terdapat miniatur kandang domba dari ranting-ranting kering berikut Keluarga Kudus dan para Majus. Anak-anakpun aku libatkan untuk menghias pohon terang dan membungkus kado. Lengkap sudah persiapanku menyongsong Natal yang cerah. Doaku, semoga Malam Natal nanti Jakarta tidak diguyur hujan dan digenangi banjir. Semoga aman.
“Ma, ada undangan!” Teriak anak sulungku sambil menyerahkan selembar foto copy undangan dari Ketua Lingkungan. Undangan untuk menghadiri Pembukaan Masa Adven. OK, baiklah, aku akan datang. Apa ruginya sih menghadiri acara lingkungan? Toh di sana nanti aku cuma butuh kesabaran untuk duduk tenang berdoa, lantas bisa ketemuan dengan ibu-ibu lainnya, bisa curhat dan tahu berita-berita terbaru tentang si itu atau si ini, dan ujung-ujungnya dapat suguhan lezat dari tuan rumah. Anak-anak mau ikut? Boleh saja, asal jangan ribut dan bikin ulah selama doa berlangsung! Bikin malu! Dikira aku tidak bisa mengajari tata krama dalam berdoa! Suamiku? Jangan harap dia mau datang. Dia paling tidak betah duduk manis dan diam berlama-lama, kakinya bisa kram. Dia lebih suka lembur di kantor untuk menambah penghasilan. Nah, kalau soal ini, meskipun duduk setengah hari di depan komputer juga tidak bakalan kram! Sudahlah!
“Bapak-Ibu sekalian, Adven adalah masa yang sangat penting sebagai persiapan kita untuk menyambut kedatangan Tuhan Kita Yesus kristus. Dalam masa ini kita diminta untuk berjaga-jaga, untuk bersiap-siap, terutama mempersiapkan hati kita agar layak menyambut kehadiran Allah. Berjaga-jaga bukan berarti kita harus tegang dan serba was-was, tapi tetap bekerja sambil melakukan kehendak Allah setiap hari dengan tekun, setia, dan sabar.” Pro Diakon yang memimpin doa mulai memberikan renungan, namun kata-katanya seolah hanya lewat saja di telingaku karena aku merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa akupun sudah bersiap-siap dan berjaga-jaga.
“Mungkin Bapak dan Ibu sekalian bisa mensyaringkan pengalaman imannya. Apa yang telah dilakukan untuk menyongsong Natal kali ini?” Tanya Pro Diakon. Buru-buru kuangkat tanganku. “Silakan Ibu Berta mengawali sharing kita.” Akupun segera berdiri dan tanpa ragu-ragu, bahkan dengan bangga, kuceritakan apa yang telah kulakukan bersama keluargaku untuk menyambut Natal kali ini. Seluruh umatpun mengangguk-angguk. Aku sangat senang.
Setelah aku selesai bicara, seorang bapak mengangkat tangan dan mulai bersharing bahwa dirinya dan keluarganya telah turut ambil bagian dalam regu koor untuk perayaan Misa Malam Natal nanti. Seluruh hadirinpun mengangguk-angguk. Tak lama seorang pemuda anggota Mudika berdiri dan menceritakan tentang keterlibatannya dalam acara bakti sosial pada masyarakat dan kerja bakti di lingkungan gereja menjelang Natal. Lantas seorang remaja putri berdiri dan bercerita bahwa menjelang Natal ini, dia dan kawan-kawan sekolahnya mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke panti asuhan agar anak-anak yatim-piatu pun bisa merasakan kebahagiaan Natal seperti yang selalu mereka rasakan. Seluruh umat bahkan bertepuk tangan karena bangga.
“Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudari sekalian. Semua yang disharingkan tadi merupakan wujud dari sikap berjaga-jaga kita. Kita mempersiapkan diri kita baik secara rohani maupun jasmani untuk menyambut Kristus. Mungkin masih ada yang ingin bersharing?” Pro Diakon memberi kesempatan lagi. Seorang laki-laki berdiri dan kepalanya terus menunduk. Umat memandanginya dengan perasaan tidak suka. Merekapun saling berbisik, kenapa laki-laki itu datang, mau ngomong apa dia? Sudah dua tahun ini dia jadi pemabuk, pejudi, dan keluarganya terlantar.
“Maafkan saya. Saya merasa belum melakukan apapun untuk menyambut Hari Natal. Saya penuh dosa dan merasa tidak pantas menyambut Natal. Saya malu pada Bapak Ibu sekalian yang telah mempersiapkan diri dengan baik. Pertanyaan Bapak Pro Diakon tadi benar-benar menyentak hati saya. Saya hanya ingin bertanya, kapan Pastur Paroki akan memberi waktu untuk pengakuan dosa?” Seluruh umat terdiam. Terutama aku. Aku jadi sangat malu. Ternyata lelaki itu jauh lebih baik dalam berjaga-jaga mempersiapkan diri. Dia ingin mempersiapkan hatinya. Sementara aku? Yang telah kupersiapkan hanyalah barang-barang duniawi belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar