ANAK-ANAK URBAN
Oleh Rini Giri
Sudah limabelas tahun Narni ikut Jarwo ke Jakarta. Kampung mereka tidak menyediakan lapangan pekerjaan untuk suaminya. Orang-orang tanpa modal seperti mereka, paling banter jadi penangkap ikan di waduk atau menjadi kru bus malam agar berpenghasilan. Tanah berbatu-batu tandus tidak bisa menghasilkan palawija sebagai sumber hidup.
Sejak lama masyarakat di daerah itu terkenal suka merantau ke kota ini. Di sini mereka bisa menjual bakso, jamu, gorengan, pecel lele, ayam panggang, ikan bakar, atau apapun yang bisa menghasilkan uang. Orang kota suka jajan. Itu yang dimanfaatkan orang dari daerah asal Narni dan Jarwo sebagai peluang kerja. Mereka cukup kompak di perantauan, bahkan membentuk sebuah paguyuban. Barangsiapa telah sukses, pasti mengajak teman atau sanak saudaranya yang masih di dusun untuk ikut bekerja di kota.
Jarwo termasuk beruntung. Dia tidak perlu jual ini-jual itu untuk hidup. Dia cukup menjual ijasah politehniknya ke sebuah perusahaan textile tempat kakaknya bekerja. Pengalaman kerja selama hampir limabelas tahun sudah mengantarnya menjadi seorang kepala bagian mesin. Kini, setelah merasa berpenghasilan lumayan, Jarwo ingin membahagiakan ibunya dengan jalan-jalan di kota ini. Setahun lalu kakaknya sudah melakukan hal yang sama, kini tiba gilirannya.
Udara kota besar memang selalu bikin gerah. Siang hari, terasa panas sampai ke ubun-ubun dan membuat keringat meleleh di sekujur tubuh. Malam pun tak ada bedanya. Malah tambah parah. Kamar-kamar menjadi pengap karena minim ventilasi dan nyamuk-nyamuk mulai bergerilya mencari darah segar.
Mungkin itu yang membuat mertua Narni tidak betah tinggal di rumah tipe tiga enam yang baru lunas cicilannya itu. Baru tiga hari yang lalu datang dari Wonogiri, susah-payah naik bus ekonomi karena tidak tahan AC, kini sudah minta pulang. Padahal janjinya mau tinggal di Jakarta paling sedikit satu bulan.
Narni menyusul Jarwo ke kamar. Malam telah membuat ketiga anak mereka terlelap di depan televisi sambil dihembusi putaran-putaran kipas angin yang lembut membuai. Ibu mertuanyapun sudah terbaring di kamar sebelah. Entah benar-benar tidur nyeyak atau pura-pura tidur saja. Mungkin lelah juga seharian merengek-rengek pada anaknya supaya besok pagi dicarikan tiket bus malam menuju kampung halaman. Usai menggeser letak obat nyamuk agar tidak terlalu dekat dengan gordin, perempuan itupun naik ke ranjang. Suaminya belum lelap benar.
“Mas, apa aku salah ngomong sama ibu ya?” tanya Narni mengoreksi diri. Selama tiga hari tiga malam, dia merasa telah menyambut ibu suaminya sebaik dan selayak mungkin. Ucapan-ucapannyapun diusahakan sesopan dan sehormat mungkin. Lantas kenapa mertuanya itu nekat mau pulang sebelum mereka sempat jalan-jalan ke Ancol atau Taman Mini. Padahal ini adalah kesempatan pertama bagi mertuanya untuk mengunjungi keluarga mereka.
Dulu saat pulang kampung anak-anak masih balita, kini sudah tumbuh sehat menjadi anak-anak sekolah dasar. Bukankah seharusnya mertuanya senang bisa berkumpul dan bercengkerama dengan ketiga cucunya? Suaminya hanya geleng kepala, tanda tak habis mengerti juga.
Tahun lalu ibu mertuanya datang ke Jakarta dan menginap di rumah kontrakan kakak iparnya. Rumah abangnya itu hanya rumah petak dengan satu kamar dan berdempet-dempetan dengan tetangga. Istri abangnya jauh lebih cerewet dibanding dirinya. Dia merasa lebih kalem dan bertata krama. Anehnya ibu suaminya itu justru bisa kerasan di rumah sempit abangnya. Jadi bukan kondisi rumah mereka yang membuat mertuanya tidak betah, karena rumah mereka jelas lebih besar dan lebih bagus. Juga bukan akibat ketidakbecusannya dalam menjalin komunikasi dengan mertuanya, soalnya dengan menantu banyak omong saja bisa nyambung apalagi dengan menantu penuh perhatian semacam dirinya.
Jarwo menggeleng lagi, pertanda tidak tahu dan tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti malah susah tidur. Ibunya memang sudah semakin tua, pastilah semakin aneh-aneh keinginan dan tabiatnya. Lelaki itupun segera memiringkan badan, menekuk kaki dan mulai mendesis dalam kenyenyakan.
Mata Narni sulit terpejam. Suara dengkuran suaminya membuat matanya semakin nyala terjaga. Dingat-ingatnya hari pertama ketika mertuanya datang. Biasa saja. Mereka sekeluarga menyambut perempuan tua itu di terminal. Anak-anak menyalami nenek mereka sambil mencium tangan renta itu dengan sopan, demikian pula dengan dirinya dan suami. Lantas mereka pulang dengan taxi. Saat tiba acara makan siang, karena terlalu sibuk membereskan dapur, dirinya menyuruh anak tertua untuk mengajak neneknya makan.
“Mbahe, makan yuk! Tuh udah disiapin Ibu. Nanti keburu dingin lho!” ajak Satrio lantas duduk di meja makan terlebih dulu. Adik-adiknyapun segera berebut memilih tempat duduk. Saat makan, mertuanya hanya mengambil sedikit seperti tak berselera. Padahal masakannya cukup enak dan anggota keluarga yang lain makan dengan lahap.
Hari kedua, anak perempuannya mendapat PR untuk menggambar gedung-gedung pencakar langit. Tapi mulutnya tidak berhenti mengeluh karena tidak bisa menggunakan penggaris secara tepat. Narni sedang sibuk mengajari anak bungsunya menulis huruf sambung, maka dia meminta anak kedua itu supaya lebih sabar dan terus berusaha sendiri. Ibu mertuanyapun mendekati sang cucu sambil memberi nasihat.
“Kalau mau membuat garis lurus sebaiknya dimulai dengan menggambar dua titik, Nduk. Baru kemudian ditarik garis dengan menggunakan penggaris itu. Pasti garisnya akan lurus dan rapi.” Sang nenek memberi petunjuk, namun buru-buru dibantah oleh sang cucu.
“Putri itu sudah tahu caranya, Mbahe. Bu Guru juga sudah ngasih tahu. Tapi tetap saja garisnya nggak lempeng.” Tiba-tiba sang nenek terdiam dan tidak berminat lagi membantu cucunya, lantas menyibukkan diri dengan membaca koran yang sudah basi.
Dan tadi siang, saat anak-anak pulang sekolah, ibu mertuanya sedang tertidur di kursi ruang tamu, sementara televisi menyala tanpa ditonton. Buru-buru si bungsu membangunkan neneknya.
“Mbahe, kalau tidur pindah ke kamar saja! Nanti kalau ada tamu loh! Tuh, tivinya nyala terus. Ntar Bapak bayar listriknya mahal.” Ujar si bungsu sambil mengangkat remote dan mematikan layar kaca itu. Sang nenek tampak kaget dan dengan muka masam berjalan menuju kamarnya. Narni jadi berpikir, apa mungkin ketidakkerasanan mertuanya disebabkan oleh ulah anak-anak? Mungkin saja. Bukankah anak kakak iparnya masih balita dan belum bisa ngomong, sehingga mertuanya justru betah? Besok pagi dia harus bicara pada mertuanya.
Ibu mertuanya segera mengeluarkan isi hati begitu dipancing oleh Narni. Benar saja. Anak-anak Narni dianggap tidak sopan dan tidak tahu tata krama. Masa sih mengajak makan neneknya seperti mengajak makan teman main?
“Ajari anakmu itu sopan santun. Kalau pada orang tua, pakai kata-kata yang halus. Tuh, anaknya Trisno, kakakmu yang di Wonogiri itu, baru empat tahun umurnya, tapi sudah pintar. Kamu dan suamimu itu meskipun sudah lama di Jakarta, tetap orang Wonogiri, Ni. Anak-anakmu itu juga berdarah Wonogiri. Jadi jangan sok kekota-kotaan. Sopan-santun yang diajarkan para leluhur kita harus tetap kamu ajarkan pada anak-anakmu.” Ujar Ibu Mertua panjang lebar. Narni hanya mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Inggih, Bu.” Hanya itu yang mampu diucapkan Narni. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa budaya dan tipe tata krama antara desa dan kota itu berbeda, sehingga anak-anaknya yang lahir dan besar di kota otomatis lebih mudah mengikuti nilai-nilai yang ada di lingkungan barunya dibanding nilai-nilai dari daerah asal. Masyarakat di kota besar itu beragam, kadang kita harus menanggalkan kedaerahan kita agar bisa berbaur akrab dengan tetangga dan lebih mengedepankan keindonesiaan kita. Begitu juga anak-anak. Mereka bisa dikucilkan teman sepermainannya jika bersikap kejawa-jawaan. Tapi Narni memilih untuk diam dan mendengar saja. Nanti mertuanya malah menuduhnya berani nyap-nyap.
“Anak-anakmu itu kok bisa jadi kurang ajar begitu? Padahal aku ini mengajari Jarwo sopan-santun. Orangtuamu juga penuh tata krama. Lha kok anak-anakmu itu bisa jadi urakan seperti itu? Apa di sekolah juga tidak diajari unggah-ungguh (sopan-santun” keluh mertuanya lagi.
“Maafkan mereka, Bu. Jangan diambil hati ya. Mereka kan cuma anak-anak.. Nanti biar saya tegur. ” Kata Narni sambil mengelus-elus tangan mertuanya lembut, agar luluh hatinya.
Anak-anak mereka lahir dan dibesarkan di perantauan. Sebuah kota besar dengan beragam budaya. Hanya satu bahasa yang bisa mengatasi segala kemajemukan itu, yaitu Bahasa Indonesia. Suatu bahasa yang tidak mengenal strata, universal berlaku bagi siapa saja. Tidak mengenal bahasa halus dan kasar seperti Bahasa Jawa. Bahkan kosa kata anaknyapun sudah sangat gaul.
Narni sadar, sebenarnya Satrio tidak bermaksud kurang ajar. Dia justru ingin mengajak neneknya makan bersama dengan caranya yang akrab. Hanya saja gaya bahasa yang digunakan terdengar asing dan membuat neneknya tersinggung. Putri juga hanya ingin mengungkapkan pendapatnya secara terbuka, bahkan Narni sendiri yang membiasakan anak-anaknya untuk bebas menyampaikan pikiran. Tapi rupanya, kebiasaan semacam itu dianggap sebagai perilaku kecap demi sekecap (setiap kata dibantah dengan satu kata juga). Kebiasaan disiplin untuk menghemat energi dan melakukan kegiatan pada tempatnya yang ingin ditunjukkan oleh si bungsu justru dianggap sebagai sikap terlampau berani pada orang tua.
Anak-anaknya memang punya darah Wonogiri, tapi Bahasa Jawa Ngoko Kasar yang stratanya paling rendahpun mereka tidak tahu, apalagi Bahasa Jawa Kromo Inggil yang stratanya paling tinggi. Mereka keturunan Wonogiri, tapi sudah kehilangan kewonogiriannya. Mereka tumbuh di Jakarta, tapi juga tidak seratus persen Jakarta. Bahkan pernah salah satu teman Putri mengolok-olok, “Ngomongnya sih pakai Bahasa Indonesia, tapi logatnya …medhok banget!” Dan Putri sempat tertekan karenanya.
Hal-hal yang sebenarnya cukup sopan di Jakarta ternyata dianggap kurang pantas di Wonogiri. Hal-hal yang sopan dan layak di Wonogiri, ternyata terlalu ribet untuk diterapkan di Jakarta. Kebebasan berbicara dan berekspresi ala Jakarta ternyata bisa bikin orang tersinggung di Wonogiri. Sikap menurut dan serba mendengarkan ala pedusunan justru bisa bikin celaka di Jakarta. Serba salah. Dan yang menjadi korban adalah anak-anak berdarah kampung yang lahir dan tumbuh di daerah urban seperti anak-anak Narni itu. Mereka digerundeli neneknya sendiri. Jika dipaksa memakai norma-norma kampung halaman, mereka justru akan tersisih di Ibu Kota. Tapi ketika mereka dibiasakan dengan norma-norma Ibu Kota, keluarga mereka dari kampung akan protes dan menganggap mereka kurang ajar. Kasihan betul.
“Ya sudah. Kita pakai bahasa campuran saja untuk Simbah!” ujar Narni pada suami dan anak-anaknya. Narnipun membisikkan sesuatu ke telinga Satrio saat mereka hendak makan siang. Anak itupun bergegas menuju kamar neneknya.
“Mbahe, silakan dahar (makan) dulu. Setelah dahar baru sare (tidur) lagi.” Ujar Satrio di depan pintu kamar. Sang Nenek tampak senang mendengar ajakan sang cucu yang dinilai lebih sopan.
“Cah Bagus, kamu kok sekarang sudah tambah pintar.” Nenek itupun segera bangkit dari pembaringan dan melenggang menuju meja makan dengan senyum cerah. Diapun lupa menanyakan apakah Jarwo sudah mendapat tiket atau belum. Sepertinya tiket itu sudah tidak penting lagi. (Bekasi Utara, 2008)
Rabu, 24 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar