LUKISAN SUNGAI KELABU
Oleh Rini Giri
Arum menerima kiriman amplop coklat besar dari Nikolas. Tebal sekali isinya. Ternyata, lukisan-lukisan hasil karya anak-anak Amungme. Sebuah lukisan membuat bulu kuduknya berdiri. Saat dia masih kecil, ibunya selalu mengajari mewarnai gambar sesuai dengan warna yang sesungguhnya. Gunung, laut, sungai dan langit tentu dengan crayon biru bersih. Pohon dan rerimbunan daun tentulah dengan crayon hijau cerah. Tanah dan batang pohon pastilah crayon cokelat terang. Begitu pula ketika dia mengajari menggambar baik pada murid-muridnya di Timika dulu maupun sekarang di tepi Ciliwung. Tapi ada apa dengan lukisan yang dipegangnya itu? Mungkinkah Nikolas salah memberi arahan pada para muridnya? Sehingga sungaipun airnya dipoles dengan crayon putih kekuningan, pohon-pohon tanpa daun bahkan tinggal tonggaknya yang menghitam, serta tanah sekeliling yang berwarna abu-abu.
Setamat SPG, Arum pergi ke Timika. Dia mendaftar sebagai guru sekolah dasar yang didirikan para misionaris di tepi Sungai Ajkwa yang tenang mengalir. Kala itu, 1971, tekad dan kemauannya sangat berarti untuk diterjunkan di belantara Irian Jaya.
Murid-muridnya adalah anak-anak suku Amungme yang datang dari beberapa kampung. Puncak gunung Nemangkawi Nenggok yang lamat-lamat terlihat di sebelah utara sungai, membuatnya terpukau. Juga gunung-gunung berkadar tembaga dan emas yang berwarna kuning, merah, dan cokelat kala senja itu. Hutan tropis perawan yang hijau di sepanjang sungai, membuatnya betah.
Kala itu bolduser mulai berdatangan untuk mengeruk Gunung Bijih yang terkenal dengan nama Estberg. Mungkin sampai menjadi ceruk. Alhasil orang-orang Amungme ini terpaksa hengkang dari tanahnya dan tinggal di kaki pegunungan.
Arum sempat bertanya, kenapa anak-anak bangsa ini harus pergi dari tanah leluhurnya demi kepentingan orang lain? Jawabannya, lagi-lagi untuk pembangunan. Supaya jalan-jalan bisa dibangun, sekolah didirikan, dan suku-suku pedalaman itu belajar modernisasi. Biar mereka pakai baju dan bukan koteka lagi. Tapi jauh di lubuk hatinya, Arum punya jawaban. Bukan. Bukan untuk pembangunan. Tapi untuk memperkaya orang-orang yang sudah kaya. Nyatanya suku Amungme justru harus pergi dari tanahnya sendiri. Padahal di kalangan mereka, tinggal di tanah orang berarti kehilangan martabat. Warga suku satu belum tentu bisa berdampingan dengan suku lain dalam satu wilayah, sebab mereka mempunyai sejarah nenek moyang sendiri-sendiri.
Dalam sebuah perjalanan, Arum bertanya pada muridnya yang selalu tampak geram setiap kali melemparkan pandangan ke puncak gunung itu. “Ada apa denganmu, Nikolas?” Orang Amungme adalah pejalan kaki yang tangguh. Naik turun gunung menyusur jalan setapak yang dirintis nenek moyang adalah hal biasa. Kini mereka tak bisa lagi melintasi jalur-jalur gunung yang masuk areal pertambangan.
“Seandainya saya jadi Ibu Guru, Ibu juga akan marah toch? Ibu guru pasti marah lihat orang lain bikin kebun di halaman kita. Pasti ingin usir itu orang toch?” Arum hanya melongo mendengar pengakuan sedalam itu keluar dari mulut anak belasan tahun.
Dia tidak pernah menyesal telah dikirim ke tempat itu. Murid-muridnya semua berlian. Mereka juga punya hak untuk belajar. Tidak ada yang bodoh dalam kamus Arum. Yang ada hanyalah belum tahu atau terlambat tahu. Kewajiban bagi yang tahu untuk memberi tahu. Tak ada yang bodoh lagi jika semua sudah tahu. Dia bercita-cita, anak-anak didiknya menjadi orang yang lebih baik. Kaya akan kasih pada sesama dan kaya akan rasa cinta pada alam semesta. Bukan kaya harta tapi tetap kemaruk.
Arum mengajar di daerah yang setelah proses pemekaran masuk dalam wilayah Kabupaten Paniai itu selama limabelas tahun lantas pulang ke Jakarta. Kondisi kesehatannya tak memungkinkan untuk bertahan di Timika. Nikolas, muridnya yang paling cerdas, kini telah menjadi guru di sekolah misi itu.
“Anak-anak itu jujur, Ibu. Tak ada murid Ibu yang pembohong toch? Mereka gambar apa yang mereka lihat, Ibu. Sungai Atjwa memang sudah begitu. Rusak sudah semua yang Ibu pernah lihat dulu.” Tutur Nikolas ketika Arum menghubunginya lewat sambungan interlokal.
Sejak Arum pergi, areal pertambangan meluas ke Grasberg. Bahkan Timika telah berubah menjadi kota yang lengkap bagi para pendatang. Aliran limbah bermuara ke sungai-sungai dan membunuh biotanya. Penambang tradisional pengais sisa-sisa limbah tambang yang digelontorkan ke batang Sungai Ajkwa semakin banyak. Kini mencapai tigabelas ribu orang. Pribumi maupun pendatang. Meskipun sampah, toh namanya tetap emas. Jadi semakin hari semakin banyak saja orang yang datang untuk mendulang tailing yang menyebabkan sungai itu berwarna seperti kopi susu. Mereka tinggal di bivak-bivak sepanjang bantaran sungai, dan akan turun ke Timika jika pasir emas telah terkumpul banyak. Di kota itu, para pedagang emas yang kebanyakan orang Bugis, sudah menanti untuk membeli hasil keringat para pendulang. Sehari seorang pendulang yang bermodal sekop, ayakan, papan kayu miring, dan wajan mampu menghasilkan dua hingga lima gram pasir emas.
Nikolas bercerita, sebenarnya menjadi pendulang emas dari tailing pertambangan bukanlah cita-cita warga kampungnya. Cita-cita mereka yang sesungguhnya hanyalah ingin diakui martabat dan haknya sebagai manusia. Mereka ingin menikmati tata hidup yang adil dan aman. Pengakuan orang lain atas sejarah perjalanan hidup suku-suku di sepanjang ungai Ajkwa amat mereka dambakan. Mereka ingin tetap melestarikan nilai-nilai agung warisan leluhur. Dulu orang-orang Amungme merupakan penguasa-penguasa tanah di Tembagapura. Tapi, kini kebun mereka di Timika jadi sempit, bahkan untuk beternak babipun tidak cukup. Tata hidup harmonis mereka telah rusak.
Nikolas kembali berkisah, menjadi pendulang sisa limbah tambang pun kini tak nyaman lagi. Aparat keamanan sering melakukan pengusiran dengan kekerasan. Para pendulang dianggap mengganggu stabilitas keamanan di sekitar areal pertambangan. Mereka yang merasa diusik mata pencahariannya tentu saja mengamuk. Kata-kata Nikolas kala remaja terngiang kembali,“Siapa yang tidak akan marah jika ada orang asing bercocok tanam di pekarangannya.”
Arum hanya bisa menitikkan air mata masa tuanya. “Bagaimana aku harus menghiburmu, Nikolas? Sementara anak-anakku di Ciliwung yang dihimpit kota besar ini juga sudah tidak pernah melihat sungai-sungai bening lagi. Mungkinkah sungai jernih dengan kerimbunan pohon hijau akan tinggal cerita? Padahal tanah ini milik angkatan yang akan datang. Tetaplah kaya akan kasih dan cinta, Nikolas.”
Rabu, 24 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar